Tim Lomba Toga Pusat Kunjungi Sleman

Melihat Tanaman TogaSleman – Ketua Tim Penggerak PKK Pusat Ny dr Erni Guntarti Tjahjo Kumolo didampingi Ny GKBRA  Paku Alam X, dan Ny Hj. Kustini Sri Purnomo, meninjau lokasi pemanfaatan Toga di Desa Harjobinangun Pakem, Rabu (31/8).

Tinjauan ini bersamaan dengan dilakukannya verifikasi Lomba Pemanfaatan Hasil Tanaman Obat Keluarga (Toga) Tingkat Nasional. Pada peninjauan yang pertama dilokasi tanah kas desa Harjobinangun yang tandus, oleh ibu-ibu yang tergabung dalam KWT (Kelompok Wanita Tani) dimanfaatkan untuk menanam 211 jenis tanaman obat yang berkasiat bagi kesehatan tubuh.

Selain itu juga terdapat kolam ikan untuk terapi serta aneka tanaman hias, sehingga tempat ini selain dapat dimanfaatkan untuk sarana berobat, sarana belajar juga dapat sebagai sarana rekreasi keluarga.

Selanjutnya tim menuju kediaman  Agus Beji yang juga terdapat aneka Toga dan pemanfaatannya serta ramuan herbal. Perjalanan menuju rumah  Agus melewati area pemanfaatan kebuh jahe.

Selanjutnya tim kembali melihat kegiatan hasil olahan Toga seperti jamu gendong, produk herbal, aneka jus, pelatihan toga, wisata toga di kediaman Ir Nurdani. Ditempat ini Tim juga melakukan penilaian lebih mendalam tentang pemanfaatan toga di desa Harjobinangun yang disajikan dalam disply yang digelar oleh para pengelola yang kebanyakan dari Kelompok Wanita Tani Desa Harjobinangun Pakem.

Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Sri Murni Rahayu mengatakan proses verifikasi yang dilakukan oleh Tim Pusat diharapkan dapat mengantarkan Desa Harjobinangun sebagai pemenang dalam Lomba Pemanfaatan Hasil Tanaman Obat Keluarga (Toga) Tingkat Nasional.

Dengan demikian keberhasilan Desa Harjobinangun dalam pemanfaatan hasil Toga dapat menjadi motivasi desa lainnya di Kabupaten Sleman untuk dapat lebih giat dalam pemanfaatan hasil Toga demi terciptanya masyarakat Sleman yang lebih sejahtera dan mandiri.

Pembangunan dalam bidang kesehatan menjadi hal yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional. Disamping peningkatan dalam pelayanan dan sarana kesehatan, peningkatan kesadaran, motivasi dan kemampuan masyarakat secara berkelanjutan untuk hidup sehat juga menjadi kunci dalam mempercepat pencapaian derajat kesehatan yang optimal.

Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat dalam kesehatan harus mampu mengantarkan peningkatan kapasitas masyarakat dalam bidang kesehatan, dengan menerapkan berbagai upaya kesehatan melalui partisipasi aktif masyarakat. Salah satu upaya tersebut dapat dilakukan melalui penerapan dan pemanfaatan tanaman obat keluarga  secara mandiri di masyarakat.

Masyarakat ditingkatkan kemampuannya dalam mencari solusi untuk masalah kesehatan secara mandiri sebagai upaya pertolongan pertama dalam keluarga dan memelihara kesehatan.

Melalui pemanfaatan Toga diharapkan dapat menunjang kesehatan masyarakat sebagai upaya preventif, promotif, peningkatan kesejahteraan serta sebagai sumber penyedia bahan baku obat tradisonal. Disamping itu keberadaan Toga juga menjadi sarana pelestarian dan penghijauan sehingga menambah keindahan lingkungan, menjadi lebih hijau dan asri.

Sementara hal yang pasti menggembirakan disampaikan oleh Ketua Tim Penggerak PKK Pusat karena setelah melakukan peninjauan lapangan dan melihat dari dekat apa yang dilakukan masyarakat, Ny Erni melihat peluang yang besar desa Harjobinangun masuk nominasi sebagai juara nasional dalam lomba Pemanfaatan Hasil Tanaman Obat Keluarga  Tingkat Nasional.

Di Bumi Indonesia sangat banyak ragam tanaman dan banyak yang belum dimanfaatkan dan desa Harjobinangun mampu memanfaatkan tanaman yang ada disekitar untuk berbagai macam obat yang sangat berkasiat bagi tubuh manusia.

Hal itu yang menjadi nilai plus sehingga tanaman yang sebelumnya dianggap tidak ada manfaatnya mampu diubah menjadi bahan yang berkhasiat.




Dinas Pariwisata DIY Dukung Pariwisata Non Alam

Sleman – Dinas Pariwisata Provinsi DIY mengadakan kunjungan ke sejumlah destinasi wisata di wilayah Kabupaten Sleman yaitu mengunjungi museum dan produk kerajinan kayu.

“Kunjungan wisata ke daerah seperti di kawasan Kaliurang Sleman ini untuk lebih mengenal tentang destinasi atau obyek wisata yang kiranya bisa mendukung kepariwisataan di DIY. Yang dikunjungi juga tidak hanya destinasi saja tapi juga tempat produki barang kerajinan juga perlu dipekenalkan,” kata Kepala Dinas Pariwisata DIY, Ir Aris Riyanto MSi disela-sela memimpin kunjungan ke destinasi wisata Sleman, Rabu (31/8).

Menurut Aris, selain melihat museum gempa juga melihat produk kerajinan kayu yang sangat bagus untuk sovenir wisatawan.

“Selama ini kalau ke Kaliurang hanya melihat Tlogo putri atau jalan ke lereng Merapi dan  sekitarnya. Ternyata Kaliurang memiliki potensi wisata lain yang unik dan menarik diantaranya Museum gempa dan produk kerajikan kayu lukis,” tutur Aris.

Karena itu lanjut Aris, Dinas Pariwisata DIY mendukung sepenuhnya keberadaan destinasi wisata non alam. Termasuk adanya museum-museum dan sentra kerajinan yang bisa dijadikan cinderamata para wisatawan.

Ditambahkan Aris, obyek wisata non alam ini jika digarap serius bisa efektif menarik minat kunjung wisatawan. Dicontohkan  Taman Pintar, Gembiraloka Zoo, museum-museum hingga sentra kerajinan.

Diakui sektor pariwisata tidak hanya tentang obyek wisata alam saja tetapi produksi kerajinan yang mendukung pariwisata juga perlu dikenalkan.

“Wisata itu melihat dan merasakan. Kemudian pulang bisa membawa oleh-oleh berupa makanan atau souvenir. Keberadaan sentra kerajinan menjadi salah satu dukungan terhadap pariwisata. Sehingga multi efek ekonomi pariwisata ke masyarakat bisa lebih banyak,” tutur Aris.

Potensi wisata di DIY, lanjut Aris, sangat bervariasi. Bahkan dari data BPS dari sektor pariwisata bisa menyerap tenaga kerja sebesar . Namun Aris tak menampik jika sejauh ini sektor kuliner menjadi yang paling potensial di DIY.

Sedang Kasi Promosi Dinas Pariwisata DIY, Putu Kertiyasa menambahkan kunjungan ke obyek wisata di Kabupaten /Kota merupakan agenda rutin. Hal ini bertujuan mengenalkan destinasi wisata yang belum dikenal masyarakat luas. Sebelumnya Dinas Pariwisata DIY sudah melakukan kunjungan ke kabupaten lainnya seperti Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo.

“Dalam kunjungan kami juga bisa memberikan masukan ke pengelola obyek wisata jika harus ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Bisa tentang akses jalan atau hal lainnya yang menunjang keberadaan wisata tersebut,” kata Putu.




Museum Gempa Prof Sarwidi, Wisata Edukasi Kegempaan

Sleman – Masih ingat dengan peristiwa gempa tahun 2006 yang cukup dahsyat dengan ribuan korban jiwa dan ribuan bangunan hancur. Bermula dari peristiwa gempa bumi tersebut memunculkan ide Prof Dr Sarwidi salah seorang Pakar gempa UII untuk mendirikan Museum Gempa di tempat wisata Kaliurang Sleman atau tepatnya di Dusun Ngalangan Kaliurang Timur Hargobinangun Pakem Sleman.

‬”Museum gempa ini bisa dinikmati kalangan orangtua, mahasiswa, dan anak-anak. Mereka bisa menikmati museum sambil wisata di Kaliurang,” kata Prof dr Sarwidi ketika menerima rombongan kunjungan Dinas Pariwisata Provinsi DIY ke Museum Gempa, Rabu (31/8).

‪Dijelaskan Sarwidi, museum gempa diberi nama Museum Gempa Prof Sarwidi. Museum ini dilengkapi dengan alat peraga, film, permainan simulasi gempa dan terpadu dengan obyek wisata. ‬

‪Museum Gempa, kata Sarwidi, memberi pelajaran bagi generasi muda agar lebih akrab terhadap gempa. Sehingga ketika terjadi gempa beneran, sudah mengetahui bagaimana menyelamatkan diri. ‬

Karena lanjut Sarwidi, gempa bumi menjadi bencana alam yang tidak bisa dihindari masyarakat. Hanya saja yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat menyiapkan diri dalam menghadapi gempa. Di Museum Gempa Prof Dr Sarwidi masyarakat bisa mendapatkan wawasan dan ilmu pengetahuan tentang mitigasi bencana alam serta bangunan rumah rakyat tahan gempa (barrataga).‬

‪Di museum tersebut masyarakat bisa mendapat wawasan tentang seluk beluk gempa dan rumah tahan gempa untuk mengurangi korban jiwa. Museum Gempa memangh bisa digunakan untuk edukasi mengurangi resiko bencana. Sebab pada dasarnya diungkapkan Sarwidi bahwa gempa itu bukan musuh tapi sahabat manusia.

‪Museum gempa sudah tujuh tahun berdiri dan baru satu tahun berada di Dusun Ngalangan, Kaliurang Timur, Pakem, Sleman. Setelah bergabung dengan paket wisata di kawasan Kaliurang, jumlah pengunjung mulai mengalami peningkatan.‬

Gempa, lanjut Sarwidi, jangan dipandang dari sisi negatifnya saja. Tetapi ada sisi positifnya, sebab gempa merupakan salah satu cara bumi melepaskan diri energinya.

“Kalau tidak ada gempa, kemungkinan bumi ini bisa meledak dan bumi ini tidak bisa dihuni lagi. Jadi gempa itu tugasnya mulia, menyelamatkan bumi,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Provinsi DIY, Ir Aris Riyanta MSi mengatakan keberadaan museum gempa ini sangat bermanfaat bagi semua kalangan baik pelajar, mahasiswa maupun umum.

Menurut Aris, agar lebih dikenal,  museum gempa harus bekerjasama dengan obyek wisata lainnya di kawasan Kaliurang. Seperti Museum Gunungapi Merapi (MGM), obyek wisata Kaliurang serta Merapi adventure.‬

‪”Pihak museum juga bisa berkolaborasi dengan travel agen dan tujuan wisata lainnya yang berada di satu kawasan. Museum ini satu-satunya di Indonesia sehingga sudah menjadi sesuatu yang unik dan berbeda. Hal tersebut menjadi selling point atau daya pikat tersendiri,” kata Aris

‪”Museum gempa Prof Dr Sarwidi buka setiap Selasa hingga Minggu mulai pukul hingga WIB. Pengunjung cukup membayar uang retribusi sebesar Rp per orang dan bisa mendapat banyak pengetahuan tentang bencana gempa,” kata Pengelola Museum Bidang Perencaan,  Dwi Santoso.




Cegah Kekerasan Pada Anak, Pemkab Adakan Pelatihan Pemetaan Rute Aman Selamat Sekolah

pelatihanSleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus berkomitmen untuk pengembangan sekolah ramah anak sesuai dengan Peraturan Bupati tahun 2016 tentang sekolah ramah anak. 

Salah satu upaya yang dilakukan Pemkab Sleman melalui Badan KB PMPP bekerjasama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) adalah dengan melakukan Pelatihan Pemetaan Rute Aman dan Selamat ke atau dari Sekolah yang dilaksanakan Selasa-Rabu (30-31 Agustus 2016) di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menyampaikan bahwa upaya pemetaan Rute Aman Selamat Sekolah (RASS) ini merupakan kesempatan yang tepat untuk mendorong agar pelajar lebih memilih berjalan kaki, bersepeda atau menggunakan angkutan umum sebagai pilihan yang selamat, aman, nyaman dan menyenangkan untuk berangkat dan pulang sekolah dibanding menggunakan kendaraan bermotor yang rawan kecelakaan.

Menurutnya dalam UUD 1945 Pasal 28B ayat (2) disebutkan bahwa ‘Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi’.

Hal senada juga disebutkan pada UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa anak memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan.

“Berangkat dari kesadaran tersebut, dibutuhkan perhatian dari kita semua untuk mewujudkan fasilitas publik yang mendukung anak-anak kita mendapatkan perlindungan tidak hanya dari kekerasan namun juga keselamatan selama berada di fasilitas publik,” jelas Sri Purnomo, Selasa (30/8).

Sementara itu Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak Atas Pengasuhan, Keluarga, dan Lingkungan, Rohika Kurniadi Sari SH MSi yang hadir dalam pelatihan tersebut menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman sebagai Kabupaten Layak Anak ada 31 indikator yang harus dipenuhi, salah satunya adalah jumlah sekolah yang memiliki program, sarana dan prasarana perjalanan anak ke dan dari sekolah.

“Rute Aman Selamat ke atau dari Sekolah merupakan bentuk pemenuhan hak anak,” kata Rohika.

Rohika berharap dengan adanya RASS ini kasus Yuyun di Bengkulu beberapa waktu lalu tidak terulang lagi. Menurutnya tujuan diadakannya kegiatan pelatihan ini adalah untuk mengajak partisipasi, memfasilitasi, serta mendengarkan suara anak sekolah perihal rute aman sekolah.

Selain itu juga mengajak lintas sektor untuk bekerjasama dalam pelaksanaan dan pengawasan RASS tersebut. Pelatihan Pemetaan RASS pada hari pertama diikuti oleh 140 orang siswa dari 4 sekolah yaitu SD Negeri Triharjo Sleman, MI Negeri Tempel Sinduharjo, Mts Negeri Yogyakarta Mlati, SMP Negeri 2 Sleman. Di hari kedua pelatihan diikuti oleh 24 orang dari SKPD terkait di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman.




200 Siswa SMA/SMK Ikuti Kemah Budaya

Sleman – Sebanyak 200 Siswa SMA/SMK se-Kabupaten Sleman akan melakukan kemah budaya selama tiga hari mulai tanggal 2–4 September 2016 di Desa Wisata Pulesari Wonokerto Sleman. Kemah budaya kali ini mengambil tema “Dengan kemah budaya kita tingkatkan jati diri dan karakter generasi muda”. Demikian dikatakan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Dra Endah Sri Widiastuti MPA dikantornya, Senin (29/8).

Endah menambahkan bahwa dalam acara kemah budaya ini 25  sekolah SMA/SMK masing-masing mengirimkan 1 regu putra/putri dengan komposisi 2 orang anggota ambalan dan 6 orang non ambalan.

Adapun maksud dan tujuan diselenggarakannya kemah budaya tersebut adalah sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal dan nilai-nilai adiluhung yang terkandung didalamnya. Selain itu juga sebagai sarana untuk bersilaturahmi antar siswa antar sekolah untuk meminimalisir kekerasan satu friksi diantara siswa.

“Selama kegiatan tersebut juga diagendakan diskusi tentang Pendidikan berbasis budaya dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga, Narkoba dan generasi muda dari BNNK, Budaya bersih dan lingkungan dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman,” kata Endah.

Selain itu lanjutnya juga diagendakan materi tentang Bahasa dan pakaian jawa dari TVRI Jogja, Makna Hantaran oleh Prof Suwarno Pringgodigdo, Tradisi lokal masyarakat Pulesari oleh pengelola Desa Wisata Pulesari dan Sustainable Tourism Development oleh Dra Shavitri Nurmala Dewi MA.

“Tidak hanya ada diskusi, dalam acara kemah budaya tersebut juga dilengkapi dengan Praktik pembuatan hantaran, penjor, dan sesorah bahasa Jawa, sehingga para peserta kemah budaya dapat melihat bagaimana praktek dan proses pembuatannya secara langsung,” tutur Endah.

Ditambahkan Endah,  generasi muda merupakan tulang punggung bangsa, oleh karenanya masa depan bangsa dan negara sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda. Terlebih lagi dengan adanya arus deras globalisasi dan kebebasan informasi dari berbagai negara asing serasa tidak dapat dibendung lagi.

Oleh karenanya generasi mudalah yang harus memiliki filter yang kuat dan selektif terhadap berbagai pengaruh tersebut. Karena pengaruh tersebut akan mempengaruhi pembentukan karakter generasi muda itu sendiri. Pengaruh positif sudah barang tentu dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa dan meningkatkan daya saing, akan tetapi pengaruh negatif musti dihindarkan.

“Generasi muda tidak boleh terlena terhadap arus globalisasi yang sangat deras ini,” tuturnya.