Menjadi PNS Sampai Pensiun Jadi Kebanggaan Tersendiri

SK PensiunSleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan bahwa peran Pegawai Negeri Sipil (PNS) selama mengabdi pada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi Pemkab Sleman dalam melaksanakan pemerintahan dan pelayanan terhadap masyarakat Kabupaten Sleman dengan baik  dari waktu kewaktu.

“Dan perlu diketahui bahwa selama mengabdi menjadi PNS di Pemerintah Kabupaten Sleman telah banyak sekali prestasi-prestasi yang di terima oleh Pemerintah Kabupaten Sleman dan ini menandakan bahwa keberhasilan PNS selama masih aktif sebagai PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sleman,” kata Sri Purnomo ketika menyerahkan SK Pensiun bagi PNS calon purna tugas yang berlangsung di Pendopo Parasamya Pemkab Sleman, Selasa (26/5).

Dikatakan Sri Purnomo, beberapa prestasi yang telah diraih dan diberikan kepada Pemkab Sleman diantaranya dibidang pendidikan. Sebagai pendidik atau guru lanjut Sri Purnomo tentunya merasa bangga bahwa Pendidikan di Kabupaten Sleman meraih prestasi yang sangat bagus yaitu namor satu di seluruh Indonesia, disamping pendidikan juga dalam pelayanan pemerintahan Sleman juga meraih nomor satu di  Indonesia.

“Bukan hanya itu saja masih banyak prestasi-prestasi yang lainnya misalnya di bidang Kesehatan, eTourism itu mnendapatkan nomor dua se Indonesia mudah-mudahan dengan prestasi-prestasi  ini nantinya dapat di pertahankan lagi oleh PNS yang masih aktif dan bagi PNS yang telah memasuki masa purna tugas tentunya ini merupakan tinggalan prestasi  yang sangat bagus,” kata Sri Purnomo.

Sementara Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Sleman, Drs Iswoyo Hadiwarno melaporkan bahwa realisasi surat keputusan pensiun bagi PNS calon purna tugas Terhitung Mulai Tanggal (TMT) 1 Agustur 2015 s/d 1 Desember 2015 sebanyak 129 surat keputusan yang terdiri dari TMT 1 Agustus 2015 sebanyak 26 surat keputusan, TMT 1 September 2015 sebanyak 34 surat keputusan, 1 Oktober 2015 sebanyak 28 surat keputusan, 1 Nopember 2015 sebanyak 22 surat keputusan dan 1 Desember 2015 sebanyak 19 surat keputusan.

Adapun dari sekian surat keputusan paling banyak adalah dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah raga yaitu sejumlah 123 surat keputusan, Kesehatan 3 surat Keputusan, Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan 1 surat keputusan, Dinas Sumber Daya Air Energi dan Meneral 1 surat keputusan dan Kantor Perpustakaan Daerah 1 surat Keputusan.

Sementara Kepala  Kantor Regional I BKN yang di wakilioleh Dra Anjaswari Dewi MM mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas pengabdian dan loyalitas PNS hingga purna tugas, terutama selama menjalankan tugas pemerintahan, tugas pembangunan dan pelayanan public/kemasyarakatan.




Kontribusi Pariwisata Terhadap PAD Sleman Capai 15,21 Persen

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan perolehan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata pada tahun 2014 mencapai Rp 87 miliar lebih, meningkat dari tahun 2013 yang hanya mencapai Rp 68 miliar. “PAD dari sektor pariwisata tersebut memberi kontribusi 15,21% terhadap perolehan total PAD Sleman,” kata Sri Purnomo di Sleman, Selasa (26/5).

Menurut Sri Purnomo, bidang pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan di Kabupaten Sleman. Oleh karena itu, Pemkab Sleman senantiasa berupaya untuk mengembangkan potensi kepariwisataan yang ada di wilayah Sleman yaitu wisata pendidikan, wisata agro, wisata atraksi dan wisata sejarah.

“Saat ini promosi wisata tidak lagi diorientasikan pada aktivitas pameran produk wisata, tetapi lebih disinergikan sebagai bagian dari promosi produk ekonomi kreatif berupa kerajinan,” tambah Sri Purnomo.

Lebih lanjut lanjut disampaikan bahwa kebijakan pengembangan desa wisata yang dilakukan Pemkab Sleman adalah memberdayakan masyarakat untuk dapat mengelola desanya, sehingga mampu menjadi daya tarik wisata. Selain itu melalui pengembangan desa wisata, masyarakat setempat dimotivasi untuk mengembangkan potensi yang ada di desanya. Dengan demikian langkah pengembangan desa wisata selain untuk menambah obyek wisata juga bertujuan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.

Semakin banyaknya wisatawan yang menggemari wisata lingkungan atau kembali ke alam, mengakibatkan trend desa wisata semakin bertambah jumlahnya. Pada saat ini di Kabupaten Sleman telah memiliki 30 desa wisata yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat sekitar. Pada tahun 2010 setelah erupsi Merapi jumlah wisatawan menurun sebesar 9,4% dari tahun 2009, menjadi wisatawan.

“Berbagai upaya telah kami dilakukan untuk kembali menata kawasan wisata maupun obyek wisata yang terkena dampak erupsi Merapi. Berbagai event pariwisata juga kami adakan untuk menarik para wisatawan datang kembali ke Sleman. Bahkan kawasan Cangkringan, sebagai kawasan terdampak langsung erupsi Merapi telah menjadi kawasan lava tour yang sangat menarik dan menjadi obyek wisata favorit di Jogja,” tambah Sri Purnomo.

Berkat kerja keras dan kebersamaan baik pemerintah, pelaku wisata, dan masyarakat, saat ini, kepariwisataan di Sleman, dapat dikatakan telah pulih kembali. Hal ini terlihat dengan meningkatnya jumlah wisatawan di tahun 2013 menjadi wisatawan, dan di tahun 2014 menjadi wisatawan, yang terdiri dari wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara.***




Sleman Butuh Sentuhan Wisata Kreatif

Sleman – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengakui jika wisata di Sleman tidak seperti wisata di kabupaten lain. Kabupaten Sleman tidak memiliki obyek wisata air unggulan seperti pantai di Kabupaten Gunungkidul, Kulonprogo, dan juga Bantul.

“Kita di Sleman ini tidak mempunyai potensi alam berlebih seperti Gunungkidul sehingga pengelolaan wisata di Sleman butuh sentuhan kreatif,” kata Ayu, Selasa (26/5).

Menurut Ayu, Sleman harus memanfaatkan potensi wisata yang ada melalui desa wisata yang sudag ada. Saat ini terdapat 25 desa wisata yang representatif dari total 34 desa wisata yang sudah dikukuhkan. Dikatakan Ayu, obyek wisata yang menyumbang pemasukan terbanyak adalah Kaliurang. Dan Kaliurang menjadi penyumbang terbesar hingga bulan April dan sampai April 2015 ini pemasukan sudah mencapai Rp 1,4 miliar.

“Kontribusi ini terbesar dari Kaliurang,” tutur Ayu.

Selama ini Kaliurang adalah satu-satunya wisata alam unggulan di Sleman dengan segala isinya yang mendukung suasana liburan wisatawan. Oleh karena itu, dinas berencana akan melakukan tata wisata di tempat itu.

“Rencana kami akan membangun taman keceh agar anak-anak bisa bermain air lebih lama. Lalu taman kupu-kupu dan atraksi malam,” katanya.

Selama ini, imbuh Ayu, ketika berbicara tentang Kaliurang, yang ada dalam benak masyarakat hanyalah Tlaga Putri, lava tour dengan jeeb, setelahnya pulang. Dinas ingin menyuguhkan wahana menarik lain agar wisatawan tinggal lebih lama.




Pemkab Sleman Sidak Peredaran Beras Plastik di 3 Pasar

2505 SLEMAN BERASSleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melakukan sidak ke pedagang pasar untuk mengecek kemungkinan adanya peredaran beras plastik di Slemanm Senin (25/5). Sebagai sampel sidak dilakukan di 3 pasar yaitu pasar Sleman, pasar Denggung dan pasar Kolombo.

Tindakan ini dilakukan Pemkab Sleman sebagai respon atas adanya kabar beredarnya beras plastik di wilayahnya. Dalam sidak ini dilakukan pengujian secara sederhana dengan memasukkan beras ke dalam air. Cara sederhana ini untuk mengetahui apakah beras mengambang atau tenggelam. Bila mengambang maka disinyalir merupakan beras plastik. Dari 3 lokasi ini tidak ditemukan adanya beras yg dijual pedagang pasar yang terindikasi beras plastik.

Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Sleman, Ir Widi Sutikno MSi mengatakan meski dari uji sederhana dengan memasukkan beras ke air tidak ditemukan indikasi beras plastik namun pemerintah akan menindaklanjuti dengan uji laboratorium. Pada sidak ini pemerintah mengambil sampel beras dari para pedagang untuk diuji di laboratorium. Meski tidak ditemukan beras yang diindikasikan sebagai beras plastik Widi Sutikno tetap menghimbau agar masyarakat berhati-hati saat membeli beras.

Widi Sutikno menyarankan kepada masyarakat agar membeli beras dari hasil panen petani Sleman saja. Sementara Kapolres Sleman, AKBP Faried Zulkarnaen SIK menyampaikan bahwa pihaknya sudah menerima laporan dari masyarakat tentang adanya beras plastik di Sleman.

Dan untuk menindaklanjuti laporan masyarakat ini pihak Polres sedang melakukan pemeriksaan saksi – saksi dan melakukan uji laboratorium. Namun sampai saat ini Polres belum bisa menyampaikan kesimpulan dari kasus ini karena masih menunggu hasil laboratorium.

“Saat ini Polres Sleman menyimpan barang bukti berupa beras 9 kg dan beras yang sudah dimasak 2 ons,” kata Faried.

Sidak yang dilaksanakan Pemkab Sleman ini melibatkan berbagai instansi yaitu Dinas Pasar, Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan, Bagian Perekonomian, Bagian Humas, Polres dan Kodim Sleman.




Bupati Resmikan Bank Sampah “Handayani” Panggung Sariharjo

2505 SLEMAN BANK SAMPAHSleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI meresmikan bank sampah Sleman “Handayani” yang didirikan warga Panggung Desa Sariharjo Kecamatan Ngaglik Sleman, Senin (25/5). Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemberian bantuan tong sampah oleh Bupati. 

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman, Drs Purwanto mengatakan bersamaan dengan peresmian bank sampah Handayani ini juga diundang jejaring seluruh pengelola sampah di Sleman. Karena Bank sampah Handayani akan dijadikan induk bank sampah mandiri di Sleman.

Disampaikan Purwanto bahwa dengan jumlah penduduk Sleman sebanyak 1,3 juta jiwa menghasilkan sampah 2,65 liter per hari dengan timbunan sampah 3200 meter kubik per hari. Dan dari sampah itu yang diangkut dengan armada menuju TPA (Tempat Pembuangan Akhir) hanya 427 meter kubik per hari.

“Dan sampah jenis apapun bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan permasalahan,” kata Purwanto.

Sementara lanjut Purwanto, di Sleman ini ada bank sampah 29, transfer depo 13 dan tempat pengolahan sampah dari seluruh Sleman ada 6. Sehingga lanjut Purwanto peran masyarakat sangat penting dalam pengelolaan sampah. Sementara Ketua Bank Sampah “Handayani”, Sri Handayani mengatakan berdirinya bank sampah Handayani ini pada tahun 2013 dengan anggota sebanyak 120 orang.

Keberadaan bank sampah di Panggung ini terus disosialisasikan dan saat ini jumlah nasabahnya sudah mencapai 1300 nasabah sebagai anggota yang terdiri dari 996 individu dan sisanya kelompok. Hasil produksi pengolahan limbah berupa tas, dompet dan lainnya dengan pemasaran hasil mulai sampai Jakarta, Lampung  juga Palembang.

“Berkat adanya bimbingan dari Kantor BLH Sleman, bank sampah Handayani teris meningkatkan jejaring pengelolaan bank sampah mandiri di Sleman,” kata Sri Handayani.

Sedang Bupati Sri Purnomo menyampaikan ucapan selamat untuk kelompok pengelola sampah Handayani yang mampu menjadi bank sampah secara mandiri dan menjadi induk jejaring pengelolaan sampah mandiri di Sleman.
Sri Purnomo juga mencontohkan saat ini masih banyak orang yang belum memiliki kesadaran dalam membuang sampah. Hal ini diketahui karena masih ada warga yang suka membuang sampah di jembatan.

Sri Purnomo juga meminta ilmu pengelolaan sampah mandiri ini bisa disampaikan kepada warga lainnya untuk bisa mengelola sampah dengan baik. Apalagi didaerah Sariharjo Ngaglik banyak tumbuh rumah makan sehingga masalah sampah mandiri harus semakin diperkuat. Pendampingan pengelolaan jejaring sampah di Sleman harus terus dilakukan.***