Kecamatan Prambanan Paling Rawan Longsor di Sleman

Sleman – Menjelang musim penghujan yang diperkirakan jatuh di bulan November dan didahului musim pancaroba di bulan Oktober ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menghimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi-potensi bencana yang muncul akibat cuaca ekstrim. Termasuk mewaspadai potensi tanah longsor yang menghantui beberapa wilayah di Kabupaten Sleman, terutama di kawasan Kecamatan Prambanan.

Himbauan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala BMKG Jogja, Tony Agus Wijaya, Kamis (15/10). Tony mengatakan bahwa Kecamatan Prambanan merupakan kawasan rawan tanah longsor lantaran sebagian wilayahnya berupa pegunungan dan dilanda kekeringan dalam waktu cukup panjang.

“Karena kekeringan yang lama, sebagian besar tanah di Kecamatan Prambanan menjadi kering dan retak-retak. Retak-retak itu lah yang rawan longsor bila langsung diguyur hujan dengan intensitas tinggi walaupun dalam waktu yang singkat seperti yang biasa terjadi di musim pancaroba,” kata Tony.

Sementara itu untuk mengantisipasi ancaman tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman sudah memasang alat sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) di beberapa titik di Kecamatan Prambanan. EWS tersebut dipasang di Desa Gayamharjo, Sambiharjo, serta yang paling banyak di Desa Wukirharjo.

“Lewat alat itu kita bisa segera mengetahui intensitas hujan dan pergerakan tanah, sehingga bila ada ancaman masyarakat sekitar akan segera kita beritahukan. Selain itu di Desa Gayamharjo sudah kita bentuk sebagai desa tangguh bencana dengan memberikan pengetahuan dan pelatihan-pelatihan menghadapi bencana,” jelas Kepala BPBD Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH.




Cuci Tangan Untuk Bentuk Perilaku Hidup Sehat

Cuci TanganSleman – Dalam rangka Peringatan Hari Cuci Tangan  Sedunia ( Global Handwashing Day /GHD ) Tahun 2015, dilaksanakan kegiatan cuci tangan di  depan Gedung Instalasi Rawat Jalan  RSUP Dr Sarjito Sleman, Kamis (15/10). 

Hadir  pada acara tersebut Wagub DIY Sri Paduka Paku Alam IX, Penjabat Bupati Sleman, Wali Kota Jogja, Pimpinan PT Unilever Indonesia Tbk,  perwakilan, RSU Pemerintah/Swasta, Siswa SD, Ketua Tim Penggerak PKK dan Organisasi Profesi serta Sekolah Tinggi Kesehatan yang ada di DIY. Peringatan Hari Cuci Tangan Sedunia  dihadiri ribuan peserta dari PT Unlilever Indonesia Brand Lifebuoy.

Dirut RSUP Dr Sarjito, dr Mochamad Syafak Hanung Sp.A MPH pada kesempatan tersebut mengatakan bahwa tujuan acara kegiatan cuci tangan sedunia adalah untuk membetuk perilaku hidup sehat meliputi kebersihan perorangan khususnya cuci tangan pakai sabun.

Adapun  5 saat penting bagi dokter, tenaga medis, cuci tangan sebelum menyentuh pasien, cuci tangan setelah melakukan tindakan medis, cuci tangan setelah terkena cairan tubuh pasien, cuci tangan setelah menyentuh pasien dan cuci tangan setelah menyentuh lokasi perawatan,  sehingga petugas rumah sakit dan masyarakat terhindar dari penularan kuman-kuman penyakit seperti Diare, Ispa, cacingan, Hepatitis A/Penyakit Kuning, dan infeksi terkait pelayanan kesehatan.

Dengan kebiasaan cuci tangan  dengan benar pakai sabun petugas/anak/siswa/ masyarakat sebelum dan setelah  makan, bersentuhan dengan binatang, dari toilet, akan terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh jamur,virus, bakteri penyebab, diare, flu burung, babi, hepatitis A, serta penyakit kulit dan infeksi pelayanan kesehatan.




Jumlah Persediaan Darah PMI Sleman Meningkat

Sleman – Palang Merah Indonesia (PMI) Sleman sudah mampu melakukan pemisahan komponen darah sejak dua tahun terakhir. Mulai tahun lalu, PMI juga membuka pelayanan darah selama 24 jam. 

Mengetahui informasi tersebut, sejumlah rumah sakit kini banyak yang menjalin kerja sama dengan PMI. Jumlah persediaan darah juga meningkat. Jika sebelumnya setiap bulan rata-rata hanya ada stok 300 kantung, sekarang mencapai 700-800 kantung darah.

“Stok darah tidak hanya berasal dari kami tapi juga instansi lain. Jika ada lembaga yang merayakan ulang tahun biasanya melakukan kegiatan donor darah,” kata Ketua PMI Sleman, dr  Sunartono Mkes di Sleman, Kamis (15/10).

Ditambahkan, PMI Sleman mempunyai “momongan” Gunung Merapi yang sering mengalami erupsi. Untuk keperluan itu PMI Ranting Pakem diperkuat untuk berjaga. Di sana juga ada relawan yang siaga setiap hari.

Selain melakukan pelayanan bencana Merapi, PMI Sleman juga memiliki pengalaman penanganan sejumlah bencana. Di antaranya gempa bumi, kekeringan, angin ribut, dan tanah longsor.

“Banjir lahar, kecelakaan lalu lintas, dan pendaki gunung yang tersesat juga sering terjadi,” kata Sunartono.

Sementara itu hasil bulan dana PMI Sleman tahun ini sebesar Rp 750 juta. Diakui, jumlah itu cukup banyak dan menggiurkan. Pengurus diingatkan agar berhati-hati dalam pengelolaannya agar tidak berurusan dengan hukum. ”Harus hati-hati. Target bulan dana tercapai tetapi kita harus selamat dari hukum,” tutur Sunartono.