BLH Mulai Memangkasi Pohon Beringin di Denggung
Sleman – Pasca kejadian pohon beringin tumbang yang menimpa Gedung Kesenian milik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di sekitar area publik Taman Denggung Tridadi Sleman beberapa hari lalu, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman bergerak mulai melakukan upaya pemangkasan sejak Senin (22/2).
Sesuai rekomendasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, setidaknya ada 15 pohon di kawasan taman Denggung yang perlu mendapat perhatian khusus.
“Tidak kami tebang, tetapi hanya dipangkas mahkota pohonnya untuk mengurangi beban,” kata Kabid Kebersihan dan Pertamanan BLH Sleman, Indra Darmawan ketika dihubungi dikantornya, Selasa (23/2).
Menurut Indra, program pemangkasan pohon tidak hanya menjadi wewenang BLH. Sebelumnya perlu ada rekomendasi dari BPBD sebab instansi itu yang memiliki kewenangan soal mitigasi bencana.
Jika ada pohon yang dinilai rawan tumbang, BPBD dapat menyampaikan ke BLH untuk ditindaklanjuti secara bersama. Biasanya dalam kegiatan pemangkasan pohon, BLH bekerjasama dengan tim relawan mitigasi kebencanaan.
“Pemangkasan sudah kami lakukan sejak beberapa bulan lalu menjelang musim hujan. Tapi memang pohon yang perlu ditangani jumlahnya banyak, sementara peralatan kami hanya terbatas,” kata Indra.
Sejak Oktober 2015 lalu hingga kini, timnya telah memangkas sekitar 500 pohon. Sedangkan yang ditebang ada 80-an pohon karena kondisinya sudah rapuh dan berlubang.
Pepohonan yang dipangkasi itu termasuk permintaan dari masyarakat, khususnya jenis perindang.
Ditambahkan Indra, per hari rata-rata 10 pohon yang dapat ditangani oleh tim. Jumlah itu diakui tidak banyak karena sarana yang dimiliki memang terbatas, yakni hanya dua unit dump truk dan satu aerial platform.
Terpisah, Kepala BPBD Sleman Julisetiono Dwi Wasito mengatakan, pepohonan yang ada di kawasan Taman Denggung rata-rata rawan tumbang. Sebab kebanyakan memiliki dahan lebat, namun akarnya tidak terlalu kuat. Kondisi seperti itu cukup membahayakan terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang.
“Kami juga menghimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap bahaya angin kencang. Apalagi bencana ini sulit diprediksi lokasi maupun waktunya,” kata Julisetiono.
