Kirab Seni 17 Kecamatan Tandai FKY Sleman Dimulai

IMG_9894Sleman – Festival Kesenian Yogyakarta Kabupaten Sleman dengan tema “Masa Depan Hari Ini Dulu” akan digelar selama 3 (tiga) hari mulai Kamis besok 25 – 27Agustus 2016 Jam – WIB di Parkir Utara Lapangan Denggung Sleman Yogyakarta. 

“Selain dilaksanakan pawai seni, FKY Sleman kali ini juga akan menampilkan pentas seni tradisi kerakyatan dan pentas seni unggulan”, kata Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Dra. Endah Sri Widiastuti, MPA, di kantornya, Rabu (24/8).

Endah menambahkan bahwa FKY Kabupaten Sleman 2016 dimaksudkan sebagai media pelestarian, pembinaan, pengembangan dan pemanfaatan seni, upaya melestarikan dan mengembangkan seni budaya lokal, peningkatan kualitas karya seni melalui kreativitas dan inovasi seni serta menggali potensi seniman seniwati muda berbakat. Serta, mendorong kecintaan masyarakat terhadap seni tradisi lokal khususnya musik dan nyanyian tradisional.

Rangkaian acara selama FKY Kabupaten Sleman tersebut sangat beragam mulai dari pawai seni, pentas seni tradisi kerakyatan maupun pentas seni unggulan. Kamis 25 Agustus 2016 mulai pukul sampai akan dipentaskan Kesenian Jathilan ‘Turonggo Budoyo Rukun’ dari Kecamatan Kalasan sebagai kesenian pembuka.

Setelah itu dilanjutkan dengan rangkaian acara pembukaan yang berupa manguyu-uyu pukul – WIB, tarian pembuka “Tari Nawung Sekar” dan tarian utama “Krido Laksita Mahambara”pukul – WIB.

FKY Kabupaten Sleman secara resmi menurut rencana akan dibuka oleh Bupati Sleman Drs. Sri Purnomo, pada pukul WIB dilanjutkan dengan pelaksanaan pawai seni dari 17 kecamatan se Kabupaten Sleman. Ke 17 grup kesenian tersebut adalah dari Kecamatan Turi “Langen Toyo”, Ngemplak “Bima Sakti”,Cangkringan “Rego Gadingan”, Kalasan “ Gondowasitan”, Mlati “Madi Budoyo”, Tempel Wayang Wong “Eka Budaya”.

Dan, Kecamatan Pakem “Tawang Budaya”, Seyegan “Margo Pusung”, Moyudan “Nalendra”, Kecamatan Sleman Sanggar PS Bayu, Prambanan “Jatalunda”, Gamping “Ulu Cumbu”, Ngaglik “Suryo Langen Budoyo”, Godean “Hyang Rama”, Depok “Kinari Manunggal”, Minggir “Sanggar Pojok” dan Berbah “Suryo Aji Budoyo”.

Pada malam harinya pukul  –  WIB di Parkir Utara Lapangan Denggung akan dipentaskan kesenian religious Badui Tunas Mudo dari Selobonggo Bangunkerto Turi,Langen Carita oleh Sanggar SDN Pangukan Tridadi Sleman, Fragmen Tari dari Sanggar Dewi Pule Pulesari Wonokerto Turi, Kethek Ogleng dari Gadingan Sinduharjo Ngaglik, Sendra Tari Bandung Bondowoso oleh Sanggar Sekar Jagad dan penampilan Wayang Orang dari Sanggar Ngrancang Kencono.

Pada hari kedua Jum’at 26 Agustus 2016 mulai pukul – WIB dipentaskan jathilan “Laras Kusuma” dari Daratan Sendangarum Minggir, jathilan “Bekso Among Mudo” Mriyan Margomulyo Seyegan, jathilan “Krido Turonggo Jati Jiwosari” Jiwan Argomulyo Cangkringan, “Peksimoi” Sukowaten Merdikorejo Tempel, Kubrosiswo “Catur Putro” Nambongan Caturharjo Sleman, Badui “Alimababa” Klawisan Margoagung Seyegan.

Pada malam harinya mulai pukul WIB dipentaskan Fragmen Bocah dari Sanggar Tari Kembang Sakura Mesan sinduadi Mlati, Jeber Juwes “Minak Budaya” dari Tengahan Sendangagung Minggir, wayang topeng dari Ngajeg Kalasan, kethoprak teater dari Sanggar Laras Giriseto Gamping dan kethoprak tradisional “Sentono Budaya” dari Mranggen Sinduadi Mlati.

Pada hari ketiga Sabtu 27 Agustus 2016 mulai pukul – WIB dipentaskan jathilan “Turonggo Wulung” dari Tanjung Sumberejo Tempel, jathilan “Cipto Wiloho” dari Pakem Tamanmartani Kalasan, jathilan “Ngesti Turonggo Budoyo” dari Kragilan Mlati, angguk “Lentur Putri Utami” dari Kopen Wonokerto Turi, hadroh “Ridhotul Jannah” dari Jonggrangan Sendangrejo Minggir, hadroh “Paser” dari Kecamatan Sleman.

Pada malam harinya mulai pukul WIB dipentaskan keroncong “Langen Gita” dari Karanganyar Tamanmartani Kalasan, rodad saman dari Gambiran Berbah, angklung “Topi Lurik” dari Pogung Sinduadi Mlati dan Band Neo dari Ganggong Bangunkerto Turi.




Pemkab Sleman Terus Lakukan Pelestarian Lingkungan

Penanaman PohonSleman – Pelestarian lingkungan terus diupayakan antara pemerintah dan swasta. Dengan menggandeng pihak swasta dapat menjadi pelopor yang menginspirasi stakeholder lain untuk bersama-sama memikul tanggung jawab sosial lingkungan berdampingan dengan pemerintah dan masyarakat dalam membangun lingkungan yang nyaman dan bersahabat.

Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes mengungkapkan hal tersebut disela-sela kegiatan penghijauan di taman wisata Candi Prambanan Sleman, Rabu (24/8).

Menurut Sri Muslimatun  penyelenggaraan penghijauan dengan pihak swasta  antara Kabupaten Sleman dengan Djarum Foundation dalam upaya membangun masyarakat Sleman menuju masyarakat yang lebih sejahtera dan berdaya saing.

“Kami berharap kerjasama ini dapat kita tingkatkan dan kembangkan dimasa-masa mendatang. Karena sebagai kawasan hulu di DIY, Sleman juga memikul tanggung jawab sebagai kawasan konservasi air utama,” kata Sri Muslimatun.

Dengan tanggung jawab tersebut, maka upaya penghijauan adalah syarat mutlak yang harus dilakukan berkelanjutan.  Keterlibatan semua pihak dalam upaya penghijauan ini dapat mewujudkan lingkungan yang kondusif.

Program penanaman pohon sepanjang Joglosemar ini dituntut untuk segera dimulai sejak saat ini mengingat trembesi  ‘si penyerap karbondioksida’ ini  membutuhkan waktu minimal 2 tahun untuk dapat hidup mandiri dari alam.

Merawat sama pentingnya dengan menanam, upaya penghijauan ini tidak akan berhasil tanpa campur tangan dari pihak lain. Sri Muslimatun juga berharap Candi-candi di wilayah Sleman yang lain juga disentuh dengan program penghijauan semacam ini. Penghijauan untuk kawasan taman wisata Candi Prambanan sejumlah 300 batang dengan melibatkan anak-anak muda pecinta alam.

Dalam kesempatan tersebut juga dibagikan tanaman dan alat berupa cangkul kepada para Camat se Kabupten Sleman untuk melakukan penghijauan di wilayahnya masing-masing.




Sleman Raih Dua Prestasi Tingkat Nasional

Sleman – Prestasi tingkat nasional kembali diraih oleh Kabupaten Sleman tahun 2016 ini, dua prestasi sekaligus, yaitu TK/RA Al Azhar  31 yang letaknya di Ring Road Utara Sinduadi Mlati dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. 

TK/RA Al Azhar 31 mendapat penghargaan sebagai juara I tingkat nasional kategori Best Achievement (prestasi terbaik) , sedang Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman  sebagai Tim Pembina  Pemenang I kategori Best Achievement Tingkat TK/RA Lomba Sekolah Sehat (LSS) Tingkat Nasional tahun 2016.

Pengumuman pemenang dan pemberian   penghargaan LSS tingkat nasional tahun 2016  tersebut  telah dilaksanakan pada acara tatap muka dan audensi 4 kementarian  yang berlangsung di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta pada tanggal 18 Agustus 2016 lalu. Empat kementerian tersebut Kementerian Kesehatan, Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan, Kementarian Dalam Negeri dan Kementerian Agama.

Hadir dalam penganugerahan penghargaan tersebut dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Dikpora Sleman, Kepala Sekolah TK/RA Al Azhar 31 dan pengelola UKS Puskesmas Mlati I.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes ketika ditemui dikantornya, Rabu (24/8) mengatakan bahwa keberhasilan TK/RA Al Azhar dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman memperoleh penghargaan tingkat nasional tersebut  melalui perjalanan yang panjang mulai dari verifikasi tingkat Kabupaten, tingkat Provinsi sampai tingkat nasional.

Disamping itu untuk mendapatkan penghargaan tersebut  berkat pembinaan  berbagai lintas sektor yaitu TP UKS Kabupaten Sleman (Disdikpora, Dinkes, Kemenag, Bagian Kesra, Baappeda, BLH,BNN, Dinas Pertanian, PKK), TP UKS Kecamatan  dan TP UKS TK/RA Al Azhar sendiri.

Disampaikan Linda bahwa keunggulan TK/RA Al Azhar memperoleh penghargaan tingkat nasional tersebut karena berbagai vasilitas yang dimiliki TK/RA Al Azhar memang sangat baik dan lengkap, antara lain fasilitas indoor maupun outdoor sangat lengkap dan baik, buku perpustakaan sangat lengkap.

Selain itu setiap ruangan ada CCTV yang bisa diakses oleh Kepala Sekolah, ruangan UKS sangat baik, tanaman toga/warung hidupnya baik dan lengkap.

Sementara untuk menjaga kesehataan siswa, kantin ditangani satu pintu yaitu yayasan Al Azhar, semua ruangan representatif dan keberadaaan bak sampah sesuai peletakannya dan cukup banyak.




Puncak Peringatan Hari Keluarga DIY Akan Berlangsung di MGM

Sleman – Puncak Acara Hari Keluarga DIY akan berlangsung di Museum Gunungapi Merapi (MGM) hari Sabtu tanggal 27 Agustus 2016.

“Puncak acara Hari Keluarga DIY tersebut rencananya akan dihadiri Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Hemas dan GKR Bendoro,” kata Kabag Humas Sleman, Dra Sri Winarti dikantornya, Rabu (24/8).

Dalam puncak acara hari keluarga nanti kegiatannya berada pada dua titik di Omah Jawi dan MGM. Sedang kegiatan di Omah Jawi rombongan akan menyaksikan deklarasi dari GenRe (Generasi Remaja) yang terkait dengan pendewasaan Usia Perkawinan .

Usai peninjauan di Omah Jawi rombongan Gubernur dan Bupati Sleman langsung menuju MGM. Di MGM nanti berbagai kegiatan akan dilakukan antara lain  ekspose berupa gelar kegiatan BKS dan UPPKS berupa pameran berbagai produk dan kegiatan yang telah dilakukan dan rencana kedepan.

“Tidak ketinggalan pada kesempatan tersebut akan ditampilkan paduan suara  dan gelar kesenian Badui Kampung KB dari Dusun Malangrejo Wedomartani Ngemplak,” tutur Sri Winarti.

Bagi para juara dari berbagai lomba yang dilakukan baik ditingkat Provinsi maupun Kabupaten Sleman akan menerima hadiah, dan penyerahan bantuan/stimulan UPPKS tingkat DIY, serta pemberian hadiah Kesatuan Gerak PKK –KB Kesehatan Tingkat DIY.

Sedang untuk tingkat Kabupaten Sleman lomba yang dilakukan adalah lomba akseptor KB lestari 15 tahun. Lomba PIK-R jalur masyarakat, lomba pelayanan KB MKJP kataegori Puskesmas, lomba keluarga Harmonis sejahtera, lomba motivator KB pria dan lomba KB lestari 10 tahun.

Sementara di Kabupaten Sleman sendiri sampai saat ini telah terbentuk 17  Kampung KB di 17 Kecamatan yaitu  Dusun Temuwuh Kidul Balecatur Gamping, Pendulan Sumberagung Moyudan, Kisik I Sendangagung Minggir, Dongkelan Sidorejo Godean, Kregolan Margomulyo Seyegan, Toragan Tlogoadi Mlati, Banjeng Maguwoharjo Depok.

Dan, Baran Kalitirto Berbah, Sengir Sumberharjo Prambanan, Tundan Purwomartani Kalasan, Malangrejo Wedomartani Ngemplak, Tanjungsari Sukoharjo Ngaglik, Murangan VIII Triharjo Sleman, Bangunrejo Merdikorejo Tempel, Gondaang Donokerto Turi, Ngepring Purwobinangun Pakem, dan Bulaksalak Wukirsari Cangkringan.




Sleman Tetapkan 45 Lokasi Kawasan Permukiman Kumuh Perkotaan

Sleman – Kabupaten Sleman  menurut SK Bupati Sleman tentang Kawasan Permukiman Kumuh Perkotaan, menetapkan 45 lokasi kawasan permukiman kumuh perkotaan di 6 Kecamatan, yakni Kecamatan Depok,  Mlati,  Gamping,  Ngemplak, Ngaglik dan Kecamatan Godean, dengan luasan keseluruhan sebesar 41,4 hektare.

“Ke-45 lokasi tersebut terbagi dalam 3 prioritas kawasan permukiman kumuh, yakni prioritas tinggi sebanyak 19 lokasi, prioritas sedang sebanyak 25 lokasi dan prioritas rendah sebanyak 1 lokasi,” kata Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI disela-sela membuka Sosialisasi Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) di Aula Bappeda Sleman, Rabu (24/8).

Dijelaskan Sri Purnomo, komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dalam mendukung program pemerintah pusat dalam menyelesaikan permasalahan kawasan kumuh melalui persamaan pemahaman dan persepsi akan implementasi program KOTAKU di Kabupaten Sleman sehingga dapat mempercepat penanganan kawasan kumuh di Kabupaten Sleman, sekaligus mendukung gerakan 100-0-100.

Sebagai salah satu Kabupaten di DIY yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, baik karena pertumbuhan penduduk maupun karena jumlah pendatang yang masuk, menyebabkan kebutuhan akan kawasan pemukiman di Kabupaten Sleman semakin meningkat, hal ini menjadi salah satu pemicu munculnya kawasan kumuh di perkotaan.

“Pada tahun 2016 terdapat permukiman kumuh perkotaan yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia sesuai hasil perhitungan pengurangan luasan permukiman kumuh perkotaan yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya,” kata Sri Purnomo. Dan di Kabupaten Sleman ditetapkan 45 lokasi kawasan permukiman kumuh perkotaan di 6 Kecamatan, tambahnya.

Menurut Sri Purnomo  dalam menangani Kawasan Permukiman Kumuh Perkotaan Pemkab Sleman mengacu pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011, dengan pola penangan kumuh meliputi pencegahan yakni melalui pengawasan dan pengendalian serta pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan kualitas yakni melalui pemugaran, peremajaan dan pemukiman kembali.

Melalui implementasi program KOTAKU di Kabupaten Sleman, diharapkan dapat semakin mempercepat penanganan kawasan permukiman kumuh perkotaan di Kabupaten Sleman, sehingga dapat mendukung terwujudnya permukiman perkotaan yang layak huni, produktif dan berkelanjutan di Kabupaten Sleman.

Sedangkan Plt Sekretaris Dinas PUP Kabupaten Sleman, Mirza Anfansury ST Mt mengatakan tujuan program KOTAKU  untuk meningkatkan akses terhadap insfrastruktur dan pelayanan dasar  di permukiman kumuh untuk mendukung terwujutnya permukiman yang layak huni, produktif dan berkelanjutan .

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatangan lounching KOTAKU oleh Bupati Sleman dan peserta sosialisasi. Bertindak sebagai nara sumber dalam sosialisasi tersebut dari Kepala Satker PKP DIY dengan materi Sinkronisasi kebijakan penanganan kumuh DIY, dari Bappeda Sleman dengan materi Konsep dan kebijakan penanganan kumuh Kabupaten Sleman dan Pokjanis Kabupaten Sleman dengan materi konsep dan kebijakan program KOTAKU.