129 Rumah Tidak Layak Huni Selesai Dibangun

IMG_4656 (1024 x 683)Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menghadiri acara sosialisasi dan syukuran Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Dusun Sawahan Desa Margomulyo Kecamatan Seyegan Sleman, Selasa (8/3). Pada kesempatan tersebut juga tampak Camat Seyegan Drs Budi Sutamba, Ketua DPRD Kabupaten Sleman Haris Sugiharta, serta Dinas PU dan Perumahan yang diwakili oleh Kepala Bidang Perumahan, Ir Setyantono MSc.

Secara simbolis dilakukan pemotongan tumpeng oleh Bupati Sleman sebagai wujud syukur telah dilaksanakannya program pembangunan RTLH sebanyak 129 rumah di dusun Sawahan. Tahun Anggaran 2015 dilanjutkan dengan peninjauan beberapa rumah warga yang menerima program bantuan.

Setyantono mewakili Kepala Dinas PU dan Perumahan mengungkapkan bahwa Dusun Sawahan sebagai penerima program stimulan RTLH terbanyak, yaitu 129 unit dari total 358 unit program bantuan yang disalurkan se Kabupaten Sleman.

Kegiatan bantuan sosial stimulan RTLH 2015 terdiri dari 358 unit rumah dengan anggaran RP 3,909 miliar  untuk 13 kecamatan se Sleman serta 231 unit jamban dengan anggaran Rp 721,875 juta untuk dua kecamatan di Sleman. Sedangkan untuk program bantuan RTLH tahun anggaran  2016 ini akan disalurkan bantuan ke 86 desa di 17 kecamatan dengan jumlah penerima sebanyak 419 unit.

Alokasi dana sebesar Rp 6,285 miliar dan masing-masing penerima bantuan mendapatkan Rp 15 juta dengan rincian untuk rumah Rp 11,5 juta dan untuk jamban Rp 3,5 juta. Budi sutamba juga berharap kedepan program ini dapat ditingkatkan karena diterima langsung oleh penerima manfaat serta dapat membantu program pengentasan kemiskinan karena menurutnya masih ada kurang lebih 7000 warga Sleman yang perlu diperhatikan.

Sementara Sri Purnomo menghimbau warga Sawahan yang hadir pada acara itu agar mensukseskan program Stop BABS (Buang Air Besar Sembarangan) untuk mengantisipasi menularnya berbagai penyakit. Stop BABS merupakan sebuah program untuk membebaskan diri dari kebiasaan buang air besar yang awal mulanya disosialisasikan oleh petugas kesehatan dari Puskesmas dan Dinas Kesehatan.

Sri Purnomo juga mengingatkan agar membersihkan sampah disekitar lingkungan agar jangan sampai menimbulkan genangan air untuk mengantisipasi berkembang biaknya jentik-jentik nyamuk yang dapat mengakibatkan penyakit demam berdarah.




20 Ogoh-Ogoh Gentayangan di Pasar Kutu Tegal

IMG_9583 (1024 x 683)Sleman – Sebanyak 20 ogoh-ogoh gentayangan di sekitar Pasar Kutu Tegal Sinduadi Mlati Sleman, Selasa (8/3) mulai sekitar pukul WIB. Ke 20 ogoh-ogoh tersebut merayap menyusuri selokan Mataram menuju Jl AM Sangaji disekitar RS Sakina Idaman sepanjang 1,5 kilometer. Suasana hiruk pikuk terjadi disepanjang jalur jalan yang dilalui ke 20 ogoh-ogoh tersebut, dan  menjadi hiburan yang menarik bagi warga masyarakat maupun wisatawan.

Event tersebut digelar dalam rangka untuk menyemarakkan Hari Jadi Kabupaten Sleman ke 100 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman. Penyelenggaraan gelar seni ogoh-ogoh yang kedua kalinya ini selain untuk menyemarakkan Hari Jadi Kabupaten Sleman ke 100 juga dimaksudkan untuk memberikan suguhan event budaya kepada wisatawan yang berkunjung ke DIY khususnya Sleman.

Selain itu tentunya sekaligus untuk menyemarakkan perayaan Nyepi pada hari berikutnya tanggal 9 Maret yang diselenggarakan di pelataran Candi Prambanan. Diharapkan event ini dapat menjadi daya tarik yang bisa ditawarkan kepada para tamu hotel oleh pihak travel agent yang membawa tamu ke DIY maupun masyarakat umum.

Selain melakukan kirab di jalur selokan Mataram dan Jl. AM Sangaji antara kompleks Pasar Kutu Tegal dan RS Sakina Idaman, semua peserta kirab juga melakukan display di perempatan Jalan Baru UGM dihadapan Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun MKes.

Adapun penampilan kirab ogoh ogoh tersebut diikuti oleh 20 komunitas yang terdiri atas 15 komunitas masyarakat dan 5 komunitas tematik. Ke 15 komunitas masyarakat tersebut yaitu dari Margoagung Seyegan, Sumbersari Moyudan, Sanggar Sakura Mlati, Glagaharjo Cangkringan, Umbulmartani Ngemplak, Wonokerto Turi, Hargobinangun Pakem, Purwobinangun Pakem, Ambarketawang Gamping, Donokerto Turi, Blendangan Berbah, serta 5 ogoh ogoh ritual bertemakan “Sedulur papat limo pancer”.

Diantara ogoh-ogoh flora fauna yang ditampilkan diantaranya meliputi Hutan Bambu, Salak, Rusa, Ganesha, Kuda, Lembu, Raksasa, Kera, Lembu Sura, Sapi, pula sebagai bintang tamu komunitas umat Hindhu yang ada di Kabupaten Sleman menampilkan berbagai atraksi.

Komunitas masyarakat Bali juga ikut memeriahkan pawai ogoh-ogoh di Sleman dengan menampilkan 4 groupnya yang dikirab langsung menuju titik nol selanjutnya dibawa ke pure untuk ritual dengan dibakar guna menyingkirkan nafsu yang buruk pada manusia.‬