Ditarik Pusat dan DIY, Sleman Bakal Kehilangan 1.500 PNS

Sleman – Terkait adanya penataan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang sedang di lakukan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman diperkirakan  bakal kehilangan sekitar pegawainya karena diambil pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi DIY.

“Pengurangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Sleman ini juga sebagai dampak penataan OPD yang tengah dilakukan,” kata Plt Sekda Sleman Drs H Iswoyo Hadiwarno, Minggu (28/8).

Menurut Iswoyo, PNS Pemkab Sleman sebagian diambil pemerintah pusat seperti penyuluh keluarga berencana. Sebagian lainnya ditarik ke Pemda DIY semisal guru SMA/SMK, pegawai bidang pertambangan dan kehutanan.

Lebih jauh dijelaskan, meski nantinya tidak lagi berstatus pegawai Pemkab Sleman, namun ketugasan mereka dimungkinkan masih tetap di Sleman. Seperti halnya untuk guru dan penyuluh keluarga berencana.

Hanya saja untuk pegawai pertambangan dan kehutanan, belum tentu mereka ditempatkan di wilayah Sleman lagi. Semua itu tergantung kebutuhan personel di Pemda DIY.

Terkait penataan OPD di Sleman, Iswoyo minta seluruh PNS Pemkab Sleman untuk tidak resah. Meski ada sejumlah SKPD yang dihilangkan, namun dipastikan tidak ada personel yang terdegradasi.

“Untuk pegawai yang instasinya digabung atau bahkan dihapus, tetap akan ada tempat di SKPD yang baru. Mengingat penataan OPD di Sleman ini bukan perampingan, tetapi justru pemekaran,” tegasnya.

Dikatakan pula, meski untuk penataan OPD ini dilakukan secara nasional dan ada aturannya baik itu undang-undang maupun peraturan pemerintah, namun untuk Sleman tidak akan dilakukan secara kaku. Penataan dilakukan tetap sesuai aturan dan tepat sasaran sehingga masyarakat tetap akan terlayani.

“Pada prinsipnya, dalam penataan OPD ini ada yang digabung, ada pula yang dihilangkan sesuai dengan urusan masing-masing instansi,” jelas Iswoyo.

Ditambahkan, penataan OPD Pemkab Sleman ditarget selesai 31 Agustus 2016. Kemudian disusul dengan penetapan APBD yang harus selesai pada Desember 2016. Dengan demikian, mulai Januari 2017 nanti Pemkab Sleman sudah menggunakan APBD sesuai dengan OPD yang baru.

“Kami tergetkan 2 Januari 2017 bakal ada pelantikan pejabat besar-besaran menyesuaikan OPD yang baru,” kata Iswoyo.




Sleman Rintis 17 Kampung KB

Bupati Selamn Serahkan SKSleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI melakukan launching Kampung KB pada Puncak acara Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-23 tingkat DIY tahun 2016 di Museum Gunungapi Merapi (MGM) Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman, Sabtu (27/8). 

Launching tersebut ditandai dengan penyerahan SK pada 17 Dusun  yang disaksikan langsung oleh Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Pakualam, Asisten Administrasi Umum  Sekda DIY Dra Kristina Swasti, MSi, Deputi KSPK BKKBN Ir Ambar Rahayu MNS.

Ke-17 Dusun perwakilan tiap Kecamatan se-Kabupaten Sleman yang dicanangkan  menjadi Kampung KB tersebut yaitu Temuwuh Kidul (Balecatur Gamping), Pendulan (Sumberagung Moyudan), Kisik I (Sendangagung Minggir), Dongkelan (Sidorejo Godean), Kregolan (Margomulyo Seyegan), Toragan (Tlogoadi Mlati), Banjeng (Maguwoharjo Depok).

Dan, Baran (Kalitirto Berbah), Sengir (Sumberharjo Prambanan), Tundan (Purwomartani Kalasan), Malangrejo (Wedomartani Ngemplak), Tanjungsari (Sukoharjo Ngaglik), Murangan VIII (Triharjo Sleman), Bangunrejo (Merdikorejo Tempel), Gondang (Donokerto Turi), Ngepring (Purwobinangun Pakem), Bulaksalak (Wukirsari Cangkringan).

Sri Purnomo menyampaikan bahwa dalam upaya peningkatan keluarga yang lebih sehat dan sejahtera beberapa kegiatan disinergikan yaitu antara lain dilakukan melalui pembinaan Bina Keluarga Sejahtera, Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja, dan Bina Keluarga Lansia di seluruh desa.

Disamping itu dilakukan berbagai penyuluhan tentang Kelangsungan Hidup Ibu, Bayi dan Anak (KHIBA), penyuluhan HIV/AIDS, penyuluhan penundaan usia pernikahan dan pembinaan Keluarga Berencana Pasca Persalinan dan Pasca Keguguran (KB PPPK).

Sementara Deputi KSPK BKKBN, Ambar Rahayu mengapreasiasi pencanganan Kampung KB di Kabupaten Sleman. Menurutnya dengan pembentukan Kampung KB merupakan bentuk langkah membangun Indonesia dari Pinggiran.

“Program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan pembangunan keluarga merupakan salah satu pintu masuk untuk membentuk Kampung KB,” jelas Ambar.

Ambar menambahkan bahwa dengan peringatan Harganas ini diharapkan dapat membangun karakter bangsa melalui keluarga demi mewujudkan Indonesia sejahtera sesuai dengan moto Harganas 2016 yaitu “Keluarga Berkarakter Indonesia Jaya’. “Harganas ini menjadi momentum untuk mewujudkan ketahanan keluarga. Ada empat konsep dalam mewujudkan ketahanan keluarga yaitu berkumpul, interaksi, berdaya, dan peduli,” tutur Ambar.

Gubernur DIY dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Administrasi Umum Sekda DIY Dra Kristina Swasti MSi menyampaikan bahwa keluarga merupakan wahana utama terbentuknya kepribadian pranata sosial pertama dalam membekali tumbuh kembang manusia.

“Dalam membangun sebuah keluarga diperlukan berbagai terobosan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan fisik dan non fisiknya melalui program-program pemberdayaan,” kata Gubernur.




Warga Desa Sendangagung Gelar Merti Desa Ki Ageng Tunggul Wulung

Edan - EdananSleman – Warga Desa Sendangagung Minggir kembali menggelar kirab budaya merti desa Ki Ageng Tunggul Wulung, Jum’at (26/8). 

Kirab diawali dengan pengambilan air 7 sumber di sekitar wilayah Desa Sendangagung, kemudian air tersebut diarak dari Lapangan Sendangagung menuju rumah juru kunci makam Ki Ageng Tunggul Wulung.

Kepala Desa Sendangagung R. Heru Prasetya Wibawa, S.E mengatakan merti desa merupakan wujud syukur kepada Allah SWT atas limpahan rejeki yang telah diberikan selama ini, dan sekaligus merupakan kesempatan bagi warga Desa Sendangagung untuk melestarikan budaya yang telah berjalan turun temurun.

Sesampainya di rumah juru kunci Ki Ageng Tunggul Wulung, acara kirab dilanjutkan dengan pembagian nasi takir atau nasi gudangan. Nasi takir merupakan wujud syukur atas berkah yang berkelimpahan dan dibagikan kepada seluruh pengunjung yang datang dalam acara kirab. Pada kesempatan tersebut dibagikan nasi takir sejumlah takir (bungkus).

Setelah pembagian nasi takir selesai, Tari Tayuban pun digelar untuk memeriahkan dan menghibur warga desa yang sendang berkumpul. “Dulu, Tayuban merupakan salah satu hiburan kegemaran Ki Ageng Tunggul Wulung,” kata Heru.

Peserta kirab dimeriahkan oleh 15 padukuhan di wilayah Desa Sendangagung. Dan, rangkaian Merti Desa Sendangagung diakhiri dengan pagelaran wayang yang dibawakan oleh dalang Ki Supangat dari Kulonprogo.




Di Kalasan Ditemukan 88 Kasus DBD dan 3 Orang Meninggal

Sleman – Masih banyaknya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Kecamatan Kalasan membuat Tim Kelompok Kerja Operasional  Demam Berdarah Dengue (Pokjanal DBD) kembali mengadakan gerakan Jumat bersih Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di  Padukuhan Pundung Klenggukan Desa Tirtomartani Kalasan, Jumat (26/8).

Tim ini terdiri dari gabungan personil  Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Bappeda, TNI dan Polri dan Desa serta jumantik Dusun. Camat Kalasan, Samsul Bachri menyampaikan bahwa dampak musim penghujan atau kemarau yang tidak menentu menyebabkan tumbuh kembangnya nyamuk meningkat, serta pola menjaga kebersihan lingkungan oleh  masyarakat belum maksimal.

Dikatakan Samsul, kasus DBD di Wilayah Kecamatan Kalasan sampai bulan Agustus  2016 ini tercatat mencapai 88 kasus DBD serta 3 orang meninggal dunia. Karena itu Samsul  berharap kepada setiap orang atau person bisa menjadi Pemberantas Sarang Nyamuk bagi dirinya maupun Kelurganya.

Tim pokjanal dalam melaksanakan Gerakan PSN di Padukuhan Pundung Desa Tirtomartani terbagi dalam 6 Kelompok, setiap kelompok terdiri 7 orang yang beranggotakan dari Kader Jumantik Padukuhan, Desa Kecamatan dan Kabupaten menjalankan pemeriksaan di rumah-rumah penduduk melihat langsung kamar mandi, kulkas, dispenser air minum, tempat minum burung dan lingkungan yang dimungkinkan untuk tumbuh kembangnya jentik.

Dari hasil pantuan 106 rumah warga didapatkan jentik pada 27 titik sehingga Angka Bebas Jentik (ABJ) di kawasan ini terbilang masih rendah yaitu 74,5 %. Tentu saja ini masih memungkinkan sekali untuk berkembangnya penyakit Demam Berdarah di daerah ini, terlebih lagi dalam monitoring Tim Jumantik banyak menjumpai jentik-jentik di bak mandi, ban bekas, dan botol bekas yang ada airnya.

Untuk itu warga diharapkan  melaksanakan bersih lingkungan setiap minggu, dan melakukan 3 M yaitu menguras, menutup dan mengubur barang bekas sehingga tidak ada genangan air yang terlihat, karena genangan air sedikitpun bisa untuk berkembang biak nyamuk Aedes Agepty penular demam berdarah.




Kampung Flory Diminati Wisatawan Minat Khusus‬

Sleman – Minat generasi muda terhadap bidang pertanian semakin menurun dari waktu ke waktu. Alasan inilah yang kemudian mendorong sejumlah anak muda di Pangukan, Tridadi, Sleman membentuk kelompok yang bergerak dalam bidang pertanian.‬

‪Meski bukan merambah langsung pertanian tanaman pangan, namun kelompok Taruna Tani Flory tersebut berhasil meyakinkan generasi muda bahwa sektor pertanian membawa keuntungan yang tak kalah dengan pekerjaan formal, bahkan melebihinya.‬

‪Bidikan utama mereka adalah pengembangan bibit tanaman hias dan buah-buahan yang masih ramai dicari khalayak.‬ Kampung Flory di Dusun Jugang Pangukan, Tridadi, Kabupaten Sleman diminati wisatawan minat khusus yang ingin belajar tentang tanaman hias, perkebunan, dan pertanian.‬

‪”Sejak didirikan dua tahun lalu, minat masyarakat untuk berkunjung ke Kampung Flory terus meningkat, baik yang sekadar `refreshing` satu hari maupun yang ingin belajar,” kata pembina Kampung Flory Sudihartono, Jum’at (26/8).‬

‪Kampung Flori  ini juga rutin dikunjungi peserta magang dari berbagai daerah yang ingin belajar mengenai cara wirausaha di bidang agribisnis pertanian.‬

‪”Kami memiliki rencana menjadikan kawasan ini destinasi wisata edukatif. Berbagai sarana pendukung seperti taman edukatif, tanaman buah/bunga dalam pot (tabulampot), sayur mayur, dan tanaman obat keluarga sudah kami siapkan,” kata Sudihartono.‬

‪Keinginan menjadikan kawasan seluas dua hektar ini sebagai agrowisata tidak lepas dari rasa keprihatinan kelompok taruna tani yang mengelola usaha ini, karena ketertarikan generasi muda terhadap bidang pertanian terus berkurang.‬

‪”Kaum muda, terutama di daerah ini lebih memilih bekerja di sektor nonpertanian karena dirasa lebih menguntungkan dari segi pendapatan,” katanya.‬

‪Sudihartono mengatakan, sesungguhnya agribisnis bisa menjadi peluang usaha yang menjanjikan asalkan dikelola dengan baik. Terlebih kebutuhan tanaman hias dan “landscape” terus meningkat seiring maraknya pembangunan hotel, apartemen, taman kota, perumahan, wahana rekreasi, dan perkantoran.‬

‪”Selama ini, 80 persen kebutuhan taman dipasok dari luar DIY. Ini sebenarnya peluang bagi pelaku agribisnis lokal. Kami selama ini sering menerima order dari hotel dan instansi pemerintah untuk pembuatan taman kota,” katanya.‬

‪Sudihartono menambahkan tahun depan, kelompok tani Flory yang dikelola 20 anggota ini menargetkan menambah beberapa “nursery” (area persemaian bibit).‬ ‪Sekretaris Kelompok Taruna Tani Flory, Surono mengatakan kampung flori saat ini sudah dilengkapi  bangunan museum Omahe Pak Tani sebagai pendukung wisata edukatif yang bersinergi dengan usaha kuliner.

Kampung flory juga telah dilengkapi kolam bermain termasuk untuk terapi ikan dan tiga rumah limasan sebagai tempat pertemuan. Kampung flory memang ditata sebagai obyek wisaya edukasi pertanian supaya menarik generasi muda dan pelajar. Setiap bulannya, pengelola area pembudidayaan tanaman hias dan bibit buah yang berlokasi di kampung flori ini  mampu meraup omset hampir Rp 100 juta.