Potensi Angin Kencang di Sleman Meningkat

Sleman – Potensi bencana angin kencang di wilayah Kabupaten Sleman selama kurun waktu dua tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2014, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mencatat ada 22 peristiwa bencana angin kencang, dan tahun 2015 meningkat jadi 40 kejadian bencana angin kencang.

“Sepanjang bulan Januari 2016 ini juga sudah tercatat 8 kejadian angin kencang di beberapa wilayah seperti Sleman, Tempel, Turi, Ngaglik, Minggir, Seyegan, Prambanan, dan Pakem.

Ini kemungkinan dipengaruhi faktor cuaca ekstrem, dan El Nino yang terjadi beberapa bulan terakhir,” kata Kepala BPBD Sleman,  Julisetiono Dwi Wasito, Selasa (2/2).

Mencermati kejadian ini, Julisetiono menilai perlu adanya pemahaman dari masyarakat mengenai mitigasi bencana. Terlebih, bencana angin kencang tidak dapat diprediksi.

Disamping itu, perlu dilakukan pemangkasan pohon yang dirasa rawan tumbang. Jika merasa kesulitan dalam memangkas pohon, warga disarankan berkomunikasi dengan BPBD. Nantinya, BPBD akan terjun ke lokasi bersama relawan untuk membantu.

“Angin kencang beresiko terjadi di seluruh daerah. Banyak hal yang berpengaruh seperti kepadatan pemukiman, dan semakin berkurangnya lahan pertanian dan lainnya,” terang Juli.

Terkait penanganan pasca bencana, Pemkab telah mengalokasikan dana bantuan sosial yang tidak direncanakan. Tahun ini besarannya sekitar Rp 1 miliar. Jika dalam perkembangan ada kekurangan, alokasi itu dapat ditambah melalui pos Anggaran Belanja Tambahan (ABT).

Untuk ganti rugi, besarannya disesuaikan dengan tingkat kerusakan. Bangunan yang mengalami kerusakan berskala ringan diberi ganti rugi sebesar Rp 500 ribu, sedang Rp 1 juta, dan berat maksimal Rp 2 juta.

Saat ini, pihaknya masih melakukan kajian taksiran nilai kerugian bencana yang terjadi selama kurun Januari 2016. Sementara itu, Kepala Disnaketransos Sleman, Drs Untoro Budiharjo mengatakan, pihaknya siap mendukung bantuan logistik bagi korban bencana. Jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.




97 Pengungsi Eks Gafatar Tiba Di Balatrans Disambut Penjabat Bupati Sleman

Sleman – Sekitar 97 orang eks anggota Gafatar baik tua maupun muda yang didata ber KTP Sleman, Selasa (2/2) siang tiba di Balatrans Jogja. Mereka dijemput oleh tim Kabupaten Sleman dari lokasi penampungan Youth Center, Mlati menggunakan 12 kendaraan dan 3 truk.

Setibanya di Balatrans, petugas langsung menempatkan pengungsi di aula Srikandi yang menjadi tempat istirahat. Di aula ini, disediakan ruang khusus untuk laktasi bagi ibu-ibu menyusui. Mereka dipersilahkan beristirahat sebelum mereka dikembalikan ke rumah saudaranya melalui penjemputan oleh para Camat.

Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi bersama Pj Sekda Sleman Drs Iswoyo Hadiwarno terlihat hadir untuk menyambut kedatangan pengungsi eks Gafatar asal Sleman tersebut.

Pada kesempatan tersebut Gatot menyampaikan ucapan selamat datang dan Pemkab Sleman siap menerima kembali sampai bergabung dengan warga Sleman sesuai dengan KTP.

“Kami mencoba memfasilitasi seoptimal mungkin semoga saudara  tetap sehat bisa berbaur kembali  dengan masyarakat Kabupaten Sleman,” kata Gatot.

Selanjutnya menurut Gatot untuk bisa berbaur dengan masyarakat harus memahami kultur, karakter dan kondisi Sleman

“Ke depan saya berharap masa depan bisa lebih optimal menata kehidupan yang lebih baik,” tambah Gatot.

Menurut Gatot di Balatrans hanya sementara sebelum dijemput para Camat untuk kembali ke daerah asalnya masing-masing.
Sedang eks anggota Gafatar yang masih bermasalah dengan tempat tinggalnya masih akan ditampung di Balatrans sampai ada penyelesaian dari pemerintah.

Sementara menurut Kepada Dinas Tenaga Kerja dan Sosial, Drs Untoro Budiharjo setelah beristirahat sejenak di Balatrans selanjutnya eks anggota Gafatar yang berKTP Sleman dikembalikan ke masyarakat melalui Camat.

“Sebelumnya pembekalan sudah dilakukan baik di Donohudan Boyolali  dan di Youth Center  untuk itu kita langsung mengembalikan pada masyarakat,” kata Untoro.

Meski pemerintah tidak langsung melepas namun akan terus dilakukan pemantauan bagaimana sosialisasi dengan masyarakat sehingga benar-benar bisa kembali ke masyarakat.

“Pemda tentunya  akan mengundang mereka sewaktu-waktu untuk diadakan pembinaan,” tambah Untoro.

Dari 97 orang baik tua, muda maupun anak kecil yang langsung dikembalikan ke masyarakat sebanyak 95 orang karena mereka masih memiliki keluarga.

Sedang dua orang yaitu seorang ibu dan anak gadisnya bernama Ny Ekaningtyas (50) dan anaknya Nadia (17) warga Sekarsuli Sendangtirto Berbah untuk sementara masih tinggal di Balatrans karena sudah tidak memiliki aset dan keluarga di Berbah.

Sementara menurut Kabid Penertiban Satpol PP Sleman, Eko Jumlah eks anggota Gafatar Sleman awalnya tercatat 116 orang namun setelah dilakukan pendataan ulang ternyata hanya sebanyak 97 orang sedang sisanya bukan penduduk Sleman.

Dari jumlah tersebut terbanyak dari Depok 31 orang, Ngaglik 15 orang, Minggir 11 orang Gamping 11 orang dan sisanya dari kecamatan lainnya.