Usaha Aneka Olahan Salak Berikan Keuntungan Besar

Sleman – Diawali dengan usaha keripik salak pada tahun 2011, seorang wanita bernama Sri Sujarwati, warga Desa Kembangarum Kecamatan Turi Sleman membawa “Cristal” mampu menawarkan aneka olahan salak yang inovatif. Bahkan dari usahanya ini Sri Sujartawi bisa mendapatkan keuntungan yang besar. Saat ini, omset usahanya setiap bulan mencapai Rp 10 juta hingga Rp 15 juta.
Usaha aneka olahan salak yang dinamai “Cristal” bertempat di Jalan Salak Kilometer 5,5 Desa Kembangarum Turi. Dengan inovasi rasa dan kemasannya, aneka olahan salak ini menjadi makanan khas Sleman yang cocok untuk oleh – oleh. Dalam satu hari, maksimal Cristal mampu memproduksi asinan maupun manisan salak hingga 200 kemasan plastik dan 200 kemasan toples kaca. Produk dalam kemasan plastik bisa bertahan hingga tiga bulan, sedangkan dengan kemasan botol kaca bisa awet sampai enam bulan.
“Olahan salak ini merupakan produk turunan mulai kami buat sejak 2012. Ada dodol salak, bakpia salak, geplak salak, geblek salak, kurma salak, selai salai, dan karamel salak,” kata Sri Sujarwati dirumahnya, Kamis (22/1).
Baru pada 2014 lalu, lanjut Sri Sujarwarti, dirinya mencoba mengembangkan usaha dengan membuat bubuk kopi biji salak serta asinan dan manisan salak.
“Proses pembuatannya sebenarnya sama dengan asinan dan manisan umumnya. Tapi, produk kita tanpa pengawet. Pengawetnya alami dari kandungan gula,” tuturnya.
Untuk produk asinan maupun manisan salak dijual seharga Rp dan Rp . Pemasaran dipilih Sri Sujarwati lewat offline dan online. Online itu bisa delivery order, sedangkan yang offline kami pasarkan melalui toko oleh-oleh dan itu berlaku untuk semua produk. Dipilih olahan salak diakui Sri Sujarwati karena wilayah Turi memang terkenal sebagai penghasil salak terbesar di Jogja. Sayangnya, harga jual salak bisa jadi sangat rendah jika sedang panen raya. Salak juga merupakan buah yang cepat membusuk sehingga sering terbuang percuma saat permintaan sedang surut.
“Jadi kami punya ide untuk mengolah salak agar daya simpannya lebih lama dan harga jualnya pun lebih tinggi. Kalau dibuat keripik, itu bisa tahan sampai satu tahun,” papar Sri.
Menurut Sri, peluang usaha olahan salak masih terbuka luas. Apalagi peminat olahan salak ini banyak. “Kalau saat musim liburan seperti tahun baru kemarin, kami suka kekurangan stok,” katanya.
Soal bahan baku, Sri Sujarwati mengaku tidak kesulitan mendapatkannya karena bisa dibeli dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Kelompok Wanita Tani (KWT), maupun pengepul salak setempat.
“Tidak sulit mendapatkannya, tapi memang tidak bisa setiap hari. Sebab, salak yang kami gunakan harus yang masih muda, sekitar usia empat bulan,” terangnya.