DPT Pilkada Sleman Capai 775.443 Pemilih

Sleman – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sleman telah menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilkada, jumlahnya mencapai orang. Penetapan itu dilakukan dalam Rapat Pleno terbuka pada hari Kamis (1/10) di kantor KPU Sleman, yang dihadiri para komisioner KPU dan Panwaslu, anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), serta perwakilan dari masing-masing pasangan calon kepala daerah.

Ketua KPU Sleman, Ahmad Shidqi, Jumat (2/10) mengatakan jumlah pemilih yang telah ditetapkan, tersebar di Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang ada di 86 desa tersebar di 17 kecamatan. Dari jumlah tersebut, paling banyak merupakan pemilih perempuan mencapai orang, sedangkan pemilih laki-laki jumlahnya mencapai orang. Daftar pemilih yang ditetapkan berkurang dari jumlah Daftar Pemilih Sementara (DPS) mencapai orang.

“Jadi berkurang sebanyak orang karena berbagai sebab, antara lain karena bukan orang Sleman, tercatat sebagai anggota TNI/Polri dan sebagainya sehingga dilakukan penyaringan,” ungkapnya.

Dari angka itu, jumlah pemilih terbanyak di Kecamatan Depok yang mencapai pemilih. Sedangkan paling kecil di Kecamatan Cangkringan dengan jumlah pemilih orang. Selain DPT, jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) juga berkurang. Jika sebelumnya diputuskan ada TPS, KPU menetapkan dalam Pilkada tanggal 9 Desember nanti hanya ada TPS

Sementara bagi pemilih yang belum tercantum dalam DPT, masih diberi kesempatan oleh KPU untuk mendaftarkan diri ke Panitia Pemungutan Suara (PPS) di masing-masing desa

“Pendaftaran akan mulai dibuka pada tanggal 13-20 Oktober 2015, dan akan dimasukkan dalam Daftar Pemilih Tambahan (DPTB) Satu, setelah itu tidak ada tahapan, tetapi jika masih belum terdaftar di DBTB pada saat Pilkada bisa nyoblos di TPS asal punya KTP Sleman,” kata Ahmad Shidqi.




Pendidikan Dapat Memutus Lingkaran Kemiskinan

Kunjungan ke Museum GempaSleman – Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi mengatakan tingkat pendidikan masyarakat menunjukkan tingkat kemandirian suatu daerah. Tingkat pendidikan masyarakat yang tinggi akan semakin meningkatkan kemandirian daerah.

“Tidak dapat dipungkiri bahwa tingginya tingkat atau derajat pendidikan masyarakat memiliki pengaruh yang sa­ngat besar terhadap pelaksanaan pembangunan di suatu daerah, termasuk Sle­man,” kata Gatot, Jumat (2/9)

Menurut Gatot dengan semakin banyaknya pen­du­duk Sleman yang ber­pen­­di­dikan tinggi, maka berbagai program pemba­ngunan yang telah direncanakan akan dapat dilaksanakan dengan lebih efektif dan efisien. Demikian pula dalam persoalan penanggulangan kemiskinan, pendidikan merupakan salah satu sarana pokok untuk dapat memutus lingkaran kemiskinan.

“Bagi masyara­kat yang masih mau belajar, yang masih menjadikan pendidikan sebagai prioritas, maka berarti masih ada harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” tutur Gatot.

Sementara berdasarkan data yang ada pada tahun 2014 yang lalu telah diberikan bantuan untuk pelayanan dasar dalam bentuk pemberian beasiswa bagi siswa masyarakat miskin. Meskipun upaya pemberian beasiswa terus dilakukan, pada tahun 2015 ini tercatat masih ada sejumlah anak putus sekolah di berbagai jenjang diantaranya 47 siswa SD/MI, 18 siswa SMP/ MTs dan 58 siswa SMA/ SMK/ MA yang masih membutuhkan uluran tangan.

Dengan adanya bantuan pendidikan dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu mengurangi angka siswa putus sekolah. Selain itu melalui bantuan pendidikan, diharapkan anak-anak teruta­ma dari kalangan kurang mampu dapat terus mengenyam pendidikan yang layak, bahkan dapat menempuh pendidikan sampai jenjang yang tertinggi.




Disbudpar Ajak 160 Siswa SMA-SMK Kunjungi Museum

Kunjungan ke Museum GempaSleman – Dalam rangka untuk mengimplementasikan program nasional “Gerakan Nasional Cinta Museum 2010-2015”, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman mengajak 160 siswa dan 40 guru pendamping dari 40 sekolah SMA dan SMK se Kabupaten Sleman mengunjungi beberapa museum.

“Kunjungan tersebut dibagi dalam 2  kunjungan, yakni Selasa dan Rabu, 29-30 September 2015 kemarin,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Ir AA Ayu Laksmi Dewi TP MM dikantornya, Kamis (1/10).

Adapun museum yang dikunjungi adalah Museum UGM, Museum Pendidikan Indonesia (MPI), Museum Dirgantara Mandala, Museum Gempa Prof Dr Sarwidi dan Museum Gunungapi Merapi (MGM).

Dikatakan Ayu bahwa program tersebut untuk mengimplementasikan “Gerakan Nasional Cinta Museum 2010-2015” yang telah dicanangkan pada tahun 2010 di Kabupaten Gianyar Bali.

Melalui kunjungan tersebut diharapkan para siswa akan dapat mengambil manfaat secara optimal fungsi museum. Bahwa museum bukan hanya sekedar koleksi benda semata, namun untuk memberikan penyadaran bahwa museum memiliki nilai-nilai keutamaan yang patut diserap oleh para siswa sebagai generasi muda bangsa.

Selain itu diharapkan akan dapat menanamkan mindset bahwa museum sebagai wahana belajar sekaligus berwisata. Bahwa setelah mengunjungi museum para siswa akan terhibur sekaligus dapat memetik khikmah pelajaran yang terkandung didalamnya.

“Yang diharapkan akan menumbuhkan proses internalisasi nilai-nilai keutamaan yang diperoleh dari kunjungan ke museum, para siswa juga diwajibkan untuk menulis karya tulisan dalam bentuk essay. Karya tersebut nantinya akan dinilai dan diambil para pemenangnya,” tambah Ayu.




Pemkab Akan Perbaiki Jalan di KRB II

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman akan memperbaiki jalan rusak di Kawasan Rawan Bencana (KRB) II Gunung Merapi di jalur Glagah-Sidorejo meski jalur tersebut bukan termasuk jalur evakuasi untuk bencana.

“Pemkab akan melakukan perbaikan jalan yang melewati beberapa dusun di Kecamatan Cangkringan tersebut, meski bukan jalur evakuasi bencana. Karena perbaikan jalan tersebut merupakan tanggung jawab Pemkab Sleman,” kata Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi di Sleman, Kamis (1/10).

Menurut Gatot, secara prinsip status jalan Kabupaten ataupun jalan desa tetap menjadi tanggung jawab pemerintah setempat.

“Tanggung jawab tersebut di antaranya melakukan pemeliharaan. Jika jalan rusak harus diperbaiki, sesuai dengan kewenangannya. Apalagi, jalan tersebut merupakan alternatif dari Klaten ke Sleman. Meski bukan sebagai jalur evakuasi, penting untuk menunjang aktivitas masyarakat setempat,” kata Gatot.

Sementara Kepala Desa Kepuharjo, Cangkringan Heri Suprapto, mengatakan memang jalan yang rusak hampir sekitar empat kilometer tersebut bukan termasuk jalur evakuasi.

“Jalan tersebut memang bukan jalur evakuasi karena arahnya dari timur ke barat dan sebaliknya. Kalau jalur evakuasi dari utara ke selatan,” katanya.

Heri mengatakan, meski demikian jalan tersebut cukup penting, karena selain sebagai alternatif jalan yang menghubungkan dua kabupaten, juga siswa sekolah selalu menggunakannya.

“Ada beberapa sekolah juga di sana. Itu untuk kepentingan anak sekolah juga,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, beberapa jalan beraspal di KRB II Gunung Merapi di Kecamatan Cangkringan yang saat ini kondisinya rusak parah akibat lalu lalang truk angkutan pasir, sengaja dibiarkan rusak dan belum akan diperbaiki.