KPU Sleman Gelar Penetapan Ulang Rekapitulasi DPT Pilkada Sleman

Serahkan Hasil RekapitulasiSleman – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sleman menggelar penetapan ulang rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilkada Sleman yang dipimpin Ketua KPU, Ahmad Shidqi berlangsung di Kantor KPU Sleman, Jumat (20/11). Dalam rapat pleno tersebut membahas penetapan perubahan DPT di Kecamatan Ngaglik terutama di Desa Minomartani dan Kecamatan Godean untuk Desa Sidoarum, Sidokarto dan Sidorejo.

“Dasar dilakukannya penetapan ulang DPT di dua Kecamatan tersebut adalah surat rekomendasi Panwaskab tanggal 10 november  nomor 138/Panwas/XI/2015 hal rekomendasi penetapan ulang DPT,” kata Ahmad Shidqi kepada wartawan usai memimpin rapat.

Menurut Ahmad Shidqi, hasil rekomendasi Panwas tersebut  di TPS Ngaglik,  Desa Minomartani  ada kesalahan penempatan di TPS 16, 17, dan 18. Jumlah DPT di Minomartani lanjut Ahmad Shidqi jumlahnya tetap hanya terjadi pergeseran. Dari TPS 16 jumlah sebelumnya 248 mendapat tambahan dari TPS 17 sebanyak 168 sehingga totalnya menjadi 416 pemilih.

Sedang dari TPS 17 dari jumlah 393 dipindah ke TPS 16 jumlah 168 dan ditambah dari TPS 18 sebanyak 87 menjadi 312. Dan TPS 18 dari jumlah 413 dipindah ke TPS 17 sehingga tinggal 326 pemilih.

“Yang jelas jumlah pemilih Pilkada Sleman tetap tidak berubah seperti yang sudah ditetapkan tanggal 1 Oktober 2015 lalu yang terjadi hanya pergeseran ke TPS lain,” kata Ahmad Shidqi.

Kesalahan ini lanjut Ahmad Shidqi,  kemungkinan terjadi pada saat entri data sehingga data bisa masuk ke TPS lain.




BPBD Sleman Pasang 30 EWS Longsor

Sleman – Memasuki musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman memastikan Early Warning System (EWS) longsor berfungsi optimal. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi bencana tahunan di Kabupaten Sleman. Demikian antara lain disampaikan, Kepala BPBD Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH di Sleman, Jumat (20/11).

Menurut Julisetiono sebanyak 30 EWS longsor telah terpasang di wilayah Kecamatan Prambanan yang merupakan wilayah rawan tanah longsor. Kendati demikian, Julisetiono tetap meminta warga untuk tidak tergantung pada alat peringatan dini itu.

“EWS hanya alat bantu untuk antisipasi korban. Warga diharapkan tetap meningkatkan kewaspadaannya,” ungkapnya.

Menurutnya selama ini ada kejadian longsor berupa longosran batu di Prambanan yang tidak didahului dengan hujan. Hal itu dikarenakan batu-batu besar di bukit sudah tidak ada ikatan dan lapuknya pohon karena kering. Untuk itu lanjut Julisetiono, EWS dipasang di semua desa yang ada di Prambanan yaitu Desa Gayamharjo, Wukirharjo, Sambirejo, Bokoharjo, dan Madurejo.

“Titik longsor terbanyak di Wukirharjo. Lokasi evakuasi warga ke tempat yang aman sudah siap,” paparnya.

Sementara Camat Prambanan, Abu Bakar menyampaikan ada 289 KK di Kecamatan Prambanan yang rawan longsor. Titik rawan longsor itu ada di Pedukuhan Gayam, Watuadeg, Kalinongko Kidul, Lemahbang, Klumprit I dan II, Watukangsi , Gedang, Pereng, Sengir, Gamparan, Dayakan, Dawung, Sembir serta Nglengkong.
Pedukuhan itu tersebar di Desa Gayamharjo, Wukirharjo dan Sambirejo.

“EWS sudah siap dan warga kami minta untuk selalu waspada. Mengingat hujan  sudah mulai turun ,” katanya.




Satwa Identitas Sleman Terancam Punah

Sleman – Keberadaan burung punglor terancam punah. Populasi satwa yang dijadikan identitas Kabupaten Sleman ini jumlahnya kian menyusut. Di sisi lain, upaya penangkaran yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bersama masyarakat belum juga membuahkan hasil.

“Karakter burung yang gampang mengalami stres menjadikan proses tangkar sering kali gagal. Kami sebenarnya sudah mendorong masyarakat untuk melakukan penangkaran. Tapi tidak mudah karena karakter punglor ternyata mudah stres,” kata Kabid Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman, Sugeng Riyanta di Pres Room Humas Sleman, Jumat (20/11).

Menurut Sugeng, dari hasil analisa, terus menurunnya populasi punglor kemungkinan dipengaruhi faktor habitat. Burung yang dikenal dengan sebutan anis merah ini paling cocok hidup di areal perkebunan salak varietas Jawa. Sementara sekarang ini, nyaris sudah tidak ada lahan yang ditanami salak Jawa. Kebanyakan, lahan perkebunan ditanami salak jenis pondoh.

Upaya mengembalikan habitat punglor di alam pernah dilakukan sekitar lima tahun lalu, dengan membuat demplot perkebunan salak di wilayah Kecamatan Pakem. Tapi usaha itu ternyata juga tidak berhasil. Kedepannya, BLH akan kembali mencoba melakukan penangkaran. Lokasi kandangnya telah disiapkan di sekitar Perumahan Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Sleman.

“Tapi rencana ini masih berskala kecil. Kami siapkan sepasang punglor untuk ditangkarkan oleh warga,” kata Sugeng.

Ironisnya, meski sudah ditetapkan sebagai fauna identitas daerah berdasar SK Bupati , punglor bukan merupakan hewan yang dilindungi. Pihak pemerintah daerah Sleman juga belum berencana mengusulkan ke pusat agar burung itu dijadikan satwa lindung.

Kasubag Tata Usaha Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jogja, Edy Mintaryanto mengatakan, jika menetapkan suatu satwa menjadi identitas kabupaten, seharusnya pemda bersangkutan membuat aturan pelestarian dan perlindungan binatang tersebut. Agar hasilnya efektif, sebaiknya usulan menjadikan punglor sebagai satwa terancam punah diajukan ke pusat.

“Kalau peraturannya berlaku secara nasional, kami bisa menindak secara hukum jika ada pelanggaran. Tapi jika dibuat di tingkat Kabupaten atau desa, aturan hanya berlaku di daerah itu,” terang Edy.

Edy juga mengungkapkan, jual-beli satwa punglor selama ini marak di pasaran. Namun pihaknya tidak bisa mengambil tindakan karena burung itu bukan termasuk jenis yang dilindungi. Untuk menyelesaikan persoalan ini secepatnya harus ada langkah konkrit pelestarian satwa tersebut.




Belasan Surat Suara Pilkada Sleman Mengalami Kerusakan‬

Sleman – KPU Kabupaten Sleman mulai hari  Kamis (19/11) telah melakukan proses sortir surat suara, yang akan digunakan pada pelaksanaan Pilkada tanggal 9 Desember mendatang.‬ ‪Kegiatan tersebut berlangsung selama  tiga hari hingga Sabtu (21/11) bertempat di Gudang Komisi Pemilihan Umum, yang menempati bekas Kantor Kementerian Agama setempat.‬

‪Anggota KPU Sleman Bidang Logistik dan  Keuangan, Aswino Wardhana saat memantau proses sortir surat suara  mengatakan, dari total lembar surat suara yang disortir sudah dalam posisi terlipat sejak dikirim dari percetakan. Hal itu memudahkan petugas untuk menghitung kebutuhan di masing-masing Tempat Pemungutan Suara (TPS).‬

‪”Saat ini kita tinggal membuka dan melihat, jika ada surat suara rusak kemudian dihitung lagi kebutuhannya, proses sortir juga untuk mengetahui jika nanti ada surat suara yang terselip,” kata Aswini, Jumat (20/11).‬

‪Sementara ini kata Aswino, sudah ditemukan belasan lembar surat suara rusak, baik karena potongan kertas tidak simetris maupun lunturnya tinta pada kertas suara, sehingga nanti akan langsung ditukarkan ke percetakan.‬

‪”Jika ditemukan kerusakan akan diganti dengan yang lebih bagus, setelah semua (yang rusak, red) terkumpul baru kita mintakan pengganti ke percetakan,” kata Aswino.‬

‪Sedangkan proses sortir surat suara melibatkan petugas dari Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS) untuk memenuhi kebutuhan bagi masing-masing Kecamatan di Sleman.




Upacara Adat Kirab Ki Ageng Wonolelo

wonoleloSleman – Warga Dusun Wonolelo menggelar upacara adat dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo di Wonolelo, Ngemplak, Widodomartani, Sleman, Jumat (20/11). Kirab pusaka berawal dari Halaman Masjid Ki Ageng Wonolelo menuju makam Ki Ageng Wonolelo.

Ketua Panitia Saparan, Kawit Sudiyono menyampaikan prosesi upacara adat saparan tersebut diawali pada 7 November 2015 dengan pengajian akbar sebagai upaya meneruskan perjuangan Ki Ageng Wonolelo sebagai ulama besar dan penyebar agama Islam.

Dalam prosesi kirab pusaka ditampilkan semua pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo, di antaranya kitab Suci Al Quran,Bandil, Baju Onto Kusuma, Kopyah, Tongkat, Potongan Kayu Mustoko Masjid dan tombak. Kirab Pusaka ini dimulai dari halaman Halaman Masjid Ki Ageng Wonolelo menuju makam Ki  Ageng  satu kilometer.

Ki Ageng Wonolelo sendiri mempunyai nama asli Jumadi Geno merupakan seorang keturunan Prabu Brawijaya V, sekaligus sebagai tokoh penyebar agama Islam pada masa kerajaan Mataram. Ia bermukim di Dusun Pondok Wonolelo dan dikenal  memiliki ilmu kebatinan yang tinggi pada masa itu.

Dikarenakan memiliki ilmu yang tinggi, ia pernah diutus Raja Mataram ke Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang saat itu membangkan terhadap Mataram. Ia berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya yang kemudian membuat nama Ki Ageng Wonolelo atau Jumadi Geno semakin tersohor dari waktu ke waktu. Sehingga semakin banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya.

Sebagai seorang panutan yang memiliki ilmu tinggi, Ki Ageng Wonolelo banyak mewariskan berbagai peninggalan yang berupa tapak tilas dan pusaka dan benda keramat lainnya. Pusaka, jimat dan berbagai benda keramat peninggalan Ki Ageng Wonolelo inilah yang kemudian dikirabkan setiap bulan Sapar pada setiap tahunnya.

Menurut Kawit diselenggarakannya upacara adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo untuk mendukung Yogyakarta dan khususnya Sleman sebagai daerah tujuan wisata. Disamping itu juga untuk mengajak generasi muda untuk menggali dan lebih memahami nilai-nilai seni budaya yang adiluhung.

Serta memberikan wahana bagi pertumbuhan kesenian rakyat serta menumbuhkan rasa handarbeni dan kecintaan terhadap seni budaya lokal. Terlebih dari itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat sebagai pelaku ekonomi selama kegiatan berlangsung.***