10 Persen Balita Sleman Mengindap Pneumonia

Sleman – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes mengatakan pneumonia merupakan penyakit infeksi paru-paru yang ditandai gejala batuk, demam, nafas pendek, hingga nyeri dada, Senin (12/10). Dalam kondisi sehat, nafas balita per menit bisa mencapai 40 kali, sedangkan orang dewasa 20 kali. Karena itu peringatan bagi para perokok. Jangan pernah merokok di dalam rumah, apalagi jika ada balitanya.

“Asap rokok bisa memicu timbulnya penyakit pneumonia pada anak-anak maupun orang dewasa penghuni rumah,” kata Linda di Sleman.

Dijelaskan Linda, balita lebih mudah terpapar gejala pneumonia karena kondisi daya tahan tubuh yang lebih rentan. “Jadi bukan balitanya yang disingkirkan. Tapi perokoknya yang harus menyingkir,” kata Linda.

Menurutnya, pneumonia menjadi penyakit cukup serius akibat polusi lingkungan dan udara. Juga mudah menular jika kontak langsung dengan penderita. Kurang gizi serta daya tahan tubuh rendah akibat tak imunisasi makin mendorong balita mudah tertular.

Dinkes  memperkirakan sedikitnya 10 persen dari total balita di Sleman sebanyak anak mengidap pneumonia. Untuk menekan angka kematian balita akibat penyakit tersebut, Dinkes ditarget mampu mendeteksi sedikitnya 4,42 persen penderita. Untuk dilakukan penanganan medis.

“Dari target itu, dari Januari hingga Agustus 2015, dinas telah mendapati 4,79 persennya. Atau sejumlah 509 balita penderita pneumonia,” tutut Linda.

Meski tergolong penyakit serius, bukan berarti pneumonia tak bisa dicegah atau disembuhkan. Menaikkan daya tahan balita dengan imunisasi dan peningkatan gizi menjadi faktor krusial yang harus disegerakan. Tak kalah penting menjaga balita dari potensi terpapar polusi udara. Misalnya, melindungi dengan masker saat berkendara. Dan sebisa mungkin balita tak dibonceng di depan.

“Ini yang sering dilupakan masyarakat,” tegas Linda.

Untuk pengobatan, penderita cukup diberi simtomatis dan antibiotik. Dua jenis obat tersebut tersedia cukup di puskesmas di seluruh wilayah Sleman. Selain pneumonia, ispa dan diare menjadi penyakit dengan kasus tertinggi yang diderita anak-anak selama 2015. Balita penderita ispa mencapai anak. Sedangkan diare mencapai kasus. Terbanyak di wilayah Puskesmas Sleman, Gamping 1, dan Godean 1.




Macapat Sambut Sumpah Pemuda

macapatSleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman gelar Lomba Macapat untuk menyambut Hari Sumpah Pemuda di Rumah Dinas Bupati, Senin (12/10). Lomba Macapat diikuti oleh perwakilan dari masing – masing kecamatan se Kabupaten Sleman. Macapat adalah tembang (lagu) atau puisi tradisional jawa. Setiap Kecamatan di Kabupaten Sleman mengirimkan 4 peserta, dua laki – laki dan dua perempuan.

Dalam laporannya, Kepala Dinas Budpar Sleman Ir. AA. Ayu Laksmidew, MM menyampaikan Lomba Macapat sebagai sarana rasa memiliki terhadap budaya jawa, sarana membudayakan dan mengembangkan seni sastra terutama macapat di Kabupaten Sleman, dan mengenalkan budaya macapat kepada generasi muda.

Sedangkan dalam sambutannya, Sekretaris Daerah de. Sunartono, menyampaikan bahwa Lomba Macapat sebagai upaya pelestarian budaya jawa yang adiluhung. Disampaikan pula bahwa Lomba Macapat dapat dijadikan sebagai sarana tolak ukur sejauh mana kemampuan dalam seni macapat.

Materi dalam Lomba Macapat tersebut meliputi tembang wajib (lagu wajib) untuk laki – laki dengan judul Dhandanggula Majsih Slendro Manyuro, dan tembang pilihan (lagu pilihan) Putra dengan judul Mijil Kingkin Pelog Barang atau Kinanthi Sekargadhung Pelog Nem. Sedang tembang wajib untuk Putri dengan judul Senom Kentar Slendro Manyuro dan tembang wajib putri Asmaradana Slobog Pelog Barang atau Pangkur Dhudakasmaran pelog Bem.

Adapun juaranya adalah juara I putra Wagiyana dari Depok, juara II putra Parjiman dari Ngemplak, juara III putra Haryana dari Cangkringan, juara harapan I putra Sukirwanta dari Ngaglik, dan juara harapan II putra Temureja dari Pakem. Sedangkan juara I putri diraih oleh Supinah dari Cangkringan, juara II putri Suhemiharti dari Pakem, juara III putri Annisa Meiliasari dari Pakem, juara harapan I putri Wartutik dari Sleman, serta Suratmi dari Ngemplak berhak atas juara harapan II.

Bertindak sebagai dewan Juri  Dra. Ciptarini, Projosuwasono dan Dwijo Cipto Wandowo. Para juara mendapatkan piala, piagam dan uang pembinaan, maasing-masing : juara I Rp. ,- juara II Rp. ,-. Juara III Rp. ,-. Juara harapan I Rp. ,- dan juara harapan II Rp. ,-.***




Dua Penumpang Heli Hilang Kontak, Warga Sleman

Sleman – Dua diantara lima penumpang helikopter yang hilang kontak dalam penerbangan dari Samosir menuju Kualanamu adalah warga Tegal Bojan, Desa Purwomartani Kecamatan Kalasan, Sleman. Keduanya adalah Nurharyanto, yang selama ini tinggal bersama isteri dan anaknya di Sidoarjo, Jawa Timur adalah karyawan PT PAS, perusahaan yang melayani angkutan udara secara carter. Demikian pula Fransiskus Subihardiyan, lulusan SMK Penerbangan AAG Adisutjipto Jogja yang juga bekerja di PT PAS. Ia adalah kemenakan Nurharyanto.

Keluarga, hingga saat ini masih belum mendapatkan informasi yang pasti mengenai helikopter jenis Eurocopter EC-130 Bell-4 yang hilang kontak pada hari Minggu (11/10) lalu. Salah satu kerabat Nurharyanto maupun Fransiskus Subihardiyan, Esti  kepada wartawan menuturkan keluarga belum mendapat penjelasan resmi baik dari perusahaan tempat keduanya bekerja maupun dari institusi yang berwenang.

“Kami baru tahu dari siaran televisi,” kata Esti. Ia menambahkan, keluarga terus memantau dari detik-ke detik perkembangan dan upaya pencarian maupun penyelamatan.

Setelah muncul nama kedua warga Tegal Bojan yang ikut dalam penerbangan pesawat helikopter dengan call sign PK-EKA kerabat dan tetangga terus berdatangan untuk membesarkan hati keluarga. Sementara isteri Nurharyanto  masih dalam perjalanan dari Sidoarjo menuju Sleman. Lebih lanjut Esti berharap agar Tim SAR dan tim pencarian dan penyelamatan lainnya dapat segera menemukan keberadaan helikopter termasuk penumpangnya.




Seluruh Wilayah Sleman Rawan Bencana Angin Kencang

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman sudah bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana angin kencang pada musim pancaroba. Musim pancaroba yang merupakan peralihan dari musim kemarau ke penghujan.

“Hal yang perlu diwaspadai adalah perubahan cuaca secara ekstrim, salah satunya berupa angin kencang. Dan sekarang ini seluruh wilayah Sleman rawan terhadap bencana angin kencang,” kata Kepala BPBD Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MHum, Minggu (11/10).

Menurut Julisetiono hal tersebut berdasarkan fakta bahwa pada tanggal 22 April 2015 lalu ketika juga terjadi musim pancaroba tercatat ada sekitar 400 pohon yang tumbang di wilayah Sleman.

“Kecamatan terbanyak terjadinya kasus pohon tumbang adalah Sleman dengan 25 titik kejadian, Seyegan 21 kasus, dan Minggir 14 titik kejadian. Semua wilayah Sleman rawan terhadap bahaya pohon tumbang,” kata Julisetiono.

Sebagai langkah antisipasi lanjutnya, BPBD Sleman menyatakan sudah bekerja dengan beberapa dinas terkait untuk melakukan pendataan berapa banyak pohon di wilayah Sleman yang rawan tumbang.

“Selain itu kami juga akan tertibkan baliho-baliho dan papan iklan di wilayah Sleman, terutama bagian selatan yang rawan rubuh jika ada angin kencang,” tutur Julisetiono.

Lebih lanjut, berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Sleman, telah terjadi 19 kali angin kencang di 32 titik di wilayah Sleman pada tahun 2014. Tahun lalu, dalam satu kali kejadian angin kencang sampai menumbangkan 400 pohon. Kejadiannya tersebar di Kecamatan Pakem, Moyudan, Mlati dan Seyegan. Sedangkan pada tahun 2015 tercatat ada 45 kejadian di 112 titik yang tersebar di Kecamatan Minggir dan Seyegan.

“Harapannya sampai akhir 2015 tidak terus bertambah,” tutur Julisetiono.

Untuk mengurangi risiko adanya korban angin kencang dan petir, BPDB Sleman mengimbau masyarakat melakukan kegiatan gotong royong memangkas pohon. Tujuannya untuk mengantisipasi pohon tumbang karena angin kencang.

“Tapi jangan semua pohon lalu ditebang,” tegasnya.




Waspada Mers, Dinkes Lakukan Pantauan Intensif

Sleman – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman melakukan pemantauan intensif terhadap kesehatan jamaah haji Sleman yang baru pulang. Pemantauan itu dilakukan guna mengantispasi kemungkinan penularan Mers pada mereka.

“Guna mengantisipasi kemungkinan penularan Mers bagi jemaah haji yang baru pulang ke Sleman. Kami dari  Dinas Kesehatan secara intensif melakukan pengamatan kesehatan jemaah haji, apakah mereka mengalami gangguan kesehatan yang mengarah pada Mers yang ditandai dengan panas badan tinggi dan sesak nafas,” kata Kepala Dinkes Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes, Minggu (11/10).

Untuk setiap jemaah haji yang baru pulang tersebut, menurut Linda sudah diberikan edukasi tentang gejala awal penyakit Mers, termasuk kartu kuning kewaspadaan. Meski demikian guna mengantisipasi kasus Mers di Sleman, tiap Puskesmas tetap menurunkan petugas untuk melakukan surveylance bagi setiap jamaah haji diwilayahnya.

Bagi jamaah haji yang terindikasi terpapar Mers, dijelaskan Linda akan diminta tidak melakukan kontak dengan banyak orang. Bahkan lanjutnya jika terjadi panas tinggi disertai sesak nafas harus dilakukan perawatan di rumah sakit.

“Dari jamaah haji Sleman tahun lalu  terdapat beberapa jamaah haji diantaranya yang dicurigai terpapar Mers. akan tetapi setalah dilakukan perawatan dan uji laboratorium ternyata semuanya negative,” tutur Linda.