Pengangguran Masih Jadi Tantangan Kabupaten Sleman

Sleman – Asisten Bidang Pembangunan, Dra Suyamsih MPd mengatakan penurunan angka pengangguran masih menjadi tantangan Kabupaten Sleman dalam mewujudkan peningkatan kesejateraan masyarakat. Meskipun jumlah pengangguran di Sleman menurun dari tahun lalu, yaitu dari menjadi namun masih merupakan jumlah yang tertinggi di DIY.

“Hal ini berarti kami masih harus bekerja keras mencarikan solusi agar angkatan yang belum bekerja tersebut dapat memiliki pekerjaan yang diinginkan,” tutur Suyamsih di Sleman, Rabu (28/10).

Upaya membuka peluang kerja tersebut  lanjut Suyamsih tidak dapat dilakukan pemerintah secara langsung, tetapi memerlukan kerjasama dan kebersamaan seluruh perusahaan khususnya yang berada di wilayah Sleman.

Namun demikian harus tetap sesuai dengan kebijakan Pemerintah kabupaten Sleman  bahwa perusahaan  yang berada di Sleman paling tidak harus menggunakan 70% tenaga kerja yang dibutuhkan berasal dari tenaga kerja lokal Kabupaten Sleman. Pada tahun 2014 tercatat jumlah tenaga kerja di Perusahaan sebanyak .

Disisi lain Suyamsih juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman tengah mengembangkan Desa wisata. Kebijakan pengembangan desa wisata yang dilakukan Pemkab Sleman adalah memberdayakan masyarakat untuk dapat mengelola desanya, sehingga mampu menjadi daya tarik wisata.

“Selain itu melalui pengembangan desa wisata, masyarakat setempat dimotivasi untuk mengembangkan potensi yang ada di desanya,” kata Suyamsih.

Dengan demikian menurut Suyamsih, langkah pengembangan desa wisata selain untuk menambah obyek wisata juga bertujuan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. Terlebih lagi pengembangan desa wisata di Sleman dipadukan dengan program kegiatan bidang lain seperti pertanian, perikanan, perindustrian.

“Melalui desa wisata, wisatawan dapat ikut mempelajari berbagai hal yang telah menjadi budaya masyarakat lokal,” katanya.

Untuk itu keberadaan Pemkab Sleman lebih pada motivator dan fasilitator kegiatan pengembangan desa wisata. Semakin banyaknya wisatawan yang menggemari wisata lingkungan atau kembali ke alam, mengakibatkan trend desa wisata semakin bertambah jumlahnya. Pada saat ini di Kabupaten Sleman telah memiliki 30 desa wisata yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat sekitar.




Dua Sasaran Kegiatan TMMD Sengkuyung ke 95 Selesai 100 Persen

Sleman – Dua sasaran proyek kegiatan TMMD Sengkuyung ke 95 tahap II Tahun Anggaran 2015  di wilayaah Kodim 0732 Sleman berhasil selesai 100 persen. Dan kegiatan TMMD Sengkuyung tersebut secara resmi telah ditutup oleh Ketua DPRD Kabupaten Sleman  Haris Sugiarto mewakili  Panglima Kodam IV Diponegoro di lapangan Tirtoadi Mlati Sleman,  Rabu (28/10).

Penutupan ditandai dengan penyerahan peralatan kerja oleh Ketua DPRD Kabupaten Sleman kepada pasukan Kodim 0732 Sleman. Disamping penyerahan peralatan kerja juga ditandai dengan penandatangan berita acara.

Hasil yang dicapai dalam TMMD Sengkuyung ke 95 di Desa Sidomoyo Kecamatan Godean tersebut   berupa  dua sasaran proyek, yaitu sasaran fisik berupa pengerasan jalaan panjang 500 meter lebar 3 meter, rehab Masjid 1 unit, rehab pos Kamling 1 unit, pembuatan Talud jalan 400 meter, pembuatan gorong-gorong 3 unit dan pembuatan talud tebing 250 meter semua selesai 100 %.

Sedang sasaraan non fisik berupa penyuluhan,  wawasan kebangsaan, Kamtibmas dan Napza, Kesehatan/KB, Pertanian, Bela negara dan kerukunan umat beragama. Disamping itu juga sasaran tambahan/over prestasi berupa pembuatan Talud yang semula panjang 400 meter dengan tinggi 60 cm menjadi tinggi 4 meter dengan panjang 200 meter 100 %, juga pembuatan gedung pos kamling 100 %, pembuatan jamban 10 buah 100 %, dan membantu mendirikan gedung Paud  ( membuat pondasi).

Dana yang digunakan dalam TMMD tersebut berasal dari APBD DIY Rp 75 juta dan APBD Kabupaten Sleman sebesar Rp 150 juta hingga total mencapai Rp 225 juta dan swadaya masyarakat berupa tenaga perhari sekitar 50 orang serta material senilai Rp 50 juta.

Sementara itu Panglima Kodam IV Diponegoro dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Ketua DPRD Sleman menyampaikan bahwa dengan telah berakhirnya kegiataan TMMD tersebut diharapkan semua hasil pembangunan atau pengembangan sarana dan prasarana fisik yang telah dibangun dapat dimanfaatkan secara maksimal serta dipelihara dengan baik oleh Pemda serta masyarakat.

Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk kegiatan non fisik yang berupa pembekalan pengetahuan praktis maupun masalah sosial kemasyarakatan, kejuangn, bela negara dan kesadaran hukum nbenar-benar dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan TMMD itu sendiri  bertujuan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Disampaikan pula bahwa melalui TMMD yang dilakukan secara berkesinambungan diharapkan akan dapat mewujudkan ketahanan masyarakat yang tangguh dalam mrenghadapi berbagai bentuk ancaman, yang muaranya akan berdaya guna bagi kepentingan pertahanan negara.




388 PNS di Sleman Terima Penghargaan Satya Lencana Karya Satya

satya lencanaSleman – Sebanyak 388 Pegawai Negeri Sipil (PNS) dilingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menerima penghargaan Satya Lencana Karya Satya  30 tahun dan 20 tahun. Dari jumlah tersebut paling banyak dari lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, yaitu sebanyak  194 orang dan lainnya sersebar di beberapa SKPD. Penyerahan piagam penghargaan Satya Lencana disampaikan Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi di Pendopo Parasamya, Rabu (28/10).

Pada kesempatan tersebut Gatot menyampaikan bahwa penghargaan tersebut diberikan kepada PNS sebagai penghargaan atas jasa  sebagai PNS dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya.

“Satya Lencana Karya Satya diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang dalam melaksanakan tugasnya mampu selalu mengedepankan prinsip-prinsip kesetiaan, pengabdian, kecakapan, kejujuran dan kedisiplinan,” kata Gatot.

Disampaikan pula bahwa pemberian penghargaan tidak berarti sebuah puncak didalam pengabdian. Namun harus diletakkan sebagai sebuah pemacu untuk terus maju dengan sebuah tekad agar hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik lagi dari hari ini.

Menurut Gatot, pemberian penghargaan ini sebagai motivasi agar PNS dapat meningkatkan pengabdian dan prestasinya.

“Kita juga berharap agar PNS yang mendapatkan penghargaan ini dapat memotivasi PNS lainnya,” tambah Gatot.

Dipesankan Gatot, setelah para PNS menerima tanda kehormatan ini, maka tugas dan tanggungjawab  sebagai PNS semakin berat. Karena  dituntut untuk lebih berprestasi dan meningkatkan pengabdian serta mampu memberikan keteladanan kepada para PNS yang lain.

Penghargaan yang diberikan tersebut diharapkan dapat menguatkan komitmen dan memotivasi para PNS sebagai aparatur negara untuk selalu haus akan prestasi. Keinginan untuk berprestasi akan mendorong seseorang untuk melaku­kan pekerjaan dengan baik.

Sedangkan Kepala BKD Sleman, Drs Iswoyo Hadiwarno menyampaikan bahwa tanda kehormatan Satya Lencana yang diserahkan tersebut sebanyak 388 yang terdiri 171 orang Tanda kehormatan 30 tahun dan 209 orang tanda kehormatan 20 tahun dan 8 orang tanda kehormatan 10 tahun.




Teknologi Informasi Ibarat Pisau Bermata Dua

IMG_3443 (1024 x 683)Sleman – Sebanyak 34 pasang pemuda-pemudi berpakaian adat kekayaan budaya bangsa Indonesia turut serta ambil bagian dalam upacara bendera peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-87 tahun 2015 di lapangan Pemda Sleman, Rabu (28/10). Selanjutnya mereka maju membacakan teks keputusan konggres pemuda 1928.

Upacara dipimpin oleh Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi dihadiri oleh Kapolres Sleman, Wakil Ketua DPRD, Sekda, Assekda, Kepala  Dinas dan Instansi serta peserta upacara dari PNS, TNI Polri dan siswa sekolah.

Gatot mengatakan pesatnya perkembangan teknologi informasi ibarat pisau bermata dua.

“Satu sisi ia memberikan jaminan kecepatan informasi sehingga memungkinkan para pemuda kita untuk peningkatan kapasitas pengetahuan. Namun, pada sisi yang lain membawa dampak negatif,” kata Gatot.

Informasi-informasi yang bersifat destruktif mulai dari pornografi, narkoba, pergaulan bebas hingga radikalisme dan terorisme juga masuk dengan mudahnya tanpa dapat dibendung. Lahir generasi baru yang memiliki pola pikir serba cepat, serba instan, lintas batas, cenderung individualistik dan pragmatik.

Keprihatinan kedua terkait fenomena pengelolaan sumber daya alam  yang belum sesuai dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Sebagai negara tropis, Indonesia menjadi tumpuan dunia untuk menjaga keseimbangan iklim.

“Namun, kita justru menjadi negara yang menyumbang polusi terbesar di kawasan Asia Tenggara melalui kabut asap. Kita sendiri sudah merasakan dampak kesehatan yang juga berimbas pada  perekonomian akibat sistem transportasi yang tidak bisa berjalan dengan baik,” tutur Gatot.

Salah satu ikrar penting dalam Sumpah Pemuda 1928 adalah “satu tanah air, tanah air Indonesia”.

Poin ini memberikan tekanan yang sangat kuat kepada para pemuda akan pentingnya menjaga tanah dan air sebagai bagian penting dari komponen bumi yang kita pijak ini demi keberlangsungan masa depan generasi penerus kita. Melalui tema Sumpah Pemuda satu bumi, Gatot juga mengajak Pemuda Indonesia untuk menjadi generasi yang bertanggung jawab.

“Hanya dengan menjaga dan merawatnya kita bisa menjaga keberlangsungan bumi hingga masa yang akan datang seiring dengan pembangunan peradaban kita,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut juga dibagikan  Penghargaan kepada Pemuda Pelopor yakni bidang Pendidikan Janu Muhammad Ngemplak Caturharjo, Bidang Sosial Budaya dan Pariwisata dan Bela Negara Jevin Muhammad Reza Pahlawan Plumbon Tengah Mororejo Tempel, Bidang Pangan Lidiana Septi Susanti Selorejo Sardonoharjo Ngaglik, pengelolaan Sumber Daya Alam Rejodani Madurejo Prambanan.