Selama 3 Hari Libur Imlek Sleman Dikunjungi 73.353 Wisatawan

Sleman – Selama 3 hari liburan Imlek tahun 2016, destinasi wisata Kabupaten Sleman dikunjungi setidaknya wisatawan yang terdiri atas wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan mancanegara (wisman). Angka tersebut tersebar dibeberapa destinasi, yaitu Kaliurang, museum, candi dan desa wisata. Demikian disampaikan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Dra Endah Sri Widiastuti MPA dikantornya, Selasa (9/2). 

Secara rinci distribusi wisatawan ke berbagai destinasi tersebut adalah Kaliurang yang dikunjungi oleh wisatawan, Museum Affandi 158 (143 wisnus, 15 wisman), Museum Gunungapi Merapi , Monjali , Museum Pendidikan Indonesia 62, Museum Ullen Sentalu ( wisnus, 85 wisman), Candi Prambanan ( wisnus, wisman), Candi Ratu Boko ( wisnus, 108 wisman), Desa Wisata Pentingsari 190, Desa Wisata Pulesari 585 dan Sindu Kusuma Edupark wisatawan.

Endah menambahkan bahwa angka kunjungan selama libur Imlek di destinasi Sleman tersebut sebenarnya jauh lebih tinggi apabila bisa diakumulasi semua destinasi. Hal tersebut dikarenakan tidak semua destinasi dapat dengan cepat memberikan data kunjungannya.

Sehubungan dengan hal tersebut, Endah mengharapkan kepada para pengelola destinasi wisata agar lebih mempersiapkan diri untuk memberikan pelayanan terbaiknya pada wisatawan. Mengingat pada tahun 2016 ini akan banyak terdapat libur nasional yang bersambungan dengan libur akhir pekan, sehingga menjadi momen yang efektif untuk berwisata.




DAK Pendidikan Sleman Dianggarkan Rp 1,57 Miliar

Sleman – Dana Alokasi Khusus Bidang Pendidikan Kabupaten Sleman tahun 2016 ini dianggarkan sebesar Rp 1,57 miliar. Sebagian anggaran itu akan digunakan untuk perbaikan infrastruktur sekolah, dan sisanya diperuntukan pengadaan alat peraga.

“Tahun ini kita masih menerima DAK dari pusat. Hanya saja juknisnya belum turun jadi belum tahu berapa pembagian alokasi untuk kegiatan fisik dan pengadaan alat peraga,” kata Kepala Bidang Sarana Prasana Pendidikan Disdikpora Sleman Adi Marsanto, Selasa (9/2).

Untuk persiapan, pihaknya telah mengundang sejumlah pimpinan SD dan SMP guna pendataan kerusakan gedung sekolah. Hasil sementara, 30-50 persen sekolah disebutkan mengalami kerusakan tingkat sedang.

Kegiatan rehabilitasi gedung nantinya tidak hanya menyasar SD dan SMP, melainkan seluruh jenjang mulai TK hingga SMA. Program ini merupakan yang terakhir untuk tingkat SMA karena mulai tahun depan kewenangannya diambil alih oleh provinsi.

Sementara Kepala Disdikpora Sleman, Arif Haryono SH menambahkan, Pemkab Sleman juga mengalokasikan anggaran untuk pembiayaan gedung sekolah, dan pengadaan sarana pendidikan.

Tahun 2016 ini dianggarkan kurang lebih Rp 12 miliar. Penggunaannya antara lain untuk rehab sekolah, pembangunan ruang kelas baru dan perpustakaan, serta pengadaan mebelair maupun alat peraga pendidikan.

“Dana itu tidak hanya untuk kegiatan rehab. Memang masih banyak sekolah yang perlu diperbaiki secara fisik, tapi kebutuhan lainnya seperti alat peraga juga penting,” tegasnya.

Berdasar data, di Sleman terdapat 503 SD, 110 SMP, 40 SMA, dan 57 SMK negeri maupun swasta. Beberapa diantaranya mengalami kerusakan gedung namun masih didata. Ditambahkan Arif, perbaikan gedung sekolah tidak dapat dilakukan serentak melainkan secara bertahap.

Mengingat keterbatasan anggaran, perbaikan menggunakan dana APBD dapat dilakukan minimal untuk kerusakan sedang atau 60 persen. Sedangkan kerusakan ringan diambilkan dari dana bantuan operasional sekolah.




‪Penjual Miras Oplosan Orang Lama

Sleman – Penjual dan peracik minuman keras (miras) oplosan maut yang mengakibatkan puluhan orang meninggal dunia dan dirawat dirumah sakit baik yang di Caturtunggal Depok Sleman dan di Margoluwih Seyegan Sleman ternyata orang lama dan sudah pernah terjaring operasi tipiring yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sleman tahun lalu.

“Kami tidak merasa kecolongan dalam kasus ini sebab beberapa bulan lalu Satpol PP Sleman telah melakukan razia kepada penjual miras tersebut. Namun yang bersangkutan hanya kena denda tipiring sehingga tidak memiliki efek jera karena bisa membayar denda sesuai keputusan Pengadilan dalam sidang tipiring,” kata Kepala Seksi Penegakan Perda Bidang Penegakan Peraturan Perundangan Satpol PP Kabupaten Sleman, Rusdi Rais ketika dihubungi Bernas, Selasa (9/2).

Menurut Rusdi, Satpol PP Sleman sebenarnya sudah menggencarkan operasi miras. Namun selama ini kepada pelaku hanya didenda dan kemudian dilakukan pembinaan sehingga tidak ada efek jera karena mereka mampu membayar denda. Rusdi berharap ke depan ada aturan, penjual apa lagi yang membuat tidak hanya didenda tapi harus dipenjara biar ada efek jera.

‪”Ini bisa membuat efek jera, karena sering yang terjaring razia merupakan orang yang sama, yang pernah dijerat dengan tipiring,” katanya.‬

Rusdi lanjutnya, juga merasa prihatin dengan kejadian ini karena puluhan orang meninggal sia-sia hanya karena menenggak minuman oplosan. Untuk selanjutnya Satpol PP Sleman akan terus menggencarkan operasi miras di wilayah Sleman.

‪Seperti diberitakan Satreskrim Polres Sleman telah menangkap Sasongko (45) warga Dusun Ambrukmo, Caturtunggal, Depok, Sleman dan istrinya Sori Badriyah (42) yang merupakan peracik atau peramu minuman keras oplosan, Jumat (5/2).‬

‪Selain itu Polsek Seyegan Sleman juga mengamankan pasangan suami istri Murtini (35) dan Priyanto (35) warga Margoluwih, Seyegan karena minuman keras yang dijual menewaskan Sarimin (35) dan Anang, (35). Selain menahan Sasongko, Polres Sleman juga menetapkan istrinya, Sori Badriyah sebagai tersangka yang kini ditahan di ruang tahanan wanita Polsek Sleman.‬

‪Badriyah berperan ikut meracik miras dan menjual minuman keras seperti Sasongko. Secara umum, kedua tersangka meracik minuman keras dengan bahan etanol, air mineral, sari gula dan perasa buah.