Wisata Kebun Koleksi Salak Nusantara Alami Penurunan Kunjungan
Sleman – Selama beberapa tahun terakhir ini angka kunjungan wisatawan Kebun Koleksi Salak Nusantara di Dusun Candi Desa Bangunkerto Kecamatan Turi Sleman mengalami penurunan. Padahal di kebun koleksi salak tersebut terdapat puluhan jenis salak dari beberapa daerah di Indonesia.
Seperti diungkapkan Mulyono, pengelola Kebun Koleksi Salak Nusantara mengungkapkan terdapat sekitar 19 jenis tanaman salak yang jadi koleksi. Hanya dengan membayar tiket masuk seharga Rp , pengunjung bisa mengelilingi kebun salak seluas satu hektare.
“Pengunjung bisa melihat banyak jenis tanaman salak. Salak pondoh saja sudah ada beberapa jenis. Selain itu juga ada salak condet, kembang arum, nonduri, bali, salak hitam dan lainnya,” kata Mulyono kepada wartawan, kemarin.
Pengunjung pun dibebaskan untuk memetik dan makan salak sepuasnya. Jika ingin membawa pulang untuk oleh-oleh, pengunjung pun bisa membeli salak segar dengan harga standar. Pada dasarnya lanjut Mulyono wisata kebun koleksi nusantara ini untuk mendukung Agrowisata. Tetapi karena di Agrowisata kurang terawat dan sepi pengunjung, diakui Mulyono wisata kebun salam nusantara ini kena imbasnya sepi kunjungan.
Meski demikian Mulyono optimis Kebun Koleksi Salak Nusantara tetap masih diminati sebagai obyek wisata edukasi. Sebab, mayoritas pengunjung adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Sementara itu, pengelola Agrowisata, Sugito mengakui memang banyak fasilitas yang tidak terawat bahkan rusak. Misalnya saja jembatan penghubung antar gazebo yang ada di atas embung. Jembatan yang terbuat dari kayu itu sudah rapuh bahkan ada bagian yang terputus. Beberapa wahana permainan air pun tampak terbengkalai.
Hal itu membuat kurang menarik bagi wisatawan. Sugito memaparkan, Agrowisata yang beroperasi sejak 1989 tersebut mulai dikelola investor pada tahun 2000. Awalnya,kunjungan di Agrowisata yang dilengkapi dengan wahana kolam renang dan taman anggrek tersebut sangat ramai. Namun, karena kurangnya manajemen, Agrowisata jadi tidak berkembang dan mulai ditinggalkan wisatawan.
Pengelolaan oleh investor akhirnya dihentikan pada 2007. Agrowisata kemudian diambil alih oleh Pemerintah Desa Bangunkerto. Namun, langkah pengembangan Agrowisata tetap saja terbentur biaya.
