Sleman Anggarkan Dana Tak Terduga Rp 39,4 Miliar

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman tahun ini mengalokasikan dana tak terduga sebesar Rp 39,4 miliar. Anggaran senilai Rp 15,6 miliar tercatat di APBD murni 2015, sedangkan tambahannya dialokasikan di APBD perubahan. 

Kabid Belanja Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Sleman, Aisyah Inayati Suryani menerangkan, pencairan dana tak terduga dilakukan saat kejadian luar biasa. Syaratnya harus ada pernyataan tanggap darurat, dan SK penggunaan dari Bupati.

“Besaran dana ini tidak selalu sama setiap tahun karena disesuaikan perkiraan potensi bencana,” kata Aisyah kepada wartawan, kemarin.

Untuk penanganan korban bencana, Pemkab juga mengalokasikan dana bantuan sosial (bansos) tak direncanakan. Tahun ini dianggarkan sejumlah Rp 3 miliar diperuntukan korban puting beliung, rumah roboh, dan tanah longsor.

Nominal dana itu juga bertambah dibanding APBD murni yang hanya dialokasikan Rp 741,75 juta. Berbeda dengan dana tak terduga yang jumlahnya bisa naik turun, alokasi bansos tak direncanakan terus meningkat setiap tahun. Sebagai contoh, pada 2013 anggarannya sebesar Rp 350 juta dan tahun berikutnya bertambah jadi Rp 500 juta.

“Pencairannya dilakukan lewat mekanisme pengajuan dari SKPD terkait seperti BPBD. Sebelumnya, instansi bersangkutan mengusulkan nama penerimanya ke Bupati kemudian ditetapkan dalam SK,” terang Aisyah.

Alokasi dana tak terduga maupun bansos tak direncanakan tahun ini diperkirakan akan mencukupi. Pihaknya mengklaim tahun-tahun sebelumnya tidak pernah ada kekurangan. Bahkan tahun lalu, dana bansos baru digunakan mulai awal semester kedua.




Baru Satu Lembaga di Sleman Dinyatakan Sah Sebagai Pemantau Pilkada‬

Sleman – Majelis Tafsir Al Qur’an (MTA) Kabupaten Sleman menerjunkan sebanyak 48 orang relawan untuk menjadi petugas pemantau Pilkada Sleman tahun 2015. Lembaga tersebut juga sudah mendapat sertifikat akreditasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Slemsan, sehingga bisa melakukan pantauan di TPS saat berlangsung proses pemungutan serta penghitungan suara.‬

‪”Kami membantu pemerintah menyukseskan program (pilkada, red) ini karena penting, untuk bagaimana bisa berjalan dengan jujur dan adil,” kata Ketua MTA Cabang Kecamatan Turi, Edi Santoso, Jumat (4/12).‬

‪Menurut Edi, Karena jumlah relawan yang diterjunkan terbatas, maka petugas pemantau dari MTA yang ditempatkan per kecamatan sebanyak tiga orang. Dalam melaksanakan tugas ini, anggaran yang digunakan murni dari internal lembaga, seperti yang pernah dilakukan sebelumnya, ketika menjadi pemantau pelaksanaan Pemilu 2014.‬

‪”Nanti kita datang ke setiap TPS untuk melihat saat berlangsung pemungutan dan penghitungan suara, kita akan bantu dalam pemantauan,” jelasnya.‬

‪Selain lembaga tersebut, ada empat lembaga lain yang sudah mendaftar ke KPU Sleman, untuk menjadi pemantau dalam pelaksanaan Pilkada, diantaranya Jaringan Komunitas Pemantau (Jarik) Pilkada, kemudian Lembaga Pemantau Penyelenggara Pemerintah NKRI (LP3NKRI). Sedangkan dua lainnya dari perguruan tinggi, yaitu Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).‬

‪”Sementara ini baru satu lembaga saja yang melengkapi persyaratan administrasi sebagai pemantau dalam Pilkada, yaitu Majelis Tafsir Al Qur’an,” kata Komisioner KPU  Devisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Humas, Indah Sri Wulandari.‬

‪Dikatakan Indah, bagi pendaftar yang belum melengkapi persyaratan, tidak bisa mendapat sertifikat akreditasi sebagai tim pemantau yang sah.

“Kebanyakan pendaftar belum memasukkan nama-nama setiap kecamatan yang akan dipantau, maka kita tunggu sampai tanggal 8 Desember nanti, jika belum bisa memenuhi syarat maka tidak bisa jadi pemantau,” kata Indah.




SD N Kaweden Kenalkan Siswa Proses Batik Kayu

Batik Kayu KrebetSleman – SD Negeri Kaweden Mlati Sleman adakan kunjungan dalam rangka belajar diluar kelas di Desa Wisata Batik Kayu Krebet Bantul Kamis (3/12). Kunjungan diikuti sebanyak 57 anak yang merupakan gabungan dari siswa – siswi kelas 5 dan 6 SD N Kaweden.

Guru Kelas 5, Ahmad Faozan menyampaikan kunjungan belajar tersebut untuk melatih siswa – siswi SD N Kaweden mengetahui banyaknya tempat atau usaha yang bisa dirintis sejak kecil. Dan untuk menghapus kejenuhan belajar didalam kelas setiap harinya, tambahnya.

Tak hanya berkunjung, siswa – siswi SD N Kaweden juga diajak untuk mencoba membatik diatas kayu atau sering disebut nyungging. Siswa – siswi diajarkan cara menggambar pola diatas topeng atau guntingan kunci menggunakan pensil.

Setelah selesai menggambar pola, siswa – siswi SD N Kaweden diajak untuk belajar menggunakan canting. Dan, hasil karya siswa siswi SD N Kaweden diberikan pewarnaan sebagai akhir proses pembuatan batik kayu. (wawan scout)




Jaga Eksistensi Dongeng, Budpar Sleman Gelar Lomba Mendongeng

dongeng-300x200Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Sleman menyelenggarakan Lomba Mendongeng Anak Kabupaten Sleman Tahun 2015 di Sleman, Rabu (2/12). Kepala Bidang Peninggalan Budaya Nilai dan Tradisi Dinas Budpar Sleman, Siswanto mengatakan kegiatan ini dilaksanakan untuk menjaga eksistensi dongeng dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Siswanto juga berharap lomba ini dapat meningkatkan kreatifitas dan aktifitas bagi guru dan siswa dalam mendongeng.

Kegiatan Lomba mendongeng  diikuti oleh 41 peserta yang terdiri dari siswa TK/SD sebanyak 23 siswa dan Guru TK/ PAUD sebanyak 18 orang. Materi lomba untuk siswa adalah mendongengkan salah satu dari tiga dongeng yaitu Asal Mula Upacara Adat, Asal Mula Gunung Jamur dan Rara Jongrang. Sedangkan materi lomba untuk guru adalah membuat cerita atau dongeng yang berkaitan dengan hewan untuk diceritakan.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman , Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengatakan bahwa kegiatan ini sangat strategis. Kegiatan mendongeng dinilai strategis karena umur anak-anak merupakan waktu yang tepat untuk menitipkan pesan yang terkandung dalam dongeng yang penuh dengan nilai-nilai luhur.

Menurut Ayu mendongeng merupakan bentuk komunikasi yang bisa mempererat hubungan keluarga. Pada kesempatan tersebut Ayu juga menceritakan bagaimana kebiasaannya mendongeng untuk anak-anaknya pada saat menjelang tidur. Ayu Berharap para guru di Sleman dapat mengembangkannya dalam kegiatan belajar mengajar.
Ayu menyarankan agar disela kegiatan belajar mengajar disekolah para guru dapat memberikan selingan dongeng untuk menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak didiknya.

Ayu berharap kegiatan lomba mendongeng ini dapat dilanjutkan di tahun-tahun yang akan datang. Kegiatan ini juga diharapkan dapat dikembangkan lebih baik lagi sehingga semakin memberikan manfaat berupa penanaman nilai-nilai luhur yang sekaligus melestarikan kekayaan dongeng yang dimiliki.




KPU Sleman Dirikan Rumah Pintar

20151201_084716Sleman – Dalam rangka membantu masyarakat agar lebih cerdas dan pintar untuk menentukan pilihannya dalam Pemilu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sleman telah mendirikan Rumah Pintar Pemilu. Rumah pintar Pemilu yang berbentuk tenda tersebut didurikan di halaman Kantor KPU Sleman. Launching Rumah Pintar Pemilu telah dilakukan Ketua KPU Sleman, Ahmad Shidqi, kemarin.

Menurut Ahmad Shidqi, bentuk Rumah Pintar Pemilu bisa permanen dan bisa menggunakan tenda.

“Dalam rumah pintar Pemilu ada beberapa buku panduan tentang Pemilu, baik itu modul  hasil Pemilu yang  tujuannya adalah untuk mencerdaskan pemilih, menampilkan juga siapa calon Bupati dan Wakil Bupati, visi misi dan lainnya,” kata Ahmad Shidqi, Rabu (2/12).

Sementara  Komisioner KPU Sleman Devisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Humas, Indah Sri Wulandari mengatakan Rumah Pintar Pemilu merupakan konsep sosialisasi untuk memberikan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat tentang Pemilu, baik itu Pilkada maupun Pemilu secara nasional, dan akan terus berdiri selama lembaga penyelenggara Pemilu ada.‬

‪Didalam Rumah Pintar Pemilu juga disampaikan sejarah Pemilu di Indonesia, sehingga masyarakat memahami arti penting Pemilu dan sadar memiliki hak pilih.‬ ‪Indah menjelaskan, ada tiga variabel soal Rumah Pintar Pemilu, pertama pendiriannya di kantor KPU setempat yang permanen, kedua bisa didirikan menggunakan tenda untuk melakukan sosialisasi dalam berbagai kegiatan di masyarakat, dan ketiga penggunaan buku dan video untuk melakukan sosialisasi ketika diundang oleh masyarakat.‬

‪”Idenya muncul dari pilot project tentang pendidikan pemilih oleh KPU pusat, realisasinya diserahkan kepada masing-masing KPU di kabupaten dan kota,” kata Indah.