20 Orang Relawan Tagana Siapkan Dapur Umum di Youth Center

Tagana DIYPersiapkan MakanSleman – Sebanyak 20 orang relawan dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) DIY sejak kedatangan eks anggota Gafatar di Youth Center Sleman telah siap di dapur umum guna menyediakan menu makanan untuk para pengungsi di Youth Center tersebut.

“Sudah beberapa hari kita siap di sini (Youth Center-red) untuk menyiapkan menu makanan bagi para pengungsi,” kata Apriatun, salah seorang anggota Tagana DIY yang ikut terlibat kerja di dapur umum.

Menurut Apriatun, dalam sehari anggota Tagana ini menyiapan menu makanan lebih dari 400 porsi.

“Setiap hari kita masak tiga macam menu termasuk sayuran dan lauknya untuk makan tiga kali pagi, siang dan sore,” kata Apriatun, Jumat (29/1).

Menu masakan selain berganti-ganti juga menyediakan masakan untuk anak-anak yang tidak makan pedas. Dalam memasak ditambahkan Apriatun, nilai gizi untuk pengungsi juga diperhatikan. Salah satunya selalu menjaga kesegaran sayuran.

“Setiap hari kita juga belanja sehingga bahan masakan selalu baru dan fres,” tutur Apriatun.

Ketika ditanya besaran anggaran belanja Apriatun mengatakan tidak tahu sebab anggaran untuk belanja dari Dinas Sosial DIY, sedang dari Tagana hanya menyediakan tenaganya. Tagana sendiri akan siap di dapur umum Youth Center sampai pengungsi dipulangkan ke daerahnya masing-masing.

Namun kalau kemudian setelah dipulangkan ada yang datang lagi, Tagana siap melanjutkan tugasnya di dapur umum.




236 Eks Anggota Gafatar DIY Mulai Ditampung di Youth Center Sleman

Sleman – Sebanyak 236 eks anggota Gafatar dari DIY tiba di Youth Center Sleman, Jumat (29/1) sore sekitar pukul WIB dengan pengawalan ketat petugas setelah dijemput di tempat penampungan Donohudan Boyolali. Rombongan eks Gafatar yang berasal dari 5 Kabupaten Kota dijemput dengan  menggunakan 5 bus. Sesampainya di Youth Center langsung menempati barak penampungan yang sudah dibagi masing-masing Kabupaten/Kota.

Dari pantauan Bernas, setelah turun bus masing-masing dikawal ketat petugas dan langsung masuk barak. Didalam barak para pengungsi eks Gafatar dipersilahkan istirahat setelah menata barang-barang bawaannya.

Kepala Dinas Sosial DIY, Drs Untung Sukaryadi MM menyampaikan, sebelum diantar ke Youth Center DIY mereka dikumpulkan terlebih dulu di Asrama Haji Donohudan, Surakarta. Di asrama haji mereka didata untuk menyingkronisasikan tempat kepulangan mereka. Untung juga menyampaikan, awalnya jumlah eks Gafatar yang diketahui warga DIY berjumlah 338 orang.

“Lalu, setelah validasi tadi pagi jumlahnya menjadi 257 orang. Namun setelah diidentifikasi lebih lanjut jumlahnya jadi semakin berkurang, yakni hanya 236 orang. Ya kan memang datanya berubah-ubah. Setelah kita identifikasi lagi ternyata ada yang asalnya dari Palembang, Semarang. Masa orang bukan dari Jogja mau kita bawa pulang ke Jogja,” kata Untung saat ditemui di komplek wisma Youth Center Sleman.

Adapun para eks Gafatar yang dipulangkan ke DIY terdiri dari orang dewasa, anak-anak usia sekolah, hingga balita. Sejauh ini mereka masih dalam kondisi sehat. Untung menjelaskan, setelah ditampung di Youth Centre mereka akan didata kembali dan diberi pembinaan deradikalisasi selama tiga hari. Bagi anak-anak akan digunakan pendekatan psikologis trauma healing.

Sementara orang dewasa akan diberi pembinaan sosial. Pembinaan sosial sendiri akan dilakukan dengan melibatkan berbagai lini. Termasuk Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan perguruan tinggi untuk tenaga psikolog.

“Kami libatkan berbagai pihak, karena ini merupakan bencana sosial,” ujar Untung.

Rencananya pada Selasa (2/2) eks Gafatar akan dipulangkan ke daerah asal masing-masing. Hal ini dilakukan untuk mewaspadai kedatangan eks Gafatar gelombang dua pada Selasa siang. Terkait dana pembinaan sendiri, Untung mengemukakan anggarannya berasal dari APBN dan APBD. Anggaran yang digunakan merupakan dana bencana tidak terduga. Adapun jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan.

Sebab menurut Untung, besaran dana menangani bencana sosial ini tidak dapat diprediksi.

“Kita tidak bisa memprediksi. Kan sudah dengar ya ada eks Gafatar baru yang sampai di Tanjung Emas. Siapa tahu ada warga DIY juga di sana,” katanya.

Selain itu, Untung mengemukakan, Pemprov DIY siap untuk menampung seluruh eks Gafatar. Termasuk jika ada penambahan jumlah eks Gafatar gelombang kedua. Namun penanganan para eks Gafatar ini akan dilakukan secara lintas sektor. Bukan hanya tanggungjawab Dinas Sosial saja.

Ditambahkan Untung, selama tinggal di Youth Center eks Gafatar dilakukan pengelompokan. Dan pengelompokan tersebut untuk mempermudah penanganan selama di penampungan sementara.‬

‪”Datang langsung di-reidentifikasi dan dikelompokan sesuai Kabupaten/Kota masing-masing. Barak yang digunakan juga dibedakan,” kata Untung.
Salah seorang eks Gafatar asal Turi Sleman, Misran (52) mengaku bingung pulang lagi ke Sleman karena rumahnya di Turi sudah dijual.***




2015, Di Sleman Ditemukan 520 Kasus DBD, 9 Orang Meninggal

KaderSleman – Sepanjang tahun 2015 di Kabupaten Sleman telah ditemukan  520 kasus  Demam Berdarah Dengue (DBD), dengan kasus  9 orang meninggal dunia. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kesehatan, dr Mafilindati Nuraini MKes di Sleman, Jumat (29/1).

“Sedangkan sampai tanggal 27 Januari  2016  ini di Kabupaten Sleman  sudah ditemukan 12 kasus DBD dengan catatan 1 orang meniggal dunia di Kecamatan Seyegan, Kecamatan Kalasan 5 kasus, Kecamatan Sleman 1 kasus, Kecamatan Godean 3 kasus,  Depok 2 kasus,” kata Linda panggilan Mafilindati.

Guna mengantisipasi berkembangnya kasus DBD ini dikatakan Linda, pada awal tahun 2016 dikatakan Linda,  Tim Kelompok Kerja Operasaional   DBD ( Pokjanal DBD ) mulai mengaktifkan  gerakan Jumat bersih  dan monitoring utamanya kegiatan pemberantasan Sarang Nyamiuk   (PSN)    untuk menanggulangi dan mengurangi kasus DBD di Kabupaten Sleman.

Dan pada hari Jumat (29/1) Tim Kelompok I dan II yang beranggotakan dari Dinas Kesehatan, TNI/POLRI, Dinas Pendidikan, Bapeda, Bagian Pemdes, Bag Kesra serta Camat, kades dibantu Kader ibu-ibu melaksanakan  pemantauan jentik  berkala. Untuk Kelompok  I  meninjau dan monitoring di  Padukuhan  Ngemplak Caban, Desa Tridadi  di Wilayah Puskesmas Sleman,

Pemantauan  dengan melihat langsung pekarangan/halaman  bak mandi, tempat penampungan air, disspenser dan sangkar 114  rumah / titik  menemukan 18 rumah/titik positif ada jentik sehingga ABJ baru mencapai 84 % masih dibawah  angka Bebas Jentik yaitu 95 %.

Selanjutnya untuk kelompok II melaksanakan monitoring dan pemantauan langsung di Kecamatan Kalasan Desa Purwomartani, Dusun Juwangan   oleh Tim, Camat, Kades, dibantu ibu-ibu kader Padukuhan melihat langsung bak mandi, penampungan air dan sangkar  burung  serta air minum / dispenser, kulkas, ban bekas  dari 196  rumah/titik menemukan 39  positif rumah warga /tempat yang positif ada jentik.

Dari hasil pemantuan langsung oleh tim bersama camat dan kader padukuhan menemukan tampungan air kulkas, dispenser dan Ban Bekas ada positif jentik sehingga wilayah tersebut masih sering  terjadi penderita DBD. Sesuai angka bebas jentik (ABJ ) yang yang baru mencapai rata rata  80,1 b% jauh di bawah standar yaitu 95 %.

Evaluasi  dari Tim Pokjanal DBD Kabupaten Sleman bersama Camat dan Aparat Desa Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) agar  masyarakat  dapat menjaga  lingkungan dengan gerakan 3 M. Setiap 5 hari sekali dapat masing-masing kader bisa melibatkan anak-anak usia  sekolah  untuk dapat  terlibat langsung dengan pendampingan  Kader, serta melestarikan gerakan kebersihan melalui gotong royong atas   kesadaran bersama demi kesehatan bersama.




Dana Desa Tahun 2016 Kecamatan Depok Naik

Sleman – Camat Depok, Drs Budiharjo mengatakan dana desa  tahun 2016 di Kecamatan Depok  mengalami kenaikan yang cukup banyak misalnya Desa Caturtunggal yang semula hanya  Rp 363,285 juta pada tahun 2016 naik menjadi Rp 922,975 juta, Desa Maguwoharjo yang semula Rp 330 juta  naik menjadi Rp 793,518 juta dan desa Condongcatur yang pada tahun lalu hanya Rp 339,422 juta pada tahun 2016 naik menjadi Rp 798,780 juta.

“Pengelolaan  bantuan desa di tiga desa Kecamatan Depok berjalan dengan baik dan sudah dilaporkan sesuai dengan ketentuan,” kata Budiharjo ketika menghadiri Musrenbang Kecamatan Depok di Gedung Sasana Anglocita Tama di komplek kantor kecamatan Depok, Jumat (29/1).

Menurut Budiharjo, musrenbang tahun 2016 tersebut bertemakan pemberdayan potensi ekonomi lokal menuju kemandirian masyarakat Sleman yang berbudaya.
Hal tersebut dimaksudkan agar kedepan potensi perekonomian yang ada di masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, tidak perlu mendatangkan produk dari luar.

“Tentu kalau potensi yang ada di masyarakat tersebut digali secara maksimal disatu sisi akan meningkatkan kehidupan masyarakat, disisi lain akan mengenalkan produknya keluar,” kata Budiharjo.

Disampaikan pula bahwa musrenbang dilakukan dalam rangka penyerapan aspirasi masyarakat terkait rencana pembangunan di Kecamatan Depok. Keterlibatan masyarakat dalam penyusunan rencana pembangunan adalah kontribusi yang sangat besar bagi pemerintah agar apa yang direncanakan tersebut sesuai dengan harapan masyarakat.

Dengan keterlibatan masyarakat dalam perencanaan pembangunan agar nantinya masyarakat ikut handarbeni dan ikut merawat hasil pembangunan tersebut.




Harga Daging Naik, Konsumen Beralih ke Ikan

Sleman – Kenaikan harga daging ayam dan sapi beberapa waktu terakhir ini, mendorong tingkat konsumsi ikan di wilayah Sleman naik. Dari data di tingkat kelompok pembudidaya ikan, omset penjualan mengalami kenaikan sejak Desember 2015.

“Memang ada peningkatan omset. Permintaan banyak datang dari pemilik rumah makan, dan konsumen rumah tangga,” kata bendahara kelompok budidaya ikan Mina Kepis Sleman, Suranto, Kamis (28/1).

Pada November 2015, penjualan di kelompoknya hanya sekitar Rp 170 juta dan bulan berikutnya meningkat jadi Rp 268 juta. Selama Januari 2016 ini hingga pertengahan, omset telah menembus Rp 114 juta. Dari berbagai jenis ikan konsumsi yang disediakan kelompoknya, penjualan paling banyak adalah ikan nila. Per bulan, permintaan bisa mencapai 8 ton.

Terpisah, Kabid Perdagangan Disperindagkop Sleman Slamet Riyadi mengatakan, konsumen sudah cerdas dalam memilih produk.

“Mereka cenderung memilih ke produk alternatif saat harga suatu komoditi melonjak tinggi,” kata Slamet.

Kendati ada kenaikan harga daging ayam dan sapi, sejauh ini Disperindagkop belum berencana mengadakan operasi pasar. Sebab harga pasaran saat ini dinilai masih dalam kisaran rata-rata, dan terjangkau oleh konsumen. Hasil pantauan yang dilakukan dinas di sejumlah pasar tradisional pada awal pekan ini mencatat harga daging sapi kelas I di kisaran Rp per kilogram. Sedangkan harga daging ayam potong berkisar Rp per kilogram.

Menurut Slamet, kenaikan harga disebabkan karena penambahan permintaan sementara jumlah stok masih tetap. Namun menurutnya, langkah untuk menambah stok bukan hal mudah karena banyak mekanisme pasar yang menentukan harga.