Dinilai Rawan Tumbang, Pohon-Pohon di Kawasan Denggung Perlu Dipangkas

Sleman – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Julisetiono Dwi Wasito mengatakan  pohon-pohon yang ada di kawasan Taman Denggung dinilai rawan tumbang. Sebab rata-rata pohon di area taman tersebut memiliki dahan yang lebat dan akar terlalu kuat.

“Melihat kondisi seperti ini memang cukup membahayakan saat intensitas hujan tinggi. Mengingat Taman Denggung menjadi salah satu tempat publik yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat,” kata Julisetiono, Jumat (19/2).

Menurutnya dahan yang terlalu lebat akan membuat pohon mudah roboh karena akar tidak kuat menahan kuatnya hempasan angin Terhadap kondisi ini, Julisetiono meminta Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman untuk melakukan pemangkasan terhadap pohon yang berpotensi ambruk.

Dikatakan Julisetiono, minimal mengurangi beban pohon, terutama pohon dengan umur yang tua. Jika membahayakan, semestinya ditebang untuk menghindari adanya korban.

Sementara kepada masyarakat terus dihimbau agar meningkatkan kewaspadaannya. Hal ini mengingat pada puncak musim penghujan diprediksi sampai akhir Februari ini sehingga sering terjadi cuaca ekstrim. Diantaranya angin kencang dan sambaran petir. Hal ini berdasarkan kajian dari BMKG Jogja yang disampaikan ke BPBD.

Menurut Julisetiono kedua potensi bencana ini sangat sulit diprediksi. Selain waktu, lokasi terjadinya bencanapun belum dapat diketahui. Karena kondisinya yang tidak pasti ini, maka masyarakat diminta untuk selalu waspada.***




Anggaran Menjadi Kendala Perbaikan Gedung Bidang Kesenian

Sleman – Perbaikan Gedung Bidang Kesenian milik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman terkendala anggaran. Pasalnya hingga saat ini anggaran untuk perbaikan gedung yang rusak akibat tertimpa beringin itu belum direncanakan. 

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP) Sleman, Nurbandi mengatakan, tindak lanjut untuk gedung tersebut masih harus didiskusikan bersama pimpinan daerah.

“Jika pemulihan digunakan memakai dana perbaikan atau perawatan yang ada tidak akan cukup. Kita juga belum menghitung (biaya yang dibutuhkan untuk membangun gedung),” kata Nurbandi, Jumat(19/2).

Adapun hal yang dilakukan saat ini adalah mengidentifikasi apakah gedung tersebut layak diperbaiki atau malah dibuatkan gedung baru untuk bagian kesenian. Jika ke depannya gedung tersebut harus dipindahkan, maka DPUP akan membangun gedung baru dan membongkar bangunan yang saat ini mengalami kerusakkan.

Di sisi lain, perbaikan bagi gedung milik Disbudpar dapat dibiayai melalui anggaran biaya tambahan (ABT). Namun begitu, hal tersebut tetap harus direncanakan dan dibahas lebih lanjut bersama Kepala Daerah yang baru.

“Sekarang kan Kepala Daerahnya baru sehingga sedang masa transisi, jadi mungkin menunggu sampai stabil dulu,” kata Nurbandi.

Adapun terkait rencana pembangunan area kebudayaan terpadu di kawasan Lapangan Denggung, Nurbandi menyampaikan, program tersebut terkendala pembebasan lahan. Menurutnya, pembangunan area kebudayaan terpadu merupakan program turunan untuk penggunaan dana istimewa.

“Itu masih masalah tanahnya. Jadi realisasinya ya menunggu penyelesaian tanahnya,” kata Nurbandi. Sehingga proses pembangunan area tersebut diperkirakan masih akan memakan waktu panjang.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Sleman, Ir AA Ayu Laksmi Dewi TP MM  berharap pimpinan Pemkab Sleman segera mengambil kebijakan untuk memperbaiki atau merelokasi gedung bagian kesenian. Pasalnya pelayanan terhadap masyarakat masih harus terus berjalan.

“Kalau menurut saya gedungnya sih memang harus dipindahkan. Karena di lokasi yang sekarang memang kurang pas. Itu kan nantinya mau dibuat area budaya terpadu,” kata Ayu.

Namun begitu Ayu menyerahkan sepenuhnya kebijakan perbaikan gedung kesenian pada pimpinan Pemkab Sleman. Seperti diketahui, dua pohon berdiameter lebih dari dua meter di sebelah barat daya Lapangan Denggung, Sleman ambruk ketika hujan deras disertai angin kencang, Senin (15/2) lalu. Salah satunya menimpa Kantor Bidang Kesenian Disbudpar Sleman. Akibatnya tiga orang luka-luka langsung dibawa ke Rumah Sakit Akademik UGM.

Adapun korban luka-luka yang dilarikan ke rumah sakit, yaitu staf seksi pengembangan budaya Heri Nursusanto (32), serta ahli pranatadana istimewa  Tzalis (25) dan Widia Hapsari (27) yang sedang hamil empat bulan. Pada musim hujan, pohon-pohon di Lapangan Denggung memang sering tumbang karena angin kencang.