Bupati Dan Danrem Panen Raya Padi Desa Mororejo

Bupati Sleman Panen RayaSleman – Bupati Sleman, Drs H  Sri Purnomo MSI beserta Komandan Korem 072/Pamungkas Brigjen Stephanus Tri Mulyono melakukan panen raya padi pada lahan percontohan di Desa Plumbon Kulon, Mororejo, Tempel, Sleman, Jumat (15/4). 

Menurut Stephanus panen raya ini merupakan program ketahanan pangan nasional dari TNI bekerjasama dengan Gapoktan Desa Mororejo yang didukung oleh PT Salimas Citra Kencana sebagai  produsen pupuk organik untuk.

Menurutnya jika Indonesia tidak bisa menjaga ketahanan pangannya maka hal tersebut dapat mengancam kelangsunga hidup bangsa.

“Ketahanan pangan harus kita jaga, bila tidak akan menjadi ancaman yang sangat serius,” ungkap Stefanus.

Dalam panen raya tersebut, lahan seluas 3 hektar yang ditanami padi jenis Ciherang diuji coba menggunakan produk pupuk organik Supermax.
Roni Nurdiyantara selaku Kades Desa Mororejo mengungkapkan bahwa terjadi perubahan cukup signifikan antara padi yang tidak dan diberikan pupuk organik.

“Dari pengecekan ubinan kami mendapatkan hasil 6,08 ton dari padi yang diberi pupuk tersebut, dan yang tidak diberi pupuk hanya menghasilkan 4,08 ton perhektar,” kaya Roni Nurdyantara.

Sementara Sri Purnomo yang juga turut dalam panen raya mengungkapkan bahwa Kabupaten Sleman saat ini surplus beras. Pemkab Sleman akan terus mempertahankan lahan pertanian yang saat ini sedang dalam proses pembukaan lahan pertanian baru.

Rencananya akan dibuat lahan baru seluas 50 hektar memanfaatkan areal bekas banjir lahar dingin di daerah Minggir serta Cangkringan.

“50 hektar tersebut akan kami maksimalkan di Minggir dan sisanya di Cangkringan, setelah sukses akan kami perluas menjadi 100 hektar sesuai arahan dari menteri pertanian,” ungkap Sri Purnomo.




Disbudpar Sleman Gelar Gerakan Sadar Wisata

Foto Bersama Anggota DPRSleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) gelar Gerakan Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona di Agro Wisata Salak Pondoh Bangunkerto, Turi, Jumat (15/4).  

Hadir pada acara tersebut  Anggota DPR RI Esti Wijayanti, Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwiata, Badan Lingkungan Hidup, Polisi Pariwiisata dan Para Pengelola Desa Wisata se Kabupaten Sleman.

Kegiatan diawali dengan pemberian bantuan secara simbolis berupa tong sampah dan alat kebersihan oleh Esti Wijayanti  Anggota DPR RI berasal dari Sleman dan Pemberian CD Sapta Pesona dari Perwakilan Kementrian Pariwisata RI Kepada  Kepala Disbudpar Sleman.

Kegiatan dilanjutkan dengan membersihkan sampah dan lingkungan Embung / Kolam agro Wisata Salak  Pondoh Desa Bangunkerto, Turi sebagai wujud menciptakan lingkungan wisata yang bersih dan sejuk.

Kepala Disbudpar Sleman Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengatakan bahwa kegiatan ini  dilaksanakan secara Nasional berjumlah 88 titik, sedangkan untuk DIY hanya dilaksanakan di Kabupaten Sleman dan Gunungkidul.

Tujuan gerakan sadar wisata dan aksi sapta pesona adalah untuk menjadikan masyarakat sadar wisata, menjadi tuan rumah  yang baik bagi wisatawan dengan mendorong peran dan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan iklim yang kondusif.

Mampu mendorong tumbuh dan berkembangnya kegiatan kepariwisataan. Serta dapat mengaktualisaikan nilai- nilai yang terkandung dalam Sapta Pesona  menjadi perilaku sehari-hari.

Sementara Esti Wijayanti berpesan bahwa Pemerintah Indonesia saat ini konsisten untuk mengembangkan potensi wisata yang ada di Daerah. Pemerintah RI pada Tahun 2016 melalui Kementrian Pariwisata telah memberikan kucuran Anggaran naik hampir  300 %. Karena Sektor Pariwisata akan mensejaheterakan masyarakat Indonesia sesuai dengan salam Pariwisata  Jaya dan Sejahtera.

Di samping itu kata Esti Wijayanti bahwa  kunjungan para wisatawan dari Luar Negeri ke Indonesia pada Tahun 2015 mencapai 10 Juta orang, sedangkan untuk Tahun 2016  metargetkan kunjungan wisatawan ke Indonsia  12 Juta orang, namun khususnya di DIY pada tahun 2015 wisatawan mancanegara yang hadir di Yogyakarta mencapai 230 ribu orang dengan rata-rata yang tinggal di DIY mencapaio 1,7 Hari.

Pesan Esti Wijayanti untuk para pengeloa wisata di Kabupaten Sleman diharapkan bisa mampu membuat para wisata betah tingggal di Sleman dengan cara melaksanakan 7 Sapta Pesona Pariwisata yaitu, aman, Tertib, Sejuk, Indah, Bersih, Ramah dan Kenangan.




Gladi Lapang Penanggulangan Bencana Tanah Longsor di Prambanan

Menolong Korban BencanaSleman – Tujuh orang mengalami luka berat, tiga orang patah tangan dan empat orang mengalami luka berat patah kaki dan dua orang mengalami luka ringan saat terjadi bencana alam tanah longsor di padukuhan Cepet Bokoharjo Prambanan Sleman, Jumat (15/4).

Sedangkan tiga rumah mengalami rusak berat, empat rumah mengalami rusak sedang dan lima rumah mengalami rusak ringan. Bencana tanah longsor tersebut akibat hujan yang terus menerus yang mengguyur wilayah Prambanan.

Saat terjadi  hujan tersebut  sebetulnya masyarakat padukuhan Cepet yang terdiri 180 KK dengan 682 jiwa tersebut sudah bersiap siap dengan segala kemungkinan.

Tetapi bencana datang tiba-tiba yang membuat gundukan dan tebing yang ada di padukuhan mengalami keretakan dan akhirnya longsor menimpa beberapa rumah dan warga yang posisi rumahnya ada di bawah. Demikian antara lain yang tergambar dalam gladi lapang penanggulangan bencana tanah longsor di Cepet Bokoharjo Prambanan.

Dalam gladi lapang tersebut ikut hadir Bupati sleman Drs H Sri Purnomo MSI,  Kepala Bidang pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD DIY  Ir Hari Siswanto, Kepala BPBD Kabupaten Sleman Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MM, Camat Prambanan Abu Bakar. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pengukuhan Forum pengurangan resiko bencana Desa Bokoharjo Prambanan oleh Bupati Sleman.

Sri Purnomo menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman merupakan daerah yang diberi anugerah Tuhan dengan berbagai potensi yang dimiliki. Namun, di balik itu, dari komposisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis, Kabupaten Sleman menyimpan potensi bencana baik akibat faktor alam maupun non alam.

Untuk itu, formulasi yang tepat dalam menghadapi kondisi wilayah tersebut adalah dengan memastikan bahwa masyarakat yang merupakan subyek, obyek, sekaligus sumber pokok dalam usaha pengurangan resiko bencana memiliki kesiapsiagaan.

Disampaikan pula bahwa dalam setiap mitigasi bencana, Pemerintah tidak dapat sukses mewujudkan upaya tersebut jika tidak didukung oleh masyarakat dan tim relawan. Untuk itu Sri Purnomo  menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat Sleman dan seluruh pihak yang telah turut serta berkontribusi dalam upaya mitigasi bencana yang selama ini digalakkan Pemerintah Kabupaten Sleman.

Dikatakan Sri Purnomo  bahwa pelaksanaan gladi lapang tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan kesiapsiagaan dan keterampilan warga masyarakat dalam menghadapi bencana longsor, khususnya di Desa Bokoharjo Prambanan.

Diharapkan dengan adanya gladi lapang ini, jatuhnya korban jiwa akibat longsor dapat diantisipasi, karena masyarakat telah mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan pada saat kondisi darurat.

Gladi lapang tersebut menjadi sarana yang efektif untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mensikapi kondisi darurat. Dengan bekal tersebut, diharapkan seluruh warga masyarakat menjadi paham langkah.

Sementara  Hari Siswanto mewakili Kepala BPBD DIY menyampaikan bahwa masyarakat adalah penerima dampak langsung dari bencana dan sekaligus pelaku langsung yang akan merespon bencana disekitarnya.

Sedang berdasarkan pemetaan yang telah dilaksanakan pada tahun  2012 DIY terdapat 12 potensi ancaman bencana, dari 438 desa yang ada di DIY 301 desa merupakan desa raawan bencana, diantaranya terdapat di Kabupaten Sleman.