32 Rumah Di Sleman Terendam Banjir

Sleman – Hujan deras yang melanda kawasan utara Sleman pada Sabtu (12/3) lalu menyebabkan sejumlah sungai yang berhulu di Merapi meluap. Luapan air sungai tersebut menimbulkan sejumlah kerusakan dibeberapa titik.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito menjelaskan banjir Sabtu lalu melanda empat kecamatan di Sleman yakni Pakem, Sleman, Mlati dan Turi dengan jumlah 10 titik lokasi banjir. Desa-desa yang terdampak yakni Tri Mulyo, Sendangadi, Sinduadi, Purwobinangun, Donokerto dan Pandowoharjo.

“Jumlah total ada 32 rumah yang terendam dan satu roboh di Purwobinangun. Sedangkan yang mengungsi sebanyak 64 jiwa,” kata Julisetiono, Minggu (13/3).

Banjir kemarin juga menyebabkan sawah seluas 2500 m2 tergenang. Sebagian besar sawah terdapat di Kecamatan Turi dan Mlati. Sedangkan sebuah jembatan sesek juga hanyut terbawa aliran sungai.

Julisetiono mengatakan pihaknya telah melakukan penanganan terhadap para korban banjir.  Penanganan dilakukan dengan melakukan evakuasi serta permberian logistik.

“Sejumlah warga sudah kembali karena genangan sudah menyusut,” katanya.

Julisetiono juga menghimbau kepada masyarakat yang tinggal dibantaran sungai untuk mewaspadai adanya banjir kiriman dari kawasan Lereng Merapi. Pasalnya, memasuki masa pancaroba saat ini, potensi terjadinya hujan dengan dengan intensitas cukup tinggi sangat besar.

“Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan adanya potensi banjir. Selain itu bencana angin kencang, petir dan longsor juga harus diperhatikan,” tutur Julisetiono.

Selain banjir, sejumlah kawasan di Sleman juga mengalami musibah bencana angin kencang di sejumlah desa yakni Tridadi Kecamatan Sleman, Sukoharjo dan Donoharjo Kecamatan Ngaglik, Pakembinangun Kecamatan  Pakem,  Wukirsari Kecamatana Cangkringan dan Donokerto, Turi.

“Tercatat ada sembilan pohon tumbang dan satu rumah roboh di Tridadi,” jelasnya.

Julisetiono juga  menjelaskan sejumlah evakuasi telah dilakukan melalui penebangan pohon oleh TRC BPBD Sleman dan sejumlah relawan. Termasuk mengirimkan tenaga kesahatan.

Saat disinggung mengenai kerugian materik, Julisetiono menjelaskan, pihaknya tengah menginventarisir kerugian yang dialami.

“Kami masih mendata kerugian yang ada,” jelasnya.




Satpol PP Gencarkan Razia Pembuang Sampah Sembarangan‬

Sleman – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman terus menggencarkan razia terhadap para pelaku buang sampah sembarangan atau di luar tempat yang sudah ditentukan.‬

‪”Kami terus menggencarkan operasi bagi para pembuang sampah sembarangan, sampai saat ini sedikitnya sudah 20 orang yang tertangkap dan diajukan dalam sidang tindak pidana ringan (Tipiring) di Pengadilan Negeri Sleman,” kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sleman, Drs Joko Supriyanto, Minggu (13/3).‬

‪Menurut Joko, pihaknya serius dalam upaya penegakan hukum terkait Perturan Daerah (Perda) Kabupaten Sleman No 5 Tahun 2015 tentang pengolahan sampah rumah tangga dan sampah sejenis.‬

‪”Dalam penegakan aturan ini kami bertindak tegas, setiap orang yang tertangkap tangan membuang sampah sembarangan atau tidak pada tempatkan akan kami ajukan ke persidangan,” kata Joko.‬

Joko menambahkan, dari patroli ketertiban yang dilakukan petugas pengawas Satpol PP Sleman, sudah ada 10 orang yang disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Sleman.‬

‪”Ke 10 orang tersebut ditangkap pada tanggal 4 hingga 11 Maret, sekarang kami ajukan lagi enam orang yang kemarin tertangkap tangan membuang sampah sembarangan,” katanya.‬

‪Joko mengatakan, ancaman hukuman dalam Perda No 5 Tahun 2015 tentang pengolahan sampah rumah tangga dan sampah sejenis yakni denda maksimal Rp atau hukuman kurungan maksimal selama tiga bulan.‬

‪”Namun besaran denda yang dijatuhkan kepada pelanggar tergantung dari keputusan pengadilan, kemarin rata-rata mereka dikenai denda Rp ,” katanya.‬

‪Menurut Joko  apa yang dilakukanya ini adalah untuk menjaga Kabupaten Sleman tetap menjadi bersih dan nyaman. Pihaknya bersama Pemkab Sleman juga telah beberapa kali melakukan sosialisasi ke masyarakat.‬

‪”Kami bersama-sama menjaga Sleman bersih, kami imbau agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan karena sudah ada sosialisasi,” katanya.




Bank Sampah Dikembangkan di Pasar Tradisional

Sleman – Dinas Pasar Sleman mulai mengembangkan bank sampah. Sejak dirintis pada 2015, program itu baru ada di Pasar Cebongan dan Sleman. Rencana tahun ini akan dikembangkan di Pasar Gamping dan Condongcatur. Dipilihnya lokasi pasar itu karena para pedagangnya dinilai telah siap, dan didasarkan penilaian Adipura.

“Kami targetkan setiap tahun ada dua pasar yang diberi fasilitas bank sampah. Disini para pedagang sendiri yang menjadi pengurus dibantu petugas kebersihan kami,” kata Kepala Dinas Pasar Sleman, Dra Tri Endah Yitnani MSi, Minggu  (13/3).

Dari data di dinas, saat ini ada 41 pasar tradisional. Total produksi sampah di semua pasar mencapai 20 ton per hari. Melihat tingginya volume limbah tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menilai perlu pengelolaan secara mandiri.

Melalui bank sampah ini, limbah yang ada di pasar tradisional dipilah tiap satu minggu sekali. Barang yang sekiranya masih dapat dimanfaatkan kemudian dijual ke pemulung, dan uangnya dikembalikan ke pedagang. Sementara limbah organik diolah menjadi kompos yang digunakan untuk memupuk tanaman di lingkungan sekitar dinas dan pasar. Namun sejauh ini mesin pencacah sampah baru tersedia di Pasar Cebongan.

“Alatnya memang masih terbatas, namun sebenarnya bermanfaat karena bisa mengurangi sampah hingga 30 persen,” ujarnya.

Dalam kurun satu tahun terakhir, para pedagang yang mengelola sampah di Pasar Cebongan sudah beberapa kali memproduksi pupuk. Per bulan, produksinya rata-rata berkisar 7-8 kilogram.

Menurut Endah, syarat pengadaan bank sampah cukup mudah. Persiapannya hanya lokasi untuk tempat pemilahan sampah, dan wadah untuk menempatkan residu. Pihaknya berharap bank sampah bisa mendapat antusiasme di kalangan pedagang sehingga bisa semakin berkembang.