Keberadaan PKL Miliki Pengaruh Besar Terhadap Perekonomian Rakyat

Sleman – Pedagang Kaki Lima (PKL) sebagai salah satu unsur pelaku usaha di sektor  informal, keberadaannya mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi kehidupan roda perekonomian rakyat di Kabupaten Sleman. Namun disisi lain keberadaan PKL seringkali telah menimbulkan problem sosial.

“Di Sleman keberadaan PKL berkembang cukup pesat terutama di Kecamatan Depok , Ngaglik, Mlati, Godean, Pakem dan Sleman,” kata Asisten Bidang Pembangunan, Dra Suyamsih MPd ketika menerima kunjungan Komisi C DPRD Kota Magelang, Jumat (23/10).

Dikatakan Suyamsih pada saat ini di Sleman terdapat PKL dengan persebaran diantaranya 327 di Kecamatan Godean, 90 di Kecamatan Depok, 135 di Kecamatan Sleman dan 208 di Kecamatan Mlati.

Dalam upaya mengatasi permasalahan PKL, Pemerintah Kabupaten Sleman telah menerbitkan Perda PKL dan terus berupaya melakukan penataan PKL dengan konsep pemberdayaan tanpa harus merampas hak orang lain maupun melanggar aturan yang berlaku. Salah satunya dengan menyedia­kan tempat untuk berjualan yang representatif, yakni Resto PKL yang berlokasi di Mrican, Demangan Baru dan Taman Kuliner di sebelah barat terminal Condongcatur Depok.

“Resto PKL dan Taman Kuliner ini berada di lingkungan yang dekat dengan kampus dan pemukiman warga. Diha­rap­kan dengan pola penataan tersebut semua pihak, baik itu pemerintah, masyarakat serta PKL akan sama-sama diuntungkan,” kata Suyamsih.




Sleman Penyaji Terbaik dalam Seleksi Gelar Seni DIY

Ir AA Ayu Laksmidewi TP MMSleman – Kontingen Kabupaten Sleman “Punglor Ajaib” berhasil meraih sebagai penyaji terbaik pada Seleksi Gelar Seni Pertujunkan tingkat DIY Tahun 2015 yang diselenggarakan di Pendopo Dinas Kebudayaan Pemerintah Daerah DIY, Selasa (20/10). Sleman mampu menyisihkan 3 Kabupaten dan 1 Kota se DIY. Penata tari kontingen Sleman Bramantyo Fendi Prastowo dan Penata iringan kontingen Sleman Fajar Sri Sabdono.

Atas prestasi tersebut Kabupaten Sleman akan mewakili DIY dalam event Gelar Seni Budaya Yogyakarta ke 15 dalam rangka Hadeging Nagari Ngayogyakarta ke 268 pada tanggal 1 November 2015 di TMII Jakarta.

Diselenggarakannya Seleksi Gelar Seni Pertunjukan tersebut merupakan ajang kompetisi bagi sebuah karya baru dengan berpijak pada seni tradisi yang ada di Jogja, baik yang bersumber pada adat istiadat, mitos, legenda dan cerita rakyat. Penyerahan kejuaraan disampaikan oleh Plh Kepala Dinas Kebudayaan, Setyawan Sahli SE MM.

Adapun urutan kejuaraan Gelar Seni Pertunjunkan tersebut adalah Penyaji terbaik I Kabupaten Sleman, Penyaji terbaik II Kabupaten Bantul, Penyaji terbaik II Kabupaten Gunung Kidul dan Harapan I Kota Yogyakarta serta Harapan II Kabupaten Gunungkidul. Sedangkan Dewan Juri dalam penyelenggaraan ini yaitu Dr Kuswawarsantyo MHum, Dra Setyastuti , Dra Daruni M Hum, Sukoco dan RM Kristiadi, .

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengungkapkan bahwa Seleksi Gelar Seni Pertunjunkan ini merupakan ajang yang cukup strategis bagi upaya revitalisasi, pelestarian dan peningkatan apresiasi dikalangan pelaku seni budaya maupun bagi masyarakat secara umum, Kamis (22/10).
‪
Dalam hal ini pemerintah tidak bisa secara terpisah melakukan upaya pelestarian seni budaya tanpa adanya peran aktif dari para stakeholder dan masyarakat umum.

“Pemerintah, stake holder dan masyarakat perlu secara terpadu dan sinergis membangun peradaban melalui pelestarian seni dan budaya yang ada di masing-masing daerah,” kata Ayu.‬




Meski Terjadi Musibah Pelaksanaan Haji 2015 Lancar

Mangayubagyo HajiSleman – Pelaksanaan Haji tahun ini dapat dikatakan berjalan lancar sesuai dengan harapan, walaupun terdapat beberapa musibah yang menimpa jamaah haji tahun 2015 ini. Musibah robohnya crane di Masjidil Haram dan  peristiwa jemaah haji berdesakan di Jalan 204, Mina juga menelan banyak korban jemaah haji Indonesia.

“Peristiwa tersebut memang di luar kehendak kita sebagai manusia adalah sesuatu yang kita maknai sebagai takdir Allah,” kata Penjabat  Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi ketika mangayubagyo Haji di Rumah Dinas Bupati, Kamis (22/10).

Lebih lanjut disampaikan Gatot bahwa sukses dalam ibadah haji dengan meraih haji yang mabrur, baik mabrur secara personal maupun secara sosial. Hal ini ditandai dengan peningkatan amal saleh dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kemabruran haji akan sangat ditentukan oleh kita sendiri, apakah setiap kita mau dan mampu mengamalkan dan menebar kebenaran, kebaikan, kebajikan, yang menjadi esensi ibadah haji terhadap diri sendiri dan kepada sesama dalam hidup bermasyarakat,” kata Gatot.

Menurut Gatot, pasca menunaikan ibadah haji  dan pulang ke  kampung halaman dengan menyandang gelar haji atau hajah, bukan berarti jemaah haji telah mencapai ke mabruran  dan karenanya merasa ibadahnya  sudah selesai.  Karena kemabruran tidak otomatis diperoleh setelah selesai menunaikan ibadah haji. Kemabruran adalah proses yang tidak berhenti di mana ibadah haji menjadi awal dari pengamalan segala nilai dan makna yang terkandung di dalamnya sekembalinya dari Tanah Suci.

Yang jelas pribadi haji yang mabrur ditandai oleh peningkatan ketakwaan juga ditandai dengan  sikap cinta dan solidaritas yang tinggi terhadap sesama, dan saling menghargai terhadap perbedaan.

Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah dalam khutbah wada 14 abad silam, yang perlu dikedepankan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia. Saat itu dan juga di Padang Arafah, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah wada yang legendaris, yang menyerukan persaudaraan sesama manusia.




Timor Leste Belajar ke Sleman Dalam Menangani Kemiskinan

Sleman – Delegasi dari Negara Timor Leste mengadakan kunjungan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, Kamis (22/10). Ketua Tim Delegasi Timor Leste, Arcangelo De Jesus Leite mengatakan kedatangan mereka merupakan bagian dari upaya reformasi kebijakan sosial di Timor Leste.

Delegasi dari Timor Leste mencoba menggali berbagai kebijakan sosial di negara lain untuk mereformasi kebijakan di negaranya. Negara yang dikunjungi menurut Leite ada 2 yaitu Malaysia dan Indonesia. Leite mengatakan bahwa Indonesia dipilih menjadi salah satu negara yang dikunjungi karena dilihat perkembangannya selama ini telah banyak perubahan yang terjadi setelah terjadi reformasi. Pemerintah Timor Leste menilai penting untuk mendapatkan pengalaman dari Indonesia.

Untuk kunjungan di Indonesia, Sleman dipilih karena dianggap memiliki kemajuan-kemajuan positif yang dirasa perlu untuk dipelajari oleh Pemerintah Timor Leste. Salah satu hal yang ingin dipelajari adalah terkait penanggulangan kemiskinan di Sleman. Leite mengatakan selama ini pemerintahnya masih kesulitan untuk mendapatkan data kemiskinan yang valid karena banyak kepala desa/suku di tempatnya yang memiskinkan warganya ketika dilakukan pendataan.

Sementara itu Asisten Sekda Bidang Administrasi, R Djoko Handoyo SH menyambut baik kedatangan delegasi Timor Leste yang akan berbagi pengalaman dengan Pemkab Sleman. Terkait penanganan kemiskinan Djoko Handoyo mengatakan Sleman sudah memiliki sistem pendataan dan berbagai program kegiatan yang selama ini telah dilaksanakan.

Menanggapi perilaku kepala desa/ suku di Timor Leste yang memiskinkan warganya, Djoko Handoyo juga menyampaikan kalau di Sleman justru ada warga yang menginginkan keluar dari data kemiskinan kerena mereka merasa tidak miskin lagi. Djoko Handoyo mempersilahkan delegasi yang datang ke Sleman untuk berbagi pengalaman bahkan bila perlu ke depan bisa dilakukan kerjasama.




Ujian Penerimaan Staf Desa Sinduharjo

IMG_3316Sleman – Desa Sinduharjo bekerjasama dengan Dinas Hubkominfo Sleman adakan ujian penerimaan staf desa di Laboratorium Komputer LPSE Kabupaten Sleman, Kamis (22/10). Peserta ujian sebanyak 23 peserta dari wilayah Desa Sinduharjo.

Ujian penerimaan staf desa untuk mengisi lowongan staf sebanyak 3 orang di Desa Sinduharjo. Ujian dilaksanakan selama 2 hari dari tanggal 21 – 22 Oktober 2015 bertempat di Desa Sinduharjo dan Laboratorium Komputer LPSE Dinas Hubkominfo Kabupaten Sleman.

Pada hari pertama, Rabu (21/10) telah dilaksanakan ujian secara tertulis. Dan, hari kedua, Kamis (22/10) dilaksanakan ujian praktek komputer. Materi yang diujikan seputar kemampuan dasar TIK.

Paitia Ujian, Sutiyanto mengatakan peserta ujian berasal dari suberdaya lokal Desa Sinduharjo. Pemerintah Desa Sinduharjo. Syarat peserta ujian staf desa minimal lulusan SLTA dan mampu menguasai atau mengoperasikan komputer dengan usia 19 – 45 tahun, tambahnya.

Hasil dari ujian akan diumumkan pada Kamis, 22 Oktober 2015 sore di Desa Sinduharjo.