Bupati Tutup Pospenda

Bupati Serahkan Piala Juara PospedaSleman – Pekan Olah Raga dan Seni Pondok Pesantren (Pospeda) tingkat Daerah Tahun 2016 ditutup Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI di Rumah Dinas Bupati, Kamis (3/3).

Penutupan Pospeda diawali dengan penampilan juara I Senam Santri Putri dari Ponpes Ibnul Qoyyim Putri yang mendapatkan aplaus dari para tamu undangan, Dalam laporan penyelenggaraan Hery Sutopo, Kepala Bagian Kesra mengatakan kegiatan ini diikuti oleh 27 Ponpes. Pospeda tahun ini sebagai ajang seleksi untuk maju pospeda tingkat DIY yang akan dilaksanakan pada bulan Mei 2016.

Untuk Jumlah peserta tahun ini meningkat dari 27 ponpes  menjadi 33 ponpes, namun ada 6 ponpes yang mendaftar ke panitia Pospeda terlambat dari ketentuan jadwal panitia, sehingga tidak diikutsertakan. Untuk para santriwan dan santriwati pada tahun ini sudah sangat merata yang mendapatkan prestasi/juara, tetapi untuk ponpes pandanaran masih mendominasi perolehan tropi.

Sri Purnomo mengatakan Pospeda mengapresiasi kepada semua santriwan dan santriwati karena telah mengikuti kegiatan ini dari awal sampai selesai.

“Menang kalah hanya bagian dari kompetisi karenanya jangan berkecil hati akan kekalahan serta jangan terlalu berbangga diri dengan kemenangan, namun jadikan kegiatan ini sebagai ajang evaluasi dan pembelajaran bagi optimalisasi diri kedepan,” kata Sri Purnomo.

Evaluasi menjadi hal yang tak terpisahkan dalam upaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan kegiatan, sejalan dengan itu dalam pelaksanaan Pospeda ini.

“Marilah pengalaman dan kekurangan kegiatan ini dapat dijadikan pembelajaran agar kualitas Pospeda kedepan dapat ditingkatkan,” kata Sri Purnomo.

Keberadaan Pondok Pesantren sebagai pilar penting bangunan pendidikan tertua di Indonesia sejatinya sarat dengan potensi yang mendidik anak bangsa di tanah air. Diantaranya bidang seni dan olah raga yang juga turut mewarnai dunia pesantren.

“Kepada mereka yang berhasil meraih juara, saya berharap agar jangan sampai terlena dengan kerberhasilan saat ini, tetap terus berlatih dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk ajang lainnya,” katanya.

Kepada para peserta yang belum berhasil meraih juara, Sri Purnomo meminta tetap semangat dan jadikanlah ajang Pospeda ini sebagai pengalaman dan motivasi untuk meningkatkan kualitas diri agar lebih baik lagi.

Penyerahan tropi kepada para juara oleh Bupati kepada sebanyak 62 orang santriwan santriwati yang berprestasi.




‪Operator Wisata Johor Baru Tertarik Destinasi Sleman‬

Sleman – Sebanyak 16 operator wisata asal Johor Bahru, Malaysia, tertarik dengan sejumlah destinasi wisata di Kabupaten Sleman setelah Sabtu (27/32) lalu mengeksplorasi objek-objek unggulan.‬

‪”Mereka begitu antusias mengikuti program “familiarization trip” yang diselenggarakan KJRI Johor Bahru Malaysia bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi di Sleman, Kamis (3/3).‬

‪Menurut dia, 16 operator wisata Johor Bahru Malaysia tersebut didampingi Konsul Bidang Ekonomi KJRI Johor Bahru Iwa Mulyana dan seorang stafnya Dolly Prima.‬

‪”Program famtrip tersebut efektif untuk memperkenalkan destinasi wisata secara detail dan mendalam kepada para peserta. Dalam hal ini peserta dapat melihat, mengalami dan melakukan paket yang ditawarkan,” katanya.‬

‪Ia mengatakan seperti saat di Desa Wisata Pentingsari selain mengeksplorasi potensi yang ada para peserta juga sempat belajar membuat anyaman wayang suket dan anyaman janur, dan saat berkunjung ke Merapi Farma Herbal para peserta dapat membuat sendiri jamu instan dan hasilnya dibawa pulang sebagai oleh-oleh yang dibuatnya sendiri.‬

‪”Pengalaman seperti ini yang menjadikan wisatawan berkesan,” kata Ayu.‬

‪Ayu mengatakan, di sisi lain program famtrip yang dikemas secara sinergis dari beberapa instansi terkait di Kabupaten Sleman sepertinya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu, Dinas Perindagkop dan Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan dan “stakeholder” pariwisata di Sleman tersebut dapat menampilkan potensi Sleman yang beragam.‬

‪”Tidak hanya sebatas pada potensi pariwisata tetapi juga potensi UMKM dan pertanian,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, melalui famtrip yang melibatkan operator wisata Johor Bahru tersebut diharapkan ke depan mereka akan dapat menjual destinasi wisata Sleman kepada masyarakat Malaysia.‬

‪”Selain itu diharapkan pula ada keberlanjutan program kerjasama antara KJRI Johor Bahru Malaysia dengan Pemkab Sleman maupun antara operator wisata Johor Bahru dengan operator wisata di Sleman,” katanya.‬

‪Ia menyebutkan, salah satu peserta Kenny Ngi mengungkapkan ketertarikannyaa terhadap destinasi wisata Sleman yang menurutnya potensial untuk dijual kepada wisatawan asal Malaysia. Bahkan ia mengatakan paket wisata dua hari tiga malam dinilai masih terlalu pendek untuk pangsa wisatawan Malaysia.‬

‪”Kenny mengusulkan pelaku wisata di Sleman menjual paket wisata paling tidak selama lima hari empat malam dengan sekaligus mengakomodasi destinasi yang berada di kabupaten/kota di sekitar Sleman.‬

‪Selain destinasi wisata alam sepertinya kawasan lereng Merapi, destinasi wisata religius dan wisata pendidikaan sangat diminati wisatawan Malaysia,” katanya.




2 Orang Mengalami Luka Akibat Tanah Longsor

Sleman – Sebanyak 2 orang bmengalami luka parah, dua rumah tertimbun tanah dan belasan orang mengalami luka ringan akibat tanah longsor yang terjadi di Sambirejo Prambanan, Kamis (3/3).

Dua orang yang mengalami luka parah akibat tertimbun bebatuan dan tanah longsor tersebut berhasil dievakuasi warga meskipun memakan waktu cukup lama. Dua korban yang tertimbun tanah dan bebatuan tersebut mengalami luka yang cukup parah, karena tertimbun tanah dan batu yang cukup besar. Luka yang dialami dua korban tersebut patah kaki dan tangan lamanya evakuasi membuat keduanya hampir tidak saadarkan diri, lamanya evakuasi karena hanya menggunakan alat manual.

Bencana tanah longsor tersebut diakibatkan hujan lebat yang terus menerus selama tiga jam yang terjadi di sekitar wilayah Sambirejo Prambanan Sleman. Disamping menimbulkan korban luka berat dan ringan, juga beberapa pohon tumbang yang menimpa beberapa rumah , beberapa ruas jalan tertutup karena longsor.

Namun berkat kesigapan relawan Desa Sambirejo Prambanan para korban yang luka berat maupun ringan bisa dievakuasi ke rumah sakit, dan sebagian yang luka ringan bisa diperbolehkan pulang.

Di tengahtengah kepanikan warga saat bencana tersebut masih ada yang memanfaatkan kesempatan dengan mencuri, namun berkat kesigapan relawan pencuri tersebut berhasil ditangkap dan diserahkan ke aparat kepolisian, meskipun sempat dihakimi massa namun tidak mengalami luka yang parah. Kejadian tersebut digambarkan dalam  simulasi penanggulangan bencana tanah longsor di Sambirejo Prambanan, tepatnya di Breksi Sambirejo Prambanan, Kamis (3/3).

Hadir dan menyaksikan gladi lapang tersebut antara lain Kepala Bidang Pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD DIY Heri Siswanto, Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan Drs Kunto Riyadi MPPM, Kepala BPBD Kabupaten Sleman Drs Julisetiono Dwiwasito, MM, Caamat Prambanan Drs Abu Bakar.

Usai gladi lapang pada kesempatan juga dilakukan pengukuhan pengukuhan pengurus  Desa tangguh bencana Desa Sambirejo oleh Kunto Riyadi. Disamping itu juga dilakukan pengukuhan  Unit pelayanan penaggulangan bencanaa Desa Sambirejo dan penyerahan SK oleh Kepala BPBD Kabupaten Sleman.

Sedangkan Kepala Pelaksana  BPBD DIY dalam sambutan tertulis yang dibacakan Heri Siswanto  menyampaikan bahwa berdasarkan pemetaan yang telah dilaakukan pada tahun 2012 DIY terdaapat 12 potensi ancaman bencana, dari 438 desa yang ada di DIY 301 desa merupakan desa rawan bencana, diantaranya terdapat  di Kabupaten Sleman.

Sementara  Kunto Riyadi  menyampaikan bahwa dalam setiap mitigasi bencana, Pemerintah tidak dapat sukses mewujudkan upaya tersebut jika tidak didukung oleh masyarakat dan tim relawan. Pelaksanaan gladi lapang tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempersiap­kan kesiapsiagaan dan keterampilan warga masyarakat dalam meng­hadapi bencana longsor, khususnya di Desa Sambirejo Prambanan.

Diharapkan dengan adanya gladi lapang ini, jatuhnya korban jiwa akibat longsor dapat diantisipasi, ka­re­na masyarakat telah mengetahui tindakan apa yang harus dila­kukan pada saat kondisi darurat. Lebih lanjut disampaikan bahwa ketepatan bertindak tentunya harus didukung oleh pengetahuan dan ketrampilan dalam menghadapi situasi darurat terkait bencana.

Gladi lapang ini menjadi sarana yang efektif untuk membekali masyarakat dengan penge­tahuan dan keterampilan dalam mensikapi kondisi darurat. Dengan bekal tersebut, diharapkan seluruh warga masyarakat tidak akan panik bila terjadi bencana. Mengingat strategisnya kegiatan ini, diharapkan kepada seluruh peserta Gladi Lapang  agar melaksanakan gladi dengan sungguh-sungguh demi kepentingan bersama.

Dalam upaya mitigasi bencana di Kecamatan Prambanan, selain melalui penyelenggaraan gladi lapang desa tangguh bencana, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah  Sleman juga telah melakukan penambahan Early Warning Sistem (EWS) sebanyak 3 buah.

“Diharapkan melalui upaya ini, potensi longsor dapat terdeteksi lebih dini sehingga resiko bencana dapat diminimalisir,” kata Kunto Riyadi.