Gatot Pimpin Upacara HUT Korpri

Sleman – Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi bertindak sebagai Inspektur Upacara dalam upacara peringatan HUT KORPRI ke 44 di Kabupaten Sleman, Senin (30/11). Dalam upacara ini juga dihadiri Kapolres Sleman, Dandim Sleman, Kajari Sleman dan Ketua Pengadilan Negeri Sleman, Sekda Serta pejabat di lingkungan Pemkab Sleman. Peserta Upacara dari PNS di lingkungan Pemkab Sleman. 

Gatot  yang membacakan sambutan Presiden RI selaku Ketua Dewan Pembina Korpri Pusat mengatakan empat puluh empat tahun bukanlah usia yang singkat. Namun Presiden bangga karena Korpri terus berusaha untuk menguatkan eksistensinya, terus meningkatkan kompetensi dan kinerjanya dalam melayani masyarakat.

Memang tidak mudah, namun kesungguhan untuk terus-menerus mengusahakan hal tersebut akan membuahkan hasil dan manfaat. Baik dan buruknya pelayanan pemerintah kepada masyarakat berada di tangan para anggota Korpri.

Pengharapan masyarakat saat ini terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik sangat besar. Karenanya, sebagai insan aparatur negara dituntut untuk mampu memberikan pelayanan publik yang semakin cepat, mudah, terjangkau dan terukur.

Selama satu tahun Pemerintahan banyak hal yang sudah kita lakukan, antara lain mendorong transformasi fundamental ekonomi Indonesia melalui kebijakan mengubah ekonomi berbasis konsumsi ke ekonomi berbasis produksi, mengakselerasi program tepat sasaran untuk pengentasan kemiskinan, serta mendorong pembangunan yang lebih merata di luar pulau Jawa.

Pembangunan infrastruktur jalan, pelabuhan, bandara udara, penyeberangan perintis, tol laut dan lain sebagainya terus dipacu. Demikian juga upaya mewujudkan swasembada pangan melalui pembangunan bendungan baru, penyediaan teknologi, pendampingan pertanian, pembangunan jaringan irigasi teknis dan pencetakan sawah baru, terus dikerjakan tanpa lelah.

“Sementara itu kita juga tidak pernah berhenti memperhatikan penegakkan hukum, termasuk penegakkan hukum di bidang lingkungan hidup dan kehutanan.
Kita juga bekerja keras untuk menggerakkan pembangunan pedesaan melalui alokasi dana desa, pembangunan perumahan, peningkatan akses kesehatan dan kondisi kesehatan, serta peningkatan fasilitas dan kualitas pendidikan,” kata Gatot yang membacakan sambutan Presiden.

Sementara Gatot menambahkan bahwa dengan kerja keras itu akan memberikan fondasi bagi  semua pihak untuk terus melangkah, serta tetap optimis dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan yang makin berat dan kompleks. Lima amanat yang di sampaikan Presiden yakni Pertama, lakukan percepatan reformasi birokrasidi semua tingkatan. Lakukan reformasi birokrasi tanpa basa-basi, cari terobosan serta cara-cara baru dengan menghindari business as usual.

Berbagai upaya perbaikan harus terus dilakukan dari hulu sampai hilir, baik pada area perubahan mental aparatur, kelembagaan, ketatalaksanaan, SDM aparatur, akuntabilitas, pengawasan, peraturan perundang-undangan, maupun area perubahan pelayanan publik.

“Rakyat ingin segera melihat terwujudnya birokrasi yang bersih dan akuntabel, birokrasi yang efektif dan efisien, birokrasi yang melayani bukan dilayani, serta birokrasi yang memberikan pelayanan publik yang berkualitas,” kata Gatot.

Kedua, lanjut Gatot, bangun mentalitas baru yang positif, yang berintegritas, yang memiliki ethos kerja, dan yang berjiwa gotong royong. Bongkar pola pikir dan mentalitas-mentalitaslama yang negatif. Jadikan revolusi mental sebagai gerakan bersama seluruh anggota Korpri, bukan sebatas program atau proyek yang digerakkan oleh anggaran. Dengan Integritas,  kembalikan jati diri Korpri sebagai abdi negara yang terpercaya.

Dengan Etos Kerja, ditegaskan kembali Korpri sebagai abdi masyarakat dan pelayan rakyat yang tangguh. Serta dengan gotong royong, ditegakkan kembali eksistensi Korpri sebagai motor penggerak pembangunan nasional.

Ketiga, persiapkan diri menuju birokrasi yang dinamis, inovatif dan responsif terhadap perkembangan zaman pangkas semua kerumitan birokrasi serta pastikan masyarakat mendapatkan pelayanan terbaik dengan kualitas tinggi dan waktu yang cepat. Birokrasi harus adaptif dan inovatif dengan tantangan-tantangan baru. Pelayanan publik harus bisa dilakukan dengan lebih efisien dan kompetitif.

“Untuk itu, saya meminta agar mekanisme kerja birokrasi juga harus berubah kearah sistem pemerintahan elektronik atau E-Government, mulai dari budgeting procurement, audit, catalog, purchasing, cash flow management system dan banyak lagi yang lain,” tambahnya.

Banyak pekerjaan dalam birokrasi yang bisa dilakukan jauh lebih efisien dengan menggunakan teknologi informasi. Dengan cara itu pemberian informasi dan pelayanan pada warga bisa dilakukan dengan lebih cepat.

Ke empat, jaga netralitas anggota Korpri dalam pesta demokrasi, khususnya Pemilu Kepala Daerah yang akan digelar akhir tahun ini, Anggota Korpri harus fokus pada tugas dan fungsinya, sehingga dapat memberikan pelayanan publik terbaik kepada masyarakat tanpa ada diskriminasi kepada siapapun juga.

Kelima, semua aparatur birokrasi harus menjadi motor penggerak produktifitas nasional dan daya saing bangsa.  Memasuki era baru, era persaingan yang bukan lagi antar daerah, antar kota ataupun antar Provinsi, tetapi sudah memasuki persaingan antar negara.

“Saya mengharapkan dukungan penuh dari jajaran anggota Korpri untuk mengakselerasi peningkatan daya saing bangsa Kita harus yakin bahwa bangsa kita pasti mampu berkompetisi di era kompetisi regional dan global. Presiden juga mengajak untuk terus meningkatkan kinerja, mendorong efisiensi, memperkuat sinergi, agar pelayanan publik semakin baik serta daya saing bangsa kita pun semakin tinggi,” tambah Gatot.

Pada gilirannya semua akan berujung pada peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia, serta penguatan posisi Indonesia di pentas dunia. Usai upacara kemudian dilanjutkan Ziarah ke Makam Pahlawan Dr. Wahidin Sudiro Husodo dengan Irup Pj Sekda Sleman dan diikuti pejabat Eselon II.




Tim Fisipol UGM Pengabdian Masyarakat di Cangkringan

wukirsariSleman – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Desa Binaan Fisipol UGM melalui Program dari LPPM UGM menyelenggarakan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Desa Binaan dengan mengambil tema Penguatan Aparatur dan Ekonomi Desa Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean bertempat di Desa Wukirsari, Cangkringan, Sleman, pekan lalu. Demikian disampaikan Kabag Humas Sleman, Dra Sri Winarti dikantornya, Senin (30/11).

Menurut Sri Winarti, program Pengabdian Masyarakat untuk Penguatan Aparatur dan Ekonomi Desa Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk membangun desa. Tujuan dari program ini adalah memberi bekal pengetahuan dan ketrampilan baik untuk aparat desa maupun pelaku ekonomi untuk siap menghadapi persaingan dengan lain di Asia Tenggara.

“Pemilihan Desa Wukirsari di Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman berdasarkan kondisi bahwa desa tersebut adalah desa termiskin di Kecamatan Cangkringan namun mempunyai potensi yang kuat untuk pengembangan sektor pertanian, peternakan dan agrowisata,” kata Sri Winarti.

Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah sosialisasi MEA, pelatihan kewirausahaan dan penguatan kelembagaan ekonomi desa, pelatihan aparatur desa, pembuatan website desa, pelatihan penggunaan dan pengelolaan website, fasilitasi pemasaran produk UKM desa, dan Wukirsari Expo.

“Dengan berbagai program ini diharapkan masyarakat Desa Wukirsari mampu mengembangkan taraf perekonomiannya dengan langkah yang lebih terorganisir dan kemampuan untuk bersaing yang lebih baik,” tambah Sri Winarti.

Pada  penutup acara Tim Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Desa Binaan Fisipol UGM menyelenggarakan Wukirsari Expo bertempat di Pasar Cokrokembang, Bubur, Wukirsari, Cangkringan. Acara ini merupakan acara puncak dari kegiatan pendampingan yang telah diselenggarakan sejak bulan Juli 2015.

Rangkaian kegiatan dalam Wukirsari Expo ini diawali dengan senam massal, penampilan drumband dari TK Aba Kregan, pembagian doorprize, transaksi jual beli di pasar dan dilanjutkan dengan acara sarasehan dengan pedagang pasar. Sarasehan menghadirkan pembicara Kepala Bagian Pemerintahan Desa Kabupaten Sleman, Drs Mardiyana dan Sekertaris Dinas Perindagkop Sleman, dimoderatori oleh Dr Hempri Suyatna.

Dalam materi yang disampaikannya Sekertaris Dinas Perindagkop Sleman menyampaikan banyak sekali fasilitasi yang disediakan oleh Disperindagkop mulai dari pelatihan hingga bantuan modal. Sedangkan Mardiyana menyampaikan pesan agar masyarakat terus mengembangkan pasar desa sebagai salah satu usaha rakyat, terlebih pada era otonomi desa. Diharapkan pasar desa ini dapat terus berjalan, ajeg dan semakin baik lagi.



Sleman Peroleh Penghargaan Swasti Sabha Wistara

Sleman– Akhirnya Kabupaten Sleman memperoleh penghargaan Swasti Sabha Wistara yakni sebuah penghargaan tertinggi dalam bidang pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan Kabupaten Sehat di Kabupaten Sleman.

Pada tahun 2009 lalu Kabupaten Sleman memperoleh Swasti Saba Padapa untuk Kabupaten Sehat klasifikasi pemantapan dengan tatanan yang terpilih yaitu ketahanan pangan dan gizi serta kehidupan masyarakat yang sehat dan mandiri, kemudian pada tahun 2011 Kabupaten Sleman memperoleh Swasti Saba, dengan klasifikasi pembinaan (Wiwerda) untuk 4  tatanan terpilih yaitu ketahanan pangan dan gizi, kehidupan masyarakat yang sehat dan mandiri, kawasan permukiman sarana prasarana sehat dan kawasan pariwisata sehat.

Pada tahun 2013 Kabupaten Sleman kembali memperoleh Swasti Saba Wiwerda dengan 5  tatanan yang terpilih yaitu kawasan permukiman sarana prasarana sehat, ketahanan pangan dan gizi, kawasan pariwisata sehat, kehidupan masyarakat yang sehat dan mandiri serta kehidupan sosial yang sehat.

Sedangkan pada tahun ini Kabupaten Sleman mengajukan 7  tatanan yaitu, kawasan permukiman sarana prasarana sehat, kawasan tertib lalu lintas dan transportasi, kawasan pariwisata sehat, kawasan industri dan perkantoran sehat, ketahanan pangan dan gizi, kehidupan masyarakat yang sehat dan mandiri, serta kehidupan sosial yang sehat.

Ketujuh tatanan tersebut masing-masing memiliki program unggulan yang telah dilaksanakan dan telah memenuhi indikator yang telah ditetapkan dalam pedoman penyelenggaraan Kabupaten Sehat, selain itu masing-masing dari tatanan tersebut telah memperoleh penghargaan dari berbagai pihak. Seperti untuk kawasan permukiman sarana prasarana sehat, Pemkab Sleman memperoleh penghargaan MDG award dalam kategori layanan air bersih dan sanitasi serta penghargaan dalam tatanan lainnya.

Dan pada puncak peringatan HKN 2015, Jumat (27/11), di Hotel Bidakara Jakarta Kabupaten Sleman dapat memperoleh penghargaan Swasti Saba klasifikasi pengembangan (Wistara), yang diserahkan oleh Menteri Kesehatgan RI, Dr  Nila Farid Moeloek Sp.M. Penghargaan diterima Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes.

Dikatakan Linda pelaksanaan Kabupaten Sleman meliputi  7 tatanan sebagai program unggulan. Untuk unggulan tatanan lalu lintas tertib dan transportasi dengan program unggulan pelayanan pemeriksaan kendaraan atau kir di Dinas Perhubungan Kominfo dilanjutkan ke ketatanan kehidupan sosial yang sehat dengan lokasi unggulan di TPA An Nur Triharjo Sleman.

Tatanan permukiman sarana dan prasarana sehat dengan lokasi TK Budi Mulia 2 Condongcatur dan pelayanan pos pembinaan terpadu di pasar sehat Sambilegi Depok. Tatanan Industri dan perkantoran sehat yang diunggulkan yakni Khansa snak di condongcatur depok yakni industry olahan abon tuna, lele, bakso, nugget dan otak-otak, kemudian tatanan kehidupan masyarakat sehat yang mandiri dengan PIK R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) Genderang Kecamatan Ngaglik.

Pengelolaan lingkungan permukiman di Nglempong Surodadi Girikerto Turi (pengelolaan sampah mandiri). Untuk tatanan ketahanan pangan dan gizi dengan program unggulan budidaya tanaman hortikultura oleh kelompok masyarakat di dusun cancangan wukirsari cangkringan. Dan yang terakhir tatanan pariwisata sehat dengan unggulan desa wisata pulesari Wonokerto Turi.

Dengan diperolehnya penghargaan ini merupakan wujud kerjasama dan keterpaduan dari berbagai instansi terkait dan masyarakat Sleman untuk menuju masyarakat Sleman yang sehat. Ke depan implementasi masing-masing tatanan akan diperluas ke wilayah kecamatan sesuai dengan potensi masing-masing, sehingga dapat mempertahankan prestasi yang telah diraih.




34 Tahun Bank Sleman Telah Melewati Masa Krisis Ekonomi

Bank SlemanSleman – Dengan usia ke-34 Bank Sleman  telah melewati berbagai tantangan krisis ekonomi dan  bencana melemahnya dolar dapat dilewati dengan baik sehingga Bank Sleman sebagai banknya milik Pemerintah Kabupaten Sleman tetap eksis berdiri untuk melayani masyarakat.

“Kondisi ekonomi makro mudah-mudahan tidak mempengaruhi kondisi Bank Sleman,” kata Dirut Bank Sleman, Moh Sigit SE MSi  dalam acara peringatan HUT Bank Sleman yang ke-34  di Hotel Crystal Lotus Jl Magelang, Sabtu (28/11).

Sigit menambahkan  Bank Sleman dapat mempertahankan kinerja dengan sangat Bagus dan mendapatkan pengakuan serta penghargaan dari Majalah Info Bank dengan total aset saat ini mencapai Rp 594 miliar, dan sampai akhir tahundiharapkan bisa mencapai Rp 600 miliar, Laba Sebelum pajak sampai dengan Oktober 2015 Rp 20 miliar dan  target sampai akhir tahun sebesar Rp 22 miliar.

“Kami ingin  Bank Sleman dapat mencapai aset triliunan,” kata Sigit.

Bank Sleman saat ini dan terus berusaha bisa menjadi kebanggaan masyarakat Sleman dan menjadi bagian Icon BUMD kebanggaan masyarakat Sleman. Tak lupa Sigit juga mengucapkan terimakasih pada Bupati dan jajaran Pemerintah Kabupaten Sleman, serta seluruh jajaran karyawan sehingga Bank Sleman bisa menjadi bank yang sehat.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Prof Dr Abdul Halim MBA AKt selaku Dewan pengawas yang akan memasuki purna tugas karena juga telah bersama-sama memajukan Bank Sleman.




Pemkab Adakan Gladi lapang Paseduluran Sekolah ‘Sister School’

Gladi LapangSleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mengadakan Gladi lapang paseduluran sekolah “Sister School”  dan penandatangan MOU sister school yang berlangsung di lapangan Pemda , Sabtu (28/11).

Kegiatan tersebut dibuka oleh Plt Sekretaris Daerah Drs Iswoyo Hadiwarno mewakili Penjabat Bupati Sleman. Hadir pada kesempatan tersebut antara lain Kepala BPBD Kabupaten Sleman Drs Julisetiono  Dwi Wasito SH, MM, Kasubdit mitigasi dan standardisasi BNPB Elir Irawati , SKM MM,  dan para Camat yang berdampak langsung erupsi Merapi.

Jalannya gladi lapang tersebut antara lain masing-masing sekolah melakukan aktivitas belajar mengajar seperti biasa, dan tiba-tiba  status Merapi  naik dari waspada ke siaga hingga para siswa dan guru  harus mengungsi di sekolah penyangga, hingga suasanya pada waktu tersebut ramai terjadi kepanikan, namun berkat kesiapan guru dan aparat terkait hingga bisa diantisipasi dengan baik, meskipun pada kesempatan tersebut terjadi beberapa siswa yang terluka.

Pada gladi lapang juga dilakukan penandatangan MOU paseduluran sekolah sister school tahun 2015  terhadap 20 sekolah. Dalam gladi lapang yang melibatkan  20 sekolah  mulai dari SD sampai dengan SMA/SMK di Kabupaten Sleman.

Ke 20 sekolah tersebut merupakan sekolah yang berdampak langsung kena erupsi Merapi dan sekolah sebagai penyangga. 20 sekolah yang kena dampak dan penyangga tersebut  SMK Muhammadiyah Pakem dengan SMK Muhammadiyah 1 Sleman, SMA N 1 Cangkringan dengan SMAN 1 Pakem, SDN Banyu Urip 1 Turi dengan SDN Turi 3, SD Muhammdiyah Cepitsari dengan SDN Kejambon 2 Ngemplak.

Dan, SDN Kloposawit Tuti dengan SMPN 1 Turi, SMP Taman Dewasa dengan SMKN 1 Cangkringan, SDN Cancangan dengan SDN Kiyaran 2 Cangkringan, SD Muhammadiyah Balerante dengan SDN Klegung 2 Tempel, SDN  Glagaharjo Cangkringan dengan SDN Bronggang Cangkringan, dan  SDN Gungang Cangkringan dengan SDN Umbulmartani Ngemplak.

Penandatangan dilakukan oleh kepala sekolah masing-masing  berdampak erupsi dan kepala sekolah penyangga, yang disaksikan Sekda Sleman Drs Iswoyo Hadiwarno, juga sebagai saksi Kepala BPBD Sleman dan Dikpora.

Penjabat Bupati Sleman dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan  Iswoyo Hadiwarno menyampaikan bahwa dalam setiap mitigasi bencana, dukungan dari masyarakat dan dukungan tim relawan mutlak diperlukan. Masyarakat juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam meng­ha­dapi bencana, dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa.

Oleh karena itu melalui kegiatan gladi lapang paseduluran sekolah “Sister School”, antara sekolah terdampak dan sekolah penyangga akibat erupsi gunung Merap dapat meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi erupsi gunung Merapi.

“Yang jelas kita harus menyadari bersama bahwa, mitigasi bencana harus menjadi bagian dari budaya dan local wisdom masyarakat Sleman. Oleh karena itu pembinaan dan pelatihan cara penanggulangan bencana harus dimulai sejak dini,” kata Iswoyo membacakan sambutan Penjabat Bupati Sleman.

Mitigasi bencana lanjutnya harus diperkenalkan dan diajarkan di bangku sekolah, bahkan sejak jenjang yang paling bawah. Siswa-siswa sangat perlu diberi pemahaman dan pembinaan bagaimana cara penanggulangan dan mitigasi bencana.

Disampaikan bahwa Pemkab Sleman selain akan terus mengembangkan SSB di wilayah yang memiliki potensi bencana, juga membentuk desa tangguh bencana yang saat ini berjumlah 5 desa, diantaranya Desa  Pakembinangun, Purwobinangun dan Hargobinangun di Kecamatan Pakem, Desa Glagaharjo di Kecamatan Cangkringan dan Desa  Donoharjo di Kecamatan Ngaglik.

Sementara itu Kepala BPBD Sleman Julisetiono melaporkan bahwa tujuan gladi lapang dan MOU tersebut dalam rangka mengantisipasi bila terjadi bencana khususnya erupsi merapi, agar masyarakat dan terutama siswa dan perangkat sekolah lebih siap bila terjadi bencana.

Dikatakan Julisetiono bahwa kedepan gladi lapang seperti ini juga akan dilakukan meskipun kondisi gung merapi cukup aman. Akan tetapi untuk mengantisipasi kejadian seperti tahun 2010 harus terus diwaspadai, maskipun kita tidak mengharapkan.