Sleman dikunjungi 299.568 wisatawan selama libur lebaran

Sleman – Selama libur lebaran 2016 ini, destinasi wisata di Kabupaten Sleman dikunjungi setidaknya  wisatawan. Angka tersebut masih sementara mengingat masih ada beberapa destinasi yang belum mengirimkan angka kunjungannya. Demikian dinyatakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ir. AA Ayu Laksmidewi TP, MM, Selasa (12/7).

Penyebaran kunjungan wisatawan selama libur lebaran 2016 silam meliputi objek wisata Kaliurang sebanyak  wisatawan yang diantaranya Museum Ullen Sentalu dan Museum Gempa Prof dr Sarwidi 38 wisatawan, Volcano Tour Cangktingan , Museum yang terdiri atas Monjali , Museum Gunungapi Merapi (MGM) , Museum Dirgantara Mandala  , dan Museum Affandi 435, wisatawan.

Sedangkan untuk kategori Candi dan Ramayana terakumulasi wisatawan yang terdiri atas atas Candi Prambanan , Candi Ratu Boko , Candi Ijo , Sendratari Ramayana , Candi Barong , Candi Miri wisatawan.

Untuk kelompok desa wisata terakumulasi wisatawan, yang terdiri atas Desa Wisata Breksi , Domes , Kadisobo , Brajan , Sukunan 513, Jethak 431, Pentingsari 425, Grogol 422, Gamplong 400, Pulesari 337, Srowolan 310, Kelor 254, Garongan 154, Garongan 145, Pancoh 100 , Tunggularum 80, Nawung 40 dan Tanjung 27 wisatawan.

Volcano Tour Cangkringan dikunjungi wisatawan yang terdiri atas pengunjung kawasn Kinahrejo sebanyak dan pengguna jeep wisata sebanyak museum sebanyak  wisatawan yang terdiri atas Museum Gunungapi Merapi (MGM) , Monumen Jogja Kembali (Monjali) , Museum Affandi 435,  dan Museum Dirgantara Mandala wisatawan.

Agrowisata Bhumi Merapi dikunjungi wisatawan, Sindu Kusuma Edupark , Jogja Bay Water Park , Taman Pelangi wisatawan. Selain itu destinasi minat khusus yang masih perawan diwilayah Sambirejo Prambanan yaitu Spot Riyadi dikunjungi wisatawan, Batu Kapal wisatawan serta Rumah Budaya Omah Petruk dengan 400 wisatawan.




Sawah Terpapar Bahan Kimia, Belut Makin Menghilang di Sleman

Sleman – Kabupaten Sleman khususnya Kecamatan Godean sudah terkenal sebagai produsen keripik belut. Namun ternyata, keberadaan belut di areal persawahan di Sleman saat ini diyakini semakin menghilang.

‪Ekosistem yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia disinyalir menjadi penyebab utamanya. Kepala Bidang Perikanan, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehuatanan (DPPK) Sleman, Suparmono mengatakan, sebenarnya budidaya belut muncul secara alami di areal persawahan yang luas, berair jernih dan alami.‬

‪Hanya saja, kondisi persawahan Sleman saat ini semakin terpapar bahan pupuk kimia dan pestisida untuk mendorong tumbuh kembang tanaman. Hal ini berimbas pada hilangnya belut dari area setempat karena bermigrasi ke wilayah lain yang masih alami.‬

‪”Belut sekarang sudah ngga ada di persawahan Sleman karena penggunaan pupuk kimia. Kalaupun ada, populasinya pastilah sedikit,” kata Suparmono, Selasa (12/7).

‪Menurut Suparmono, belut termasuk hewan yang sulit diterapkan rekayasa teknologi budidaya. Hingga kini belum ditemukan teknologi baru dalam rekayasa pembiakan hewan bertubuh licin itu. Jalan paling gampang dan efektif dikatakan Suparmono adalah dengan pengembangan sistem minapadi yang organik, tanpa bahan kimia. Minapadi disebutnya telah terbukti sangat disukai belut untuk dijadikan habitat hidup dan berkembang biak.

Saat ini, Sleman memiliki luasan lahan minapadi sekitar 98 hektar. Dinas sendiri terus mendorong masyarakat untuk memperluas cakupan area minapadi tersebut. Tahun ini, Kementerian Pertanian sendiri akan memberi backup pengadaan lahan minapadi seluas 65 hektare. Sekitar 40 hektare di antaranya berada di Seyegan dan sisanya ada di Moyudan dan Minggir.‬

‪”Kalau minapadi ini bisa lebih dikembangkan, mungkin 2-3 tahun ke depan Sleman bisa jadi daerah produsen belut,” kata Suparmono.‬

Diakui Wati, pengusaha keripik belut di Dusun Klaci II, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, selama ini dirinya selalu mengambil belut segar dari wilayah Jawa Timur dan sedikit dari Jawa Barat serta Cilacap. Hal ini dilakukan mengingat ketersediaan bahan baku di Sleman sangat tidak memadai jumlah produksinya.‬

“Bahan baku tetap ambil dari luar. Sekali ambil dari Jawa Timur bisa mencapai 1 ton, untuk kebutuhan dua hari,” katanya.




Pemkab Sleman Optimis Surplus Beras Tahun Ini

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan, masih optimis mampu mewujudkan surplus beras tahun 2016 ini.‬ ‪Optimisme Pemkab Sleman untuk mencapai surplus beras tahun ini, diungkapkan Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman, Ir Widi Sutikno MSi, terkait dengan perubahan pola tanam padi diwilayahnya.

“Sebagian besar lahan padi di Sleman, tingkat kebutuhan airnya saat ini sudah terpenuhi saluran irigasi yang ada, sehingga untuk mengupayakan  swasembada pangan tahun 2016 ini, Sleman optimis mampu kembali melanjutkan surplus beras, seperti tahun lalu yang mencapai 107 ribu ton lebih,” kata Widi Sutikno di Sleman, Selasa (12/7).‬

‪Dijelaskan Widi Sutikno, terkait upaya peningkatan produksi pangan tersebut, Pemkab Sleman, telah memberikan bantuan berbagai peralatan pertanian, mulai traktor, pompa air hingga sarana produksi dan pupuk.‬

‪”Maksudnya ini untuk menciptakan effisiensi bidang pertanian terkait semakin sedikitnya tenaga kerja pertanian serta jumlah lahan yang terus menyusut,” tambahnya.‬

‪Sementara untuk lebih mendongkrak produksi pertanian para petani di Sleman diminta melakukan budidaya mina padi serta penanaman padi dengan sistem jajar legowo, karena dengan teknik baru tersebut terbukti mampu meningkatkan produktivitas, dibandingkan dengan budidaya padi secara konvensional.