Untuk Tingkatkan Perekonomian Pemkab Permudah Peluang Investasi

Sleman – Asisten Bidang Pembangunan, Dra Suyamsih mengatakan  pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sleman selama tahun 2014 sebesar 5,81% meningkat 0,11% dibanding tahun sebelumnya.

“Perekonomian di Sleman selama ini masih didominasi sektor pertanian, industri pengolahn serta perdagangan, hotel dan restoran,” kata Suyamsih ketika menghadiri perayaan  Hari jadi ke 14  Paguyuban Keluarga  Sleman Manunggal Sembada yang berada di Jabotabek. Peringatan HUT ke 14 tersbut dipusatkan di Gedung Sudirman Taman Bunga Wiladatika Cibubur Jakarta Timur, Minggu (10/1).

Dikatakan Suyamsih,  untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, Pemkab Sleman berupaya mempermudah peluang investasi di  Kabupaten Sleman dengan memberikan layanan perizinan satu atap sejak tahun 2015 lalu dengan didirikannya Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu.

Sementara itu untuk menarik wisatawan yang berkunjung di Kabupaten Sleman terus diupayakan penataan beberapa obyek wisata, agar memberi kenyamanan bagi wisatawan yang berkunjung di obyek wisata yang ada di Kabupaten Sleman.

“Yang jelas saat ini Sleman telah memiliki 15 desa wisata berkategori tumbuh, 11 desa wisata kategori berkembang dan 11 desa wisata berkategori mandiri,” kata Suyamsih.

Karena itu diharapkan dengan banyaknya desa wisata yang ada di Kabupaten Sleman , maka masyarakat yang berada di Jakarta bila berlibur dan mudik bisa memanfaatkan beberapa obyek wisata yang ada di Kabupaten Sleman. Disamping itu diharapkan pula masyarakat Sleman yang berada di Jakarta bisa bersama-sama ikut merumuskan pembangunan Sleman yang lebih baik.

Untuk itu diharapkan agar keluarga besar paguyuban Sleman Manunggal Sembada mampu menjaga kebersamaan dan kekompakan , saling bahu- membahu dan tolong menolong terhadap kesulitan dan persoalan lainnya.

Sedangkan  Ketua umum  Paguyuban Keluarga Sleman Manunggal Sembada, Dr Drs H Tukiman Ws SH MM MH berharap agar kedepan masyarakat Sleman yang berada di Jakarta lebih kompak dan bersatu meningkatkan kerjasama dan mampu memberi kontribusi pembangunan di Sleman.

Dalam memeriahkan ulang tahun Paguyuban Sleman Sembada ke 14 tersebut dimeriahkan berbagai kegiatan, antara lain jalan santai dan senam sehat, bakti sosial berupa penyerahan santunan bagi anak-anak yatim/piatu dan hiburan campursari.

Dalam bhakti sosial tersebut telah dibagikan uang santunan bagi 30 anak yatim/piatu masing-masing sebesar Rp. . Dalam gerak jalan santai dan senam tersebut diikuti sekitar 300 an peserta masyarakat yang berada di Jabotabek. Disamping senam dan jalan santai pada kesempatan tersebut juga dilakukan potong tumpeng yang dilakukan oleh Muhdi Pr dan diserahkan salah satu pengurus paguyuban.




BK Dewan Sleman Akan Panggil Sri Muslimatun

Sleman – Badan Kehormatan (BK) DPRD Sleman berencana akan memanggil Sri Muslimatun untuk dimintai klarifikasi. Pemanggilan tersebut dilakukan terkait dengan mangkirnya Sri Muslimatun sebagai anggota Dewan sejak beberapa bulan lalu.


Hingga saat ini Sri Muslimatun masih tercatat sebagai anggota DPRD Sleman dari Fraksi PDIP. Sri Muslimatun sudah tercatat mangkir dari tugas kedewanan selama enam bulan berturut-turut, terhitung sejak bulan Juli 2015.

Sesuai dengann UU 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah Pasal 193, dengan tidak menghadiri rapat paripurnam maupun rapat alat kelengkapan Dewan enam kali berturut-turut dapat dilakukan pergantian antar waktu (PAW) terhadap anggota bersangkutan.

Ketua BK DPRD Sleman, Prasetyo Budi Utomo kepada wartawan di DPRD Sleman, Senin (11/1) menegaskan pemanggilan tersebut dilakukan tanpa ada muatan politik. Namun murni menegakkan aturan kedewanan.

Menurut Prasetyo, pemanggilan ini dikarenakan yang bersangkutan sudah melanggar aturan, sehingga BK memanggilnya untuk klarifikasi.

“Bukti berupa catatan kehadiran dari Sekretariat DPRD yang menjadi dasar pemanggilan kami selaku BK,” kata Prasetyo.

Selain Sri Muslimatun ada dua anggota Dewan lainnya yang juga terancam dipecat karena mangkir. Kedua anggota Dewan tersebut antara lain Danang Maharsa dan Andreas Purwanto, keduanya dari Fraksi PDIP.

“Mereka juga akan kami mintai keterangan terkait mangkirnya dari agenda kedewanan terutama ketidakhadiran dalam sidang paripurna enam kali berturut-turut. Penegakan ini murni dilakukan agar anggota dapat bekerja secara profesional,” kata Prasetya.

Prasetyo menambahkan langkah tegas tersebut dilakukan mengingat tingkat kehadiran anggota DPRD Sleman sangat rendah. Yakni sekitar 80 persen pada semester kedua bulan September hingga Desember  2015.

“Jika tidak ada langkah tegas, kinerja anggota Dewan dikhawatirkan akan semakin menurun. Hal ini tentu akan berpengaruh kebijakan untuk membangun Kabupaten Sleman,” tuturnya.

Sementara Anggota BK DPRD Sleman, Danang Sulistyo Haryono menambahkan dengan kemangkirannya tersebut, praktis Sri Muslimatun juga tidak mengikuti rapat dan agenda kedewanan hingga lebih dari enam kali kali secara berturut-turut. Dengan demikian, Sri Muslimatun  dianggap telah  melanggar etika seorang anggota Dewan.

“Sesuai dengan bukti, Sri Muslimatun tidak lagi aktif di DPRD Sleman meski statusnya belum dicoret,” kata Danang.

Seperti diketahui Sri Muslimatun mangkir setelah melayangkan surat pengunduran diri sebagai anggota DPRD Sleman untuk mengikuti pencalonan sebagai Wakil Bupati bersama Sri Purnomo. Meski belum mendapatkan keputusan resmi dari partai tempatnya bernaung terkait PAW, Sri Muslimatun sudah tidak berkantor di DPRD Sleman.

Dikatakan Danang  rekomendasi pemberhentian Sri Muslimatun sudah dilakukan beberapa bulan lalu. Namun lantaran situasi politik yang menegang, hal tersebut urung dilakukan.

“Agar tidak muncul kepentingan politik, klarifikasi  dilakukan setelah Pilkada selesai digelar. Rencananya dalam minggu ini akan kami panggil dan klarifikasi,” tutur Danang.




Posdaya Migunani Masuk 20 Besar Nasional

Sleman – Posdaya Migunani Plalangan Desa Pendowoharjo Kecamatan Sleman akhirnya masuk 20 besar tingkat nasional dalam evaluasi Posdaya, dan berhak mewakili DIY maju ke tingkat nasional.

Hal tersebut terungkap saat pengurus Posdaya Migunani beraudiensi dengan Penjabat Bupati Sleman Ir Gatot Saptadi, Selasa (12/1). Hadir dan mendampingi Gatot antara lain Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat Drs Hery Sutapa MM, Kepala Bagian Humas Dra Sri Winarti, Camat Sleman Iriansyah. Sedangkan pengurus Posdaya Migunani dipimpin Sardi ST MT didampingi Agus Setyanto , Wika Harisa Putri dan Kepala Desa Pendowoharjo Catur Sarjumiharta.

Saat audensi Sardi menyampaikan bahwa Posdaya masuk 20 besar nasional yang telah dievaluasi beberapa waktu lalu berkat kerjasama dan dukungan semua pihak. Untuk masuk lima besar Posdaya Migunani harus bersaing dengan 20 posdaya yang lain di Indonesia. Sedang untuk seleksi dan evaluasi masuk lima besar akan berlangsung di Semarang dengan paparan dan kreasi seni.

Disampaikan Sardi bahwa anggota dari Posdaya Migunani Plalangan Pendowoharjo Sleman sangat antusias dalam mengikuti kegiatan tingkat nasional ini karena bisa membawa nama Kabupaten Sleman ke tingkat nasional dan memohon doa restu agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dapat mendukung kegiatan ini sepenuhnya.

Kegiatan Posdaya sendiri diadakan oleh Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) yang menggandeng ratusan perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta untuk memberdayakan masyarakat miskin melalui program Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya).

Posdaya dibentuk oleh perguruan tinggi melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik yang berpegang kepada empat pilar, yakni pendidikan, kesehatan, kewirausahaan, dan lingkungan. Posdaya-posdaya ini nantinya akan dikompetisikan hingga tingkat nasional untuk memilih Posdaya terbaik.

Sementara Gatot menyampaikan bahwa untuk menghadapi evaluasi di Semarang nanti diharapkan pengurus mempersiapkan diri lebih baik agar dapat lolos dan masuk lima besar tingkat nasional. Tentu apa yang dipersiapkan sesuai dengan kenyataan di lapangan, artinya apa yang ada disampaikan apa adanya jangan mengada ada.

“Yang jelas sesuai apa yang disampaikan pengurus Posdaya Migunani, Pemkab sangat mendukung agar apa yang diraih Posdaya Migunani dapat dicontoh oleh posdaya yang lain,” tutur Gatot.***




Secara Formal Gafatar Di Sleman Sudah Tidak Ada

Sleman – Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi mengatakan secara formal organisasi Gafatar sudah tidak ada. Meski pada tahun 2010 hingga 2012 organisasi Gafatar pernah mendapatkan SKp.

“Antara tahun 2010 hingga 2012 organisasi tersebut memang pernah mendapatkan Skp dari Kesbanglinmas sebagai organisasi masyarakat tetapi sekarang sudah tidak diperpanjang lagi. Sehingga secara informal di Sleman sudah tidak ada lagi organisasi Gafatar,” kata Gatot di ruang kerjanya, Selasa (12/1) menanggapi perkembangan Gafatar yang pernah memiliki kantor di Kadisoko Desa Purwomartani Kalasan Sleman.

Dikatakan Gatot, setelah dilakukan penelusuran sejak sekitar dua tahun lalu organisasi ini tidak diperpanjang lagi oleh Kesbanglinmas dengan alasan pendekatan persyaratan ormas tersebut tidak bisa memenuhi, sehingga tidak diperpanjang lagi.

“Dulu kegiatan organisasi tersebut bidang pendidikan dan sosial,” kata Gatot.

Untuk mengantisipasi masyarakat agar tidak masuk dalam organisasi Gafatar tersebut dihimbau kepada masyarakat Sleman untuk meningkatkan kewaspadaan keluarga dan tetangga harus dibina lagi. Contohnya lanjut Gatot, sangat tidak logis to seorang dokter pergi tanpa pamit perlu dievaluasi dari keluarga. Anak-anak juga harus diperkuat lagi kewaspadaannya.

Dikatakan lagi, jika masyarakat mengetahui ada organisasi masyarakat yang berkembang di lingkungan tempat tinggal tapi ilegal atau mencurigakan kegiatannya perlu diwaspadai dan dilaporkan ke aparat yang berwenang untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

“Masyarakat harus selektif dalam memilih organisasi yang benar sehingga tidak terjerumus,” katanya.

Gatot juga menyatakan ketidaktahuannya apa yang menyebabkan seseorang tertarik untuk ikut dalam organisasi tersebut.

“Ini  perlu diwaspadai bersama karena kita belum tahu pendekatannya dengan cara apa dan sebab kita juga belum tahu apa motifasinya mereka masuk organisasi tersebut. Dan ini masih jadi bahan diskusi bersama. Menjadi tugas intelejen dan polisi untuk melakukan penelusuran ini,” jelas Gatot.

Kalau dipilih Sleman, yang menjadi  tempat organisasi ini dikatakan Gatot karena Sleman secara geografis sangat hiterogen, penduduknya dari berbagai daerah dan banyak pelajar juga.