Tiga Desa di Prambanan Rawan Longsor

Sleman – Tiga desa di Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman, yang memiliki kondisi geografis berbukit-bukit cukup rawan akan longsor pada saat turun hujan deras.‬

‪”Tercatat ada tiga desa di Prambanan yang berpotensi longsor meliputi Desa Sambirejo, Wukirharjo, dan Gayamharjo,” kata Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Prambanan Bandung Bondowoso, Prawoto, Jumat (4/3).

‪Menurut Prawoto, ketiga desa tersebut hampir seluruh wilayah memiliki potensi longsor. Dengan curah hujan tinggi yang terjadi saat ini, potensi terjadinya tanah longsor semakin meningkat.‬

‪”Bukit-bukit di tiga desa tersebut banyak terjadi rekahan sehingga rawan menimbulkan longsor saat turun hujan deras,” katanya.‬

‪Prawoto menambahkan, untuk mengantisipasi jatuhnya korban, sudah terdapat tiga Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini yang disiagakan di wilayah perbukitan di ketiga desa tersebut.‬

‪”EWS yang dipasang di wilayah ini merupakan alat pengukur curah hujan. Ini karena hujan dinilai sebagai salah satu pemicu tanah longsor. Jika ada potensi, maka prioritas utamanya adalah menjauhkan masyarakat dari bencana,” katanya.‬

‪Prawoto mengatakan, selama musim hujan, pihaknya memperkuat mitigasi bencana bersama masyarakat setiap pekan. Mitigasi dilakukan dengan pengecekan rutin pada bukit maupun tebing yang memiliki potensi longsor.‬

‪”Cara ini juga sebagai pemetaan wilayah agar ketika terdapat potensi longsor segera dapat dilakukan penanganan. Yang terdapat rekahan, akan kami petakan agar dapat mengetahui titik wilayah yang berpotensi longsor,” tambahnya.‬

‪Sementara agar masyarakat Prambanan lebih siap menghadapi bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menggelar simulasi penanganan bencana tanah longsor di Taman Tebing Breksi, Sambirejo. Kegiatan tersebut melibatkan seluruh elemen masyarakat termasuk para aparat desa.‬

‪Kepala BPBD Sleman, Julisetiono Dwi Wasito mengatakan kegiatan ini bertujuan memberikan gambaran masyarakat tentang penanganan bencana tanah longsor. Diharapkan melalui kegiatan ini masyarakat semakin siap menghadapi bencana.‬

‪”Jangan sampai saat benar-benar terjadi bencana, masyarakat tidak siap,” katanya.‬

‪Menurut Julisetiono, kegiatan ini juga dijadikan sebagai latihan masyarakat tentang segala sesuatu yang harus dilakukan saat terjadi bencana tanah longsor.‬

‪”Dengan demikian diharapkan dapat menghindari korban jiwa saat terjadi bencana,” katanya.




Tiga Desa di Prambanan Rawan Longsor‬

Sleman – Tiga desa di Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman, yang memiliki kondisi geografis berbukit-bukit cukup rawan akan longsor pada saat turun hujan deras.‬

‪”Tercatat ada tiga desa di Prambanan yang berpotensi longsor meliputi Desa Sambirejo, Wukirharjo, dan Gayamharjo,” kata Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Prambanan Bandung Bondowoso, Prawoto, jumat (4/3)4.

‪Menurut Prawoto, ketiga desa tersebut hampir seluruh wilayah memiliki potensi longsor. Dengan curah hujan tinggi yang terjadi saat ini, potensi terjadinya tanah longsor semakin meningkat.‬

‪”Bukit-bukit di tiga desa tersebut banyak terjadi rekahan sehingga rawan menimbulkan longsor saat turun hujan deras,” katanya.‬

‪Prawoto menambahkan, untuk mengantisipasi jatuhnya korban, sudah terdapat tiga Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini yang disiagakan di wilayah perbukitan di ketiga desa tersebut.‬

‪”EWS yang dipasang di wilayah ini merupakan alat pengukur curah hujan. Ini karena hujan dinilai sebagai salah satu pemicu tanah longsor. Jika ada potensi, maka prioritas utamanya adalah menjauhkan masyarakat dari bencana,” katanya.‬

‪Prawoto mengatakan, selama musim hujan, pihaknya memperkuat mitigasi bencana bersama masyarakat setiap pekan. Mitigasi dilakukan dengan pengecekan rutin pada bukit maupun tebing yang memiliki potensi longsor.‬

‪”Cara ini juga sebagai pemetaan wilayah agar ketika terdapat potensi longsor segera dapat dilakukan penanganan. Yang terdapat rekahan, akan kami petakan agar dapat mengetahui titik wilayah yang berpotensi longsor,” tambahnya.‬

‪Sementara agar masyarakat Prambanan lebih siap menghadapi bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menggelar simulasi penanganan bencana tanah longsor di Taman Tebing Breksi, Sambirejo. Kegiatan tersebut melibatkan seluruh elemen masyarakat termasuk para aparat desa.‬

‪Kepala BPBD Sleman, Julisetiono Dwi Wasito mengatakan kegiatan ini bertujuan memberikan gambaran masyarakat tentang penanganan bencana tanah longsor. Diharapkan melalui kegiatan ini masyarakat semakin siap menghadapi bencana.‬

‪”Jangan sampai saat benar-benar terjadi bencana, masyarakat tidak siap,” katanya.‬

‪Menurut Julisetiono, kegiatan ini juga dijadikan sebagai latihan masyarakat tentang segala sesuatu yang harus dilakukan saat terjadi bencana tanah longsor.‬

‪”Dengan demikian diharapkan dapat menghindari korban jiwa saat terjadi bencana,” katanya.




6 Orang Pembuang Sampah Liar di Sidang Tipiring

Sidang TipiringSleman – Pengadilan Negeri Sleman, Jumat (4/3) menyidangkan 6 pelaku dari total 9 pelaku pembuang sampah sembarangan yang tertangkap tangan di lokasi berbeda. Surono selaku anggota Satpol PP Staf Ops Trantib yang sekaligus menjadi saksi dalam persidangan tersebut  menjelaskan, 9 orang pelaku pembuang sampah sembarangan itu ditangkap di tempat yang berbeda.

Mereka membuang sampah tidak di lokasi pembuangan sampah yang telah disediakan. Pelaku pembuang sampah antara lain ditangkap di Pogung, Seturan, Nologaten.

“Mayoritas dari para pelaku kami tangkap tangan kurun waktu antara pukul WIB hingga pukul WIB, mereka membuang sampah rumah tangga yang dibungkus kantong plastik kresek besar ke tempat pembuangan sampah yang tidak diperuntukkan untuk umum dan ditaruh dipinggir trotoar jalan,” ungkap Surono.

Sementara Rusdi Rais SH, selaku penyidik yang menjabat Kasi Penegakan Perda Bidang Penengakan Peraturan Perundangan Satpol PP Kabupaten Sleman membenarkan bahwa penangkapan 9 orang pelaku tersebut dilokasi dan hari yang berbeda.

“Ke enam orang pelaku kami tangkap pada tanggal 26 Februari dan 1 Maret 2016, sedangkan tiga pelaku lainnya ditangkap Kamis (3/3) malam,” kata Rusdi.

Para pelaku berinisial S dan YN warga Mlati, RE dan W warga Gamping, D dan IW warga Sleman serta Ak warga Depok dijerat dengan Perda Sleman tentang pengelolaan sampah dengan ancaman denda maksimal Rp 5 juta. Dalam persidangan yang dipimpin oleh Hakim Lingga Setiawan SH MH tersebut para pelaku dinyatakan bersalah karena membuang sampah sembarangan dan  dijatuhi denda sebesar Rp ,- .

Bila tidak membayar dijatuhi hukumaan kurungan selama 7 hari. Rusdi menambahkan bahwa meskipun sudah melakukan pemantauan dari malam hingga pagi, seringkali pihaknya kecolongan karena para pelaku banyak yang membuang sampah setelah jam pemantauan.

“Kadang mereka membuang sampah sebelum kami datang atau setelah kami pergi, begitu kita datang atau pergi sampahnya sudah banyak,” tambah Rusdi.

Rusdi juga memastikan pihak Satpol PP akan terus melakukan operasi dengan melakukan pemantauan dan tangkap tangan agar menimbulkan efek jera bagi pelaku pembuang sampah sembarangan.

“Penangkapan ini juga bukan yang pertama kali, 2015 lalu kami juga melakukan penangkapan dan akan terus kami lakukan agar masyarakat sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan,” ungkap Rusdi.

Pemkab Sleman telah menyediakan 13 lokasi transfer depo yang beroperasi mulai pukul WIB hingga  WIB untuk menampung sampah rumah tangga. Depo tersebut berlokasi di Tridadi, Pogung, Congcatur, Klebengan, Nogotirto, Nologaten, Kragilan, Purwomartani, Ndayu, Sariharjo, Minomartani, Gamping dan Tambakboyo.




Cangkringan Miliki Bombastik

Sleman – Bocah Merapi Pembasmi Jentik (Bombastik) Kecamatan Cangkringan secara resmi telah dilaunching oleh Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Novita Krisnaeni MPHdi Balaidesa Wukirsari Cangkringan Sleman, Jumat (4/3). Launching ditandai dengan penyematan tanda Pokjanal dan penyerahan KIT Pokjanal serta penandatanganan prasasti.

Bombastik itu sendiri beranggotakan siswa SD se Kecamatan Cangkringan, 20 Sekolah Dasar yang ada di Kecamatan Cangkringan tersebut, satu sekolah mempunyai satu dusun binaan, dengan kegiatan melakukan monitoring jentik pada dusun binaan.

Kedepan direncanakan semua dusun yang ada di kecamatan akan dirambah dengan melibatkan Bombastik tersebut. Usai launching Bombastik melakukan monitoring jentik di Dusun Dawung Wukirsari Cangkringan yang dipimpin dr Novita, Camat Cangkringan dan Kepala Puskesmas Cangkringan.

Sedangkan Camat Cangkringan, Edi Harmana SH MHum menyampaikan bahwa launching Bombastik tersebut sebagai upaya menekan kasus Deman Berdarah di Kabupaten Sleman, khususnya di Cangkringan. Bombastik itu sendiri bekerjasama antara Kecamatan Cangkringan, Puskesmas Cangkringan dan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman, dengan melibatkan para guru dan siswa.

Lebih lanjut disampaikan bahwa  gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilakukan para siswa SD tersebut juga sebagai sarana pembelajaran bagi anak-anak untuk mengenalkan kehidupan nyamuk dari telur sampai dewasa, dan bahayanya nyamuk deman berdarah.

Disampaikan pula bahwa kasus deman berdarah di Kecamatan Cangkringan pada tahun  2011 ada 6 penderita, tahun 2012  ada 14 penderita, tahun 2013 ada  16 penderita, tahun 2014 ada 10 penderita dan pada tahun 2015 nol penderita, dan diharapkan pada tahun 2016 kondisinya sama.

Sementara  dr Novita disela sela memimpin monitoring Jentik menyampaikan bahwa di Kabupaten Sleman pengendalian penyakit DBD maasih menjadi skala  prioritas penanganan, karena sudah menyebar di 17 Kecamatan.

Karena pada tahun 2014 terjadi 538 kasus dengan kematian 4 orang.  Tahun 2015 terjadi kasus DBD 520 kasus dengan kematian 9 orang, dan pada tahun 2016 sampai tanggal 29 Februari telah terjadi 156 kasus dengan kematian 3 orang, sebagian besar kematian akibat DBD tersebut karena keterlambatan membawa paasien ke fasilitas pelayanan kesehatan yang merupakan rumah sakit rujukan.

Disampaikan juga oleh dr Novita bahwa naiknya kasus DBD tersebut dipengaruhi banyak faktor antara lain pengaruh iklim (musim penghujan) sehingga banyak genangan air hujan yang potensial menjadi tempat perindukan nyamuk aedes aegypty, juga kelembapan udara ditambah lagi dengan perilaku masyarakat yang kurang peduli dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

Untuk menekan angka kasus DBD maka Dinkes Sleman melakukan berbagai upaya antara lain penyebaran leaflet DBD ke masyarakat, meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan memperluas pembentukan kader jumantik di beberapa Puskesmas, termasuk pembentukan jumantik cilik. Sementara jumlah kelompok jumantik cilik di Kabupaten Sleman ada 45 kelompok dengan jumlah kader kader dan kader jumantik dewasa sebanyak kader.

Ditambahkan dr Novi bahwa di Kabupaten Sleman sampai saat ini terdapat 8 wilayah kecamatan endemis tinggi DBD yaitu  Kecamatan Depok, Kaalasan, Gamping, Berbah, Ngaglik, Mlati, Berbah dan Sleman.