Dimas Bayu dan Diajeng Vivin sebagai Dimas Diajeng Sleman 2016

DimjengSleman – Dimas Bayu (Bayu Hariesta Abdurrahman Jambak) dan dan Diajeng Vivin (Adultvine Prita Wijayanti) akhirnya terpilih sebagai pasangan Dimas Diajeng Sleman 2016. Terpilihnya keduanya menggantikan Fajar Wijanarko dan Nonica Tiara Cintya sebagai Dimas Diajeng Sleman 2014.

Penobatan Dimas Diajeng Sleman 2016 dilakukan oleh Wakil Bupati Sleman Dra  Sri Muslimatun MKes  di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Jumat (6/5) malam.

Sementara itu, Wakil 1 Dimas Diajeng Sleman 2016 terpilih adalah Fariz Bimananta Saputra dan Lilis Arilia, Wakil 2 I Gusti Ngurah Paulus Widya Eka S dan Caecilia Westi Sekar Wangi. Sedangkan untuk Harapan 1 adalah Dito Irfantomo Brillian dan Sinta Puspita Sari, Harapan 2 Riyadi Dwi Prasetya / Anindwitya Rizqi Monica

Sebagai Dimas Diajeng Berbakat Julian Hadi Prasetya dan Apriliana Puspa Dewi, Dimas Diajeng Persahabatan adalah Doni Irawan dan Caecilia Westi Sekar Wangi, serta Dimas Fiajeng Favorit adalah Bagus Prihandoyo dan Anindwitya Rizqi Monica.

Sementara Wakil Bupati  Sri Muslimatun mengatakan Dimas Diajeng Sleman diharapkan menjadi salah satu agen promosi atau “agent of promotion” terhadap potensi daerah yang dimiliki Kabupaten Sleman, khususnya potensi di sektor pariwisata.

Peran tersebut sekaligus untuk mengangkat citra Kabupaten Sleman di level regional, nasional maupun internasional. Di samping memiliki peran sebagai agen promosi, Dimas Diajeng Sleman juga diharapkan mampu menjadi “role model” bagi generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan daerah beserta kompleksitasnya khususnya aspek sosial budaya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengungkapkan bahwa tujuan diselengarakannya pemilihan Dimas Diajeng Sleman 2016 adalah untuk memilih putra dan putri terbaik yang berbudaya, berkarakter, cerdas, kreatif, berwawasan luas.

Dan mampu bertugas sebagai agen informasi, promosi kepariwisataan secara khusus, dan potensi Kabupaten Sleman secara umum, serta sebagai “role model” bagi generasi muda Kabupaten Sleman.

Memberikan ruang bagi generasi muda usia 18 sampai dengan 24 tahun untuk berprestasi dan mengaktualisasikan diri berkontribusi memajukan kepariwisataan Kabupaten Sleman secara khusus dan pembangunan Kabupaten Sleman secara umum. Selain itu juga untuk membangun rasa cinta dan bangga di kalangan generasi muda untuk menerapkan nilai-nilai budaya Jogja.

Ayu menambahkan bahwa pelaksanaan pemilihan Dimas Diajeng Sleman 2016 diikuti oleh 120 peserta, yang kemudian dilakukan seleksi administrasi, wawancara dan ujian tertulis menjadi 60 orang semifinalis, dilanjutkan proses seleksi secara ketat hingga menjadi 30 orang finalis.

Selama proses seleksi tahap 1 hingga masa karantina materi yang diberikan mencakup Kebudayaan Jawa, khususnya budaya Jogja, wawasan budaya lokal (keslemanan), Kepariwisataan dan kebijakan serta potensi Kabupaten Sleman.

Dan, Penyalahgunaan NAPZA, Kepemudaan dan kepemimpinan, penguatan Nasionalisme, Reformasi Birokrasi dalam Pemerintahan Daerah, Keprotokolan Pemerintah, Personal Branding, English For Tourism, Kewirausahaan/ event organizer, Keorganisasian, Public Speaking, Jurnalistik Pariwisata dan Media Relation, Ngadi Salira Ngadi Busana dan Beauty Class.




‪Sistem Perpipaan Air Bersih Prambanan Belum Optimal‬

Sleman – Sistem perpipaan untuk memasok air bersih di kawasan rawan kekeringan perbukitan Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman hingga saat ini masih belum seratus persen berfungsi sehingga masyarakat dihimbau untuk menghemat air.‬

‪”Guna mengantisipasi bencana kekeringan pada kemarau nanti, diharapkan warga pandai-pandai menggunakan air sebelum musim hujan ini selesai,” kata Ketua Organisasi Pemakai Air (OPA) Kecamatan Prambanan Mujimin, Jumat (6/5).‬

‪Menurut Mujimin, saat ini untuk jaringan pipa air bersih di perbukitan Prambanan banyak yang masih dalam tahap perbaikan.‬

‪”Banyak yang pipanya rusak, saat ini masih dalam perbaikan terutama di daerah Dusun Grogol, Sumberharjo,” kata Mujimin.‬

‪Secara keseluruhan lanjut Mujimin, perpipaan air bersih di wilayah setempat baru berfungsi baik sekitar 80 persen.‬

‪”Sisanya kemungkinan belum akan selesai perbaikannya pada 2016. Saat ini hanya 80 persen yang berfungsi baik,” katanya.‬

‪Mujimin mengatakan, untuk itu masyarakat diminta untuk pintar-pintar memanfaatkan cadangan air yang didapat dari penampugan air hujan (PAH).‬

‪”Cadangan air harus benar-benar dihemat, saat ini juga masih ada beberapa sumur warga yang masih ada airnya, namun nanti pada musim kemarau sumur-sumur tersebut dipastikan akan mengering,” tambah Mujimin.‬

‪Sementara Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kecamatan Prambanan, Prawata mengatakan antisipasi kekeringan mengandalkan sistem jaringan perpipaan menurutnya masih belum bisa optimal.‬

‪”Jaringan pipa air peralon selama ini mudah sekali rusak, sehingga selalu ada perbaikan,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, untuk antisipasi bencana kekeringan jangka pendeknya dengan membuat bak-bak penampung air hujan.‬

‪”Kemudian jangka panjangnya dengan melakukan penanaman pohon. Agar bisa menyimpan air saat musim hujan,” katanya.




Sleman Sosialisasi Pelaporan Kekerasan Anak dan Perempuan‬

Sleman – Unit Pelaksana Teknis Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Sleman terus melakukan sosialisasi sistem pencatatan pelaporan data kekerasan terhadap perempuan dan anak.‬

‪”Pelaporan kekerasan anak ini sangat bermanfaat dalam proses penyusunan kebijakan, program dan kegiatan dalam bidang pembangunan perlindungan perempuan dan anak,” kata Kepala Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Perlindungan Perempuan (KB PMPP) Kabupaten Sleman, dr Nurul Hayah MKes, Jumat (6/5).‬

‪Menurut Nurul Hayah, atas pentingnya data laporan tersebut maka pihaknya terus melakukan sosialisasi baik bagi anggota Forum Penanganan Korban Kekerasan terhadap perempuan dan anak tingkat kecamatan, tingkat desa.‬

‪”Sosialisasi juga kami berikan kepada para psikolog di 25 Puskesmas di Kabupaten Sleman maupun masyarakat umum,” katanya.‬

‪Nurul mengharapkan dengan adanya sosialisasi, maka sistem pencatatan pelaporan data semakin cepat, akurat dan periodik dari semua anggota forum baik tingkat Kabupaten maupun Kecamatan.‬

‪”Dengan pelaporan yang cepat dan akurat ini maka akan dapat dimanfaatkan dalam proses penyusunan kebijakan, program dan kegiatan pembangunan perlindungan perempuan dan anak,” tutur Nurul.‬

‪Nurul menambahkan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan tindakan yang melanggar, menghambat, meniadakan dan mengabaikan hak asasi perempuan dan anak.‬

‪”Tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat terjadi di ranah publik maupun di dalam rumah tangga, serta dapat terjadi kapan saja, dalam situasi damai atau konflik,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, dalam sosialisasi yang dilakukan pihaknya menggandeng sejumlah instansi terkait sebagai nara sumber seperti kepolisian, Lembaga Studi Pemerhati Perempuan dan Anak DIY serta Kantor Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sleman.‬

‪”Sedangkan materi yang disampaikan meliputi UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan Alur pencatatan dan pelaporan data kekerasan terhadap perempuan dan anak,” tuturnya.




“Merapi Marathon 100k” Dibanjiri Pelari Luar Negeri‬

IMG_0720Sleman – Event “Merapi Marathon 100K” yang digelar KONI Kabupaten Sleman pada 7 dan 8 Mei 2016 dalam rangka satu abad Kabupaten Sleman dibanjiri peserta asal luar negeri.‬

‪”Sampai saat ini tercatat ada pelari dari 14 negara yang telah menyatakan ikut dalam `Merapi Marathon`, baik yang ikut dalam kategori 100 kilometer maupun 50 kilometer,” kata Event Manager “Merapi Marathon 10K” Taufiq Ridwan, Jumat (6/5).‬

‪Menurut Taufiq, target total untuk peserta sebelumnya hanya peserta termasuk kategori 13 hingga 50 kilometer dan 100 kilometer.‬

‪”Namun animo peserta cukup tinggi, sampai saat ini pendaftar sudah mencapai lebih sehingga kami menutup pendaftaran. Pendaftaran masih dibuka hanya untuk kategori 50 km dan 100 km,” katanya.‬

‪Taufiq mengatakan, jumlah peserta tersebut masih akan ditambah peserta dari kelompok pelajar SMP dan SMA di Kabupaten Sleman sebanyak 332 peserta.‬

‪”Mereka ini sengaja kami undang untuk memeriahkan event ini. Meraka tidak dipungut biaya atau gratis,” katanya.‬

‪Lomba lari yang akan melewati track ekstrem di lereng Gunung Merapi ini juga dibuka kelas marathon 50 km, 20 km, 13km, dan 5 km.‬

‪”Kategori lomba tidak hanya lari 100 kilometer tetapi ada beberapa kategori lainnya diantaranya kategori lomba lari marathon nasional Putra/Putri, lokal DIY, Sleman Putra/Putri. Kemudian juga marathon international Men/Women 100K, 50K, 25K, dan 13K,” katanya.‬

‪Taufiq mengatakan, total hadiah yang dapat diperebutkan dalam perlombaan ini adalah Rp104 juta.‬ ‪Ia mengatakan, lomba lari ini bersifat “sport tourism” yang harapannya mampu menyedot animo wisatawan untuk hadir langsung menyaksikan event ini.‬

‪”Tidak main-main, beberapa peserta yang berpartisipasi dalam event ini juga merupakan para juara gelaran lomba lari marathon yang diadakan beberapa daerah di Indonesia. Ada beberapa kampiun yang akan ikut di lomba lari Ultra Marathon ini, seperti juara trans Sumbawa sudah melakukan konfirmasi akan turut berpartisipasi,” katanya.‬

‪Disisi lain Taufiq juga menjelaskan  peserta lomba lari “Merapi Marathon 100K” akan dilengkapi dengan “chip” pada nomor start untuk menjamin keamanan dan memantau kejujuran masing-masing peserta khususnya kategori marathon dengan jarak 50 kilometer dan 100 kilometer.‬

‪”Jadi pada masing-masing nomor start peserta akan dipasang `chip`, ini untuk menjamin keamanan peserta terutama pelari luar negeri dan juga memonitor kejujuran peserta,” katanya.

Dalam “chip” tersebut akan termuat data peserta secara elektronik, mulai dari nama, asal negara dan alamat lengkap serta nomor telepon yang dapat dihubungi bila terjadi sesuatu hal.‬

‪”Selain itu juga tercantum golongan darah dari masing-masing perserta dan informasi maupun data diri lain dari peserta,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, kartu “chip” tersebut juga berfungsi untuk memantau pergerakan peserta sejak start hingga finish.‬

‪”Nantinya setiap melewati pos yang ada kartu `chip` tersebut akan secara otomatis merekam data peserta mulai dari waktu tempuh dari pos ke pos,” katanya.‬

‪Taufiq mengatakan, dengan sistem tersebut maka peserta tidak akan bisa melakukan kecurangan saat mengikuti lomba.‬

‪”Misalnya peserta dengan curang membonceng sepeda motor, maka akan nampak terlihat dari waktu tempuhnya antar pos,” katanya.‬

‪Untuk mengantisipasi adanya peserta yang tersesat, pihak panitia juga menerjunkan sebanyak 150 pemandu atau “marshal” yang akan mengawal para peserta dengan menggunakan sepeda.‬

‪”Pemandu ini akan mendampingi para peserta sejak dari start, mereka bisa bergerak mendampingi untuk memastikan peserta tidak salah rute,” katanya.‬