PMI Targetkan 1,2 Persen Penduduk Sleman Jadi Pendonor Tetap

Sleman – Kalangan pegawai institusi pemerintah dan perusahaan besar diincar pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) Sleman untuk menjadi pendonor tetap. Hal itu diharapkan bisa mendorong tercapainya target jumlah pendonor tetap sebanyak 1,2 persen dari jumlah penduduk Sleman.

Ketua PMI Sleman, dr Sunartono MKes mengakui target tersebut belum bisa dicapai. Jumlah pendonor tetap di Sleman saat ini baru mencapai 0,8 persen dari jumlah penduduk Sleman yang sebanyak 1,1 juta penduduk.‬

‪Oleh karena itu, pihaknya merasa perlu menggandeng pihak-pihak dari institusi pemerintahan maupun perusahaan swasta yang statusnya sudah settle (mapan) untuk menggalang kegiatan ke-palangmerah-an di masyarakat. Di antaranya para anggota Polri, TNI, pegawai negeri sipil, dan lainnya.

“Contohnya, sewaktu mereka menggelar event, akan lebih baik bila ada kegiatan donor darah. Ini di antaranya yang terus kami gencarkan. Kami terus melakukan promosi dan pendekatan supaya kesadaran masyarakat untuk menjadi pendonor terus meningkat,” kata Sunartono, Minggu (14/8).

Sunartono juga berharap, dengan menggandeng masyarakat secara lebih luas lagi sebagai pendonor, target jumlah pendonor tetap itu bisa tercapai. Selanjutnya, pemenuhan jumlah stok darah harian yang ada di Sleman juga bisa terjamin.

Rata-rata permintaan darah secara bulanan di Sleman saat ini disebutnya mencapai 800-1000 kantong darah. Dari permintaan tersebut, tidak semua golongan darah bisa dipenuhi karena sifatnya yang langka. Untuk mengatasinya, sambungnya, PMI Sleman terkadang bekerjasama dengan unit pelayanan lain untuk meminta stok yang dibutuhkan.

“Stok darah Sleman sekarang ini masih relatif aman. Jejaring pun sudah mulai lancar. Bila satu wilayah kekurangan, bisa ambil wilayah lain,” jelasnya.




‪BPBD Sleman Bina Relawan Melalui Ajang Kompetisi‬

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman memiliki program membina para relawan di wilayah Sleman  melalui kompetisi antar komunitas untuk mengasah keterampilan dan kekompakan dalam penanggulangan bencana.‬

‪”Pembinaan relawan penanggulangan bencana melalui ajang kompetisi antar komunitas ini dalam rangka meningkatkan keterampilan mereka,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Makwan, Minggu (14/8).‬

‪Menurut Makwan, materi kompetisi relawan tersebut meliputi pendirian tenda khusus untuk pengungsian korban bencana.‬

‪”Nanti dalam kompetisi tersebut setiap tim dari komunitas melibatkan sebanyak sepuluh orang anggota,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, pendirian tenda pengungsian yang membutuhkan kekompakan seluruh anggota tim diharapkannya bisa tertanam juga di relawan.‬

‪”Tenda pengungsian itu khusus, sehingga satu tim harus kompak dalam mendirikannya. Mendirikan satu tenda biasanya membutuhkan waktu 20 menit,” katanya.‬

‪Makwan mengatakan, selain menumbuhkan keterampilan dan kekompakan diharapkan sewaktu-waktu para relawan ini bisa membantu untuk mendukung penanganan pengungsi ketika ada suatu bencana.‬

‪”Jadi ketika dalam kondisi darurat bencana, para relawan bisa membantu dalam penanganannya,” katanya.‬

‪Makwa menambahkan, dalam pembinaan ini, pihaknya juga telah menyiapkan beberapa hadiah bagi pemenang, agar mereka lebih termotivasi untuk mengikutinya.‬

‪”Beberapa hadiah tersebut seperti gergaji mesin, `handy talky` (HT), dan perlengkapan lainnya,” katanya.‬

‪Komunitas relawan yang akan mengikuti ini, mereka yang berada di wadah Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman (FKKRS). Yang saat ini ada sebanyak 48 komunitas di dalamnya.‬

‪Ketua Presidium FKKRS Daniel Supriyanto, mengatakan wadah ini selain supaya komunitas relawan bisa saling komunikasi dengan baik, juga agar memudahkan dalam upaya pembinaannya.‬

‪”Seperti yang direncanakan akan dilakukan dalam waktu dekat ini, agar ada keseragaman dan peningkatan kemampuan relawan juga,” katanya.




Rasa Kebangsaan dan Patriotisme Perlu Dibudayakan‬

Bupati Sleman Berikan SambutanSleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menegaskan bahwa rasa kebangsaan dan patriotisme perlu untuk dibudayakan, terutama di kalangan generasi muda, anak-anak dan remaja sebagai modal dalam membangun bangsa saat Ramah Tamah Perintis Kemerdekaan, Veteran, Purnawirawan, Wredhatama, Warakawuri, Angkatan 45, dan Purna Bhkati Karya di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman dalam rangka HUT RI ke-71, Jumat (12/8).‬

‪”Rasa kebangsaan dan nasionalisme, sangat perlu kita tumbuh kembangkan, terutama pada generasi muda, anak-anak dan remaja. Dengan kata lain kita perlu membudayakan rasa kebangsaan dan patriotisme pada diri setiap anak Indonesia sejak dini,” kata Sri Purnomo.

‪Menurut Sri Purnomo, momentum peringatan HUT Kemerdekaan RI yang bersama-sama akan diperingati, merupakan saat yang tepat untuk memupuk kembali semangat persatuan dan rasa kebangsaan.

Terlebih lagi, saat ini Bangsa Indonesia sedang dihadapkan pada krisis ekonomi global yang berimbas pula pada tatanan perekonomian nasional, sehingga dibutuhkan komitmen bersama untuk bekerja keras membangun bangsa dan masyarakat dalam segala bidang kehidupan.‬

‪”Perjuangan keras veteran mengajarkan pada generasi penerus akan pentingnya rasa kebangsaan dan patriotisme sebagai modal dasar kerja keras membangun bangsa,” katanya.‬

‪Sri Purnomo menambahkan, seluruh lapisan masyarakat harus menyadari bahwa tanggung jawab menanamkan rasa kebangsaan dan patriotisme tersebut tidak saja menjadi tugas pemerintah, namun juga menjadi tugas dan tanggungjawab para orang tua, para pendidik dan seluruh warga masyarakat termasuk di dalamnya juga para pejuang perintis kemerdekaan.‬

‪Sri Purnomo mengatakan, kondisi masyarakat Sleman yang heterogen dengan berbagai latar belakang suku, agama dan ras, diharapkan agar masyarakat menjaga kerukunan dengan memperlakukan setiap warga masyarakat sama kedudukan.‬

‪”Pemkab Sleman tidak membeda-bedakan warga masyarakatnya dari asal-usul, suku, agama maupun budayanya. Setiap warga Sleman memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai satu kesatuan yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Oleh karena itu, antar warga masyarakat sendiri harus dapat saling menghargai dan menghormati agar tercipta kerukunan hidup dan pembauran kebangsaan,” katanya.‬***




Animo Perajin Geluti Eco Batik Tinggi

Sleman – Kalangan perajin batik di Kabupaten Sleman mulai dikenalkan dengan penggunaan bahan pewarna alam. Salah satu yang cukup gencar menyosialisasikan program eco batik ini adalah Edia Rahayuningsih, dosen Teknik Kimia UGM yang juga peneliti zat warna alam.

Dari riset yang dia lakukan, saat ini jumlah perajin batik berbahan pewarna alam masih minim. Di Sleman, jumlahnya tidak sampai lima persen dari total sekitar 550 perajin batik.

“Secara jumlah memang tidak banyak tapi sebenarnya animo perajin tinggi.  Karena itu pendampingan usaha dan dana apalagi tidak mudah merubah pola pikir yang berkaitan dengan nafkah,” kata Edia kepada wartawan di Sleman, Jumat (12/8).

Saat ini, kelompok peneliti zat warna alam UGM tengah melakukan riset terhadap sejumlah perajin batik di wilayah Sleman. Penelitian bersumber dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) senilai Rp 1,6 miliar ini diterapkan mulai dari tahap penanaman bahan baku pewarna alam, proses membuat batik hingga suplai.

Edia mengungkapkan, untuk penyediaan tanaman bahan baku rencananya dibuka lahan di daerah Kecamatan Minggir seluas 4 hektare. Sampai saat ini setidaknya sudah ada lima tanaman yang diteliti dan dikembangkan menjadi pewarna alam.

Diantaranya indigofera yang menghasilkan warna biru, tingi untuk produksi warna degradasi dari oranye hingga coklat, dan jawale untuk menciptakan warna dari tingkatan kuning lunak hingga hitam. Selain itu bisa digunakan tanaman tegeran untuk menghasilkan warna tingkatan kuning cerah sampai hijau, dan merbau yang memproduksi warna coklat.

“Kami berusaha membantu perajin membuat pewarna alam yang kompetitif dan praktis. Jika sukses, arahannya ke produksi skala massal,” imbuhnya.

Edia berharap pemerintah daerah bisa semakin berperan dalam pengembangan eco batik. Terlebih di Sleman sudah ada Peraturan Bupati yang mengatur tata kelola batik termasuk didalamnya mengenai eco batik.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengaku siap mendukung jika nantinya kluster perajin eco batik dijadikan eduwisata. Selain memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang bahaya pencemaran lingkungan akibat pewarna sintetis, konsep eduwisata juga bisa mengedukasi konsumen pecinta batik.




Sleman Kirim Misi Kebudayaan ke Surabaya

Sleman – Kabupaten Sleman akhir pekan ini akan mengirimkan misi kebudayaan dalam rangka memperingati HUT Kota Surabaya ke-723 yang dikemas dalam acara Festival Seni Lintas Budaya 2016. Pengiriman misi kebudayaan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan dan mempromosikan potensi seni budaya Kabupaten Sleman kepada masyarakat luas secara nasional maupun internasional.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya, Jumat (12/8). Ayu menambahkan bahwa melalui pengiriman misi kebudayaan ke luar daerah tersebut diharapkan akan meningkatkan silaturahmi dan kerjasama antar daerah dalam rangka untuk memajukan sektor pariwisata.

Selain itu juga untuk mendukung program-program keistimewaan DIY melalui optimalisasi pelestarian dan pemanfaatan potensi seni budaya yang memiliki nilai-nilai yang adiluhung. Selain tentunya sebagai ajang apresiasi bagi para pelaku dan pecinta seni budaya.

Menurut Ayu, Kabupaten Sleman akan  mengirimkan kontingen Prajurit Tradisional Bregada Umbul Kamulyan dari Dayakan Purwomartani Kalasan Sleman yang akan tampil pada hari Minggu 14 Agustus 2016 pukul WIB di Halaman Museum Surabaya.

Selain itu mengikuti kirab, Kontingen Kabupaten Sleman juga akan menampilkan pertunjukan  tarian garapan dengan lakon “Panyumpenan” yang berarti “mimpi” pada hari Senin 15 Agustus 2016 pukul WIB di Balai Budaya Surabaya. Sebagai sutradara Feri Catur Harjanto SPd, penata tari Indra, penata iringan Surono, artistik Johan dan penata rias/busana Brahmantyo Fendi.

Tema tarian garapan tersebut mengangkat legenda rakyat di daerah Prambanan, Sleman yaitu Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso merupakan sebuah legenda yang sangat terkenal baik di Jogja maupun daerah lain. Akan tetapi selama ini masyarakat hanya mengenal tentang cerita Bandung Bondowoso dengan Roro Jonggrang.

Garapan ini menceritakan sebuah mimpi Gupolo yang ingin mendapatkan Condrowati, selain itu dalam cerita ini banyak mengandung nilai dan norma yang sangat bermanfaat bagi masyarakat luas.

Diantaranya, nilai moral tersebut bahwa manusia harus dapat mengontrol hawa nafsu untuk dapat menjalani kehidupan dengan baik. Sedangkan nilai sosialnya mengandung makna bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang harus dapat menghormati dan menghargai kaum wanita.