9.722 Surat Suara Rusak Setelah Dilakukan Penyortiran

Sleman – Setelah dilakukan penyortiran surat suara selama 3 hari berturut-turut sedikitnya ada  surat suara dinyatakan rusak sehingga perlu diganti.

“Selama tiga hari kita melakukan penyortiran surat suara dan   Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sleman menemukan lembar surat suara yang mengalami kerusakan,” kata Komisioner KPU Sleman Divisi Logistik dan Keuangan, Aswino Wardana di Sleman, Jumat (27/11) .

Menurut Aswino, jumlah tersebut merupakan 10 persen dari total surat suara yang diterima KPU dari pihak ketiga. Dijelaskan Aswino bahwa dari total lembar surat suara yang dicetak, terdapat lembar surat suara yang salah pemotongan. Sedangkan lembar surat suara yang dianggap rusak lantaran foto pasangan calon terkena tinta, dan 818 lembar terdapat titik-titik pada foto pasangan calon.

“Karena adanya kerusakan surat suara untuk Pilkada 9 Desember mendatang, dari KPU sudah  meminta pihak ketiga untuk segera melakukan penggantian surat suara yang rusak tersebut,” tutur Aswino .




Dinkes Gelar Berbagai Kegiatan Untuk Peringati HKN, HUT Korpri dan HUT PGRI

senamSleman – Dalam rangka memperingati HKN 2015 Dinas Kesehatan (Dinkes)Sleman, Jumat (27/11)  menggelar berbagai acara yang dipusatkan di gedung serbaguna Sleman dan lingkungan Lapangan Denggung. Kegiatan yang dilakukan diantaranya pemeriksaan kesehatan, donor darah, lab darah dan pemeriksaan kepadatan tulang.

Sebelumnya diadakan senam massal ini dibarengkan dengan kegiatan HUT Korpri ke-44, HKN ke-51 dan HUT PGRI ke 70 tahun 2015, yang diikuti Penjabat Bupati Sleman, pejabat Sleman serta  karyawan/karyawati Pemkab Sleman serta anggota PGRI Sleman. Senam yang dilakukan yakni Senam PGRI, dan senam aerobic. Senam diikuti sekitar 2000 peserta dan dibagikan ratusan door price dan hadiah utama Sepeda motor Honda Revo.

Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi  menyampaikan kegiatan senam massal ini dilakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan PNS dan guru-guru sehingga dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan meningkan pendidikan di Kabupaten Sleman. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk saling bersilaturahmi antar anggota Korpri dan PGRI.

Gatot juga menyampaikan melalui senam ini dapat menumbuhkembangkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan bagi masyarakat Sleman melalui olahraga. Terlebih olahraga senam adalah olahraga yang mudah dan murah, dapat dilakukan dimana saja. Dengan membiasakan dan kemudian membudayakan melakukan olahraga rutin menjadi salah satu alternatif dalam menjaga kesehatan baik jasmani maupun rohani.

Sadar atau tidak, kesehatan merupakan modal utama sebagai manusia bertumbuhkembang selain keahlian-keahlian lainnya yang kita miliki. Apalagi para PNS yang memiliki pekerjaan dengan mobilitas yang tinggi, dituntut untuk memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang baik guna menunjang kelancaran ketugasan.

Beberapa keuntungan dari berolahraga antara lain dapat meningkatkan daya tahan tubuh serta dapat menghilangkan stres, yang mana keduanya berkorelasi terhadap terserangnya tubuh oleh penyakit.

“Oleh karenanya pada kesempatan yang berbahagia ini, ayo kita bersama mulai perduli terhadap kesehatan kita, melalui penerapan olahraga secara rutin disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi Bapak/Ibu sekalian tentunya,” tutur Gatot.




Upacara Adat Saparan Bekakak Ambarketawang

IMG-20151129-WA0003Sleman – Warga Desa Ambarketawang menggelar upacara dan kirab pusaka adat dalam Saparan Bekakak di Lapangan Ambarketawang, Gamping, Sleman, Jumat (27/11). Bekakak tersebut merupakan sesaji berbentuk boneka sepasang pengantin yang terbuat dari tepung dan berisi gula merah.

Ketua Panitia Saparan Bekakak, Frans Haryono menyampaikan upacara dan kirab pusaka adat setiap bulan sapar hari jumat.  Sekarang ini Saparan Bekakak merupakan tradisi untuk menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara, tambahnya.

Pelaksanaan Upacara Saparan Bekakak terbagi menjadi beberapa tahap, seperti midodareni pengantin bekakak, kirab bekakak, penyembelihan bekakak, dan sugengan ageng. Midodareni pengantin bekakak merupakan prosesi pengambilan air suci Tirto Donojati dan kirab pengantin bekakak mengelilingi desa menuju ke Balai Desa Ambarketawang. Sesampainya di Balai Desa Ambarketawang warga menggelar tirakatan seperti halnya pesta pengantin. Pada malam tersebut tirakatan ditampilkan pentas wayang semalam suntuk.

Siang harinya setelah Shalat Jumat, warga menggelar kirab bekakak dari Balai Desa Ambarketawang menuju Gunung Gamping dan Gunung Kliling untuk prosesi penyembelihan pengantin bekakak. Kirab tidak hanya diikuti oleh warga Desa Ambarketawang saja, akan tetapi warga dari desa lain seperti bergada dari bantul juga turut meramaikan tradisi upacara saparan bekakak tersebut.

Dalam kirab Saparan Bekakak akan dijumpai sekelompok anak dan sepasang ogoh – ogoh berupa genderuwo dan banaspati dibelakang arak – arakan pengantin bekakak. Sekelompok anak menggambarkan anak genderuwo yang bersukaria dan bahagia karena mendapatkan korban berupa sepasang pengantin. Peran anak genderuwo merupakan tradisi turun temurun, jika orang tuanya dulu berperan sebagai anak genderuwo maka anaknya pun akan berperan menjadi anak genderuwo.




Kecamatan Pakem Gelar Lomba Keluwesan

Sleman – Lomba keluwesan dalam rangka peringatan Hari Ibu ke 87 tahun 2015  Kecamatan Pakem dibanjiri peserta ibu-ibu, meskipun tiap desa di Kecamatan Pakem sesuai ketentuan hanya mengirimkan 5 orang, namun pesertanya melebihi ketentuan. Peserta dalam lomba keluwesan yang diadakan PKK Kecamatan Pakem tersebut diikuti lebih dari 35 peserta. Lomba  dilakukan di Pendopo Kecamatan Pakem Sleman, Kamis (26/11).

Bertindak sebagai juri pada lomba keluwesaan tersebut Alex Mulyo Suharyo, Nuke, dan Uki Wira Atmaja. Dalam laporannya Ketua PKK Kecamatan Pakem, Siwi Yuniati yang sekaligus ketua panitia menyampaikan bahwa tujuan lomba keluwesan tersebut  untuk melestarikan  budaya Jawa, terutama dalam berbusana (kebaya).

Disamping itu dengan lomba tersebut diharapkan generasi muda bisa lebih menghargai  kebudayaan Jawa khususnya kebaya yang memperlihatkan keanggunan wanita Indonesia walaupun mengikuti trend saat ini.

Disampaikan pula bahwa para pemenang juara I – 5 akan mendapatkan trophy dan uang pembinaan. Sementara itu Ketua TP PKK Kabupaten Sleman, Ny Sri Wahyuni Gatot  Saptadi yang membuka lomba keluwesan tersebut dalam sambutannya menyampaikan bahwa peran perempuan/ibu saat ini sangat menonjol dibanding dengan jaman dulu, untuk itu perlu penguasaan diri termasuk keluwesan dalam berbusana.

Karena tugas perempuan/ibu saat ini cukup banyak yaitu sebagai isteri pendamping suami, pendidik dan pendamping anak-anak, sebagai penerus keturunan, membantu pendapataan keluarga lewat peningkatan perekonomian daan juga sebagai anggota masyarakat.

Menurut Sri Wahyuni bahwa dalam lomba tersebut bukan bertujuan untuk mendapatkan trophy dan hadiah bagi peserta, namun yang lebih penting adalah  sebagai pendorong untuk meningkatkan kreativitasnya, dengan harapan  melalui lomba tersebut dapat mendidik dan menunjukkan  kepada generasi muda/anak-anak , bagaimana cara berpakaian yang sopan, serasi dan menarik.

“Yang jelas berpakaian tidak harus mewah dan mahal, namun yang penting adalah pakaian tersebut yang nyaman dipakai dan sopan,” tutur Sri Wahyuni.

Hadir pada kesempataan tersebut antra lain Camat Pakem Djoni Suhartono SH, Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman. Setelah melalui penjurian yang cukup ketat, karena pesertanya kemampuaannya hampir sama, maka juri menentukan sebagai juara I Indra Kirana, juara II Sulastri, juaara III Tin Sugeng, juara harapan I  Rusmihati, dan juara harapan II Hariyani Astuti.




Peran Guru Makin Penting Diera Tanpa Batas

IMG_1105Sleman– Memasuki dunia era tanpa batas, peran guru semakin penting dalam menunjang pembentukan sumberdaya manusia berkualitas. Apalagi tiap tahun  pemerintah melalui Dirjen PMPTK melakukan sertifikasi guru sehingga diharapkan menjadi guru yang profesional dan bermartabat. 

Seorang guru yang profesional akan mendapatkan sertifikat sekaligus tambahan kesejahteraan. Ini sesuatu yang membanggakan sekaligus  suatu tantangan bagi seorang guru yang profesional. Demikian disampaikan Penjabat Bupati Sleman Ir Gatot Saptadi pada acara resepsi HUT PGRI ke 70 dan hari Guru Nasional 2015. Resepsi dilaksanakan di Gedung Serbaguan Sleman, Kamis (26/11).

Dikatakan Gatot, predikat sebagai guru profesional bukan ditentukan oleh tambahan kesejahteraan atau sertifikat yang diperolehnya akan tetapi ditentukan oleh kemampuan guru untuk mengaktualisasikan dan mengoptimalkan seluruh potensi mental dan intelektual yang dimiliki untuk memberikan bekal kepada anak didik dalam bertindak, belajar dan mengatur masa depan sendiri secara aktif dan mandiri.

“Guru adalah  sebagai tulang punggung  pendidikan. Oleh karena itu guru harus mampu menciptakan masyarakat yang berpendidikan (Learning Society),” kata Gatot.

Guru harus mengembangkan jati dirinya sebagai sosok guru profesional, bermartabat, berkompetensi dan memiliki komunikasi yang baik dengan anak didik serta memiliki komitmen yang kuat  terhadap profesinya. Tugas guru bukan lagi knowledge based tetapi lebih menekankan competency based yaitu penguasaan konsep keilmuan dan perekayasaan yang berdasarkan nilai-nilai etika  dan moral.

Konsekuensinya, seorang guru tidak lagi menggunakan komunikasi satu arah yang selama ini dilakukan, melainkan menciptakan suasana kelas yang kondusif sehingga terjadi komunikasi dua arah secara demokratis.