Produk UMKM Sleman Layak Jadi Suguhan Hotel

1701 SLEMAN OLAHAN SALAK (1024 x 768)Sleman – Ada kabar menggemberikan bagi kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Sleman khususnya yang memproduksi pangan olahan. Sebab produk pangan hasil olahan UMKM di Kabupaten Sleman mulai dilirik penggiat perhotelan. Hal ini karena produk yang dihasilkan UMKM dinilai layak untuk disuguhkan di dalam lobi hotel. Demikian antara lain disampaikan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sleman, Asteria T Hesti kepada wartawan di Sleman, Jumat (17/1).

Dikatakan Asteria, bahwa produk-produk yang ditawarkan oleh UMKM di Sleman cukup beragam dan unik. Terlebih, produk yang ditawarkan menggunakan bahan baku lokal yang khas.

“Seperti penggunaan salak pondoh yang menjadi produk lokal, sehingga akan mempertegas identitas daerah Sleman,” kata Asteria yang telah mengunjungi pengelolaan produk salak pondoh di Donokerto Turi, Rabu (14/1) lalu.

Produk olahan salak pondoh akan menjadi nilai jual tersendiri dalam bisnis perhotelan, apalagi produk yang ditawarkan tidak kalah dengan produk pabrikan.  Menurutnya, potensi pengembangan produk lokal ini sangat besar, bahkan bisa menjadi suguhan yang istimewa bagi tamu yang tidak didapatkan di kota lainnya. Sehingga akan menimbulkan kesan tersendiri dan berminat kembali mengunjungi Sleman.

“Selain meningkatkan nilai ekonomi produk lokal, kerjasama yang akan dijajaki PHRI Sleman dengan UMKM juga akan mendukung perkembangan UMKM di Sleman,” tuturnya.

Di Sleman sendiri saat ini ada 104 hotel yang menjadi anggota PHRI di Sleman. Jika semua hotel tertarik untuk memanfaatkan produk ini, tentu akan besar sekali. Untuk itu, ke depan pihaknya akan mengarahkan anggota PHRI untuk mulai menjalin kerjasama dengan UMKM yang ada di wilayah Sleman.

Sebab hotel juga merupakan pasar yang besar dan layak dijajaki oleh pelaku UMKM.




Palapsi UGM Akan Lakukan Ekspedisi di New Zaeland

Sleman – Untuk pertama kalinya Pecinta Alam Psikologi (Palapsi) UGM akan melakukan ekspidisi diluar benua Asia, untuk tahun 2015 akan melakukan ekspidisi di North Island, New Zaeland. Rombongan berangkat ke New Zaeland tanggal 13 Januari 2015 dan akan kembali ke tanah Air tanggal 1 Februari 2015 nanti. Selama di Zew Zaeland  rombongan atlit Palapsi UGM akan mengarungi 4 sungai  yaitu sungai Kaituna, Tongariro, Wairoa dan sungai Motu. Keempat sungai tersebut termasuk berair deras dan panjang. Untuk sungai yang panjangnya 100 km akan ditempuh selama 4 hari. 

Demikian disampaikan Eka Novianto ketika melakukan audensi di Kantor Bupati Sleman, Kamis (15/1). Disampaikan  Eka Novianto bahwa sebelumnya Palapsi UGM telah mempersiapkan diri selama satu tahun, dan latihannya di sungai yang ada di Indonesia seperti Sungai Progo, Sungai Elo, sungai Serayu, sungai Citandui, sungai Cimanuk di Jabar dan lainnya.

Ditambahkan Eka bahwa Palapsi UGM sebelumnya telah mengarungi beberapa sungai dan gua yang ada di Indonesia. Disamping ekspidisi  di New Zaeland tim Palapsi UGM juga akan melakukan penelitian. Sedangkan tujuan ekspidisi di New Zaeland tersebut antara lain  bahwa New Zaeland merupakan surga bagi adventurer dunia, juga untuk menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia mampu berbuat terbaik seperti yang dilakukan adventurer dunia lainnya.

Disamping eksipidisi tim Palapsi UGM juga akan memperkenalkan pada dunia akan produk-produk yang ada di Indonesia termasuk Batik dari Jogja. Sedangkan lima atlet yang berangkat ke New Zaeland tersebut  Fauzi Ardian (Bantul), Yoga (Sleman) Afif (Sleman) Wiratmo (Sleman) dan Lulu dari Palopo.

Pada kesempataan tersebut Eka Novianto didampingi Syifana Rahma A, Dhika Yanuar R dan Endro Winarno. Sementara Palapsi UGM diterima Staf Ahli Bidang Pembangunan, Kunto Riyadi, mewakili Bupati Sleman dan didampingi Dra Sri Winarti Kepala Bagian Humas, Suparno dari Dikpora dan Ngadiman dari Bagian Kesra.

Kunto Riyadi menyampaikan bahwa Pemkab Sleman menyambut baik dan memberi apresiasi yang tinggi pada Palapsi UGM. Disamping itu Kunto Riyadi juga menyampaikan bahwa dari keberhasilan-keberhasilan yang dapat dicapai Palapsi di luar Indonesia tentunya menjadi sebuah kontribusi terhadap eksistensi Bangsa Indonesia di mata internasional, dan tentunya juga mengangkat nama daerah.




Warga Cangkringan Terima Sertifikat Huntap

1701 SLEMAN SERTIFIKAT e (1024 x 656)Sleman – Sebanyak 117 sertifikat tanah huntap kurban erupsi Merapi tahun 2010 lalu  telah diserahkan secara simbolis oleh Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI di Pendopo Kecamatan Cangkringan, kemarin. Hadir pada penyerahan sertifikat tersebut antara lain, Kepala BPN Sleman Drs Suwito SH MKn, Plt Camat Cangkringan Edi Harmana SH, Kepala Desa Argomulyo Darjono , Kepala Desa Kepuharjo Heri Suprapto.

Sri Purnomo pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa sebanyak 117 Sertifikat untuk warga huntap kurban erupsi Merapi 2010 telah diserahkan tersebut berarti tanah tersebut sudah mempunyai kekuatan hukum.

“Dengan diserah-terimakannya sertifikat tanah ini, warga masyarakat memiliki kepastian hukum akan hak-hak atas kepemilikan tanah yang dimilikinya.  Dengan dimilikinya dokumen sertifikat tanah, maka status kepemilikan tanah menjadi jelas karena memiliki kekuatan yuridis dalam perlindungan hak kepemilikannya,” kata Sri Purnomo.

Selain itu program pensertifikatan ini juga merupakan upaya untuk menertibkan administrasi pemerintahan khususnya dibidang pertanahan serta  mengendalikan laju perubahan peruntukan lahan, khususnya lahan pertanian.

Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan masyarakat akan tanah, sebagai rumah tempat tinggal, tempat usaha dan dan jasa, penataan kepemilikan dan pengelolaan tanah  merupakan suatu keharusan. Selama ini, Pemkab Sleman telah berusaha mengendalikan perubahan lahan pertanian, salah satunya dengan memasang papan pengumuman tentang pelarangan pengalihan fungsi lahan.

Sedangkan  Kepala BPN Sleman, Suwito menyampaikan bahwa sertifikat untuk Kecamatan Cangkringan yang sudah jadi terdiri Desa Kepuharjo ada 516, Umbulharjo 185, Glagaharjo 310, Wukirsari 331 dan Argomulyo ada 260.

“Sementara yang belum jadi untuk seluruh Kecamatan Cangkringan ada 413 sertifikat,” katanta.

Ditambahkan pula bahwa sertifikat konsolidasi yang sudah jadi untuk Desa Umbulharjo dan Kepuharjo ada yang terdiri Pangukrejo 486, Pelemsari 167,Kopeng 2015, Jambu 230, Kaliadem 292 dan Petung 325.




Pemkab Terus Sempurnakan Mekanisme Pelayanan PBB

1501 SLEMAN SPPT (1024 x 680)Sleman – Untuk meningkatkan kualitas pengelolaan PBB P2, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus berupaya menyempurnakan mekanisme pelayanan PBB dengan upaya mempercepat proses penerbitan dan penyampaian SPPT PBB P2 kepada Pemerintah Desa untuk diteruskan kepada masyarakat.  Penyampaian SPPT PBB pada bulan Januari 2015 ini diharapkan masyarakat segera menerima SPPT PBB dan segera membayarnya tanpa menunggu batas jatuh tempo 30 September 2015.

Demikian disampaikan Kepala Dipenda Sleman, Drs Suhardo dalam acara penyerahan SPPT PBB P2  di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (15/1). Acara juga dihadiri oleh Ketua DPRD Sleman, Pimpinan BPD Cabang Sleman, Pimpinan BRI Syariah DIY, Pimpinan BRI Sleman, Pimpinan BNI 46 Bulaksumur, Assek III, Camat dan Kepala Desa se Kabupaten Sleman. Dalam acara ini juga diundang pimpinan perusahaan di Sleman untuk menerima SPPT PBB dari Bupati Sleman secara langsung.

Suhardo menambahkan untuk tahun 2015 tidak ada kenaikan NJOP dan untuk pokok ketetapan PBB P2 sejumlah lembar dengan nilai nominal Rp 74,21 miliar. Untuk pembayaran Pemkab Sleman telah menjalin kerjasama dengan BPD dan BRI Syariah dan sedang dalam penjajagan dengan BNI 46 dan BRI.

Penyerahan SPPT PBB P2 diawali dengan penandatanganan berita acara oleh Kepala desa dan Bupati Sleman serta penyerahan SPPT PBB P2 kepada wajib pajak bagi perusahaan dan swasta oleh Bupati Sleman secara simbolis diserahkan kepada pengelola Hyaat Hotel, Hotel Ambarukmo, Rich Hotel, Amplaz, Jogja City Mall, Angkasa Pura, UPN,UII, Mustika Princes Hotel, STIE, dan Indoland.

Sementara Sri Purnomo menyampaikan bahwa kesadaran dan ketaatan seluruh warga masyarakat Sleman dalam membayar pajak, merupakan bentuk kepedulian masyarakat yang sangat besar terhadap pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Sleman. Namun demikian kesadaran masyarakat terhadap penunaian kewajiban membayar PBB masih perlu ditingkatkan.

Untuk mendukung kesuksesan pembayaran PBB oleh masyarakat, perlu diimbangi dengan peningkatan profesionalisme aparatur pajak termasuk kecepatan penyampaian SPPT PBB kepada para wajib pajak.

Dengan penyampaian SPPT PBB lebih awal, diharapkan lebih mendorong para wajib pajak untuk sesegera mungkin membayar pajak. Oleh karena itu Sri Purnomo minta kepada seluruh Kepala Desa untuk segera mendistribusikan SPPT PBB ini kepada para Dukuh, dan turut serta memantau pembayaran PBB masyarakat sehingga dapat selesai tepat waktu sesuai dengan target yang telah ditetapkan.




Musim Hujan Produksi Genteng Sleman Turun 50 Persen

Sleman – Produksi bahan bangunan berupa genteng di sentra industri genteng Desa Sidoluhur Kecamatan Godean Sleman mengalami penurunan drastis seiring dengan musim hujan.

“Pada musim hujan ini produksi genteng turun hingga 50 persen.

Selain itu produksi genteng juga terkendala semakin sulitnya mencari bahan baku tanah liat,” kata perajin genteng di Sidoluhur, Tugiono, Kamis.

Menurutnya, hujan sangat memengaruhi aktivitas pengeringan hasil cetakan genteng, baik yang pres maupun tradisional. Jika biasanya dalam sehari mampu memproduksi sekitar 400 biji genteng, saat kondisi hujan seperti ini hanya bisa memproduksi sekitar 200 biji saja.

Tugiono menambahkan dengan kondisi hujan ini waktu pengeringan jauh lebih lama, yakni bisa mencapai satu minggu baru kering.

“Proses pengeringan hampir satu minggu itupun kadang pengeringan tidak maksimal,” katanya.

Tugiono mengatakan, selain terkendala masalah pengeringan, perajin genteng saat ini juga dihadapkan semakin sulitnya mencari bahan baku berupa tanah liat.

“Harga tanah liat saat ini juga semakin naik setelah kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. Meskipun harga BBM sudah turun sedikit, harga tanah liat tidak otomatis ikut turun,” katanya.

Ia mengatakan, untuk harga tanah liat per satu rit mobil pick up saat ini bisa mencapai Rp 400 ribu, sementara untuk satu truk mencapai Rp 700 ribu. Harga tanah liat tersebut naik sekitar Rp100 ribu dari harga sebelumnya. Sedangkan perajin genteng lainnya Widodo mengatakan, musim hujan ini tidak hanya menyebabkan sulitnya proses pengeringan, tetapi juga naiknya harga genteng di pasaran. Sebelumnya dari setiap genteng dijual Rp 1,3 juta, melonjak menjadi Rp 1,7 juta.

Menurut Widodo masyarakat Sidoluhur Godean ini, mayoritas menggantungkan hidup dari membuat genteng tanah liat serta batu bata. Selama ini produksi genteng dan batu bata dipasarkan di sejumlah daerah seperti Wonosari, Gunungkidul, Bantul hingga Klaten, Jawa Tengah.