Masyarakat Diminta Partisipasinya Jaga Kelestarian Lingkungan

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bekerja sama dengan kantor Badan Lingkungan Hidup (BLH) mengajak semua elemen masyarakat untuk berpartisipasi menjaga kelestarian lingkungan. Salah satunya dengan tidak menangkap burung yang dilindungi serta melepaskan burung ke alam liar.

Demikian antara lain disampaikan Sukarno SH MSi selaku ketua panitia Hari Jadi Sleman ke-100 terkait dilaksanakannya lomba burung berkicau yang menjadi salah satu dari rangkaian acara Hari Jadi Sleman yang baru pertama kali dilaksanakan oleh Pemkab Sleman.

“Lomba burung. Berkicau ini merupakan wadah bagi berbagai lapisan elemen masyarakat penggemar burung kicau,” kata Sukarno, kemarin.

Sukarno juga menghimbau pada penggembar burung berkicau untuk peduli terhadap lingkungan dengan menjaga ekosistem, termasuk burung di alam liar.

Lomba burung berkicau “Bupati Sleman Cup” diselenggarakan Pemkab Sleman bekerja sama dengan ‘Pendopo SF’ telah  diadakan di lapangan Pemda Sleman pada Minggu (10/4).

Menurut Mustofa selaku penanggung jawab kegiatan  bahwa acara yang diikuti kurang lebih 1000 kontestan ini terdiri dari berbagai macam burung seperti Murai Batu, Kacer, Lovebird, Kenari, Cucak Ijo, Anis Merah, Cendet, Ciblek, Pleci, dan Cucak Jenggot. Antusias peserta  tidak hanya dari Sleman saja namun banyak dari kicau mania luar daerah bahkan luar pulau yang hadir berpartisipasi dalam lomba tersebut.

“Kami membagi menjadi empat kelas yaitu Kelas Semar, Gareng , Petruk, dan Bagong. Peserta selain dari DIY dan Jateng seperti Solo, Kutoarjo, Sragen, juga dihadiri kicau mania  dari Jember, Tangerang, bahkan Lampung,” kata Mustofa.

Mustofa juga mengungkapkan bahwa dari beberapa jenis burung yang diperlombakan, kelas lovebird paling banyak diminati. Hal ini terbukti dari penjualan tiket pada kelas pertama untuk lovebird (Kelas Semar) habis terjual.

“Dari total 60 gantangan tiap sesi atau kelasnya, lovebird paling banyak diminati. Pada Kelas Semar burung Lovebird full gantangan,” tambah Mustofa.

Ditambahkan Sukarno bahwa rangkaian kegiatan Hari Jadi Sleman ke-100 nantinya akan mengakomodir semua bidang seperti olahraga, kesenian, bakti sosial, serta kerohanian.

“Akan ada banyak sekali kegiatan yang dilakukan Pemkab Sleman dalam menyambut Hari Jadi ke-100, diantaranya dalam bidang olahraga  akan diadakan lomba panahan gaya Mataram (Jemparingan), dalam bidang sosial akan diadakan operasi katarak bagi 100 orang dan pap smear bagi 200 orang  gratis, serta masih banyak lagi. Untuk mengetahui rundown acara lebih lanjut bisa diakses melalui website kabupaten-sleman, ” tutur Sukarno.




Kelompok Atras Kelola Sampah Mandiri Hasilkan Jutaan Rupiah

Sleman – Kelompok Pengelolaan Sampah Mandiri (KPSM) Atras di Dusun Temulawak Desa Triharjo, Kecamatan/Kabupaten Sleman yang berdiri sejak tahun 2008 terus berkembang.

Per minggu, kelompok tersebut mampu mengolah kurang lebih enam kuintal sampah rumah tangga. Dari pengelolaan sampah secara mandiri tersebut kelompok Atras mampu menghasilkan jutaan rupiah.

Limbah yang dikelola berasal dari warga lingkungan sekitar dusun yang diambil oleh petugas kebersihan tiap satu minggu sekali.

“Keseluruhan ada sekitar KK yang sampahnya masuk kesini. Setelah limbah ditampung lalu dipilah antara yang organik dan non organik,” kata Kepala Desa Triharjo, Irawan, Rabu (13/4).

Sampah organik kemudian diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan non organik dijadikan barang kerajinan. Tiap bulan, KPSM ini bisa menghasilkan 2 kuintal kompos. Produk pupuk itu dijual ke gapoktan dan kelompok tani dengan harga Rp per wadah ukuran lima kilogram.

Jika dikalkulasi, pendapatan dari penjualan pupuk rata-rata Rp 200 ribu per bulan, sedangkan rosokan Rp .

“Pengembangan kelompok tidak hanya mengandalkan pengolahan, tapi juga dari retribusi pengambilan sampah. Masing-masing KK ditarik iuran Rp per bulan,” ungkapnya.

Dari berbagai pemasukan itu, BUMDes ini mampu meraup laba bersih bulanan berkisar Rp 7 juta. Sebagian dari keuntungan digunakan untuk membantu pendidikan anak usia dini di Desa Triharjo.

“Usaha pengelolaan sampah ini bukan semata untuk kepentingan bisnis tapi juga menyokong pendidikan,” kata Irawan.

Tahun ini, pemerintah desa akan kembali membuka unit pengolahan sampah. Lokasi yang dipilih adalah Dusun Sucen. Anggaran sebesar Rp 675 juta bantuan dari pemerintah Provinsi dan ADD telah disiapkan untuk membangun fasilitas tersebut. Jika terealisasi nantinya bisa digunakan untuk menampung sampah dari luar wilayah Triharjo.

Manajer BUMDes Unit Atras, Sigit Purwanto mengungkapkan, ide pembentukan KPSM ini berawal dari swadaya masyarakat yang merasa keberatan lantaran tarif pungutan sampah dari Pemkab terus mengalami kenaikan. Mereka kemudian berinisiatif mengelola sampah sendiri.

Mulanya, kelompok ini dirintis oleh 10 orang. Namun kini hanya tersisa enam anggota terdiri dari tiga petugas pemilah sampah, satu operator mesin, dan dua orang di bagian manajemen.

Sigit menuturkan, usaha pembuatan kompos sebenarnya cukup prospektif hanya saja belakangan mengalami kendala bahan baku yang terus menyusut.

Saat ini, limbah organik yang dihasilkan masyarakat hanya sekitar 15 persen, dan 40 persen berupa barang rosokan sedangkan sisanya residu yang akhirnya dibuang ke TPU Piyungan Bantul.




Bupati dan Muspida Jalani Tes Urine

Bupati Sleman Jalani Tes UrineSleman – Tes urine jajaran Muspida Kabupaten Sleman dan personil Polres Sleman  dilakukaan di Mapolres Sleman,  Rabu (13/4). 

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI dan  semua Muspida yaitu Kapolres Sleman AKBP Yulianto, Ketua DPRD Sleman Drs Haris Sugiarto, Kejari Sleman Diah Retnowati Astuti SH MH,  Dandim 0732 Sleman  Letkol  Joko Sujarwo, Wakil Bupati Sleman Dra Sri Muslimatun MKes, Ketua Pengadilan Negeri Sleman, Kepala BNNK Sleman Drs Kuntadi menjalani tes urine.

Dari  pejabat yang telah melakukan tes urine tersebut sumuanya negatif dari narkoba, sedangkan personil kepolisian Polres Sleman semua diwajibkan mengikuti tes urine. Untuk hasil tes urine personil Polres Sleman belum diketahui. Apakah semuanya negatif atau ada yang positif narkoba, hal ini karena jumlah personil yang lakukan tes urine cukup banyak.

Sri Purnomo usai menjalani tes urine mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mendukung langkah yang dilakukan oleh Polres Sleman, termasuk bagi semua aparat.

“Kalau ada aparat yang terbukti, ada yang mengkomsumsi maka ada sangsinya yang cukup berat. Termasuk tes urine secara berkala Pemkab Sleman sangat mendukung,” kata Sri Purnomo.

Disampaikan Sri Purnomo bahwa tes urine secara berkala baik kepada pejabat maupun staf sangat positif kalau hal tersebut bisa dilakukan akan sangat baik.

Terlebih saat ini menurut Sri Purnomo peredaran narkoba sudah merambah ke semua lapisan, bukan hanya kalangan menengah saja namun sudah merambah ke semua lapisan, maka  untuk mencegahnya perlu peran semua pihak.




Pantauan Pasar Penurunan BBM Tak Pengaruhi Harga Barang Pokok

Pantau Harga DagingSleman – Penurunan harga BBM sejak awal April lalu ternyata tidak berpengaruh terhadap perubahan harga kebutuhan barang pokok.

Demikian antara lain diungkapkan Staf Ahli Bupati Sleman Bidang Ekonomi dan Keuangan, Dra Sudarningsih MSi disela-sela pantauan harga bersama Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi, Dinas Pertanian, Dinas Pasar, Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika, Satpol PP yang tergabung dalam TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) di Pasar Tempel dan Pasar Pakem Sleman,  Rabu (13/4).

Sementara Kepala Bagian Perekonomian Sleman, Ir CC Ambarwati MM mengungkapkan bahwa perubahan harga barang pokok di pasar cenderung terjadi karena faktor ketersediaan barang seperti halnya yang terjadi pada penurunan harga beras. Menurutnya penurunan harga beras yang terjadi dipasaran lebih disebabkan karena faktor suplai dari produsen.

Berdasarkan pantauan, penurunan harga beras di Pasar Tempel dan Pasar Pakem sebesar Rp 500,- dari semula harga Rp menjadi Rp perkilonya.

”Penurunan harga beras terjadi karena saat ini sedang panen raya, stok beras petani melimpah sehingga suplai untuk pasar tidak ada kendala,” kata Ambarwati.

Ditambahkan  Sudarningsih beberapa komoditas sayuran juga mengalami penurunan seperti cabe, kentang, dan wortel. Harga cabe merah yang semula Rp 28 ribu menjadi Rp 14 ribu dan cabe hijau dari Rp 25ribu menjadi Rp 12 ribu.

Namun untuk harga bawang merah cenderung naik  karena panen yang tertunda yaitu berkisar Rp 5 ribu dari semula Rp 40 ribu menjadi Rp 45 ribu. Sedangkan untuk harga bawang putih dari pemantauan harga sedikit turun dari Rp 36 ribu menjadi Rp 34 ribu.

Untuk harga daging sapi menurut Sudarningsih cenderung stabil berkisar Rp 95 ribu hingga Rp 115 ribu. Namun untuk daging ayam harga cukup fluktuatif, rata-rata kenaikan dan penurunan harga berkisar Rp 1 ribu sampai Rp 2 ribu perkilonya.

Selain melakukan pantauan harga pasar, Sudarningsih bersama tim juga melakukan pantaun tarif angkutan di Terminal Jombor. Dari hasil pantaun, tarif angkutan sudah mulai turun meskipun secara resmi Kabupaten Sleman belum mengeluarkan surat keputusan perihal tarif angkutan pasca turunnya harga BBM.

Kasi Angkutan dan Terminal Dinas  Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Sleman, Marjanto mengungkapkan bahwa untuk angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) sudah memberlakukan penurunan tarif sebesar 3%.

Namun Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman dalam waktu dekat akan melakukan rapat koordinasi untuk menentukan besaran tarif angkutan, karena menurut Marjanto kebijakan penurunan angkutan darat diserahkan kepada masing-masing pemerintah daerah.