Gatot Resmikan Berbagai Proyek di Depok

DSC_9043Sleman – Untuk mengatasi permasalahan lingkungan akibat padatnya pemukiman penduduk di wilayah perkotaan  Pemerintah Desa Condongcatur melalui Anggaran Satuan kerja Penyehatan Lingkunga DIY tahun 2014 berhasil membangun Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) sistem  Instalasi Pengolah Air Limbah (Ipal) Komunal di Padukuhan Joho.

Menurut FA Tri Wisono selaku Ketua KSM Sengkat Sehat. Untuk membangun Ipal tersebut dananya dari Pemerintah DIY sebesar Rp 400 juta dan dana swadaya masyarakat Rp 4,3 juta ditambah dengan swadaya penyambungan perpipaan sekitar Rp 23 juta. Sanimas ini dimanfaatkan oleh 56 KK dengan 307 jiwa.

Peresmian Ipal Komunal tersebut dilakukan oleh Penjabat Bupati Sleman Ir Gatot Saptadi, Rabu (4/11). Dalam kunjungannya Gatot didampingi Assek II, Kepala Badan Lingkungan Hidup, Camat Depok serta Muspika dan Kades Condongcatur.

Selanjutnya Gatot meresmikan gapura dan jalan conblok RW14 Padukuhan Dero. Untuk gapura menghabiskan dana Rp 25,5 juta sedangkan konblok Rp 88,1 juta. Dilanjutkan dengan peresmian Lembaga Bank Sampah Kasturi, Padukuhan Gempol Condongcatur Depok.

Ditempat tersebut Gatot membuka selubung papan nama Bank Sampah juga menanam pohon sirsat. Dalam kesempatan ini juga diterima bantuan 35 tempat sampah dari Universitas Sanata Dharma untuk Desa Condongcatur dan Caturtunggal.

Gatot  mengatakan pembangunan Sanimas sistem  Ipal Komunal ini merupakan salah satu konsekuensi logis dari semakin padatnya pemukiman dan semakin tumbuhnya industri baik itu industri besar, menengah, kecil dan rumah tangga di Kabupaten Sleman.

“Hal ini karena, sebagai Kabupaten yang tumbuh cukup pesat baik itu perkembangan industri maupun perkembangan kawasan permukiman, kita harus memberi perhatian khusus dan bijak dalam mengelola dan melaksanakan pembangunan agar terwujud kesinambungan pembangunan dan tetap terjaganya kelestarian alam lingkungan,” kata Gatot.

Gatot  juga mengapresiasi warga Dero yang memperindah lingkungan dengan pembangunan Gapura dan membangun jalan dengan konblok sehingga akan nyaman untuk dilalui. Ditengah lingkungan perkotaan namun gotong royong warga masih tetap dijaga dengan baik hal ini juga mendapat apresiasi dari Gatot.

Saat ini di wilayah Kabupaten Sleman memiliki 195 Kelompok Sampah Mandiri (KSM)/Bank sampah, ke depan Pemerintah Kabupaten Sleman akan terus memotivasi dan melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat agar dapat melakukan pengelolaan sampah secara mandiri dan juga membentuk kelompok-kelompok pengelolaan sampah secara mandiri.

Sekarang beberpa kelompok bank sampah yang ada di Sleman sudah mampu memperoleh manfaat ekonomi dari adanya bank sampah, yang mana kedepan sampah dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.




Sleman Mulai Bangun Tetenger Erupsi Merapi

Sleman – Untuk menandai telah terjadi erupsi Merapi Kabupaten Sleman membangun tetenget Erupsi Merapi 2010. Peletakan batu pertama pembangunan tetenger Erupsi Merapi 2010 di dusun Bakalan Argomulyo Cangkringan telah dilakukan oleh Penjabat Bupati Sleman Ir Gatot Saptadi, Rabu (4/11). 

Selain  itu juga dilakukan penyerahan tumpeng oleh Penjabat Bupati Sleman kepada Kepala Desa Argomulyo, agar dalam pelaksanaan pembangunan tetenger erupsi Merapi tersebut berjalan lancar. Gatot  pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa tetenger Erupsi Merapi Tahun 2010, sebagai penanda atas musibah erupsi yang telah melanda wilayah Sleman lima tahun lalu.

“Keberadaan tetenger Erupsi Merapi 2010 ini menjadi sebuah situs yang mengingatkan kita semua akan dahsyatnya erupsi merapi yang pernah terjadi di wilayah kita ini, semoga dengan berdirinya tetenger erupsi ini dapat menjadi pengukuh semangat serta pemersatu langkah bagi semua pihak baik pemerintah, swasta dan masyarakat dalam mensiapsiagakan diri untuk mengantisipasi dampak bencana serupa yang mungkin akan terjadi dikemudian hari,” kata Gatot.

Disampaikan pula bahwa pada tahun 2010 yang lalu,  semua merasakan bagaimana dahsyatnya erupsi Gunung Merapi, yang kemudian mengakibatkan sekitar 3000 rumah tersapu awan panas, lebih dari 3000 ekor ternak mati, 398 jiwa meninggal dunia, dan lebih dari 800 orang kehilangan usahanya dan juga menyebabkan lumpuhnya perekonomian,  selain itu erupsi Merapi telah menyebabkan kerusakan dan kerugian yang tidak sedikit. Kerugian akibat erupsi Merapi ditaksir mencapai Rp 5,407 trilyun lebih.

Angka kerugian dan kerusakan tersebut meliputi sektor permukiman, infrastruktur, sosial, ekonomi dan lintas sektor. Erupsi Merapi juga telah meluluhlantakkan lebih dari 25 dusun di 5 desa kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman. Sebanyak KK kehilangan tempat tinggalnya, dan yang lebih parah lagi, tidak semua lahan dapat ditinggali lagi karena masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) III.

Hingga perbaikan di segala sektor di lakukan Pemerintah Kabupaten Sleman bersama masyarakat dengan dukungan berbagai pihak baik dalam segi struktural maupun non struktural sehingga Kabupaten Sleman dapat segera pulih dari dampak erupsi Merapi yang lalu.

Untuk itu Gatot menghimbau kepada seluruh masyarakat Sleman untuk terus mau  berpartisipasi dalam program kegiatan yang pemerintah canangkan dalam upaya kesiapsiagaan bencana sebagai upaya  bersama dalam mengurangi resiko bencana.

Sedangkan Kepala Mitigasi Gempa Bumi dan Gerakan Tanah Drs Subadriyo menyampaikan bahwa belum ada bencana yang sedahsyat letusan Gunung Merapi, karena pengungsinya mencapai 500 an ribu orang yang terjadi tahun 2010 silam.

Sementara akibat letusan tersebut material yang diluncurkan akibat letusan luar biasa banyaknya. Namun  demikian muntahan lahar tersebut jangan dipandang hanya sebagai galian C, tetapi sebagai keseimbangan  lingkungan. Kalau muntahan tersebut diambil tanpa batas, maka dikawatirkan akan timbul bencana lagi, karena tidak adanya keseimbangan alam.

Dikatakan subandrito  bahwa mengelola Merapi kedepan harus totalitas agar tidak terjadi bencana yang dahsyat lagi. Sementara itu untuk membangun tetenger erupsi Merapi 2010 di dusun Bakalan Argomulyo tersebut menelan biaya hampir Rp 150 juta, yang merupakan bantuan COV 8.