DPPK Sleman Akan Remajakan Kopi Lereng Merapi

Sleman – Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman  akan meremajakan tanaman kopi di lereng Gunung Merapi yang sudah tidak produktif.

“Peremajaan ini untuk meningkatkan jumlah produksi maupun kualitas biji kopi, terutama di kawasan lereng Merapi,” kata Kepala Bidang Kehutanan dan Perkebunan DPPK Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto di Sleman, Kamis (21/5).

Menurut dia, pihaknya akan membantu petani kopi di lereng Merapi untuk menambah populasi tanamannya, dengan melakukan regenerasi tanaman yang sudah tua.

“Regenerasi akan dilakukan pada November mendatang, menyesuaikan kondisi cuaca, agar tanaman yang baru bisa hidup dengan baik. November awal atau mendekati musim hujan. Jadi akan lebih mudah tumbuh,” katanya.

Ia mengatakan regenerasi tanaman kopi yang akan dilakukan nantinya tersebar di lahan lereng Merapi, di antaranya di Dusun Tritis dan Ngandong, Desa Girikerto, Kecamatan Turi.

“Kemudian Kaliurang timur, Hargobinangun, Kecamatan Pakem. Dusun Pentingsari dan Kedungsriti di Desa Umbulharjo, Cangkringan. Serta di Dusun Glagah, Ngancar, Besalen di Desa Glagaharjo, Cangkringan,” katanya.

Rofiq mengatakan secara keseluruhan lahan tanaman kopi yang sudah tidak produktif dan akan diregenerasi tersebut seluas 50 hektare.

“Nantinya akan disediakan sebanyak 50 ribu stek tanaman baru. Budi daya menggunakan stek, setiap satu hektarenya disediakan seribu stek tanaman baru,” katanya.

Ketua Koperasi Usaha Bersama (KUB) Kebun Makmur yang menjadi wadah petani kopi di Sleman, Sumijo mengatakan tanaman kopi di lereng Merapi berjenis arabika dan robusta.

“Kondisi tanaman kopi di lereng Merapi saat ini memang banyak yang perlu diperbarui,” katanya.

Menurut dia, untuk kopi arabika produktif bisa sampai antara 10 hingga 25 tahun. Sementara, robusta sampai 50 tahun.

“Yang tidak terkena erupsi Merapi memang ada yang mulai harus diregenerasi. Sementara yang terkena erupsi pada 2010, usianya malah lebih dari itu. Sudah diregenerasi dengan tanaman baru sejak 2012,” katanya.

Ia mengatakan penambahan populasi tanaman kopi di lahan bekas terkena awan panas Merapi juga terus dilakukan. Rencananya pada akhir 2015 hingga awal 2016 kembali menanam sebanyak 10 ribu bibit baru.

“Nantinya disebar di lahan di Kecamatan Cangkringan, untuk lahan sekitar sepuluh hektare,” katanya.***




Sekda Mengharuskan PNS Sleman Menguasai TI

IMG_4327Sleman – Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, dr Sunartono MKes mengatakan teknologi informasi (TI) saat ini berkembang pesat, untuk itu semua PNS harus menguasai TI. Menurut Sunartono pegawai Sleman setidaknya harus bisa mengoperasionalkan atau menggunakan TI.

“Mau tidak mau, suka tidak suka kita bakal dilanda TI. Yang dulu kerja terpisah sekarang dengan TI bisa terintegrasi,” kata Sunartono dalam Sosialisasi Aplikasi Tata Naskan Dinas Elektronik dan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Mendukung Tata Laksana Kerja Pemerintah Daerah, Kamis (21/5).

Penguasaan TI ini menurut Sunartono menjadi tanggungjawab bersama apalagi Sleman sudah mendapatkan penghargaan Indonesia Digital Society Award (IDSA) 2015. Penghargaan yang diterima tersebut menurutnya menjadi tantangan Pemkab Sleman untuk bersungguh-sungguh mengelola TI. Sunartono juga menghimbau instansi-instansi di Sleman yang sudah memiliki sub domain untuk mengupdate materi yang ada.

Tantangan ke depan yang dihadapi Sleman adalah mempersiapkan sarana prasarana dan sumber daya manusia. Untuk itu perlu menyusun grand desain yang dilegalkan sehingga meskipun nantinya ada pergantian pejabat namun tujuan yang akan dicapai dalam jangka panjang tetap bisa berjalan sesuai apa yang direncanakan.

Sementara Bambang Dwi Anggono dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menyampaikan tentang pentingnya TIK dalam proses reformasi birokrasi. Menurutnya reformasi birokrasi akan menjadi cepat dengan adanya TIK. Dengan TIK pola kerja yang konvensional akan berubah setelah memanfaatkan teknologi sehingga dapat merubah budaya birokrasi.

Bambang Dwi Anggono mengatakan reformasi birokrasi bisa dimulai dengan langkah terkecil yaitu mengurangi penggunaan kertas dengan memanfaatkan aplikasi tata naskah dinas elektronik.




Labuhan Merapi

saat perjalanan dari balai labuhan menuju ke bangsal sri mangantiSleman – Adanya ritual Labuhan Merapi tentunya tidak terlepas dari sejarah kerajaan di Jogja. Prosesi ritual yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Tradisi Budaya peninggalan leluhur Kraton Mataram Islam ini terus dilestarikan dan menjadi salah satu andalan daya tarik wisata berlangsung di Sri Mangati diawali serah terima ubo rampe labuhan dari Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat sampai kecamataan Depok, Rabu (20/5).

Penyerahan ubo rampe yang dibawa Abdi Dalem Keraton Yogyakarta dilakukan pada Selasa pagi sekitar jam WIB yang diserahkan kepada Camat Depok Drs Budiharjo, selanjutnya ubo rampe tersebut oleh abdi dalem disertai camat Depok diarak ke Kecamatan Cangkringan, ubo rampe labuhan diserahkan kepada camat cangkringan  Edy Harmana SH di Pendopo Kecamatan Cangkringan.

Ubo rampe tersebut oleh camat Cangkringan dengan disertai abdi dalam kraton Yogyakarta diarak ke pendopo Petilasan Rumah Mbah Marijan di Kinahrejo yang diterima Ki Asih Suraksohargo sebagai juru kunci Gunung Merapi putra Mbah Marijan yang saat ini mengganti kedudukan Mbah Marijan.

Selanjutnya ubo rampe tersebut disemayamkan semalam di pendopo Petilasan Rumah Mbah Marijan, malam itu juga  dilakukan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang  Ki Cermo Suwando dengan lakon “Dumadining Gunung Merapi” Sedangkan Rabu (20/5) pagi dimulai pukul WIB semua ubo rampe dilabuh ke Bangsal Sri Manganti dengan menempuh perjalanan 1-2 jam. Untuk tahun ini ubo rampe dilabuh di Bangsal Sri Manganti.

Adapun ubo rampe yang dilabuh berupa sinjang limar 1 lembar, sinjang cangkring 1 lembar, semekan gadhung 1 lembar, semekan gadhung melati 1 lembar, paningset udaraga 1 lembar, kambil watangan 1 biji, seswangen 10 biji, seloratus lisah konyoh 1 buntal, yotro tindih 2 amplop, destar doromuluk 1 lembar. Ikut menyertai uba rampe labuhan yakni kembang setaman, nasi tumpeng, ingkung serta serundeng, yang dibagikan kepada setiap pengunjung selesai upacara labuhan.




Bupati Resmian Gedung UPT BP3K Wilayah II Godean

DSC_0574 BernasSleman – Bupati Sleman Drs Sri Purnomo MSI meresmikan Gedung  UPT – BP3K wilayah II di Godean, yang berdiri di atas tanah Balai Benih Perikanan Rewulu Desa Sidomulyo dengan luas bangunan 580 M2 terdiri dari Pendopo, Ruang Pertemuan, Kantor dan Mushola menggunakan Anggaran DAK Tahun 2014 Dinas Pertanian Kabupaten Sleman sebesar 837 Juta, Rabu (20/5).

Hadir pada acara peresmian tersebut Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman , Camat Godean, Gamping, Kades Sidimulyo, Kelompok Petani. Sebelum peresmian Gedung diawali dengan Pengukuhan Kelompok Petani oleh Camat Godean dan Gamping, serta lomba  memasak ikan Patin dan pameran UKM oleh kelompok UKM di Kecamatan Godean.

Sri Purnomo dalam sambutannya mengatakan Gedung Kantor Baru UPT BP3K wilayah Godean dan Gelar Potensi berharap gelar potensi wilayah ini mampu memotivasi para petani di Kabupaten Sleman khususnya di wilayah kecamatan Godean untuk semakin menggiatkan pembangunan di bidang pertanian.

Gelar potensi pertanian ini juga merupakan salah satu strategi untuk mengembangkan pemasaran produksi potensi pertanian untuk menjadi salah satu kesempatan bagi para petani. Kecamatan Godean merupakan kawasan wilayah barat Kabupaten Sleman, yang merupakan daerah pertanian lahan basah dengan irigasi yang baik.

Namun demikian wilayah Kecamatan Godean ini terus berkembang menjadi wilayah sub-urban yaitu wilayah perbatasan antara desa dan kota, yang  berkembang menjadi tujuan kegiatan masyarakat di wilayah kecamatan sekitarnya, sehingga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi.

Sektor pertanian masih menjadi unggulan di Kabupaten Sleman, hal tersebut dapat dilihat dari masih tingginya masyarakat kabupaten Sleman yang masih menggantungkan mata pencahariannya dari sektor pertanian, pada tahun 2014 sektor penyerap tenaga kerja terbanyak adalah sektor pertanian yang mencapai 23,56% dari jumlah penduduk Sleman yang mencapai jiwa. Sektor pertanian juga menjadi penyumbang PDRB primer terbesar di Kabupaten Sleman yaitu sebesar 12,59% pada tahun 2014.

Pembangunan sektor pertanian di Kabupaten Sleman berdasar RPJM Daerah tahun 2005-2020, lebih diarahkan menuju agribisnis dengan memperkuat bidang pertanian itu sendiri. Dengan demikian pembangunan pertanian juga diharap­kan dapat meningkatkan kualitas lingkungan hidup, meningkatkan perekonomian masyarakat serta pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani.

Peran serta masyarakat adalah modal pokok dalam pembangu­nan sektor pertanian. Terkait dengan peran masyarakat ini, para petani tidak hanya terkait dalam budidayanya namun juga pemasarannya. Oleh karena itu gelar potensi ini merupakan sarana yang strategis bagi para petani untuk melakukan transaksi langsung dengan pembeli.

Penjualan langsung pada konsumen ini tentu saja akan meningkatkan nilai jual. Tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini kemajuan sektor pertanian sangat ditentukan oleh kemampuan adopsi dan inovasi teknologi masyarakat dalam budidaya pertanian dan budidaya pasca panennya. Dengan bantuan dan dukungan UPT BP3K wilayah II Godean saya berharap agar masyarakat petani dapat termotivasi untuk menerapkan berbagai teknologi dan hasil penelitian di bidang pertanian.a




Pemkab Sleman Berharap Pemutakhiran Basis Data Terpadu oleh BPS Dapat Menjadi Acuan Bersama

Sleman – Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, dr Sunartono MKes berharap kegiatan Pemutakhiran Basis Data Terpadu yang dilakukan BPS tahun ini dapat menjadi acuan data bersama. Hal ini disampaikan Sunartono mengingat selama ini ada perbedaan data antara BPS dan Pemerintah Daerah terutama tentang data kemiskinan. Sunartono berharap hasil pendataan nantinya bisa disepakati bersama sehingga tidak perlu ada lagi perdebatan data.

Hal ini disampaikan Sunartono saat acara Sosialisasi Pemutakhiran Basis Data Terpadu (PBDT) tahun 2015 di Kantor Sekretarian Daerah Kabupaten Sleman, Rabu (20/5). Sunartono juga menyampaikan bahwa hasil pendataan ini penting karena akan menjadi acuan bagi pemerintah dalam melaksanakan program-program pembangunan. Data tersebut berdaya guna khusunya dalam penanggulangan kemiskinan.

Mengingat pentingnya kegiatan pendataan ini Sunartono berharap para aparat khususnya camat dapat menindaklanjuti dan mendukungnya. Dukungan segenap aparat pemerintah daerah sampai tingkat bawah ini perlu dilakukan agar data yang diperoleh benar-benar akurat.

Kegiatan Pemutakhiran Basis Data Terpadu (PBDT) dilakukan dalam rangka menyempurnakan dan memutakhirkan informasi rumah tangga dan individu yang terdapat dalam Basis Data Terpadu (BDT). Tujuan kegiatan PBDT salah satunya adalah untuk mempertajam ketepatan sasaran melalui pemutakhiran informasi rumah tangga dan individu agar dapat meminimalkan kekurangakuratan penetapan sasaran serta berupaya menjangkau rumah tangga miskin yang belum tercakup dalam BDT.

Manfaat dari kegiatan ini adalah memperoleh informasi terkini rumah tangga dan individu yang dapat digunakan sebagai basis penetapan sasaran kepesertaan program-program perlindungan sosial dan penanggulangan kemiskinan pada skala nasional dan daerah.

Kegiatan PBDT dilaksanakan dalam dua tahap yaitu Forum Konsultasi Publik (FKP) dan Pemutakhiran informasi rumah tangga. FKP merupakan pertemuan antara masyarakat dan pemerintah desa/kelurahan dan difasilitasi oleh pendamping independen (fasilitator) untuk memutakhirkan informasi daftar awal dan menjangkau rumah tangga miskin yang belum tercakup dalam BDT.

Sedangkan pemutakhiran informasi rumah tangga dilakukan oleh petugas lokal dan terlatih yang ditujukan untuk memutakhirkan informasi rumah tangga terkait dengan keterangan perumahan, sosial ekonomi anggota rumah tangga, kepemilikan aset dan kepesertaan program.

Waktu pelaksanaan FKP pada bulan Mei-Juni 2015 dan pemutakhiran informasi rumah tangga pada bulan Juni-Juli 2015.