Festival Kebudayaan Yogyakarta ke – 28 Resmi Dibuka

FKYSleman – Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) ke – 28 resmi dibuka di titik nol kota jogja oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X dan malamnya dibuka di Taman Kuliner Condongcatur Sleman, Selasa (28/3). FKY merupakan festival tahunan yang sudah berjalan ke – 28 tahun saat ini. FKY ke – 28 tahun ini mengangkat tema “Masa Depan, Hari Ini Dulu”.

“Melalui tema ini, FKY 28 mencoba meneropong suatu masa, di detik, menit, jam, tahun, bahkan abad mendatang, dengan fenomena kebudayaan sebagai titik acu ide.”, demikian ungkap Setyo Harwanto yang menjabat sebagai Direktur Bagian Umum

Direktur Program Pertunjukan, Ishari Sahida mengatakan kebudayaan di sini tidak hanya tentang artefak dan tradisi belaka, tetapi menjangkau realitas kehidupan yang lebih luas. Misalnya, aktivitas sosial, pendidikan, arsitektur, masyarakat urban, teknologi, seni, gaya hidup, komunikasi, hingga politik, tambahnya.

“Harapannya, apa yang disuguhkan bukan hanya sebatas ‘tontonan’ semata, tetapi juga menjadi cara pandang dan pemicu partisipasi masyarakat mengenai masa depan kebudayaan. Kesenian memang, bukan menjadi gerbang utama memasuki masa depan, tetapi, setidaknya bisa menjadi pintu masuk pembicaraan lain melalui imajinasi”, jelas Roby Setiawan yang bertanggungjawab sebagai Direktur Seni dan Kreatif.

Sedangkan Logo FKY, Awoh Aweh inspirasinya berasal dari sembilan jenis tanaman yang terdapat di lingkungan keraton Yogyakarta, yaitu Waringin (beringin), Tanjung, Gayam, Sawo Kecik, Asem, Kemuning, Bodhi, Kepel Watu, dan Jambu Dersana; yang divisualkan dalam wujud daun dan pohon dalam wujud tipografi FKY.

Wujud pohon di logo ini merepresentasikan tiga masa; dulu, kini, dan nanti. Sementara ranting – rantingnya merepresentasikan cabang-cabang kesenian yang diakomodasi oleh FKY. Filosofi sembilan tanaman di lingkungan keraton Yogyakarta yang divisualkan menjadi logo diharapkan dapat menjadi ‘payung’ pemikiran dan capaian dalam perhelatan FKY tahun ini, sebagai upaya melestarikan sekaligus mengembangkan kesenian sebagai elemen kebudayaan.

FKY untuk tahun 2016 ini akan dilangsungkan mulai 23 Agustus hingga 9 September 2016 dengan mengambil lokasi sama seperti tahun sebelumnya yaitu di Taman Kuliner Condongcatur Sleman Yogyakarta. Festival ini diramaikan 148 stand kuliner dan karya seni.




Perubahan SOTK Sleman Belum Final‬

Pj Sekda Berikan PenjelasanSleman – Perubahan Struktur Organisasi dan Tata Kerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman belum mencapai titik final meskipun sudah ada gambaran akan ada sekitar 47 Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).‬

‪Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman, Drs Iswoyo Hadiwarno mengatakan perubahan Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) di Kabupaten Sleman sampai saat ini belum mencapai final. Jajaran eksekutif dan legislatif terus mengadakan pembahasan.

“Saat ini proses masuk tahap pembahasan bersama pansus DPRD Kabupaten Sleman, dan ditargetkan selesai akhir bulan Agustus. Diharapkan pelayanan organisasi perangkat daerah (OPD) yang baru bisa berjalan mulai awal Januari 2017,” kata Iswoyo dalam diskusi dengan Paguyuban Wartawan Peliput Sleman (PWPS) tentang penataan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kampung Flori Pangukan, Tridadi, Sleman, Selasa (23/8).

Menurut Iswoyo, sesuai rancangan, jumlah OPD masih sama yakni 47 hanya saja sekarang tidak ada kantor atau setara eselon tiga.

“Personel sudah disiapkan. Kami upayakan tidak sampai terjadi degradasi karena sebenarnya OPD di Sleman sudah ramping, dan dengan grand desain PP Nomer 18 Tahun 2016 justru berpotensi mekar,” kata Iswoyo Hadiwarno yang juga Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sleman.

Penyesuaian SOTK ini merupakan tindak lanjut dari penerbitan PP Nomer 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah. Kebijakan itu berlaku secara nasional dengan jadwal penyelesaian yang ditetapkan oleh pusat selambatnya pada 31 Agustus 2016.

Iswoyo menambahkan, pola pendekatan dalam penyusunan rancangan kali ini berbeda dengan peraturan sebelumnya yang lebih mengedepankan fungsi OPD. Dalam aturan yang baru, pembentukan SOTK ditekankan pada pendekatan secara urusan.

Dicontohkan, Dinas Tenaga Kerja dan Sosial  yang dipisah menjadi Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Sosial setelah mempertimbangkan faktor urusan. Dinas lain yang dipecah adalah Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika, serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Sementara Dinas Pasar dilebur ke dalam Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Satuan kerja lain yang dihilangkan Dinas Sumber Daya Air, Energi, dan Mineral karena kewenangannya diambil alih Pemerintah Provinsi.

“Dalam penyusunan SOTK ini, kami tidak sekedar melaksanakan PP tapi didasarkan pertimbangan ketepatan ukuran dan sasaran. Jangan sampai justru menghambat layanan publik,” katanya.

Untuk gedung dan sarana penunjang OPD yang akan dibentuk, Iswoyo menjelaskan sementara menggunakan fasilitas yang sudah ada. Soal anggaran pegawai maupun kegiatan baru akan dihitung setelah ada penetapan SOTK.

Dari informasi yang dihimpun sejumlah dinas mengalami perubahan. Perubahan dilakukan mulai dari pemecahan kelembagaan, penghapusan hingga penurunan status.‬

‪Beberapa SOTK yang mengalami pemisahan seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dipisah menjadi Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata. Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi pecah menjadi Dinas Perindustrian dan Perdagangan dengan tipe A. Sedangkan koperasi dan usaha kecil menengag (UKM) menjadi kewenangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menangan dengan tipe C.‬

‪Sementara itu Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahaan (DPUP) pecah menjadi Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang dengan tipe B. Sedangkan urusan pemukiman dan kawasan akan menjadi kewenangan Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman dengan tipe B.‬

‪Dinas Tenaga Kerja dan Sosial dipisah menjadi Dinas Sosial serta Dinas Ketenagakerjaan, kemudian Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika yang dipecah menjadi Dinas Perhubungan serta Dinas Komunikasi dan Informatika.‬

‪Sedangkan penghapusan kebidangan terjadi pada Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan akan berubah nama menjadi Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan, untuk sejumlah instansi kantor dan badan berubah menjadi dinas, seperti Dinas Lingkungan Hidup yang dulunya Badan Lingkungan Hidup. Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu menjadi Dinas Penanaman Midal dan Pelayanan Perizinan Terpadu.

‪Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masarakat dan Pemberdayaan Perempuan naik menjadi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana. Sementara itu Kantor Arsip Daerah serta Kantor Perpustakaan Daerah disatukan menjadi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah.

‪Dinas Keuangan dan Aset Daerah kini turun statusnya menjadi Badan Keuangan dan Aset Daerah sementara Dinas Pendapatan Daerah berubah menjadi Badan Pendapatan Daerah.




Merti Desa Miliki Makna Ungkapan Rasa Syukur

Wabup Tinjau Pameran PotensiSleman – Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun MKes mengatakan Merti Desa memiliki makna sebagai ungkapan dan perwujudan rasa syukur epada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan rizki-Nya.

Selain itu merti desa juga merupakan bagian dari pelestarian budaya sekaligus sebagai wahana mengangkat potensi lokal yang dimiliki. Hal ini mengingat saat ini gempuran masuknya budaya asing begitu kuatnya terlebih dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi.

Berkaitan dengan kondisi tersebut maka dibutuhkan upaya bersama untuk melestarikan budaya yang kita miliki agar tidak tergerus oleh masuknya budaya yang tidak sesuai dengan jati diri masyarakat.

“Selain pelestarian budaya, kegiatan merti desa bagus karena juga didukung dengan adanya Gelar Potensi Desa sebagai ajang untuk mengangkat potensi produk-produk lokal. Sehingga masyarakat akan lebih mencintai produk lokal,” ketika membuka Merti Desa Sidoagung di Lapangan Ahmad Yaini Sidoagung Godean, Selasa (23/8).

Sementara Kepala Desa Sidoagung, Edy Utomo mengatakan  merti desa dilaksanakan selama sepekan, dengan berbagai kegiatan diantaranya senam massal, pawai ta aruf TPA se Desa Sidoagung, pentas seni, band tari-tarian, hadroh, ketoprak, kirab budaya dan lainnya, serta diakhiri dengan pagelaran  wayang kulit Dhalang Ki Seno Nugroho pada hari Senin, 29 Agustus 2016.

Selain itu juga digelar gelar potensi Desa Sidoagung yang dikuti sekitar 50 peserta dari KWT, kelompok tani, pengrajin dan aneka produk lokal Sidoagung. Setelah pembukaan merti desa dilaksanakan festival anak sholeh yang diikuti 14 TPA  se desa Sidoagung, dengan lomba yang dipertandingkan mewarnai, menggambar dan kaligrafi aksara Jawa, lomba adzan dan pidato bahasa Jawa, lomba lagu dolanan anak Islam.

Menurut  Edy Utomo hari Kamis, 25 Agustus juga akan dilaksanakan pengajian akbar oleh Cak Nun dan Kyai Kanjeng dan Sabtu malam juga ada orbrolan angkring TVRI Jogja.