Pejabat Sleman Ikut Lomba Masak Nasi Goreng

Lomba MasakSleman – Suasana Rumah Dinas Bupati Sleman terlihat berbeda dengan hari biasanya. Karena dilakukan lomba masak nasi goreng antara pejabat eselon III dan IV dari SKPD  Pemerintah Kabupaten Sleman dalam rangka HUT Korpri ke 44 di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (19/11). 

Jumlah peserta lomba memasak sebanyak 30 orang terdiri dari perwakilan dari setiap SKPD, turut serta memasak nasi goreng Penjabat Bupati Sleman Ir Gatot Saptadi, Pj Sekda Drs Iswoyo Hadiwarno dan  Asisten Sekda Bidang Administrasi Djoko Handoyo, dan pejabat lainnya.

Menurut laporan Panitia Lomba Drs Pustopo bahwa  lomba memasak nasi goreng oleh bapak-bapak pejabat  yang akan dinilai dari cita rasa, kreatifitas, penyajian, penampilan serta alokasi waktu yang memenuhi selama 20 menit. Dalam lomba memasak nasi goreng ini masing-masing peserta diberikan kebebasan untuk dapat memilih bumbu – bumbu yang telah disediakan oleh panitia di meja depan.

Dalam sambutannya Gatot Saptadi  mengatakan lomba memasak ini merupakan peringatan HUT Korpri Ke 44 Kabupaten Sleman. Gatot juga  sangat  mengapresiasi kegiatan lomba masak nasi goreng yang diselenggarakan tiap tahun sebagai ajang refresing karena setiap hari sudah disibukan dengan kegiatan dinas dan pelayanan.

“Lomba masak ini dapat memupuk bakat serta hobi memasak bapak-bapak, agar bisa mengantikan ibu di rumah apabila sedang berhalangan, untuk dapat memasakan anak-anaknya,” tutur Gatot.

Lomba ditandai dengan penyematan celemek kepada salah satu peserta sebagai tanda dimulainnya lomba memasak oleh Penjabat Bupati Sleman. Dan hasil dari lomba memasak nasi goreng ialah Juara I dari  Perwakilan Unit Korpri Setda,  Juara 2 unit Korpri  Badan Kepegawaian Daerah, Juara III dari RSUD Prambanan, Juara Harapan I Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Juara Harapan II dari unit Korpri  Kecamatan Mlati.




229 PNS Sleman Terima SK Pensiun

Serahkan SK PensiunSleman – Sebanyak 229 Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menerima SK pensiun TMT 1 Januari hingga 1 Juni 2016 di Pendopo Parasamya Kabupaten Sleman, Kamis (19/11). Dengan perincian per 1 Januari 29 orang, per 1 Februari 39 orang, per 1 Maret 14 orang, per 1 April  51 orang, per 1 Mei 46 orang dan per 1 Juni 50 orang.

Sementara untuk PNS terbanyak dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Sleman mencapai 177 orang, sisanya dari SKPD di Kabupaten Sleman. SK pensiun diserahkan oleh Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi didampingi Kepala BKD Sleman Drs Iswoyo Hadiwarno dan Pemimpin Bank BPD Sleman yang juga memberikan bingkisan kepada para penerima SK pensiun.

Gatot menyampaikan bahwa seluruh prestasi baik dalam pembangunan, kesejahteraan dan keamanan masyarakat yang telah dicapai hingga saat ini, merupakan hasil dari kerja keras bersama PNS penerima SK pensiun kali ini. Melewati masa-masa hingga menerima SK pensiun seperti pada saat ini merupakan anugerah yang patut disyukuri.

Banyak pula PNS yang terpaksa mengajukan pensiun dini dikarenakan sakit atau alasan lain. Tidak sedikit pula PNS yang harus diberhentikan dengan tidak hormat karena melakukan pelanggaran berat.

Namun demikian, menurut Gatot  purna tugas bagi PNS bukanlah akhir dari suatu pengabdian, melainkan merupakan wujud keberhasilan pengabdian dalam melaksanakan amanah sebagai pamong projo. Menjalani masa pensiun atau purna tugas perlu direncanakan dengan baik, karena melalui perencanaan masa pensiun yang baik akan dapat membantu mengatasi berbagai tantangan hidup di masa pensiun.

“Masa pensiun juga bukan berarti bahwa segala aktifitas terhenti, namun hendaknya dapat dimaknai sebagai suatu awal untuk mengabdi pada masyarakat dengan waktu yang lebih lama, bapak/ibu dapat tetap produktif dalam berkegiatan, dengan memberi sumbangsih ide, gagasan, pemikiran serta secara aktif membangun lingkungan masyarakat masing-masing,” kata Gatot.

Berbagai pengalaman selama bekerja sebagai PNS baik keberhasilan, prestasi maupun hambatan yang pernah dihadapi dapat menjadi modal untuk berkarya di tengah masyarakat. Bahkan para pensiunan dapat fokus mengembangkan hobi tersebut sebagai sebuah usaha yang menjanjikan. Dengan terus berkegiatan dan beraktifitas baik secara fisik maupun mental dalam lingkungan sosial dapat mendinamiskan kehidupan di masa pensiun.




Fazan Musik Indonesia tampilkan karya Hamdy Salad

fazanSleman – Fazan Musik Indonesia tampil mewakili Sleman dalam musikalisasi sastra 2015 “Semesta Suara Yogya” di Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (18/11). Grup Fazan Musik Indonesia merupakan grup religi yang berdiri sejak 2001 dan mengusung aliran pop alternatif. Tak seperti format grup band biasanya, Fazan Musik Indonesia menguatkan image religinya dengan tampil bersama 25 musisi perkusi.

Grup Fazan Musik Indonesia menampilkan lagu dengan judul seperti Kuda Lumping, Meditasi Debu, dan Tasbih Merapi yang merupakan karya sastra dari Hamdy Salad. Lirik – lirik sastra tersebut menceritakan tentang para pencari tuhan yang sedan berkontemplasi mencari hakekat dan hikmah dari begitu banyak peristiwa hidup yang menggugah sisi spiritual vertikal maupun horizontal.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Drs. Umar Priyono, . mengatakan pagelaran musikalisasi sastra merupakan wujud rasa kecintaan dari Pemerintah Daerah DIY potensi – potensi seni dan budaya yang ada di Yogyakarta. Seni akan membangkitakn kepekaan rasa atau jiwa bagi para pelaku maupun penikmatnya tambahnya

Musikalisasi sastra digelar selama dua hari dari Rabu, 18 November sampai Kamis, 19 November 2015. Pagelaran musikalisasi sastra 2015 “Semesta Suara Yogya” sendiri merupakan bagian dari program reguler Taman Budaya Yogyakarta sejak 2013. Program ini dimaksudkan sebagai upaya mengembangkan dan mensosialisasikan karya – karya sastra melalui bentuk ekspresi seni pertunjukan yang bersifat musikal.

Selain Fazan Musik Indoenesia, pagelaran musikalisasi sastra hari pertama dimeriahkan oleh Sapen Mini Orkestra (SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta) dan Komunitas Sekar Selo (Gunungkidul). Sedangkan untuk hari kedua akan dimerihakan oleh penampilan dari Komunitas Omtejo (Kota Yogyakarta), Ajar Sastra Kulonprogo (Kulonprogo), dan Gang Sadewa (Bantul).

Dengan adanya program ini dimungkinkan dapat menjangkau dan memberi ruang kreatif bagi group/genre/aliran/komunitas musik di Yogyakarta, sekaligus menyumbangkan alternatif gagasan baru seni musik yang diolah dari teks sastra. Dengan tujuan ragam bentuk dan jenis ekspresi karya sastra tidak hanya berhenti dibaca secara personal melalui lembaran buku, namun juga melalui seni pertunjukan.***




KSU Lansia Kalasan Terus Berkembang

Sleman – Usia lanjut tidak menjadi penghalang untuk terus berkarya. Hal ini dibuktikan oleh anggota Koperasi Serba Usaha (KSU) Lansia. Koperasi ini khusus beranggotakan para pensiunan yang bertempat tinggal di kompleks Perumahan Pertamina Purwomartani Kecamatan Kalasan Sleman. Sejak dibentuk pada tahun 1993, koperasi ini terus berkembang bahkan pendapatan sekarang mencapai Rp 7 miliar. Selain itu, anggotanya juga terus bertambah.

Dari awalnya hanya puluhan anggota, kini sudah ada sekitar 150 orang yang bergabung. Penggagas sekaligus mantan Ketua KSU Lansia, Soedibjo (78) menuturkan, pendirian koperasi ini awalnya untuk mengisi waktu yang banyak luang usai masa pensiun.

“Tercetus ide membuat koperasi agar ada kegiatan yang bermanfaat sekaligus produktif,” kata Soedibjo, Rabu (18/11).

Sebelumnya, para anggota KSU ini sudah aktif dalam paguyuban lansia Patra Wijaya Kusuma. Setelah sepakat membentuk koperasi, mereka kemudian menjalankan usaha penjualan minyak tanah.

Menurutnya kegiatan usaha ini bertahan sampai tahun 2008. Setelah gencar program konversi, mereka beralih ke produk elpiji. Aktivitas usaha yang dijalankan para lansia yang rata-rata berusia diatas 70 tahun ini mendapat respon cukup positif dari warga sekitar. Data per akhir tahun 2014, pendapatan dari penjualan elpiji mencapai Rp 5,9 miliar.

Selain tabung gas, KSU Lansia juga aktif melakukan kegiatan bisnis lain seperti unit toko, simpan pinjam, persewaan meja kursi, serta loket pembayaran listrik, telpon, dan PDAM. Selain memberi manfaat bagi anggota, dari berbagai kegiatan usaha itu, KSU ini juga berhasil memberdayakan pihak luar dengan direkrut menjadi karyawan.

“Memang tidak selalu di setiap usaha, anggota turun langsung. Tapi kami tetap melakukan pengawasan,” kata Dibjo.

Salah satu anggota KSU Lansia, Ny Soelatun (75) berharap koperasi ini bisa terus didukung oleh Pemkab Sleman. Sejauh ini, pemerintah daerah dirasa sudah cukup peduli. Tiap kali penyelenggaraan rapat anggota tahunan (RAT), perwakilan instansi terkait dalam hal ini Disperindagkop, selalu hadir untuk memberikan masukan sekaligus penilaian.

“Kami harap komunikasi yang selama ini sudah terjalin dengan baik ini bisa terus dipertahankan,” katanya.




Musim Hujan waspadai Leptospirosis

Sleman – Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr Mafilindati Nuraini Mkes mengatakan memasuki musim hujan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman menghimbau masyarakat untuk terus waspada terhadap penyakit musiman. Karena memasuki musim penghujan ada kecenderungan sejumlah penyakit berkembang di bandingkan musim sebelumnya. Diantara penyakit yang ancamannya meluas  dan perlu diwaspadi adalah leptospirosis atau penyakit yang diakibatkan bakteri Leptospira sp.

“Di Kabuoaten Sleman, penyakit ini biasanya tersebar di wilayah pertanian seperti Kecamatan Minggir, Moyudan, Seyegan, atau Kalasan karena ada kecenderungan penyakit  tersebut ditularkan oleh tikus ke manusia,” kata Linda panggilan Mafilindati.

Ditambahkan Linda bahwa  dari pendataan Dinkes Sleman, penyakit ini mulai tersebar di wilayah urban seperti  Kecamatan Depok, Ngaglik, dan Mlati.  Sampai saat ini diketahui di Sleman  terdapat enam kasus leptospirosis.

Menurut Linda  hal ini terjadi karena penyebaran populasi tikus di wilayah urban. Kondisi ini dimungkinkan karena padatnya pemukiman dan potensi penumpukan sampah yang tinggi. Untuk kawasan padat penduduk memang cenderung banyak tumpukan sampah yang mengundang tikus sehingga kondisi ini yang memungkinkan penyebarannya.

Saat ini lanjut Linda, masyarakat di wilayah pertanian justru lebih siap menghadapi penyebaran penyakit ini. Pasalnya masyarakat sudah terbiasa dan sangat mengenal penyakit ini.

“Laptospirosis ini biasanya disebarkan melalui urin tikus yang mencemari air yang tergenang. Bisa di sawah maupun tempat penampungan air,” tutur LInda.

Dijelaskan pula bahwa leptospirosis dapat menular melalui kulit yang terluka yang terkena air, tanah lembab atau tanaman yang sudah terkontaminasi bakteri Leptospira sp. Terlebih saat musim hujan yang banyak menimbulkan genangan, sehingga perlu diwaspadai. Bisa saja disebabkan karena membasuh luka dengan air yang sudah tercemar atau menginjak genangan air tanpa alas kaki padahal kaki sedang ada luka.