Saksikan Festival Kesenian Religius di Desa Wisata Grogol

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman akan menggelar Festival Kesenian Religius, pada Jumat dan Sabtu, 15 – 16 Juli 2016 jam WIB hingga selesai di Desa Wisata Grogol, Margodadi Seyegan Sleman. Festival kesenian religius tersebut akan diikuti oleh 17 grup dari 17 kecamatan se Kabupaten Sleman. Demikian dinyatakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ayu Laksmidewi TP, MM, dikantornya, Rabu (13/7).

Ayu menambahkan bahwa diadakannya Festival Kesenian Religius Kabupaten Sleman ini diharapkan selain menjadi ajang tampil , memupuk kreatifitas dan ajang apresiasi bagi pelaku dan pecinta seni. Selain itu diharapkan juga dapat menjadi hiburan bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Festival kesenian religius ini akan memperebutkan trophy kejuaraan dan uang pembinaan sejumlah juta, dengan peruntukan Penyaji Terbaik I mendapatkan hadiah , Penyaji Terbaik II  , dan penyaji terbaik III sebesar . Sedangkan untuk Juara Harapan I mendapatkan hadiah , Juara Harapan II  , dan Juara Harapan  III  Rp. ,-

Festival Kesenian Religius Kabupaten Sleman 2016 akan berlangsung selama dua hari yaitu Jum’at dan Sabtu, 15 – 16 Juli 2016 mulai jam hingga selesai di di Desa Wisata Grogol, Margodadi Seyegan. Festival Kesenian Religius ini diikuti oleh 17 grup yang direkomendasikan oleh masing-masing kecamatan.

Pada hari Jum’at 15 Juli 2016 akan ditampilkan  perwakilan dari  kontingen Kecamatan Turi, Kecamatan Pakem, Kecamatan Godean, dan Kecamatan Ngaglik. Sedangkan pada hari Sabtu 16 Juli 2016 akan tampil perwakilan dari kontingen kecamatan Sleman, Minggir, Prambanan, Moyudan, Gamping, Cangkringan, dan Mlati.

Adapun dewan juri yang akan dihadirkan dalam kegiatan tersebut adalah DR Kuswarsantya dari UNY, dan Dra. Daruni, dan Sancaka, dari ISI Yogyakarta.




17 Grup Ikut Festival Jathilan Tingkat Kabupaten Sleman

13631483_1329447967070421_2763514325159579242_nSleman – Sebanyak 17 grup kesenian jathilan dari 17 kecamatan se Kabupaten Sleman akan berunjuk ketrampilan dan berlaga dalam event Festival Jathilan Sleman Tahun 2016, Kamis – Jumat, 14 – 15 Juli 2016 di Lapangan Parkir Utara Lapangan Denggung Beran Tridadi Sleman. Ajang festival jathilan ini untuk memperebutkan tropi kejuaraan dan uang pembinaan senilai Rp 25 juta.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, Rabu (13/7) Ayu menambahkan bahwa Festival Jathilan Kabupaten Sleman merupakan salah satu upaya untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisional kerakyatan khusunya jathilan dalam bingkai kearifan lokal seni budaya dalam rangka mendukung konsep keistimewaan Yogyakarta di wilayah Kabupaten Sleman.

Selain itu juga untuk membangkitkan kembali grup-grup jathilan di wilayah Kabupaten Sleman dalam iklim kompetisi positif, serta memberikan ruang gerak dalam berekspresi bagi para seniman jathilan.

Festival Jathilan Kabupaten Sleman 2016 akan berlangsung selama dua hari yaitu Kamis dan Jumat, 15 – 16 Juli 2016 mulai pukul WIB hingga selesai di parkir utara Lapangan Denggung Beran Tridadi Sleman. Festival Jathilan ini diikuti oleh 17 grup yang direkomendasikan oleh masing-masing kecamatan.

Ayu mengharapkan bahwa event spesial di akhir pekan yang berupa Festival Jathilan Sleman 2016 dapat menjadikan ajang hiburan sekaligus wahana apresiasi bagi para pelaku dan pecinta seni serta wisatawan baik domestik maupun manca negara.

Pada hari Kamis (14/7) akan tampil 9 grup jathilan, yaitu Kudho Nalendra dari Kecamatan Moyudan, Sekar Jati dari Ngalik, Kudho Muda Satriya dari Ngemplak, Kudho Prasetya dari Gamping, Suwito Raharjo dari Kecamatan Sleman, Turonggo Cahyo Mudo dari Seyegan, Mustiko Prasetyo dari Depok, Turangga Manis dari Pakem, dan Turonggo Mudho Satya dari Prambanan.

Sedangkan pada hari Jumat (15/7) akan tampil 8 grup jathilan, yaitu Turonggo Mudo Budoya dari Godean, Kudho Wiromo dari Berbah, Ria Panji Kawedar dari Tempel, Bekso Satriyo Mudo dari Mlati, Puspito Bawono dari Minggir, Kudho Manunggal dari Turi, Kudho Bramuda dari Kalasan, Turonggo Wahyu Budoyo dari Cangkringan.

Selain itu untuk memeriahkan acara tersebut sekaligus sebagai penutup kegiatan akan ditampilkan grup tamu Angguk Si Lestari Pripih dari Kulon Progo. Penyaji Terbaik I mendapatkan hadiah sebesar Rp 7,5 juta, Penyaji Terbaik II Rp 6 juta, dan Penyaji Terbaik III Rp 5,5 juta. Sedangkan untuk Juara Harapan I mendapatkan hadiah sebesar Rp 4 juta, Juara Harapan II Rp 3,5 juta, dan Juara Harapan III Rp 3 juta.

Adapun dewan juri yang akan dihadirkan dalam kegiatan tersebut adalah DR. Kuswarsantya dari akademisi, Drs Gandung Djatmiko dan Dra Daruni dari ISI Yogyakarta.




‪Polsek Pakem Gagalkan Pengiriman Sabu-Sabu ke Lapas Narkoba

Sleman – Polsek Pakem, Selasa (12/7) menggagalkan upaya penyelundupan paket narkoba jenis sabu-sabu ke dalam Lapas Narkoba Sleman. Sabu-sabu itu akan dikirim ke dalam gedung penjara dengan cara dimasukkan ke dalam rambak (kerupuk kulit) dan akan diserahkan sebagai oleh-oleh untuk salah satu narapidana.

Kapolsek Pakem, Kompol Sudaryanto, Rabu (13/7) mengatakan, rambak berisi sabu tersebut dibawa oleh kurir wanita berinisial WL (22) saat ada kegiatan besuk bebas merayakan Idul Fitri. WL sedianya akan membesuk salah satu warga binaan di Lapas Pakem.

“Setelah menerima informasi adanya rencana penyelundupan, kami segera mengirimkan anggota ke Lapas Narkoba yang berjarak sekitar 200 meter dari Polsek Pakem,” jelasnya.

Ia menambahkan polisi kemudian memeriksa barang kiriman pengunjung satu per satu. Salah satunya kerupuk rambak tersebut. Setelah dibuka ternyata di dalam kerupuk rambak itu terdapat kristal bening diduga sabu-sabu yang akan dikirimkan kepada salah satu penghuni Lapas Narkoba,” katanya.

Dari pemeriksaan kerupuk rambak, ujarnya, ditemukan 11 paket sabu-sabu. Akhirnya polisi kemudian memeriksa pembawa barang kiriman itu, yakni WL, warga Temanggung Jawa Tengah serta seorang lainnya.

“Keduanya masih kami periksa intensif dan narapidana yang akan menerima pun juga kami periksa,” katanya. Namun ia enggan menjelaskan hasil pemeriksaan sementara terhadap ketiga orang tersebut.

Polisi selain mengamankan 11 paket sabu-sabu dengan berat 10,9 gram juga satu  paket yang diduga ekstasi berjumlah 10 butir yang juga berusaha diselundupkan dalam kerupuk rambak tersebut. Kini polisi dari Polsek Pakem masih melakukan pengembangan pada WL yang diduga merupakan kurir yang dikendalikan sindikat dalam lapas.




Industri Pengolahan Ikan Meningkat‬

20160621_124346Sleman – Industri pengolahan hasil budidaya perikanan di Kabupaten Sleman mencatat tren pertumbuhan yang positif.‬ ‪Saat ini, sudah ada sekitar 40 orang tergabung dalam Asosiasi Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan Kabupaten Sleman (ASPPIN). Bahkan omset yang mereka peroleh mencapai Rp 20 miliar.‬

‪Menurut Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DP2K) Sleman, Ir Widi Sutikno MSi, peningkatan omset ini sejalan dengan perkembangan DIY sebagai daerah tujuan wisata.

“Industri pengolahan di sektor perikanan tumbuh bagus. Saya menilai ASPPIN telah siap masuk ke pasar bebas,” kata Widi, Rabu (13/7).‬

‪Widi memandang keberadaan industri pengolah perikanan sudah memunculkan alternatif pasar. Dari sisi pendapatan, bisa memberikan keuntungan lebih karena nilai ekonomis produk meningkat.‬

‪Hal itu didukung kesadaran pelaku industri dengan mengurus perizinan, dan menyiapkan tempat produksi yang higienis. Dari pihak Pemerintah Kabupaten memberikan dukungan dengan mengadakan pelatihan rutin tahunan dibiayai APBD.‬

‪Di lain sisi, berkembangnya industri olahan perikanan ternyata potensial untuk mendukung sektor pariwisata. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, dalam Perda telah diatur zonasi basis wisata. Untuk Sleman wilayah barat, pengembangan pariwisata diarahkan pada basis pertanian.‬

‪Hal ini juga didukung berkembangnya sejumlah desa wisata di wilayah tersebut seperti Grogol.  “Di zona barat, potensi perikanan dan pertaniannya sudah ada ditambah kegiatan budaya masyarakatnya. Itu cukup potensial untuk dikembangkan menjadi daerah wisata,” kata Ayu.‬

‪Namun diakui upaya itu tidak mudah karena menghadapi tantangan alih fungsi lahan. Karena itu untuk mewujudkan wisata berbasis zonasi bidang tersebut dibutuhkan kerjasama lintas sektor termasuk dengan masyarakat.