Harga Daging Naik, Konsumen Beralih ke Ikan

Sleman – Kenaikan harga daging ayam dan sapi beberapa waktu terakhir ini, mendorong tingkat konsumsi ikan di wilayah Sleman naik. Dari data di tingkat kelompok pembudidaya ikan, omset penjualan mengalami kenaikan sejak Desember 2015.

“Memang ada peningkatan omset. Permintaan banyak datang dari pemilik rumah makan, dan konsumen rumah tangga,” kata bendahara kelompok budidaya ikan Mina Kepis Sleman, Suranto, Kamis (28/1).

Pada November 2015, penjualan di kelompoknya hanya sekitar Rp 170 juta dan bulan berikutnya meningkat jadi Rp 268 juta. Selama Januari 2016 ini hingga pertengahan, omset telah menembus Rp 114 juta. Dari berbagai jenis ikan konsumsi yang disediakan kelompoknya, penjualan paling banyak adalah ikan nila. Per bulan, permintaan bisa mencapai 8 ton.

Terpisah, Kabid Perdagangan Disperindagkop Sleman Slamet Riyadi mengatakan, konsumen sudah cerdas dalam memilih produk.

“Mereka cenderung memilih ke produk alternatif saat harga suatu komoditi melonjak tinggi,” kata Slamet.

Kendati ada kenaikan harga daging ayam dan sapi, sejauh ini Disperindagkop belum berencana mengadakan operasi pasar. Sebab harga pasaran saat ini dinilai masih dalam kisaran rata-rata, dan terjangkau oleh konsumen. Hasil pantauan yang dilakukan dinas di sejumlah pasar tradisional pada awal pekan ini mencatat harga daging sapi kelas I di kisaran Rp per kilogram. Sedangkan harga daging ayam potong berkisar Rp per kilogram.

Menurut Slamet, kenaikan harga disebabkan karena penambahan permintaan sementara jumlah stok masih tetap. Namun menurutnya, langkah untuk menambah stok bukan hal mudah karena banyak mekanisme pasar yang menentukan harga.




BPBD Sleman tambah tiga EWS di Prambanan‬

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, menambah tiga unit perangkat “Early Warning System” (EWS) di kawasan perbukitan Kecamatan Prambanan sebagai peringatan dini jika terjadi tanah longsor pada puncak musim hujan akhir Januari hingga Februari 2016 ini.

“Kami telah menambah lagi tiga unit EWS di kawasan perbukitan Prambanan yang selama ini sering terjadi tanah longsor jika terjadi hujan deras. Sebelumnya kami telah memasang 30 unit EWS di Prambanan,” kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Kabupaten Sleman,  Heru Saptono, Kamis (28/1).

‬Menurut Heru, tiga unit EWS baru tersebut sudah siap beroperasi, untuk memberikan informasi tentang curah hujan dan gerakan tanah. “EWS juga akan berbunyi jika ada potensi longsor di lokasi tersebut,” katanya.

Dikatakan Heru , pihaknya juga menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terjadinya tanah longsor khusunya di daerah perbukitan Prambanan.

“Tanah longsor rawan terjadi di perbukitan di wilayah Kecamatan Prambanan, khususnya di Desa Wukirharjo dan Bokoharjo,” tutur Heru.

Heru menambahkan, kemarau panjang tahun ini mengakibatkan tanah-tanah di kawasan perbukitan Prambanan menjadi kering dan merekah sehingga terjadi beberapa retakan tanah, kondisi ini dapat memicu terjadinya tanah longsor saat musim hujan.

“Jika turun hujan deras, retakan-retakan tanah tersebut kemudian terisi air dan mudah memicu terjadinya tanah longsor. Kami himbau masyarakat di daerah-daerah rawan untuk mulai meningkatkan kewaspadaan,” tambahnya.

Ia mengatakan pihaknya juga telah beberapa kali melakukan simulasi penanggulangan bencana tanah longsor di perbukitan Prambanan, sehingga diharapkan masyarakat lebih peka dan tanggap bencana saat hujan deras turun.

“Kami juga telah membentuk beberapa desa siaga bencana di Prambanan sehingga masyarakat diharapkan lebih siap saat hujan turun yang berpotensi terjadi tanah longsor. Saat ini untuk logistik kedaruratan bencana juga masih sangat mencukupi,” katanya.‬