Pemkab Sleman Segera Terapkan Remunerasi

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman tengah mengkaji penerapan remunerasi bagi Pegawai Negeri Sipili (PNS). Hal tersebut dilakukan guna menjalankan reformasi birokrasi.

Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman, dr Sunartono MKes mengatakan sebagai kesiapan, saat ini Pemkab tengah melakukan kajian untuk menyiapkan instrumennya. Pasalnya dalam penerapan remunerasi, Pemkab tidak bisa hanya mengandalkan presensi pegawai.

“Meski salah satu instrumennya adalah presensi, namun bukan menjadi syarat pokok dalam tolok ukurnya,” kata Sunartono, kemarin

Kendati demikian, lanjut Sunartono, Pemkab sudah mulai menjalankan sistem yang mengarah ke reformasi birokrasi. Seperti penilaian terhadap kinerja pegawai sesuai dengan bidang kerjanya.

“Contoh konkret yang sudah berjalan dii RSUD Sleman. Tiap pegawai akan memperoleh insentif sesuai beban kerja. Selain itu, bidang kerja yang memiliki risiko besar, indeks penilaiannya juga lebih tinggi. Walau belum ideal seperti yang dicita-citakan, namun yang jelas penghasilan pegawai berbanding lurus dengan hasil kerja yang dilakukan,” ungkapnya menjelaskan.




PMI Sleman Adakan Jumbara PMR

PMRSleman– Untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggota PMR Kabupaten Sleman maka PMI Kabupaten Sleman mengadakan Jumbara (Jumpa Bhakti dan Gembira) PMR (Palang Merah Remaja) se kab Sleman, Sabtu (10/1) dipusatkan di GOR Tridadi Sleman. Acara dibuka oleh Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan Sri Murni Rahayu dan dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD Sukaptono, Ketua PMI Sleman dr Sunartono MKes, dan pejabat lainnya.

 Kegiatan yang dilakukan meliputi jumpa dengan kegiatan diskusi panel tentang manajemen PMR, kegiatan Bakti yakni donor darah, kerja bakti bersih lingkungan padukuhan Paten dan Ngemplak Caban, peberian makan ramsum kepada siswa SLB dan kegiatan Gembira diisi kegiatan sosial tentang 7 materi pokok PMR yang dikemas dalam bentuk traveling/sirkuit meliputi pesan palang merah, kepemimpinan, ayo siaga bencana, pertolongan pertama, remaja sehat peduli sesama dan kesehatan remaja.

Sementara  Bupati Sleman dalam sambutan yang dibacakan Sri Murni Rahayu mengatakan sebagai daerah yang memiliki potensi bencana, Kabupaten Sleman sangat membutuhkan relawan yang tanggap dan cekatan dalam upaya evakuasi tetapi juga mampu melakukan langkah preventif mengurangi korban bencana dengan membantu mensosialisasikan langkah-langkah yang ditempuh masyarakat jika terjadi bencana.

Pemerintah Kabupaten Sleman selalu berupaya melakukan pembinaan dan sosialisasi yang mengarah pada Sekolah Siaga Bencana, sehingga, pembinaan PMR Kabupaten Sleman ke depan akan lebih efektif dan hasilnya dapat dirasakan langsung, baik oleh PMR itu sendiri maupun masyarakat

Keberadaan PMI beserta relawannya di setiap kejadian  bencana menjadi suatu kebutuhan dan harapan para korban bencana. Hal ini dirasakan masyarakat Sleman yang berada pada area rawan bencana seperti di lereng Merapi dan wilayah Sleman bagian timur dengan potensi bencana gempa bumi.

“Saya berharap dengan eksistensi yang dimiliki tersebut, kegiatan Jumbara ini juga menjadi ajang untuk meningkatkan kompetensi baik dalam hal tanggap kebencanaan maupun dalam berorganisasi,” kata Sri Murni bacakan sambutan Bupati Sleman.

Dengan demikian PMI kedepan akan lebih maju dan semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat luas. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap PMI saat ini sudah baik. Hal ini terlihat salah satunya dari bulan dana PMI yang dilaksanakan di Kabupaten Sleman pada Tahun 2014  yang lalu telah mampu menggalang dana sebesar  Rp 620,072 juta Jumlah ini melampaui target yang ditentukan yakni Rp 500 juta atau mencapai 124%.

Hal ini merupakan kondisi yang menggembirakan, tetapi juga sebagai tantangan yang harus dihadapi PMI untuk menjaga dan meningkatkan  kepercayaan masyarakat. Kedepan, tanggungjawab tersebut ada pada pundak kalian sebagai generasi anggota PMR yang nantinya akan meneruskan perjuangan PMI di masa mendatang.

Untuk menyiapkan generasi yang siap dalam perputaran roda estafet organisasi, dalam pembinaan PMR tentu saja diperlukan persamaan persepsi dan komitmen oleh semua unsur yaitu pengurus,  pembina PMR, pelatih PMI, serta pihak terkait dalam pembinaan remaja atau anggota PMR.




Pasar Belut Alternatif Wisata Kuliner Khas Sleman

Sleman – Pusat Kuliner Belut Godean terus didorong agar dapat menjadi ikon wisata kuliner khas dan alternatif wisata makanan di wilayah barat Kabupaten Sleman.

“Pusat Kuliner Belut Godean  diharap dapat menjadi ikon baru wisata kuliner di Sleman,” kata Kepala Dinas Pasar Kabupaten Sleman, Dra Tri Endah Yitnani di Sleman, kemarin. Menurut dia, Pusat Kuliner Belut Godean ini memberi kemudahan, baik bagi para pedagang dan konsumen bertransaksi berbagai hasil olahahan belut secara nyaman dan aman.

“Ini juga akan menjadi ikon pusat oleh-oleh khas Godean,” kata Tri Endah.

Tri Endah menambahkan  dengan tersentralnya penjualan hasil olahan belut ini tentunya memberikan nilai estetika yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

“Untuk menjadikan pusat kuliner ini ramai pengunjung, pengelola dan para pedagang dapat bersinergi, melaksanakan beberapa kegiatan yang menarik pengunjung,” katanya.

Sentra kuliner belut ini tentunya semakin menguatkan citra belut sebagai komoditas unggulan Sleman yang bahkan banyak diminati para wisatawan sebagai oleh-oleh khas Sleman.
Sentralisasi pemasaran komoditas ini juga diharapkan dapat meningkatkan promosi aneka produk olahan belut sebagai komoditas unggulan Kecamatan Godean, yang akhirnya mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah.

Ditambahkan Tri Endah bahwa inovasi diharapkan dapat terus dilakukan untuk memberikan beragam pilihan bagi konsumen. Tidak hanya terbatas pada keripik, belut juga menarik untuk disajikan dalam bentuk lain seperti dendeng belut, abon belut, sambel belut kemasan dan lain sebagainya.

“Penganekaragaman pangan ini menggarisbawahi upaya untuk meningkatkan porsi produk olahan buatan dalam negeri,” tutur Tri Endah.

Selain itu, katanya, guna semakin meningkatkan kualitas produk kripik belut, ke depan akan dilakukan `grading` kripik belut sehingga pembeli dapat membedakan kualitas kripik belut.




Awal Maret 2015, Sleman Bakal Dibanjiri 1.000 Toyota Land Cruiser

Sleman – Awal Bulan Maret 2015 mendatang, tepatnya tanggal 7–8 Maret 2015 Kabupaten Sleman  bakal menjadi ajang penyelenggaraan Jambore Internasional Toyota Land Cruiser untuk yang kedua kalinya setelah yang pertama diselenggarakan pada tahun 2013 di Bali. Beberapa negara yang akan hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Perancis, Jepang, Australia, Thailand, Singapura, Filipina, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Demikian antara lain yang terungkap pada saat acara audiensi Panitia Jambore Internasional Toyota Land Cruiser 2015 dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Jumat (9/1).

Dwi Budi Santosa yang memimpin rombongan Panitia Jambore Internasional Toyota Land Cruiser 2015 tersebut mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya Jambore Internasional Toyota Land Cruiser 2015 adalah sebagai ajang silaturahmi antar negara dan antar chapter seluruh Indonesia, sebagai wadah kompetisi dan adu kreatifitas dengan menjunjung tinggi sportifitas serta diharapkan dapat memberikan hiburan bagi masyarakat dan edukasi tentang otomotif khususnya Toyota Landcruiser.

Sehubungan dengan hal tersebut demi kelancaran dan kesuksesan jamboree dimaksud pihaknya membutuhkan dukungan dari pihak pemerintah daerah di antaranya Kabupaten Sleman. Saat ini persiapan sudah dilakukan secara matang dengan melibatkan berbagai pihak dan berbagai stakeholder diantaranya pemerintah daerah dan pihak swasta.

Dikatakan bahwa penyelenggaraan Jambore Internasional Toyota Land Cruiser 2015 akan dipusatkan di Kompleks Candi Prambanan. Menurut Budi, Jogja  merupakan salah satu tempat yang sangat stretegis untuk penyelenggaraan event berskala interenasional tersebut mengingat Jogja merupakan destinasi wisata popular dunia yang diharapkan akan memberikan kesan mendalam bagi para peserta jamboree.

Jambore Internasional Toyota Land Cruiser dikemas secara fun dengan berbagai aktifitas otomotif maupun social yang ditujukan bagi member TLCI, keluarga maupun masyarakat umum dan wisatawan yang berkunjung ke Candi Prambanan pada saat event berlangsung.

Diantaranya aktifitas tersebut adalah pemecahan rekor MURI mobil Toyota Land Cruiser dalam satu lokasi kegiatan, konfigurasi mobil Toyota Land Cruiser yang diatur membentuk alphabet TLCI, kontes ketangkasan melewati berbagai rintangan dengan Toyota Land Cruiser, donor darah bekerjasama dengan PMI DIY, bakti social untuk panti asuhan, lomba foto, aneka fun games dan hiburan, bazaar multi produk dan food court area.

Diungkapkan Budi untuk kepesertaan hingga saat ini yang sudah konfirmasi berjumlah 300 peserta, sehingga diharapkan para calon peserta dari berbagai daerah agar secepatnya mendaftarkan diri ke panitia atau melalui email  @.

Sementara  Kepala Dinas Kebudayaan dan Paraiwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM yang dalam kesempatan tersebut didampingi oleh Sekretaris Dinas Dra Endah Sri Widiastuti MPA mengatakan bahwa pihaknya memberikan apresiasi yang tinggi terhadap penyelenggaraan event Jambore Internasional Toyota Land Cruiser 2015 di wilayah Kabupaten Sleman. Sehingga diharapkan event bertaraf internasional tersebut akan memberikan kontribusi positif terhadap dunia kepariwisataan di DIY khususnya Kabupaten Sleman.

Ayu menambahkan bahwa Kabupaten Sleman yang memiliki lokasi yang strategis dengan dukungan destinasi wisata yang sangat beragam membuka peluang yang luas bagi penyelenggaraan event-event bertaraf internasional, seperti halnya Jambore Internasional Land Cruiser ini. Terlebih lagi pengemasan event tersebut dikaitkan dengan konsep-konsep sosial, lingkungan, budaya dan pariwisata.***




Desa Wisata Ngremboko Andalkan Perikanan

NgrembokoSleman – Setelah sempat terhenti selama dua tahun, aktivitas pariwisata di Desa Wisata Ngremboko di Dusun Bokesan Desa Sindumartani Kecamatan Ngemplak Sleman mulai bangkit kembali. Pengelola dan warga setempat mulai membenahi dan melengkapi berbagai penunjang bagi pengembangan desa wisata.  

Saptono, selaku Ketua pengelola Desa Wisata Ngremboko Bokesan menceriterakan kesiapannya mengelola Desa Wisata Ngremboko dengan telah mempersiapkan maket rencana pembangunan wilayah seluas 25 hektar. Diceritakan Desa Wisata Ngremboko mengandalkan pariwisata berbasis perikanan. Selain ikan konsumsi seperti nila, lele, dan gurame, ikan hias pun dibudidayakan di sana.

“Dari luas total wilayah kami, 60 persennya adalah kolam ikan,” kata Saptono, baru-baru ini. Kelompok Pembudidaya Ikan (KPI) Mina Ngremboko sendiri, dipaparkan Saptono, telah ada sejak tahun 1985 dan dikukuhkan pemerintah pada dua tahun berikutnya.

“Awalnya memang perikanan, lalu kami sering dikunjungi para relasi dan digunakan untuk lokasi outbond dan studi banding,” ungkap Saptono.

Masyarakat setempat kemudian merasakan manfaat dari kedatangan pengunjung. Mereka kalau outbond bisa tiga sampai empat hari, jadi butuh penginapan dan jasa cuci baju.

“Orang-orang kami juga banyak yang dibutuhkan jadi pemandu,” tutur Saptono.

Saptono melanjutkan, para pengunjung banyak yang ingin membawa pulang oleh-oleh. Warga jadi terdorong berwirausaha aneka olahan ikan untuk oleh-oleh. Ikan-ikan hias juga bisa dijual sebagai suvenir. Diceritakan Saptono, Dusun Bokesan telah menjadi Desa Wisata Ngremboko sejak tahun 2002. Sayangnya, dua tahun belakangan, aktivitas pariwisata di Bokesan tersebut seakan mati suri.

“Waktu itu pengelolaannya kurang fokus. Tahun ini pokdarwis (kelompok sadar wisata) mulai bangkit lagi. Kami mencoba menata lingkungannya, tanpa keluar dari konsep perikanan,” kata Saptono.

Tamu – tamu di Desa Wisata Ngremboko kebanyakan berasal dari kalangan perguruan tinggi dan instansi pemerintah.

“Ini sekarang sudah ada pasar ikan. Kami rencana akan kembangkan home stay yang letaknya di pinggir sungai dan beberapa joglo untuk tempat bersantai,” urai Saptono.

Saptono juga menunjukkan kolam kecil di depan rumah salah satu warga. Dengan bangga dia lalu mengungkapkan, partisipasi warga dalam pengembangan Desa Wisata Ngremboko mencapai 90 persen. Namun, hasilnya juga bisa membuat warga semakin sejahtera.

Omset untuk budi daya ikannya saja tahun lalu mencapai Rp 11 miliar perikanan bisa dikembangkan jadi pariwisata dengan manajemen yang tepat. Kegiatan pemijahan dan panen ikan saja sudah menarik.

“Tinggal bagaimana penataan lingkungan dan paket wisatanya. Home stay juga harus dibuat sesuai standar,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman, Ir Ayu Laksmidewi TP MM.

Menurut Ayu, potensi Desa Wisata Ngremboko masih perlu digali usulkan kegiatan tahunan. Potensi budaya, seni, dan perikanan bisa digabung dalam satu konsep.