Kecamatan Gamping, Gelar “Gamping Gegayengan 2016”

Sleman – Dalam upaya untuk menjaga dan melestarikan budaya bangsa, pemerintah Kecamatan Gamping bersama pemangku seni dan budaya berencana menggelar ‘Gamping Gegayengan 2016’.

“Kegiatan ini juga merupakan salah satu upaya menjaga eksistensi seni dan budaya daerah yang memberikan kegembiraan bagi pelaku seni budaya dan masyarakat,” kata Camat Gamping, Priyo Handoyo SH MSi, Rabu (20/4).

Menurut Priyo gelaran Gamping gegayengan 2016 tersebut tidak hanya berkaitan dengan kegiatan kesenian saja tetapi  ada juga pengembangan ekonomi, pendidikan dan nilai-nilai religiusitas.

“Kegiatan ini juga mengusahakan partisipasi masyarakat seluas-luasnya dengan merancang kegiatan yang memiliki cakupan luas pada peserta, wilayah kegiatan dan usia,” tutur Priyo.

Partisipasi tersebut lanjutnya memiliki makna penting dalam usaha membangun kesadaran dan kepedulian atas arti pentingnya pelestarian seni dan budaya.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Sabtu (30/4) dengan pentas kethoprak di Ngawen Trihanggo, kemudian Minggu (1/5) senam massal dan pembukan pameran potensi kecamatan serta pentas reog dan lomba klothean di Lapangan Trihanggo.

Masih di tempat yang sama, pada Senin (2/5) digelar lomba dolanan anak, menggambar dan seni religi. Sementara Selasa (3/5) dan Rabu (4/5) diadakan festival jathilan dan lomba seni religi. “Puncak acaranya pada hari Minggu (8/5) akan diadakan kirab budaya dan lomba kirab antar padukuhan,” kata  Priyo.




Festival Memedi Sawah di Kampung Flory Sleman

Sleman – Kabupaten Sleman bakal menambah lagi satu tempat agrowisata edukatif dengan membentuk Kampung Flory. Pembangunan Kampung Flory Sleman yang telah dirintis sejak tahun 2014, kini hampir selesai. Kampung Flory yang menjadi agrowisata unggulan di Sleman ini menurut rencana bakal diresmikan Gubernur DIY pada bulan Mei mendatang.

Pembina Kampung Flory Sudihartono mengungkapkan, pengembangan Kampung Flory di Dusun Jugang Pangukan Tridadi Sleman ternyata mampu memikat generasi muda untuk menjadi wirausaha handal dalam bidang agribisnis pertanian.

“Tak mengherankan kalau kemudian banyak pemuda sekitar yang ikut mengelola lahan pertanian seluas 2 hektar ini. Lahan ini untuk ‘show room’ berbagai jenis tanaman buah dan tanaman hias,” kata Sudihartono, Rabu (20/4).

Menurut Sudihartono, Kampung Flory terus berbenah agar bisa menjadi agrowisata unggulan. Di antaranya dengan membangun Museum Omahe Pak Tani sebagai wisata edukatif, membangun sarana outbond, membangun sarana pelengkap kuliner. Semua itu telah bisa diselesaikan, sehingga Kampung Flory siap diresmikan oleh Gubernur yang sebelumnya memberi bantuan Rp 500 juta.

Untuk menyemarakkan peluncuran Kampung Flory, serangkaian kegiatan telah disiapkan. Diawali dengan Festival Memedi Sawah pada tanggal 14 Mei, Festival Melukis Caping Pak Tani pada 17 Mei, Lomba Fotografi dan Dokumentasi 15 – 30 Mei, Lomba Mewarnai pada 22 Mei, penghijauan dan tebar ikan pada 25 Mei, Festival Tabulampot pada 15- 30 Mei.

“Dan puncaknya adalah peresmian oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X yang waktunya masih kami koordinasikan,” kata Sudihartono.




Pasangan Sumardi dan Murjiyati Dievaluasi Keluarga Harmonis Sejahtera Tingkat DIY

keluarga harmonisSleman – Pasangan Keluarga Sumardi dan  Murjiyati dari  Padukuhan Bendosari Desa Sumbersari Kecamatan Moyudan mewakili Kabupaten Sleman maju tingkat Provinsi DIY dalam evaluasi Keluarga Harmonis, Rabu (20/4).

Camat Moyudan, Musta’in Aminun SH MSi dengan evaluasi keluarga harmonis ini diharapkan  dapat sema­kin meningkatkan motivasi masyarakat dalam memben­tuk keluarga yang harmonis.

Diharapkan pula seluruh program pembinaan keluarga harmonis dan sejahtera di Kabupaten Sleman dapat semakin dinamis.

“Untuk membangun sebuah bangsa, harus dimulai dengan membangun keluarga yang terencana, sehingga bisa mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera,” kata Musta’in.

Keluarga harmonis dan sejahtera lanjutnya ditandai dengan sebuah ikatan perkawinan yang syah menurut agama maupun pemerintah. Keluarga harmonis dan sejahtera menjadi idaman dan dambaan bagi setiap orang, dimana keluarga menjadi tempat bernaung dan berlindung bagi setiap anggota keluarga.

Seluruh anggota keluarga pasti mengharapkan adanya suasana aman, nyaman, tenang dan tentram. Sementara itu, untuk mempertahankan sebuah keluarga tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan situasi dan kondisi sosial saat ini semakin menghadapi tantangan dengan adanya kemajuan iptek, tergerusnya budaya luhur, akhlaq dan pengaruh-pengaruh negatif lainnya.

Menurut Musta’in maraknya kasus-kasus pelanggaran moral dan budaya kekerasan di tengah masyarakat, seperti pergaulan bebas, tawuran pelajar, penyalahgunaan narkotika dan obat-obat berbahaya, perselingkuhan suami atau istri dan Iain-lain adalah produk dari kegagalan rumah tangga membina putra-putrinya.

Tanggungjawab untuk senantiasa menciptakan dan mempertahankan keharmonisan keluarga agar menjadi keluarga sakinah merupakan tanggungjawab seluruh anggota keluarga. Sumardi menceritakan kisahnya diawali dengan pekerjaan sebagai Kepala Dukuh dan ibu sebagai Ibu Rumah Tangga.

Pasangan Sumardi  mempunyai 2 anak yaitu Galih Prasetya dan Larasati Cahyati yang sudah dewasa. Disamping itu Sumardi juga bertani, beternak bebek, untuk menompang ekonomi kelurga serta mengelola Tanaman apotik Hidup di Rumahnya dan Pos Yandu Flamboyan dalam melayani masyarakat Padukuhan di Bendosari.