Industri Pengolahan Ikan Meningkat‬

20160621_124346Sleman – Industri pengolahan hasil budidaya perikanan di Kabupaten Sleman mencatat tren pertumbuhan yang positif.‬ ‪Saat ini, sudah ada sekitar 40 orang tergabung dalam Asosiasi Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan Kabupaten Sleman (ASPPIN). Bahkan omset yang mereka peroleh mencapai Rp 20 miliar.‬

‪Menurut Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DP2K) Sleman, Ir Widi Sutikno MSi, peningkatan omset ini sejalan dengan perkembangan DIY sebagai daerah tujuan wisata.

“Industri pengolahan di sektor perikanan tumbuh bagus. Saya menilai ASPPIN telah siap masuk ke pasar bebas,” kata Widi, Rabu (13/7).‬

‪Widi memandang keberadaan industri pengolah perikanan sudah memunculkan alternatif pasar. Dari sisi pendapatan, bisa memberikan keuntungan lebih karena nilai ekonomis produk meningkat.‬

‪Hal itu didukung kesadaran pelaku industri dengan mengurus perizinan, dan menyiapkan tempat produksi yang higienis. Dari pihak Pemerintah Kabupaten memberikan dukungan dengan mengadakan pelatihan rutin tahunan dibiayai APBD.‬

‪Di lain sisi, berkembangnya industri olahan perikanan ternyata potensial untuk mendukung sektor pariwisata. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, dalam Perda telah diatur zonasi basis wisata. Untuk Sleman wilayah barat, pengembangan pariwisata diarahkan pada basis pertanian.‬

‪Hal ini juga didukung berkembangnya sejumlah desa wisata di wilayah tersebut seperti Grogol.  “Di zona barat, potensi perikanan dan pertaniannya sudah ada ditambah kegiatan budaya masyarakatnya. Itu cukup potensial untuk dikembangkan menjadi daerah wisata,” kata Ayu.‬

‪Namun diakui upaya itu tidak mudah karena menghadapi tantangan alih fungsi lahan. Karena itu untuk mewujudkan wisata berbasis zonasi bidang tersebut dibutuhkan kerjasama lintas sektor termasuk dengan masyarakat.




Sleman dikunjungi 299.568 wisatawan selama libur lebaran

Sleman – Selama libur lebaran 2016 ini, destinasi wisata di Kabupaten Sleman dikunjungi setidaknya  wisatawan. Angka tersebut masih sementara mengingat masih ada beberapa destinasi yang belum mengirimkan angka kunjungannya. Demikian dinyatakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ir. AA Ayu Laksmidewi TP, MM, Selasa (12/7).

Penyebaran kunjungan wisatawan selama libur lebaran 2016 silam meliputi objek wisata Kaliurang sebanyak  wisatawan yang diantaranya Museum Ullen Sentalu dan Museum Gempa Prof dr Sarwidi 38 wisatawan, Volcano Tour Cangktingan , Museum yang terdiri atas Monjali , Museum Gunungapi Merapi (MGM) , Museum Dirgantara Mandala  , dan Museum Affandi 435, wisatawan.

Sedangkan untuk kategori Candi dan Ramayana terakumulasi wisatawan yang terdiri atas atas Candi Prambanan , Candi Ratu Boko , Candi Ijo , Sendratari Ramayana , Candi Barong , Candi Miri wisatawan.

Untuk kelompok desa wisata terakumulasi wisatawan, yang terdiri atas Desa Wisata Breksi , Domes , Kadisobo , Brajan , Sukunan 513, Jethak 431, Pentingsari 425, Grogol 422, Gamplong 400, Pulesari 337, Srowolan 310, Kelor 254, Garongan 154, Garongan 145, Pancoh 100 , Tunggularum 80, Nawung 40 dan Tanjung 27 wisatawan.

Volcano Tour Cangkringan dikunjungi wisatawan yang terdiri atas pengunjung kawasn Kinahrejo sebanyak dan pengguna jeep wisata sebanyak museum sebanyak  wisatawan yang terdiri atas Museum Gunungapi Merapi (MGM) , Monumen Jogja Kembali (Monjali) , Museum Affandi 435,  dan Museum Dirgantara Mandala wisatawan.

Agrowisata Bhumi Merapi dikunjungi wisatawan, Sindu Kusuma Edupark , Jogja Bay Water Park , Taman Pelangi wisatawan. Selain itu destinasi minat khusus yang masih perawan diwilayah Sambirejo Prambanan yaitu Spot Riyadi dikunjungi wisatawan, Batu Kapal wisatawan serta Rumah Budaya Omah Petruk dengan 400 wisatawan.




Sawah Terpapar Bahan Kimia, Belut Makin Menghilang di Sleman

Sleman – Kabupaten Sleman khususnya Kecamatan Godean sudah terkenal sebagai produsen keripik belut. Namun ternyata, keberadaan belut di areal persawahan di Sleman saat ini diyakini semakin menghilang.

‪Ekosistem yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia disinyalir menjadi penyebab utamanya. Kepala Bidang Perikanan, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehuatanan (DPPK) Sleman, Suparmono mengatakan, sebenarnya budidaya belut muncul secara alami di areal persawahan yang luas, berair jernih dan alami.‬

‪Hanya saja, kondisi persawahan Sleman saat ini semakin terpapar bahan pupuk kimia dan pestisida untuk mendorong tumbuh kembang tanaman. Hal ini berimbas pada hilangnya belut dari area setempat karena bermigrasi ke wilayah lain yang masih alami.‬

‪”Belut sekarang sudah ngga ada di persawahan Sleman karena penggunaan pupuk kimia. Kalaupun ada, populasinya pastilah sedikit,” kata Suparmono, Selasa (12/7).

‪Menurut Suparmono, belut termasuk hewan yang sulit diterapkan rekayasa teknologi budidaya. Hingga kini belum ditemukan teknologi baru dalam rekayasa pembiakan hewan bertubuh licin itu. Jalan paling gampang dan efektif dikatakan Suparmono adalah dengan pengembangan sistem minapadi yang organik, tanpa bahan kimia. Minapadi disebutnya telah terbukti sangat disukai belut untuk dijadikan habitat hidup dan berkembang biak.

Saat ini, Sleman memiliki luasan lahan minapadi sekitar 98 hektar. Dinas sendiri terus mendorong masyarakat untuk memperluas cakupan area minapadi tersebut. Tahun ini, Kementerian Pertanian sendiri akan memberi backup pengadaan lahan minapadi seluas 65 hektare. Sekitar 40 hektare di antaranya berada di Seyegan dan sisanya ada di Moyudan dan Minggir.‬

‪”Kalau minapadi ini bisa lebih dikembangkan, mungkin 2-3 tahun ke depan Sleman bisa jadi daerah produsen belut,” kata Suparmono.‬

Diakui Wati, pengusaha keripik belut di Dusun Klaci II, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, selama ini dirinya selalu mengambil belut segar dari wilayah Jawa Timur dan sedikit dari Jawa Barat serta Cilacap. Hal ini dilakukan mengingat ketersediaan bahan baku di Sleman sangat tidak memadai jumlah produksinya.‬

“Bahan baku tetap ambil dari luar. Sekali ambil dari Jawa Timur bisa mencapai 1 ton, untuk kebutuhan dua hari,” katanya.




Pemkab Sleman Optimis Surplus Beras Tahun Ini

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan, masih optimis mampu mewujudkan surplus beras tahun 2016 ini.‬ ‪Optimisme Pemkab Sleman untuk mencapai surplus beras tahun ini, diungkapkan Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman, Ir Widi Sutikno MSi, terkait dengan perubahan pola tanam padi diwilayahnya.

“Sebagian besar lahan padi di Sleman, tingkat kebutuhan airnya saat ini sudah terpenuhi saluran irigasi yang ada, sehingga untuk mengupayakan  swasembada pangan tahun 2016 ini, Sleman optimis mampu kembali melanjutkan surplus beras, seperti tahun lalu yang mencapai 107 ribu ton lebih,” kata Widi Sutikno di Sleman, Selasa (12/7).‬

‪Dijelaskan Widi Sutikno, terkait upaya peningkatan produksi pangan tersebut, Pemkab Sleman, telah memberikan bantuan berbagai peralatan pertanian, mulai traktor, pompa air hingga sarana produksi dan pupuk.‬

‪”Maksudnya ini untuk menciptakan effisiensi bidang pertanian terkait semakin sedikitnya tenaga kerja pertanian serta jumlah lahan yang terus menyusut,” tambahnya.‬

‪Sementara untuk lebih mendongkrak produksi pertanian para petani di Sleman diminta melakukan budidaya mina padi serta penanaman padi dengan sistem jajar legowo, karena dengan teknik baru tersebut terbukti mampu meningkatkan produktivitas, dibandingkan dengan budidaya padi secara konvensional.




Hari Pertama Masuk Kerja, Bupati Lakukan Sidak

Sleman – Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI bersama Sekretaris Daerah dan Inspektor Kabupaten Sleman melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil), Badan Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu (BPMPT), dan RSUD Sleman dihari pertama masuk kerja pasca libur lebaran,Senin (11/7).

Berdasarkan pantauan yang dilakukan terlihat bahwa aktivitas pelayanan publik di tiga kantor tersebut sudah berjalan normal seperti hari biasa. Namun khusus
layanan kesehatan di RSUD Sleman untuk rawat inap, farmasi, radiologi, bank darah tetap dilayani termasuk untuk pelayanan IGD di RSUD tetap buka 24 jam selama libur lebaran lalu.

Kepala Disdukcapil Kabupaten Sleman, Supardi SH menyampaikan bahwa Disdukcapil membuka layanan pada tanggal 4,5, dan 8 Juli pada libur cuti lebaran lalu. Menurutnya selama pelayanan masa libur lebaran dari rekap data ada 4 orang warga mengurus KTP baru, 4 orang warga mengurus surat pindah penduduk, 5 orang warga mengurus masuk penduduk, 11 orang warga melegalisir akte, dan 2 orang warga mengurus akte kelahiran.

“Pelayanan pada masa libur lebaran kami buka pada tanggal 4,5, dan 8 Juli. Meskipun tidak seramai pada hari biasanya namun tetap ada beberapa warga yang memanfaatkan pelayanan saat libur cuti lebaran,” jelas Supardi.

Dari segi tingkat kehadiran pegawai dihari pertama kerja menurut Bupati Sleman Sri Purnomo juga terpantau bagus. Seluruh PNS di Disdukcapil menurutnya tidak ada yang absen. Begitu pula PNS di RSUD Sleman yang berjumlah 386 seluruhnya masuk. Sedangkan Dari 66 PNS di Kantor BPMPT hanya satu pegawai saja yang izin tidak masuk kerja.

“Jumlah kehadiran dihari pertama masuk kerja ini sudah bagus, baik PNS maupun karyawan kontrak. Hanya satu pegawai saja dari tiga instansi yang disidak izin tidak masuk karena ada keluarganya yang meninggal,” jelas Sri Purnomo.

Sri Purnomo menambahkan bahwa akan memberikan sanksi bagi pegawai yang membolos dihari pertama kerja tersebut.

“Sanksi itu pasti ada tapi nanti kita lihat dulu pegawai yang tidak masuk alasannya karena apa,” tambah Sri Purnomo.