Rasa Kebangsaan dan Patriotisme Perlu Dibudayakan‬

Bupati Sleman Berikan SambutanSleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menegaskan bahwa rasa kebangsaan dan patriotisme perlu untuk dibudayakan, terutama di kalangan generasi muda, anak-anak dan remaja sebagai modal dalam membangun bangsa saat Ramah Tamah Perintis Kemerdekaan, Veteran, Purnawirawan, Wredhatama, Warakawuri, Angkatan 45, dan Purna Bhkati Karya di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman dalam rangka HUT RI ke-71, Jumat (12/8).‬

‪”Rasa kebangsaan dan nasionalisme, sangat perlu kita tumbuh kembangkan, terutama pada generasi muda, anak-anak dan remaja. Dengan kata lain kita perlu membudayakan rasa kebangsaan dan patriotisme pada diri setiap anak Indonesia sejak dini,” kata Sri Purnomo.

‪Menurut Sri Purnomo, momentum peringatan HUT Kemerdekaan RI yang bersama-sama akan diperingati, merupakan saat yang tepat untuk memupuk kembali semangat persatuan dan rasa kebangsaan.

Terlebih lagi, saat ini Bangsa Indonesia sedang dihadapkan pada krisis ekonomi global yang berimbas pula pada tatanan perekonomian nasional, sehingga dibutuhkan komitmen bersama untuk bekerja keras membangun bangsa dan masyarakat dalam segala bidang kehidupan.‬

‪”Perjuangan keras veteran mengajarkan pada generasi penerus akan pentingnya rasa kebangsaan dan patriotisme sebagai modal dasar kerja keras membangun bangsa,” katanya.‬

‪Sri Purnomo menambahkan, seluruh lapisan masyarakat harus menyadari bahwa tanggung jawab menanamkan rasa kebangsaan dan patriotisme tersebut tidak saja menjadi tugas pemerintah, namun juga menjadi tugas dan tanggungjawab para orang tua, para pendidik dan seluruh warga masyarakat termasuk di dalamnya juga para pejuang perintis kemerdekaan.‬

‪Sri Purnomo mengatakan, kondisi masyarakat Sleman yang heterogen dengan berbagai latar belakang suku, agama dan ras, diharapkan agar masyarakat menjaga kerukunan dengan memperlakukan setiap warga masyarakat sama kedudukan.‬

‪”Pemkab Sleman tidak membeda-bedakan warga masyarakatnya dari asal-usul, suku, agama maupun budayanya. Setiap warga Sleman memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai satu kesatuan yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Oleh karena itu, antar warga masyarakat sendiri harus dapat saling menghargai dan menghormati agar tercipta kerukunan hidup dan pembauran kebangsaan,” katanya.‬***




Animo Perajin Geluti Eco Batik Tinggi

Sleman – Kalangan perajin batik di Kabupaten Sleman mulai dikenalkan dengan penggunaan bahan pewarna alam. Salah satu yang cukup gencar menyosialisasikan program eco batik ini adalah Edia Rahayuningsih, dosen Teknik Kimia UGM yang juga peneliti zat warna alam.

Dari riset yang dia lakukan, saat ini jumlah perajin batik berbahan pewarna alam masih minim. Di Sleman, jumlahnya tidak sampai lima persen dari total sekitar 550 perajin batik.

“Secara jumlah memang tidak banyak tapi sebenarnya animo perajin tinggi.  Karena itu pendampingan usaha dan dana apalagi tidak mudah merubah pola pikir yang berkaitan dengan nafkah,” kata Edia kepada wartawan di Sleman, Jumat (12/8).

Saat ini, kelompok peneliti zat warna alam UGM tengah melakukan riset terhadap sejumlah perajin batik di wilayah Sleman. Penelitian bersumber dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) senilai Rp 1,6 miliar ini diterapkan mulai dari tahap penanaman bahan baku pewarna alam, proses membuat batik hingga suplai.

Edia mengungkapkan, untuk penyediaan tanaman bahan baku rencananya dibuka lahan di daerah Kecamatan Minggir seluas 4 hektare. Sampai saat ini setidaknya sudah ada lima tanaman yang diteliti dan dikembangkan menjadi pewarna alam.

Diantaranya indigofera yang menghasilkan warna biru, tingi untuk produksi warna degradasi dari oranye hingga coklat, dan jawale untuk menciptakan warna dari tingkatan kuning lunak hingga hitam. Selain itu bisa digunakan tanaman tegeran untuk menghasilkan warna tingkatan kuning cerah sampai hijau, dan merbau yang memproduksi warna coklat.

“Kami berusaha membantu perajin membuat pewarna alam yang kompetitif dan praktis. Jika sukses, arahannya ke produksi skala massal,” imbuhnya.

Edia berharap pemerintah daerah bisa semakin berperan dalam pengembangan eco batik. Terlebih di Sleman sudah ada Peraturan Bupati yang mengatur tata kelola batik termasuk didalamnya mengenai eco batik.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengaku siap mendukung jika nantinya kluster perajin eco batik dijadikan eduwisata. Selain memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang bahaya pencemaran lingkungan akibat pewarna sintetis, konsep eduwisata juga bisa mengedukasi konsumen pecinta batik.




Sleman Kirim Misi Kebudayaan ke Surabaya

Sleman – Kabupaten Sleman akhir pekan ini akan mengirimkan misi kebudayaan dalam rangka memperingati HUT Kota Surabaya ke-723 yang dikemas dalam acara Festival Seni Lintas Budaya 2016. Pengiriman misi kebudayaan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan dan mempromosikan potensi seni budaya Kabupaten Sleman kepada masyarakat luas secara nasional maupun internasional.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya, Jumat (12/8). Ayu menambahkan bahwa melalui pengiriman misi kebudayaan ke luar daerah tersebut diharapkan akan meningkatkan silaturahmi dan kerjasama antar daerah dalam rangka untuk memajukan sektor pariwisata.

Selain itu juga untuk mendukung program-program keistimewaan DIY melalui optimalisasi pelestarian dan pemanfaatan potensi seni budaya yang memiliki nilai-nilai yang adiluhung. Selain tentunya sebagai ajang apresiasi bagi para pelaku dan pecinta seni budaya.

Menurut Ayu, Kabupaten Sleman akan  mengirimkan kontingen Prajurit Tradisional Bregada Umbul Kamulyan dari Dayakan Purwomartani Kalasan Sleman yang akan tampil pada hari Minggu 14 Agustus 2016 pukul WIB di Halaman Museum Surabaya.

Selain itu mengikuti kirab, Kontingen Kabupaten Sleman juga akan menampilkan pertunjukan  tarian garapan dengan lakon “Panyumpenan” yang berarti “mimpi” pada hari Senin 15 Agustus 2016 pukul WIB di Balai Budaya Surabaya. Sebagai sutradara Feri Catur Harjanto SPd, penata tari Indra, penata iringan Surono, artistik Johan dan penata rias/busana Brahmantyo Fendi.

Tema tarian garapan tersebut mengangkat legenda rakyat di daerah Prambanan, Sleman yaitu Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso merupakan sebuah legenda yang sangat terkenal baik di Jogja maupun daerah lain. Akan tetapi selama ini masyarakat hanya mengenal tentang cerita Bandung Bondowoso dengan Roro Jonggrang.

Garapan ini menceritakan sebuah mimpi Gupolo yang ingin mendapatkan Condrowati, selain itu dalam cerita ini banyak mengandung nilai dan norma yang sangat bermanfaat bagi masyarakat luas.

Diantaranya, nilai moral tersebut bahwa manusia harus dapat mengontrol hawa nafsu untuk dapat menjalani kehidupan dengan baik. Sedangkan nilai sosialnya mengandung makna bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang harus dapat menghormati dan menghargai kaum wanita.




Pemkab Gelar Berbagai Lomba HUT Kemerdekaan

Bupati Sleman bakiakSleman – Kemeriahan menjelang HUT Kemerdekaan ke 71 tingkat Kabupaten Sleman, semakin terasa dengan digelarnya senam dan lomba yang diikuti karyawan-karyawati SKPD, Kecamatan se Kabupaten Sleman. Lomba dilaksanakan di Stadion Tridadi Sleman, Jumat (12/8).

Untuk senam diikuti pula oleh ratusan pelajar dari SD, SMP dilingkungan Ibukota Beran. Sementara untuk lomba diikuti oleh karyawan-karyawati SKPD, Kecamatan se Kabupaten Sleman, meliputi bakiak, tarik tambang dan balapan karung.

Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI yang hadir menyempatkan diri mengikuti lomba bakiak bersama satu tim dengan Sekda Sleman, Assekda III dan Direktur RSUD Sleman, sementara lawannya Kepala Bappeda, Kepala Kantor Arsip bersama Kepala Dinas lainnya.

Sri Purnomo menyampaikan kemeriahan acara ini untuk menyambut HUT Kemerdekaan ke 71 tingkat Kabupaten Sleman yang tinggal sebentar lagi. Juga dimaksudkan untuk menjalin silaturahmi serta menjaga kebugaran tubuh bagi karyawan karyawati maupun para siswa, sehingga tetap sehat dan semangat dalam bekerja dan sekolah.

Sementara untuk lomba yang dilaksanakan selain untuk melestarikan permainan anak pada masa lalu juga untuk melatih serta menumbuhkan semangat kebersamaan dan kekompakan. Karena lomba bakiak misalnya satu tim harus kompak menurut irama dan aba-aba yang telah ditentukan untuk dapat menang. Karena bila jalan sendiri-sendiri tidak akan bisa jalan bahkan bisa terjatuh.

Adapun hasil lomba tarik tambang putra  juara I Pol PP, juara II Dinas Hubkominfo, juara III Badan Lingkungan Hidup. Untuk tarik tambang putri Jura I UPT Cangkringan,  Juara II RSUD Sleman, Juara III Dikpora.

Lomba lari karung putra Juara I RSUD Sleman, Juara II Dinas SDAEM, Juara III MTSN Sleman, untuk lari karung putri Juara I Kecamatan Ngaglik, Juara II PDAM Sleman dan Juara III Kecamatan Tempel.

Sementara untuk permainan Bakiak Putra juara I  UPT Kecamatan Sleman, UPT Kecmatan Tempel dan Juara III BKD Sleman, sementara untuk Bakiak Putri juara I MTS N Sleman, juara II UPT Kecamatan Sleman dan Juara III UPT Kecmatan Cangkringan.




Keluarga Sakinah Asal Sleman ke Tingkat Nasional‬

Sleman – ‪Menikah sudah 47 tahun sejak 2 Oktober 1969, pasangan Drs Mohammad Syahkir dan Mahsunah kompak berpendapat bahwa sesibuk apapun tetap harus ada waktu bersama untuk keluarga dan memelihara komunikasi itu penting.‬ 

‪Pasangan dengan 5 orang anak ini juga membekali diri dengan pengetahuan aktual mengingat era globalisasi saat ini arus informasi terjadi dengan cepat.

“Keluarga juga harus melek media. Anak sekarang cepat menguasai teknologi jadi orangtuanya tidak boleh ketinggalan agar bisa menerapkan pendidikan yang tepat untuk anaknya,” tutur Mahsunah usai berpamitan dengan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI di Pemkab Sleman, Jumat (12/8).

Sependapat dengan istrinya,  Mohammad Syahkir sebagai kepala keluarga menambahkan bahwa pendidikan agama mutlak penting dalam keluarga, rumah sebagai sarana mendidik dan kaderisasi supaya anak juga dapat berperan di masyarakat.‬

Kabupaten ‪Sleman mengirimkan wakilnya dalam penilaian Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Nasional atas nama Drs Mohammad Syahkir yang beralamat di Perum Condongcatur, Depok, Sleman. Setelah terpilih di tingkat Provinsi, mereka selanjutnya akan berangkat ke Jakarta pada 15 Agustus mendatang dengan membawa nama Provinsi DIY. Didampingi Kemenag Sleman mereka telah berpamitan kepada Bupati Sleman Sri Purnomo di Kantor Bupati Sleman, kemarin.‬

‪Sri Purnomo berpesan dalam mengikuti penilaian tingkat nasional ini agar mengalir saja dan tidak perlu tegang karena pada dasarnya yang dinilai adalah keseharian sebagai sebuah keluarga sakinah.‬

‪Sleman sendiri tidak asing dengan ajang penilaian Keluarga Sakinah Teladan ini karena Wakil Bupati Sleman saat ini Sri Muslimatun tercatat pernah mengikuti ajang ini pada 2008 lalu mewakili Provinsi DIY.