Pos Pemantau Banjir Lahar Mulai Dioperasikan

Potong untaian bungaSleman – Pos Pemantauan Banjir Lahar yang berada di Dusun Bronggang Desa Argomulyo Kecamatan Cangkringan mulai  Selasa (15/3) resmi dioperasikan. Pengoperasian pos pemantau banjir yang berada di sisi selatan Kali Gendol tersebut ditandai dengan peresmian oleh Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI.‬ Pos pemantau lahar tersebut  merupakan bantuan PT Bank BPD DIY melalui divisi Corporate Social Responsibility (CSR) serta  swadaya masyarakat Desa Argomulyo.

‪Menandai peresmian pos pemantau tersebut Sri Purnomo mengatakan, intensitas hujan yang cukup tinggi di kawasan utara masih menjadi ancaman bagi sungai-sungai yang berhulu di Merapi. Oleh karena itu kesiap siagaan warga masyarakat diperlukan dalam melakukan mitigasi bencana.‬

‪”Dengan adanya pos pemantau banjir ini relawan kini bisa memantau dari ketinggian yang cukup baik. Sebab di pos ini juga disediakan teropong untuk memantau pergerakan air maupun lahar dingin dari Merapi,” kata Sri Purnomo usai meresmikan pos pemantau banjir tersebut.

‪Menurut Sri Purnomo, keberadaan pos pemantauan ini yang pertama dibangun di kawasan sungai-sungai besar yang berhulu di Merapi. Meski begitu, tidak mengurangi pengawasan terhadap aliran sungai lainnya. Sebab, warga sudah ada yang secara swadaya mendirikan perangkat Early Warning System (EWS) disejumlah titik.‬

‪”Belum lagi kami sudah memasang kamera CCTV dibeberapa titik untuk memantau aliran sungai,” jelas Sri Purnomo.‬

‪Untuk itu Sri Purnomo berharap, keberadaan pos pemantauan banjir lahar di Bronggang ini juga bisa dijadikan sarana wisata. Dengan ketinggian mencapai 15 meter lebih, wisatawan bisa melihat lebih luas kawasan lereng Merapi.‬

“‪Apalagi, di dekat pos pemantauan terdapat batu besar yang menjadi monumental atas peristiwa erupsi Merapi 2010 lalu. Ini akan menjadi pelajaran bagi anak cucu kelak,” jelasnya.‬

‪Sementara itu Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MM mengatakan, sungai Gendol saat ini relatif lebih aman setelah dilakukan normalisasi. Hanya saja, masyarakat masih harus waspada terhadap ancaman banjir lahar. Sebab masih ada sekitar 20 juta meter kubik material Merapi yang masih tertahan.‬

‪”Bila ada pos ini pemantauannya bisa lebih jauh. Sehingga kesiapsiagaan bila bencana datang lebih baik lagi,” jelasnya.‬

Sementara Dirut PT Bank BPD DIY, Drs Bambang Setiawan MBA mengungkapkan bahwa pembangunan pos pemantauan banjir lahar dingin bersama masyarakat Desa Argomulyo Cangkringan tersebut merupakan wujud tali kasih dan sumbangsih Bank BPD DIY dalam bidang sosial.

‪Sedang Camat Cangkringan, Edi Harmana mengatakan, pos pantuan sangat diperlukan di sungai Gendol, selain pembangunan talut yang sudah dilakukan disejumlah titik sungai Gendol.

“Apalagi dusun Bronggang ini bersebelahan dengan Bakalan yang menjadi tetenger Merapi,” kata Edi.




Fasilitas Umum Yang Rusak Akibat Banjir Akan Diperbaiki

Sleman – Dampak banjir pada hari Sabtu (12/3) malam selain mengakibatkan terendamnya 32 rumah di Kabupaten Sleman juga mengakibatkan rusaknya beberapa fasilitas umum. Oleh karena itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman akan melakukan koordinasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lainnya untuk memperbaiki fasilitas umum yang rusak.‬

“Berdasarkan pendataan BPBD Sleman kerugian dampak banjir pada Sabtu (12/03) malam itu diperkirakan ditaksir mencapai Rp 200 juta an,” kata Kepala BPBD Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasita SH MM di Sleman, Selasa (15/3).

Menurut Julisetiono beberapa fasilitas umum yang mengalami kerusakan seperti talut yang jebol, jembatan sesek rusak, pagar sekolah yang jebol dan fasilitas lainnya. Total kerugian diperkirakan mencapai Rp 200 juta. Namun yang menjadi tanggungjawab pemerintah hanya fasilitas umum.‬

‪”Untuk kepastian total kerugian masih dihitung. Tapi estimasi kami sekitar Rp 200 juta. Sebagian kerusakan sudah kami koordinasikan dengan SKPD terkait untuk memperbaikinya,” kata Julisetiono.‬

‪Disinggung tentang korban banjir, dijelaskan Julisetiono pihaknya sudah memberikan logistik ketika para korban banjir mengungsi. Sedangkan kerugian material lainnya menjadi resiko masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Untuk itu pihaknya meminta masyarakat agar meningkatkan kewaspadaanya.‬

Sedang ‪Kepala Dinas Sumber Daya Air Energi dan Mineral Kabupaten Sleman, Ir R Sapto Winarno mengatakan, pihaknya sekarang ini masih ada stok bronjong hingga buah. “Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, bronjong siap dipasang untuk menanggulangi banjir,” kata Sapto.




Pariwisata Dapat Sokong Pertumbuhan UKM

Sleman – Keberadaan desa wisata di Kabupaten Sleman dapat meningkatkan produktivitas karena dipadukan dengan berbagai kegiatan bidang pertanian, perikanan dan perindustrian.‬

‪”Sleman mempunyai beberapa keuntungan lain dalam menunjang pariwisata. Selain karakter alam yang kuat, Kabupaten Sleman juga didukung kebudayaan dan kepurbakalaan serta infrastruktur yang memadai,” kata Wakil Bupati Sleman, Dra Sri Muslimatun MKes, Selasa (15/3).‬

‪Menurut Sri Muslimatun  objek yang menjadi kekuatan daya tarik adalah Gunung Merapi yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di dunia.‬

‪”Dengan modal di bidang pariwisata, dapat ikut menyokong pertumbuhan sektor Usaha Kecil Menengah (UKM),” kata Sri Muslimatun.‬

‪Sri Muslimatun menambahkan  saat ini di Sleman terdapat usaha skala kecil menengah tersebar pada berbagai sektor, seperti pertanian, kehutanan, industri, perdagangan jasa, pariwisata, dan ESDM.‬

‪Sejumlah produk lokal Sleman bahkan telah merambah pasar ekspor dengan tujuan utama Jepang, Amerika, dan Korea Selatan. Produk tersebut antara lain pakaian jadi, sarung tangan, tas kulit dan, furniture.

“Pariwisata dan UKM merupakan dua sektor yang saling bersinergi. Di satu sisi dapat memberdayakan masyarakat, di sisi lain mempromosikan daerah,” katanya.

Disisi lain Sri Muslimatun menyampaikan bahwa kunjungan ke desa wisata di Sleman semakin meningkat‬ Pengunjung sejumlah desa wisata di Kabupaten Sleman menunjukkan jumlah yang terus berkembang dari tahun ke tahun.

‬‪”Sepanjang 2015, kunjungan ke berbagai desa wisata mencapai 5,21 juta wisatawan. Jumlah itu meningkat dibanding tahun sebelumnya sebanyak 4,13 juta wisatawan,” kata  Sri Muslimatun.‬

Saat ini lanjutnya di Kabupaten Sleman sudah ada 38 desa wisata yang dikembangkan. Beberapa yang cukup dikenal masyarakat antara lain Garongan sebagai desa wisata pertanian, Kelor sebagai wisata agro, Gamplong sebagai wisata kerajinan, dan Pulesari yang menawarkan keindahan lereng Merapi.‬

‪”Wilayah Sleman memiliki karakteristik yang potensial untuk dikembangkan pariwisata sekaligus pemberdayaan masyarakat,” tuturnya.‬