Kurangi Ketergantungan Gandum, TP PKK Gelar Lomba Masak Berbahan Singkong

Ketua Tim Penggerak PKK Cicipi MasakkanSleman – Tak disangka singkong yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai bahan pangan yang trendnya kalah saing dengan gandum ternyata bisa diolah berbagai bentuk olahan makanan.

Hal tersebut dibuktikan oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman dengan menggelar ‘Lomba Masak Pangan Lokal Berbahan Dasar Singkong’ dalam rangka peringatan 1 abad Kabupaten Sleman di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Selasa (3/5).

Ketua Pelaksana lomba, Dra Eni Harjito mengatakan bahwa lomba yang diikuti 102 peserta tersebut mampu menghasilkan beragam olahan pangan baik olahan basah maupun kering.

Menurutnya kegiatan lomba ini bertujuan memasyarakatkan pangan lokal dengan memanfaatkan bahan disekitar menjadi olahan pangan yang bergengsi dan berdaya saing dengan olahan pangan berbahan gandum serta mengurangi ketergantungan pada gandum. Sedangkan kriteria penilaian lomba ini berdasara pada kreatifitas, citarasa, packing, higienitas, dan penampilan.

“Pada event lomba ini para peserta diwajibkan menciptakan olahan pangan dengan menggunakan bahan dasar singkong minimal 50%, dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi karena bahan bakunya dari singkong maka diharapkan lomba ini mampu menumbuhkan kreatifitas para peserta yang akhirnya dapat meningkatkan pendapatan keluarga,” kata Eni.

Sementara Kabag Pemerintahan Desa Drs Mardiyana MSi mengungkapkan bahwa selain mudah didapat dengan mengkonsumsi singkong dapat menawarkan manfaat kesehatan karena kandungan vitamin, mineral dan serat di dalamnya. Terlebih singkong juga bebas gluten sehingga dapat dikonsumsi bagi pasien penyakit celiac.

Singkong juga merupakan sumber utama mineral penting bagi tubuh seperi magnesium, tembaga, besi, mangan dan kalium yang dapat membantu mengatur denyut jantung dan tekanan darah.

“Kegiatan ini sangat baik untuk melakukan inovasi pangan, namun tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menjadikan potensi produk pangan lokal ini dapat diolah secara benar menurut kesehatan, menarik minat konsumen dan aman untuk dikonsumsi,” kata Mardiyana.




BPS Sleman Terjunkan 2.255 Petugas Sensus Ekonomi

Sleman – Badan Pusat Statistik (BPS) Sleman mulai melaksanakan agenda nasional sensus ekonomi 2016. Pendataan berlangsung selama satu bulan mulai tanggal 1 sampai 31 Mei 2016.

Untuk proses pendataan ini, BPS Sleman menerjunkan petugas yang dibagi dalam 570 tim. Dari data petugas itu, sebanyak bertugas di lapangan dan 570 orang sebagai pemeriksa.

Kepala BPS Sleman, Ir Arina Yuliati menjelaskan, kegiatan sensus ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menyajikan data dasar kegiatan ekonomi masyarakat diluar sektor pertanian. Data nantinya digunakan untuk landasan penyusunan kebijakan pemerintah skala regional maupun nasional.

“Kami minta pelaku usaha kooperatif agar hasilnya bisa menunjukkan potret perekonomian. Disarankan hati-hati ketika didatangi orang yang mengaku petugas sensus, sebaiknya cek dulu surat tugasnya,” kata Arina di Sleman, Selasa (3/5).

Arina juga  menegaskan dalam proses pendataan ini, responden sama sekali tidak ditarik biaya. Kerahasiaan data juga dijamin sesuai dengan ketentuan UU Nomer 16 Tahun 1997 tentang Statistik. Selain itu, hasil sensus tidak ada kaitannya dengan masalah perpajakan.

Sasaran pendataan meliputi seluruh usaha atau perusahaan non pertanian yang berlokasi di bangunan permanen maupun non permanen. Diantaranya mall, kantor, hotel, restoran, bank, pabrik, PKL, dan pasar kaget.

Sensus juga menyasar usaha keliling seperti warung, isi ulang pulsa, dan penjaja makanan. Beberapa data yang akan ditanyakan kepada responden antara lain status badan usaha, jumlah tenaga kerja, permodalan, pengeluaran, dan investasi.

“Ada kurang lebih 8 variabel pertanyaan. Hasil sementara akan diperoleh pada Agustus mendatang, sedangkan hasil pencacahan lengkapnya baru diumumkan tahun 2018,” terang Arina.

Kasi Statistik Distribusi BPS Sleman, Iswanti menambahkan, dibanding sensus ekonomi terakhir pada tahun 2006, ada pengembangan variabel dalam proses pendataan kali ini. Khususnya menyangkut usaha online dan franchise yang beberapa tahun belakangan berkembang dengan pesat.

“Untuk usaha online memang susah karena tidak kentara. Tapi kami akan lakukan pendekatan dari bangunan ke bangunan, tiap rumah tangga sasaran juga akan ditanya kegiatan masing-masing anggota,” katanya.

Data sensus terakhir tahun 2006 menyebutkan jumlah usaha di Kabupaten Sleman ada sebanyak unit terdiri dari usaha level mikro, usaha kecil, usaha menengah, dan 305 usaha besar. Sisanya sebanyak 26 unit tidak dapat diklasifikan dalam jenis usaha apa pun.




Warga Lereng Merapi Gagas Mini Zoo Kaliurang

Sleman  – Warga lereng Gunung Merapi di Kaliurang Timur, Pakem, Kabupaten Sleman menggagas untuk membuat “mini zoo” di kawasan objek wisata Kaliurang untuk menambah daya tarik.

“Rencananya 2016 ini kawasan Kaliurang akan dilengkapi dengan ‘mini zoo’. Wahana wisata baru ini memiliki luas sekitar tiga hektare,” kata warga Kaliurang Timur penggagas “Mini Zoo” Ismu Jayoni, Senin (2/5).

Menurut Ismu, “mini zoo” Kaliurang ini nantinya akan dilengkapi dengan hewan-hewan ternak yang selama ini banyak dibudidayakan masyarakat setempat.

“Ya nanti isinya binatang atau hewan lokal, seperti sapi perah dan kambing etawa,” katanya.

Ia mengatakan, saat ini “mini zoo” Kaliurang tersebut masih dalam proses persiapan lahan yang akan digunakan.

“Lahan berlokasi di Alas Gandhok, hutan rakyat perbatasan dengan hutan lindung milik Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).‬ Lahannya seluas tiga hektare, milik beberapa warga. Sekarang baru proses pembicaraan. Tinggal mematangkannya saja,” katanya.

 Ismu mengatakan, Selain “mini zoo”, juga akan dibangun beberapa fasilitas lainnya, yang berkonsep berupa wisata alam pegunungan.

“Gardu pandang setinggi tujuh meter sudah disiapkan lokasinya, nantinya wisatawan dapat menikmati keindahan Gunung Merapi dan alam sekitarnya dari menara gardu pandang ini,” katanya.

Salah satu pemilik lahan “mini zoo” Eko Budi Nugroho, mengatakan wisata ini nantinya lebih ke konservasi. Pengunjung dapat memanfaatkannya untuk belajar mengenai alam.

 “Sebagai tempat camping, atau wisata alam lainnya seperti ‘outbond’ dan lainnya,” katanya.

 Ia mengatakan, wahana wisata baru ini sengaja dikelola mandiri tanpa bantuan investor agar bisa langsung bermanfaat untuk masyarakat setempat.

“Seperti dengan pengalaman dalam pengelolaannya, maupun agar lebih maksimal dalam menjaga lingkungan agar tak dirusak kepentingan lain,” katanya.




Generasi Muda Sleman Dihimbau Lestarikan Batik

Melihat Proses Pembuatan BatikSleman – Minat terhadap batik sebagai warisan budaya pada generasi muda sudah mulai menurun. Apalagi generasi muda saat ini sudah banyak yang enggan untuk mempelajari dan menekuni batik karena mereka menganggap bahwa menggunakan batik sudah ketinggalan jaman. Demikian diungkapkan Asisten Ekonomi,dan Pembangunan Sekda DIY Ir Gatot Saptadi MM di Galeri Batik GKBI Medari Sleman, Senin (2/5) siang.

Diungkapkan Gatot  jika melihat kebelakang, pemerintah dengan susah payah mempertahankan batik sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia hingga akhirnya UNESCO menetapkan batik sebagai Masterpices of the Oral and Intangible Heritage of Humanity.

“Menurunnya minat generasi muda terhadap batik akan memutus rantai regenerasi warisan budaya, karena dengan penetapan tersebut kita sebagai bangsa Indonesia mempunyai tanggungjawab yang besar dalam upaya menjaga warisan nusantara ini,” kata Gatot.

Karena itu untuk membangkitkan minat terhadap batik tersebut  perlu adanya sinergi antara modernitas dengan sisi klasik, unik dan tradisi luhur budaya Jawa. Dan Galeri batik GKBI sebagai wisata edukasi untuk memperkenalkan kembali pada generasi muda sebagai media pengembangan dan pembelajaran tentang batik.

“Mari kita serukan lagi kebangkitan batik Jogja dengan kebanggaan dan kecintaan terhadap generasi penerus agar mereka mau memakai batik Jogja sebagai bagian dari kontribusi bagi bangkitnya industri dan pasar batik di era bebas,” tutur Gatot.

Sementara  Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengungkapkan keprihatinanya atas menurunnya minat generasi muda terhadap batik. Menurutnya untuk menumbuhkan minat dan kecintaan generasi muda terhadap batik, pada tahun 2012 Pemkab Sleman telah mengadakan lomba desain batik.

Dari event tersebut sebanyak 7 desain motif batik Parijoto keluar sebagai juara yang akhirnya digunakan sebagai motif batik ciri khas Sleman sampai sekarang.




Sri Purnomo Didata Petugas Sensus Ekonomi 2016 dari BPS‬

Sleman – Tim petugas dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sleman yang dipimpin kepalanya Ir Arina Yuliati melakukan pendataan Sensus Ekonomi 2016 kepada Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI di ruang kerjanya, Senin (2/5).‬

‪Kepada petugas BPS,  Sri Purnomo menyampaikan bahwa dirinya saat ini belum menempati Rumah Dinas Bupati namun masih  tinggal di rumah pribadi di Jaban, Tridadi, Sleman.

Dirumah pribadinya, Sri Purnomo tinggal  bersama istri dan 2 orang anaknya serta dua orang keponakannya.‬ Sedang anak pertamanya sedang melakukan studi di luar negeri.

‪Sri Purnomo menjelaskan ada beberapa usaha yang dikelola istrinya yaitu usaha mebel di jl Magelang dan usaha kos-kosan di Sinduadi Mlati. Kepada petugas sensus tersebut, Sri Purnomo mengaku dirinya  tidak tahu detil terkait pendapatan yang didapatkan dari usaha tersebut‬.

‪”Istri saya yang ngurus semuanya, jadi saya tidak  tahu banyak. Anak saya juga kuliah nyambi usaha jasa perdagangan,” kata Sri Purnomo.‬

‪Sensus Ekonomi 2016 ini digelar serentak oleh BPS secara nasional pada 1-31 Mei 2016 ini.‬ Tujuannya adalah mendapatkan data dasar dari seluruh kegiatan ekonomi (kecuali pertanian) yang ada dalam aktivitas masyarakat.‬

‪Sehingga, nantinya terdapat gambaran level dan struktur ekonomi yang datanya bisa digunakan pemerintah untuk modal penyusunan kebijakan dan perencanaan pembangunan.‬

‪”Sasaran sensus adalah pelaku usaha, pemerintah, lembaga non profit, korporasi, hingga rumah tangga. Ada 8 variabel yang kami tanyakan, seperti kegiatan usaha utama, badan usaha, tenaga kerja, pendapatan, pengeluaran, dan sebagainya,” kata Kepala BPS
Sleman, Arina Yuliati.

Sri Purnomo sendiri ketika dimintai tanggapannya tentang pelaksanaan sensus ekonomi ini menyatakan dirinya tidak merasa terganggu dengan kedatangan petugas sensus ekonomi. Sebab petugas bertanya apa adanya dan low profil, sehingga sudah sepatutnya memberikan data apa adanya dan tidak ada muatan apa-apa.

“Dengan pendataan ini Pemerintah Pusat hanya untuk mengetahui kegiatan ekonomi bangsa Indonesia,” tutur Sri Purnomo.

Karena itu Sri Purnomo mengajak masyarakat Sleman kalau didatangi petugas sensus dari BPS dimohon untuk memberikan informasi data apa adanya sebab hasil pendataan akan berguna untuk kebijakan pemerintah ke depan.