Budidaya Bambu Sleman Tembus Pasar Dunia
Sleman – Budidaya berbagai jenis bambu yang dikembangkan di Dusun Tebonan, Pakem, Kabupaten Sleman berhasil menembus pasar dunia.
”Hasil dari budidaya bambu ini banyak dipesan dari sejumlah negara, mulai dari bibit tanaman bambu, bambu siap tanam, sampai dengan batang bambu berbagai jenis,” kata pembudi daya tanaman bambu di Dusun Tebon, Indra Gunawan, Minggu (22/5).
Menurut Indra, bambu-bambu ini banyak dipesan sejumlah negara sebagai bahan pembuatan tekstil dan kertas.
”Berbagai jenis bambu yang dibudidayakan di lahan seluas dua hektare ini di antaranya jenis bambu apus, bambu hias serta jenis bambu lainnya, termasuk bibit bambu hingga bambu siap tanam,” katanya.
Indra mengatakan proses yang digunakan untuk budidaya tanaman bambu ini adalah dengan menggunakan teknologi “Culteru Jaringan”.
”Teknologi ini memperbanyak jenis maupun bambu dengan melakukan proses iniasi yaitu memilih bambu indukan yang sehat, bambu kemudian dipotong bagian tengah dan selanjutnya hasil tersebut dibawa ke laboratorium khusus dan steril untuk mencegah penyakit atau virus dari tanaman bambu,” katanya.
Indra mengatakan bibit itu kemudian dijemur dalam sebuah tempat penyimpanan berisi cairan khusus yang berfungsi untuk menumbuhkan akar pada bagian ruas bambu.
”Proses ini memakan waktu hingga empat bulan, setelah tumbuh akarnya kemudian dipindah ke tempat yang lebih besar selama tiga bulan,” katanya.
Indra menambahkan dalam proses tiga bulan ini dari sejumlah tanaman bambu yang dibudidayakan, hanya 0,1 persen tanaman yang hidup dan tumbuh.
”Dalam satu minggu tempat pembudidayaan ini dapat menghasilkan bibit bambu,” katanya.
Indra mengemukakan bambu hasil budi daya ini tidak hanya dijual secara lokal, namun sejumlah negara juga mengambil bambu hasil budi daya ini.
”Setiap bibit bambu dijual dengan harga Rp10 ribu hingga Rp15 ribu, tergantung pada jenisnya. Budidaya bambu yang sudah dikembangkan sejak 2009 ini mampu meraup keuntungan hingga ratusan juta rupiah setiap bulan,” katanya.