Fazan Musik Indonesia tampilkan karya Hamdy Salad

fazanSleman – Fazan Musik Indonesia tampil mewakili Sleman dalam musikalisasi sastra 2015 “Semesta Suara Yogya” di Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (18/11). Grup Fazan Musik Indonesia merupakan grup religi yang berdiri sejak 2001 dan mengusung aliran pop alternatif. Tak seperti format grup band biasanya, Fazan Musik Indonesia menguatkan image religinya dengan tampil bersama 25 musisi perkusi.

Grup Fazan Musik Indonesia menampilkan lagu dengan judul seperti Kuda Lumping, Meditasi Debu, dan Tasbih Merapi yang merupakan karya sastra dari Hamdy Salad. Lirik – lirik sastra tersebut menceritakan tentang para pencari tuhan yang sedan berkontemplasi mencari hakekat dan hikmah dari begitu banyak peristiwa hidup yang menggugah sisi spiritual vertikal maupun horizontal.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Drs. Umar Priyono, . mengatakan pagelaran musikalisasi sastra merupakan wujud rasa kecintaan dari Pemerintah Daerah DIY potensi – potensi seni dan budaya yang ada di Yogyakarta. Seni akan membangkitakn kepekaan rasa atau jiwa bagi para pelaku maupun penikmatnya tambahnya

Musikalisasi sastra digelar selama dua hari dari Rabu, 18 November sampai Kamis, 19 November 2015. Pagelaran musikalisasi sastra 2015 “Semesta Suara Yogya” sendiri merupakan bagian dari program reguler Taman Budaya Yogyakarta sejak 2013. Program ini dimaksudkan sebagai upaya mengembangkan dan mensosialisasikan karya – karya sastra melalui bentuk ekspresi seni pertunjukan yang bersifat musikal.

Selain Fazan Musik Indoenesia, pagelaran musikalisasi sastra hari pertama dimeriahkan oleh Sapen Mini Orkestra (SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta) dan Komunitas Sekar Selo (Gunungkidul). Sedangkan untuk hari kedua akan dimerihakan oleh penampilan dari Komunitas Omtejo (Kota Yogyakarta), Ajar Sastra Kulonprogo (Kulonprogo), dan Gang Sadewa (Bantul).

Dengan adanya program ini dimungkinkan dapat menjangkau dan memberi ruang kreatif bagi group/genre/aliran/komunitas musik di Yogyakarta, sekaligus menyumbangkan alternatif gagasan baru seni musik yang diolah dari teks sastra. Dengan tujuan ragam bentuk dan jenis ekspresi karya sastra tidak hanya berhenti dibaca secara personal melalui lembaran buku, namun juga melalui seni pertunjukan.***




KSU Lansia Kalasan Terus Berkembang

Sleman – Usia lanjut tidak menjadi penghalang untuk terus berkarya. Hal ini dibuktikan oleh anggota Koperasi Serba Usaha (KSU) Lansia. Koperasi ini khusus beranggotakan para pensiunan yang bertempat tinggal di kompleks Perumahan Pertamina Purwomartani Kecamatan Kalasan Sleman. Sejak dibentuk pada tahun 1993, koperasi ini terus berkembang bahkan pendapatan sekarang mencapai Rp 7 miliar. Selain itu, anggotanya juga terus bertambah.

Dari awalnya hanya puluhan anggota, kini sudah ada sekitar 150 orang yang bergabung. Penggagas sekaligus mantan Ketua KSU Lansia, Soedibjo (78) menuturkan, pendirian koperasi ini awalnya untuk mengisi waktu yang banyak luang usai masa pensiun.

“Tercetus ide membuat koperasi agar ada kegiatan yang bermanfaat sekaligus produktif,” kata Soedibjo, Rabu (18/11).

Sebelumnya, para anggota KSU ini sudah aktif dalam paguyuban lansia Patra Wijaya Kusuma. Setelah sepakat membentuk koperasi, mereka kemudian menjalankan usaha penjualan minyak tanah.

Menurutnya kegiatan usaha ini bertahan sampai tahun 2008. Setelah gencar program konversi, mereka beralih ke produk elpiji. Aktivitas usaha yang dijalankan para lansia yang rata-rata berusia diatas 70 tahun ini mendapat respon cukup positif dari warga sekitar. Data per akhir tahun 2014, pendapatan dari penjualan elpiji mencapai Rp 5,9 miliar.

Selain tabung gas, KSU Lansia juga aktif melakukan kegiatan bisnis lain seperti unit toko, simpan pinjam, persewaan meja kursi, serta loket pembayaran listrik, telpon, dan PDAM. Selain memberi manfaat bagi anggota, dari berbagai kegiatan usaha itu, KSU ini juga berhasil memberdayakan pihak luar dengan direkrut menjadi karyawan.

“Memang tidak selalu di setiap usaha, anggota turun langsung. Tapi kami tetap melakukan pengawasan,” kata Dibjo.

Salah satu anggota KSU Lansia, Ny Soelatun (75) berharap koperasi ini bisa terus didukung oleh Pemkab Sleman. Sejauh ini, pemerintah daerah dirasa sudah cukup peduli. Tiap kali penyelenggaraan rapat anggota tahunan (RAT), perwakilan instansi terkait dalam hal ini Disperindagkop, selalu hadir untuk memberikan masukan sekaligus penilaian.

“Kami harap komunikasi yang selama ini sudah terjalin dengan baik ini bisa terus dipertahankan,” katanya.




Musim Hujan waspadai Leptospirosis

Sleman – Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr Mafilindati Nuraini Mkes mengatakan memasuki musim hujan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman menghimbau masyarakat untuk terus waspada terhadap penyakit musiman. Karena memasuki musim penghujan ada kecenderungan sejumlah penyakit berkembang di bandingkan musim sebelumnya. Diantara penyakit yang ancamannya meluas  dan perlu diwaspadi adalah leptospirosis atau penyakit yang diakibatkan bakteri Leptospira sp.

“Di Kabuoaten Sleman, penyakit ini biasanya tersebar di wilayah pertanian seperti Kecamatan Minggir, Moyudan, Seyegan, atau Kalasan karena ada kecenderungan penyakit  tersebut ditularkan oleh tikus ke manusia,” kata Linda panggilan Mafilindati.

Ditambahkan Linda bahwa  dari pendataan Dinkes Sleman, penyakit ini mulai tersebar di wilayah urban seperti  Kecamatan Depok, Ngaglik, dan Mlati.  Sampai saat ini diketahui di Sleman  terdapat enam kasus leptospirosis.

Menurut Linda  hal ini terjadi karena penyebaran populasi tikus di wilayah urban. Kondisi ini dimungkinkan karena padatnya pemukiman dan potensi penumpukan sampah yang tinggi. Untuk kawasan padat penduduk memang cenderung banyak tumpukan sampah yang mengundang tikus sehingga kondisi ini yang memungkinkan penyebarannya.

Saat ini lanjut Linda, masyarakat di wilayah pertanian justru lebih siap menghadapi penyebaran penyakit ini. Pasalnya masyarakat sudah terbiasa dan sangat mengenal penyakit ini.

“Laptospirosis ini biasanya disebarkan melalui urin tikus yang mencemari air yang tergenang. Bisa di sawah maupun tempat penampungan air,” tutur LInda.

Dijelaskan pula bahwa leptospirosis dapat menular melalui kulit yang terluka yang terkena air, tanah lembab atau tanaman yang sudah terkontaminasi bakteri Leptospira sp. Terlebih saat musim hujan yang banyak menimbulkan genangan, sehingga perlu diwaspadai. Bisa saja disebabkan karena membasuh luka dengan air yang sudah tercemar atau menginjak genangan air tanpa alas kaki padahal kaki sedang ada luka.




Atribut Kampanye Ilegal Pilkada Sleman Ditertibkan

Sleman – Sebanyak 500 buah atribut kampanye ilegal pasangan calon kepala daerah peserta Pilkada Sleman, berhasil ditertibkan aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman. ‪Upaya penertiban atribut Pilkada tersebut merata di 17 kecamatan.

Sementara atribut yang digolongkan pelanggaran  antara lain pelanggaran cara pemasangan yang mayoritas terdapat pada pepohonan, baik itu berbentuk rontek, banner, juga poster, sedangkan spanduk dan baliho ilegal jumlahnya hanya beberapa buah.

‪”Penertiban kami lakukan sejak seminggu yang lalu berkoordinasi dengan Panwascam, pelanggaran terbanyak ditemukan di beberapa kecamatan, diantaranya  wilayah Kecamatan Mlati, Gamping dan Ngaglik,” kata Kepala Seksi Operasional Satpol PP Sleman, Sri Madu Rakyanto di Sleman, Rabu (18/11).

‪Menrutu Sri Madu, berdasarkan hasil koordinasi dengan jajaran Panwaslu Kabupaten, masing-masing tim sukses pasangan calon (paslon) tidak boleh mengambil atribut kampanye yang disita, karena pengambilan baru bisa dilakukan setelah seluruh tahapan Pilkada selesai dilaksanakan.

‪”Yang perlu diperhatikan untuk  pengambilan atribut di kantor Satpol PP harus menggunakan surat rekomendasi dari Panwas,”  tambah Sri Madu.

‪Disamping itu Satpol PP Sleman lanjut Sri Madu juga berencana akan  melakukan penertiban atribut kampanye ilegal secara besar-besaran di 17 kecamatan mendekati hari tenang masa kampanye, atau sebelum berlangsungnya pencoblosan tanggal 9 Desember 2015.

”Nanti kami juga akan melibatkan jajaran Panwaslu Kabupaten Sleman,”  kata Sri Madu.***




Atlet Porda Peraih Medali Dapat Bonus

Penyerahan Bonus Pada AtletSleman – Atlet Kontingen Sleman peraih medali pada Porda XIII di Kulonprogo mendapat bonus sebesar Rp 8 juta bagi peraih medali emas, dengan total uang yang sediakan untuk bonus mencapai Rp 3,338 miliar yang akan dibayarkan dua tahap yakni untuk tahap I sebesar Rp 2 miliar dan sisanya akan dibayarkan awal tahun 2016.

Demikian disampaikan Ketua Koni Sleman, Ir Pramono dalam acara Pembubaran dan Pemberian tali asih kontingen Porda XIII Kabupaten  Sleman, Rabu (18/11) di GOR Pangukan Sleman. Pramono menyampaikan Kontingen Sleman Sleman berkekuatan 667 atlet serta 196 Oficial mengikuti 402 nomor dari 407 nomor yang dipertandingkan dari 35 cabang olah raga. Sementara medali yang diperoleh 125 emas, 105 perak dan 129 perunggu terpaut 1 medali emas dari juara umum Kabupaten Bantul yang meraih 126 emas.

“Selisih 1 medali emas ini sungguh menyakitkan bagi kontingen Sleman, namun kenyataan itu akan menjadi pembelajaran dalam mengikuti Porda yang akan datang untuk bisa meraih juara umum,” kata Pramono.

Sementara  Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi  menyampaikan terimakasih kepada para atlet, pelatih serta para official atas peran sertanya mewakili Kabupaten Sleman pada Porda XIII DIY 2015. Walaupun pada tahun ini belum memperoleh trophy juara umum, namun  patut berbangga hati atas perolehan mendali yang diperoleh yang hanya terpaut sedikit dari perolehan mendali juara umum.

“Hasil yang diperoleh ini merupakan representasi dari kerja keras, dedikasi, usaha, para atlet serta pelatih dan official dalam keikutsertaan Porda XIII DIY,” kata Gatot.

Selanjutnya Gatot berharap kekalahan pada Porda 2015 ini tidak menjadi pematah semangat para atlet, mengingat tujuan  dalam keikutsertaan pada Porda tersebut bukan hanya masalah menang atau kalah namun bagaimana berjuang secara sportif. Kemenangan bukanlah semata  tujuan akhir dari sebuah kompetisi namun lebih kepada suatu proses  untuk memaknai arti kemenangan dan prestasi.

“Kita tidak perlu saling menyalahkan baik diantara sesama atlet, pelatih maupun official. Juga tidak perlu menuding kontingen lain sebagai penyebab kekalahan, ambil sisi positif dari kekalahan tersebut. Mungkin kedepan harus lebih sering mengikutsertakan para atlet dalam berbagai kompetisi sebagai ajang latihan agar mental dan teknik bertanding para atlet semakin baik,” tutur Gatot.

Tali asih secara simbolis diserahkan Penjabat Bupati Sleman kepada para atlet dan oficial didampingi Ketua KONI Sleman dan Pj Sekda Sleman. Selanjutnya juga dilakukan pelepasan atribut kontingen topi dan jaket sebagai pertanda pembubaran kontingen Sleman.