Setelah Lebaran Permohonan Administrasi Kependudukan Meningkat

Sleman – Permohon administrasi kependudukan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Sleman mengalami peningkatan cukup signifikan setelah lebaran.‬ ‪Kepala Disdukcapil Kabupaten Sleman, Supardi SH mengatakan permohonan administrasi kependudukan pasca lebaran naik 100 persen lebih per hari.‬

‪”Pada hari-hari biasa rata-rata hanya 200 pemohon per hari, namun setelah lebaran ini bisa sampai 500 pemohon per hari,” kata Supardi, Jumat (15/7).‬

‪Menurut Supardi, permohonan administrasi kependudukan meliputi pembuatan kartu keluarga (KK), rekam data elektronik, pembuatan akta kelahiran sampai dengan pembuatan e-KTP.‬

‪”Terjadinya lonjakan permohonan ini hampir pasti terjadi setiap habis lebaran, karena pada masa libur lebaran masyarakat lebih memilih menunda mengurus administrasi kependudukan,” katanya.‬

‪Supardi menambahkan, membludaknya pemohon, sudah diantisipasi sebelumnya. Keberadaan blangko, tinta kertas dan petugas sudah disiapkan.‬

‪”Bahkan petugas, pada hari pertama setelah cuti bersama lebaran sudah penuh melayani permohonan adiministrasi kependudukan. Petugas tidak ada yang izin. Sementara blangko kami sudah stok 26 ribu,” katanya.‬

‪Sementara itu terkait dengan tahun ajaran baru, Disdukcapil Kabupaten Sleman belum melihat adanya lonjakan dari pelajar ataupun mahasiswa luar daerah yang mengajukan surat keterangan tinggal sementara (SKTS).‬

‪”Jumlah pemohon SKTS terbilang cukup minim yakni 200 pemohon setiap bulan. Setiap tahun angkanya menurun,” kata Kepala Seksi Administrasi Kependudukan, Disdukcapil Kabupaten Sleman Endang Mulatsih.‬

‪Menurut dia, pada 2014 jumlah pelayanan SKTS sebanyak sedangkan pada 2015 turun menjadi pemohon.‬

‪”Kami mengalami kendala untuk mendata penduduk sementara. Sebab kebanyakan penduduk sementara di Sleman berasal dari kalangan mahasiswa yang mobilitasnya cukup tinggi. Bisa saja tiga bulan sekali pindah indekos. Jadi sulit juga mendatanya,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, guna mengatasi kendala tersebut, pihaknya berusaha menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi di wilayah setempat untuk melakukan pendataan mahasiswa luar Sleman.‬

‪”Saat ini kami baru mengetahui data di UGM saja. Selama tiga tahun ini jumlah mahasiswa luar Sleman di UGM berjumlah 60 ribu orang,” katanya.




‪Disbudpar Sleman Belum Berlakukan Retribusi Candi

Sleman – ‪Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman belum akan memberlakukan retribusi masuk sejumlah situs sejarah budaya, seperti candi, yang saat ini mulai banyak dikunjungi wisatawan.‬

‪”Situs budaya merupakan aset yang umurnya lebih dari seratus tahun, perlu secara kehati-hatian untuk pemanfaatannya,” kata Kepala Disbudpar Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM di Sleman, Kamis (14/7).

‪Ayu mengatakan aset wisata cagar budaya harus dijaga, apalagi yang sudah berusia ratusan tahun. Ada ketentuan teknisnya dalam pemanfaatan aset itu.‬

‪”Ketentuan teknis tersebut, seperti ketika wisatawan akan masuk ke museum. Yang museum tersebut memberlakukan tidak boleh ada lebih dari seratus orang setiap kali masuk. Atau juga ketika masuk ke suatu candi, harus memakai alas kaki karet. Itu kan juga pasti ada suatu alasannya,” katanya.‬

‪Ayu menambahkan pemugaran suatu candi atau situs cagar budaya tidak mudah, serta membutuhkan waktu yang lama.‬

‪”Karena itulah tidak serta merta, dalam memanfaatkan candi. Dan kita sudah memiliki slogan, `Sleman wisata seribu candi`,” katanya.‬

‪Pihaknya akan bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jogja, instansi yang menangani situs-situs candi, untuk berkoordinasi mengenai bagaimana ketentuannya dalam pemanfaatan candi.‬

‪”Kita harus mengacu ketentuan teknis ke BPCB,” katanya.‬

‪Ayu mengakui saat ini masih banyak situs candi belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), seperti di Candi Ijo, Barong Kecamatan Prambanan, Candi Sambisari, Kecamatan Kalasan dan beberapa lainnya yang masih digratiskan atau hanya retribusi sukarela.




Saksikan Festival Kesenian Religius di Desa Wisata Grogol

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman akan menggelar Festival Kesenian Religius, pada Jumat dan Sabtu, 15 – 16 Juli 2016 jam WIB hingga selesai di Desa Wisata Grogol, Margodadi Seyegan Sleman. Festival kesenian religius tersebut akan diikuti oleh 17 grup dari 17 kecamatan se Kabupaten Sleman. Demikian dinyatakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ayu Laksmidewi TP, MM, dikantornya, Rabu (13/7).

Ayu menambahkan bahwa diadakannya Festival Kesenian Religius Kabupaten Sleman ini diharapkan selain menjadi ajang tampil , memupuk kreatifitas dan ajang apresiasi bagi pelaku dan pecinta seni. Selain itu diharapkan juga dapat menjadi hiburan bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Festival kesenian religius ini akan memperebutkan trophy kejuaraan dan uang pembinaan sejumlah juta, dengan peruntukan Penyaji Terbaik I mendapatkan hadiah , Penyaji Terbaik II  , dan penyaji terbaik III sebesar . Sedangkan untuk Juara Harapan I mendapatkan hadiah , Juara Harapan II  , dan Juara Harapan  III  Rp. ,-

Festival Kesenian Religius Kabupaten Sleman 2016 akan berlangsung selama dua hari yaitu Jum’at dan Sabtu, 15 – 16 Juli 2016 mulai jam hingga selesai di di Desa Wisata Grogol, Margodadi Seyegan. Festival Kesenian Religius ini diikuti oleh 17 grup yang direkomendasikan oleh masing-masing kecamatan.

Pada hari Jum’at 15 Juli 2016 akan ditampilkan  perwakilan dari  kontingen Kecamatan Turi, Kecamatan Pakem, Kecamatan Godean, dan Kecamatan Ngaglik. Sedangkan pada hari Sabtu 16 Juli 2016 akan tampil perwakilan dari kontingen kecamatan Sleman, Minggir, Prambanan, Moyudan, Gamping, Cangkringan, dan Mlati.

Adapun dewan juri yang akan dihadirkan dalam kegiatan tersebut adalah DR Kuswarsantya dari UNY, dan Dra. Daruni, dan Sancaka, dari ISI Yogyakarta.




17 Grup Ikut Festival Jathilan Tingkat Kabupaten Sleman

13631483_1329447967070421_2763514325159579242_nSleman – Sebanyak 17 grup kesenian jathilan dari 17 kecamatan se Kabupaten Sleman akan berunjuk ketrampilan dan berlaga dalam event Festival Jathilan Sleman Tahun 2016, Kamis – Jumat, 14 – 15 Juli 2016 di Lapangan Parkir Utara Lapangan Denggung Beran Tridadi Sleman. Ajang festival jathilan ini untuk memperebutkan tropi kejuaraan dan uang pembinaan senilai Rp 25 juta.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, Rabu (13/7) Ayu menambahkan bahwa Festival Jathilan Kabupaten Sleman merupakan salah satu upaya untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisional kerakyatan khusunya jathilan dalam bingkai kearifan lokal seni budaya dalam rangka mendukung konsep keistimewaan Yogyakarta di wilayah Kabupaten Sleman.

Selain itu juga untuk membangkitkan kembali grup-grup jathilan di wilayah Kabupaten Sleman dalam iklim kompetisi positif, serta memberikan ruang gerak dalam berekspresi bagi para seniman jathilan.

Festival Jathilan Kabupaten Sleman 2016 akan berlangsung selama dua hari yaitu Kamis dan Jumat, 15 – 16 Juli 2016 mulai pukul WIB hingga selesai di parkir utara Lapangan Denggung Beran Tridadi Sleman. Festival Jathilan ini diikuti oleh 17 grup yang direkomendasikan oleh masing-masing kecamatan.

Ayu mengharapkan bahwa event spesial di akhir pekan yang berupa Festival Jathilan Sleman 2016 dapat menjadikan ajang hiburan sekaligus wahana apresiasi bagi para pelaku dan pecinta seni serta wisatawan baik domestik maupun manca negara.

Pada hari Kamis (14/7) akan tampil 9 grup jathilan, yaitu Kudho Nalendra dari Kecamatan Moyudan, Sekar Jati dari Ngalik, Kudho Muda Satriya dari Ngemplak, Kudho Prasetya dari Gamping, Suwito Raharjo dari Kecamatan Sleman, Turonggo Cahyo Mudo dari Seyegan, Mustiko Prasetyo dari Depok, Turangga Manis dari Pakem, dan Turonggo Mudho Satya dari Prambanan.

Sedangkan pada hari Jumat (15/7) akan tampil 8 grup jathilan, yaitu Turonggo Mudo Budoya dari Godean, Kudho Wiromo dari Berbah, Ria Panji Kawedar dari Tempel, Bekso Satriyo Mudo dari Mlati, Puspito Bawono dari Minggir, Kudho Manunggal dari Turi, Kudho Bramuda dari Kalasan, Turonggo Wahyu Budoyo dari Cangkringan.

Selain itu untuk memeriahkan acara tersebut sekaligus sebagai penutup kegiatan akan ditampilkan grup tamu Angguk Si Lestari Pripih dari Kulon Progo. Penyaji Terbaik I mendapatkan hadiah sebesar Rp 7,5 juta, Penyaji Terbaik II Rp 6 juta, dan Penyaji Terbaik III Rp 5,5 juta. Sedangkan untuk Juara Harapan I mendapatkan hadiah sebesar Rp 4 juta, Juara Harapan II Rp 3,5 juta, dan Juara Harapan III Rp 3 juta.

Adapun dewan juri yang akan dihadirkan dalam kegiatan tersebut adalah DR. Kuswarsantya dari akademisi, Drs Gandung Djatmiko dan Dra Daruni dari ISI Yogyakarta.




‪Polsek Pakem Gagalkan Pengiriman Sabu-Sabu ke Lapas Narkoba

Sleman – Polsek Pakem, Selasa (12/7) menggagalkan upaya penyelundupan paket narkoba jenis sabu-sabu ke dalam Lapas Narkoba Sleman. Sabu-sabu itu akan dikirim ke dalam gedung penjara dengan cara dimasukkan ke dalam rambak (kerupuk kulit) dan akan diserahkan sebagai oleh-oleh untuk salah satu narapidana.

Kapolsek Pakem, Kompol Sudaryanto, Rabu (13/7) mengatakan, rambak berisi sabu tersebut dibawa oleh kurir wanita berinisial WL (22) saat ada kegiatan besuk bebas merayakan Idul Fitri. WL sedianya akan membesuk salah satu warga binaan di Lapas Pakem.

“Setelah menerima informasi adanya rencana penyelundupan, kami segera mengirimkan anggota ke Lapas Narkoba yang berjarak sekitar 200 meter dari Polsek Pakem,” jelasnya.

Ia menambahkan polisi kemudian memeriksa barang kiriman pengunjung satu per satu. Salah satunya kerupuk rambak tersebut. Setelah dibuka ternyata di dalam kerupuk rambak itu terdapat kristal bening diduga sabu-sabu yang akan dikirimkan kepada salah satu penghuni Lapas Narkoba,” katanya.

Dari pemeriksaan kerupuk rambak, ujarnya, ditemukan 11 paket sabu-sabu. Akhirnya polisi kemudian memeriksa pembawa barang kiriman itu, yakni WL, warga Temanggung Jawa Tengah serta seorang lainnya.

“Keduanya masih kami periksa intensif dan narapidana yang akan menerima pun juga kami periksa,” katanya. Namun ia enggan menjelaskan hasil pemeriksaan sementara terhadap ketiga orang tersebut.

Polisi selain mengamankan 11 paket sabu-sabu dengan berat 10,9 gram juga satu  paket yang diduga ekstasi berjumlah 10 butir yang juga berusaha diselundupkan dalam kerupuk rambak tersebut. Kini polisi dari Polsek Pakem masih melakukan pengembangan pada WL yang diduga merupakan kurir yang dikendalikan sindikat dalam lapas.