MGM Bisa Jadi Alternatif Wisata Edukatif‬

Operator wisata Johor Bahru saat berfoto di depan Museum   Gunungapi Merapi (1024 x 684)Sleman – Museum Gunungapi Merapi (MGM) di Dusun Banteng, Pakem Kabupaten Sleman dinilai dapat menjadi alternatif wisata edukatif untuk mengisi liburan sekolah seusai ujian nasional maupun ujian semester.‬

‪”Sekolah-sekolah di perkotaan dapat mengisi liburan dengan wisata edukatif di kawasan pinggiran seperti Museum Gunungapi Merapi (MGM) ini, tempat wisata ini mempunyai berbagai wahana kebencanaan. Dari gunungapi, hingga tsunami. Gunung api juga tidak hanya Merapi saja,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) MGM Suharno, Rabu (18/5).‬

‪Menurut Suharno, MGM dapat menjadi sarana pembelajaran para siswa terkait gunungapi di Indonesia dan dunia.‬

‪”Bermacam-macam gunungapi yang ada di Indonesia dan dunia sekaligus karakternya dapat dipelajari di museum ini,” katanya.‬

‪Suharno mengatakan MGM juga menyimpan koleksi sisa-sisa benda yang sempat terkena lahar panas erupsi Merapi 2006 maupun erupsi besar 2010.‬

‪”Libur panjang sekolah kami harapkan bisa meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dari kalangan pelajar,” katanya.‬

‪Suharno mengatakan, saat ini dirasa belum semua sekolah yang ada di DIY yang berkunjung ke MGM.‬

‪”Ada sekitar 900 sekolah tingkat SD dan SMP di DIY, namun baru sekitar 400 sekolah yang telah berkunjung ke MGM,” katanya.‬

‪Selain mengunjungi museum, tempat wisata edukasi lainnya kawasan Kaliurang yakni paket wisata, ke tiga tempat yakni pemerahan susu kambing etawa, rumah budaya, dan museum gempa.‬

‪”Biasanya study tour paketan di tiga tempat itu. Kami selalu terbuka untuk wisata pelajar. Pelajar di kota besar jarang yang mengetahui proses pembuatan susu kambing,” kata salah satu pelaku wisata pemerahan susu kambing etawa Kaliurang Ismu Jayono.




Hemat Air Mendesak Dilakukan‬

Sleman – Penghematan pemakaian air saat ini mendesak untuk dilakukan. Hal ini mengingat ketersediaan air baik secara kualitas maupun kuantitas  mengalami penurunan.‬

‪Demikian diungkapkan Asisten Bidang Pembangunan, Dra Suyamsih MPd, Rabu (18/5). Menurut Suyamsih bahwa saat ini secara kuantitas, air hujan yang tersimpan dalam tanah cenderung semakin berkurang dan sebagian besar menjadi aliran permukaan yang akan beresiko terjadinya banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Kondisi tersebut disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya semakin banyaknya permukaan tanah yang ditutup dan perubahan fungsi daerah tangkapan air.

Sedangkan secara kualitatif, air yang tersedia juga telah mengalami pencemaran, sehingga semakin menurunkan tingkat ketersediaan air bagi masyarakat.

“Penurunan kualitas air ini diantaranya disebabkan Perilaku tidak bertanggung jawab dari masyarakat seperti membuang sampah dan limbah rumah tangga di sungai,” kata Suyamsih.‬

‪Disampaikan Suyamsih bahwa adanya gerakan/ kampanye hemat air merupakan salah satu jawaban tepat atas kondisi ketersediaan air baik secara kualitas maupun kuantitas yang mengalami penurunan.

“Penghematan air menjadi hal yang mendesak karena tidak hanya ketersediaannya yang semakin berkurang tetapi juga terkait dengan kebutuhan air yang semakin meningkat,” tuturnya.

Air lanjut Suyamsih menjadi kebutuhan dasar manusia sehingga pertumbuhan jumlah penduduk akan berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan air. Air tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, namun juga digunakan untuk berbagai sektor seperti pertanian, industri dan Jasa. Oleh karena itu pemakaian air sudah selayaknya dilakukan secara bijak agar kebutuhan air terpenuhi secara merata.‬

Suyamsih juga  berharap dengan adanya gerakan hemat air  kesadaran dan kesungguhan semua pihak dalam menghemat pemakaian air semakin meningkat. Seluruh lapisan masyarakat harus disadarkan untuk turut menjaga sumber air dengan cara merubah perilaku kebiasaan sehari-hari.

“Beberapa kebiasaan di masyarakat kita yang sangat merugikan diantaranya adalah perilaku membuang sampah dan limbah sembarangan. Sampah yang tergenang di sungai-sungai, selain mengakibatkan banjir, sudah pasti juga akan mencemari air. Demikian juga dengan limbah kotoran manusia yang tidak dikelola dengan baik, akan merembes pada tanah, kemudian mencemari air tanah,” ungkap Suyamsih.‬

‪Selain itu kebiasaan boros air juga masih banyak ditemukan di masyarakat. Sering masyarakat tanpa sadar membuang-buang air bersih begitu saja. Seperti misalnya membiarkan keran mengalir hingga luber, mengambil segelas penuh air putih baru sedikit diminum sudah ditinggalkan lalu dibuang.

“Untuk itu mari kita mulai dari diri sendiri untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan boros air tersebut demi keberlanjutan sumber daya air kita sehingga kelak dapat dimanfaatkan oleh anak cucu,” kata Suyamsih .‬

Ditambahkan Suyamsih bahwa Air merupakan kekayaan negara dan digunakan untuk hajat hidup orang banyak, oleh karena itu perorangan tidak berhak memiliki air untuk dinikmati sendiri, misalnya air yang ada di wilayahnya menjadi miliknya itu tidak boleh, karena air harus bisa dinikmati orang banyak.‬




Tidak Ikut Ujian, Empat Siswa SD di Sleman Terancam Tidak Lulus

Sleman – Sebanyak empat orang siswa dari beberapa sekolah berbeda di Sleman  terancam tidak lulus Ujian Sekolah (US) 2016. Pasalnya, keempat siswa SD tersebut tidak menghadiri ujian selama dua hari berturut-turut tanpa keterangan apapun.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Sleman, Arif Haryono SH mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan ketidakhadiran empat siswa dalam US 2016 yang berlangsung 16-18 Mei 2016 ini.

Menurut Arif, Dari siswa di 522 sekolah penyelenggara yang terdaftar sebagai peserta ujian, empat siswa diketahui tidak hadir pada ujian hari pertama dan kedua.

“Kalau tanpa keterangan, tentu tidak bisa ikut ujian susulan. Harus mengulang sekolah atau ikut kejar paket,” kata Arif, Rabu (18/5).

Adapun ujian susulan rencananya akan digelar pada Senin (23/5) mendatang. Pihaknya masih meneliti alasan sebenarnya keempat siswa tersebut tak hadir dalam ujian.

Arif memerinci, berdasarkan data dari posko pemantauan Ujian Nasional Disdikpora Sleman , 4 tidak hadir tanpa keterangan, sakit 10.

“Di luar empat siswa yang tidak hadir tanpa keterangan, siswa berhalangan hadir dengan keterangan izin karena sakit 10 anak,” kata Arif.

Meski begitu, Arif menyebut bahwa secara umum pelaksanaan ujian tersebuit cukup lancar. Posko tidak menerima laporan permasalahan terkait lembar naskah soal maupun lembar jawab.

“Harapan kami, ujian berlangsung sukses dan prestasi anak didik meningkat. Juga sukses penyelenggaraan UN dengan hasil yang jujur,” tambah Arif.