Ratusan Petugas Disiapkan Untuk Mengawasi Hewan Kurban‬

sapiSleman – Menjelang hari raya Idul Adha 1437 Hijriyah, Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman saat ini telah menyiapkan ratusan petugas pengawas hewan kurban.‬

‪Kepala Bidang Peternakan DPPK Kabupaten Sleman, Ir Suwandi Aziz mengatakan, pengawasan sudah dimulai dilakukan di pasar-pasar hewan yang banyak menjual hewan kurban.‬

‪”Kami juga memberikan sosialisasi bagi masyarakat dalam proses pemotongan hewan,” kata Suwandi Aziz.‬

‪Menurut Suwandi Aziz, masih ditemukan masyarakat kurang teliti dalam menjaga kebersihan hewan yang akan disembelih untuk kurban.‬

‪”Petugas pemantau pemotongan hewan kurban yang diterjunkan ke lapangan berjumlah 140 orang, ditambah relawan sebanyak 20 orang,” katanya.‬

‪Suwandi menambahkan, pengawasan kurban juga akan dibantu oleh mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM.‬

‪”Panitia kurban harus memperhatikan proses cara pemilihan hewan, merebahkan hewan, dan penanganan daging hewan kurban. Sebab masih ada panitia kurban yang kurang teliti dalam menjaga kebersihan proses penyembelihan,” tutur Suwandi.‬

‪Suwandi mengatakan, kebiasan merokok dan tidak menggunakan alas yang bersih saat mengurus daging hewan kurban masih sering ditemukan.‬

‪”Guna memberikan keterampilan yang lebih baik, kami memberikan pelatihan khusus bagi panitia kurban dan takmir masjid di Kabupaten Sleman,” katanya.

‪Sementara menurut Kasi Kesehatan Hewan Bidang Peternakan DPPK Sleman, Nanang Danardono, upaya ini dilakukan agar daging hewan kurban yang beredar di masyarakat terbebas dari penyakit.

“Pengawasan ketat harus dilakukan berdasarkan pada kurban tahun lalu, dari sapi yang disembelih pada Idul Adha tahun lalu, sembilan persen di antaranya terindikasi berpenyakit cacing hati,” kata Nanang.‬

‪Kasus cacing hati pada domba dan kambing masing-masing sebanyak 0,2 persen, dari penyembelihan domba dan kambing ekor.‬ Nanang menambahkan, temuan cacing hati pada hewan kurban sembelihan tersebar di 17 Kecamatan secara merata.

‪”Bila ditemukan saat disembelih, maka daging hewan masih bisa dikonsumsi. Tinggal hatinya saja yang dibuang, karena hanya bagian itu yang rusak,” katanya.




Kemah Budaya Dekatkan Generasi Muda Dengan Budaya Lokal

Sleman – Bupati Sleman menyambut baik penyelenggaraan kegiatan kemah budaya yang diselenggarakan di Desa Wisata Pulesari Kecamatan Turi Sleman, disamping untuk lebih mendekatkan budaya lokal kepada generasi muda, kegiatan tersebut juga merupakan salah satu upaya untuk menambah wawasan tentang potensi yang dimiliki oleh daerahnya.

Bupati Sleman menyampaikan hal tersebut dalam sambutan tertulis yang dibacakan Wakil Bupati Sleman Dra Sri Muslimatun MKes ketika membuka Kemah Budaya di desa Wisata Pulesari Turi, Jumat (2/9). Disampaikan Bupati bahwa  menumbuhkan rasa cinta dan handarbeni terhadap budaya dan potensi lokal yang kita dimiliki merupakan tanggungjawab kita bersama.

Dan kegiatan Kemah Budaya ini merupakan salah satu wujud nyata dari langkah strategis yang ditempuh membentuk generasi muda Sleman yang tau, mengerti, mencintai dan merasa handarbeni atas asset-asset budaya yang adiluhur maupun potensi yang dimiliki Kabupaten Sleman.

“Yang jelas pada era global saat  ini, kehidupan sebagian warga masyarakat khususnya generasi muda mulai jauh dari nilai-nilai budaya kita sendiri,” kata Sri Muslimatun yang membacakan sambutan Bupati.

Pola hidup gotong royong dan tepo seliro yang dulu merupakan pola hidup nenek moyang, pada saat ini cenderung berpola hidup individualistis. Pola hidup gotong royong tidak hanya diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat dalam pembangunan fisik semata. Semangat gotong royong juga dapat diaplikasikan dalam setiap peristiwa sosial kemasyarakatan yang membutuhkan penyelesaian secara bersama-sama.

Dan kearifan lokal tepo seliro tidak hanya diartikan sebagai tenggang rasa saja, tetapi lebih dimaknai sebagai  rasa empati yang mampu membangun konektifitas satu dengan yang lain hingga menumbuhkan rasa kebersamaan yang universal. Dengan demikian dinamisnya sosok jiwa muda akan lebih terarah pada perilaku-perilaku yang positif dan konstruktif.

Pada kesempatan tersebut Sri Muslimatun juga mengajak peserta kemah budaya untuk memanfaatkan kemah budaya tersebut de­ngan sebaik-baiknya, untuk kembali mengaplikasikan nilai-nilai budaya lokal da­lam kehi­dupan sehari-hari, serta mengenal potensi-potensi yang dimiliki.

Sedangkan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Dra  Endah Sri Widiastuti menyampaikan bahwa kemah budaya tersebut bertujuan sebagai ajang silaturahmi generasi muda khususnya siswaa SMA/SMK di Kabupaten Sleman, serta untuk menimbulkan sikap saling asih, asah dan asuh dan semangat persatuan dan kesatuan bagi para siswa, juga saebagaai pemahaaman nilai budaya.




Sleman Waspadai KLB DBD dan Virus Zika‬

Sleman – Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman sudah mengeluarkan surat edaran Sleman untuk mewaspadai terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD) dan virus zika. Kedua penyakit itu disebabkan dari nyamuk yang sama, yakni aedes aegepty. Apalagi sekarang ini jumlah penderita DBD di Sleman terus meningkat dibandingkan tahun lalu.‬

‪Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes mengatakan, jumlah kasus DBD di Sleman hingga awal September ini sudah mencapai 611 penderita. Sementara tahun 2015 lalu  hanya mencapai 520 penderita.

“Dengan adanya peningkatan kasus DBD tersebut, Sleman perlu mewaspadai KLB DBD dan virus zika,” kata Linda di Sleman, Jumat (2/9).‬

‪Guna mengantisipasi kasus DBD dan virus zika, Pemkab Sleman melalui Dinas Kesehatan sudah membuat Surat edaran sejak beberapa waktu yang lalu.

“Apalagi sekarang ini sudah ada negara yang positif terkena virus zika. Sehingga kami meminta kepada masyarakat untuk waspada KLB DBD dan virus zika karena penyebabnya sama dari nyamuk aedes aegepty, ” kata Linda.

Untuk memberantas sarang nyamuk, Dinas Kesehatan Sleman setiap Jumat mengadakan kegiatan monitoring jentik. ‪Dan Jumat (2/9)  kegiatan pemantauan jentik dilakukan oleh Dinas Kesehatan, petugas Puskesmas Godean I dan satgas kader kesehatan andalan cilik (kancil) Puskesmas Godean I di Kragilan Sidoluhur Godean. Hasil pemantauan tersebut, angka bebas jentik 87, 15 persen, sedangkan idealnya 95 persen.‬

Ditambahkan Linda dalam rangka mencegah mencegah DBD dan virus zika adalah pemberian informasi yang benar tentang penyakit DBD dan virus zika. Khusus penyakit zika, petugas dari Dinas Kesehatan juga memberikan informasi tentang cara penularan, kelompok beresiko dan cara pencegahan penularan.




Sleman Tanam Pohon Buah Bersama ANZI di Cangkringan

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Dra Sri Muslimatun MKes bersama ANZI Pacific Forum VI dan Lions Clubs mengadakan penanaman 1000 pohon buah (Tree Planting) di Pangukrejo, Umbulharjo, Cangkringan Sleman, Jumat (2/9). Pohon buah yang ditanam antara lain Manggis, Mangga Manalagi, Durian, Pala, Jambu Bol ditanam dalam acara tersebut. 

Kegiatan penanaman pohon yang mengangkat tema ‘Protect Our Environmet” tersebut,  dikatakan Ketua Panitia Tree Planting, Jono Koesmo merupakan rangkaian kegiatan ANZI dan Lions Club bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dalam upaya pelestarian lingkungan.

Acara tersebut menurut Jono juga  dihadiri perwakilan dari berbagai negara seperti Australia, New Zealand, India, Jepang, Indonesia, Malaysia, dan Amerika. Selain sebagai kegiatan pelestarian lingkungan, Jono menjelaskan bahwa dengan kegiatan  yang menghadirkan perwakilan dari negara asing tersebut diharapkan dapat menarik wisatawan mancanegara berkunjung ke Sleman.

“Jogja khususnya Sleman memiliki potensi wisata yang besar, kami berharap kegiatan ini juga dapat menarik minat wisatawan mancanegar,” kata Jono.

Sementara Sri Muslimatun menyampaikan bahwa sebagai Kabupaten yang terletak di bagian hulu, Kabupaten Sleman menjadi kawasan konservasi air bagi Kabupaten-Kabupaten setelahnya. Kualitas lingkungan hidup Kabupaten Sleman tidak hanya berdampak langsung bagi kualitas kehidupan Kabupaten Sleman sendiri namun juga berdampak bagi Kabupaten-kabupaten lainnya.

Untuk itu, Pemkab Sleman beserta seluruh komponen masyarakat memiliki tanggungjawab untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup secara keseluruhan.

Sri Muslimatun juga menyambut baik terlaksananya kegiatan ini, yang tentunya akan menjadi daya dukung bagi terwujudnya kelestarian alam dan lingkungan hidup di Kecamatan Cangkringan. Menurutnya melalui kegiatan penanaman pohon ini, maka fungsi pohon sebagai penahan laju air akan berimplikasi terhadap kuantitas air tanah yang dihasilkan, sehingga keberadaannya akan meningkatkan cadangan air tanah.

Disamping itu, manfaat secara ekologis, yakni dapat menjaga dan mempertahankan kesuburan tanah, karena air hujan tidak langsung jatuh ke tanah dan menggerus bagian tanah yang subur. Selain itu keberadaannya juga dapat berfungsi dalam pelestarian keanekaragaman hayati.

Sri Muslimatun juga berharap kegiatan ini dapat menjadi momentum peningkatan kualitas lingkungan hidup di Kabupaten Sleman khususnya di Kecamatan Cangkringan.

Ditambahkan Sri Muslimatun,  Kabupaten Sleman terbuka untuk kegiatan CSR lainnya, seperti bedah rumah sebagai upaya meminimalisir kemiskinan di Kabupaten Sleman, konservasi lingkungan melalui pelepasan bibit ikan, dan lainnya.




Disbudpar Apresiasi Masyarakat Yang Pertahankan Tradisi

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman memberikan apresiasi yang tinggi kepada masyarakat Sleman yang masih mempertahankan tradisi dan adat istiadat masyarakat setempat.

“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat yang masih mempertahankan tradisi dan adat istiadat masyarakat setempat. Hal ini tentunya menggambarkan kontribusi positif dan partisipasi aktif masyarakat dalam upaya melestarikan seni budaya lokal serta turut memperkuat jati diri masyarakat dalam konteks keistimewaan DIY,” kata Sekretaris Disbudpar Sleman, Dra Endah Sri Widiastuti MPA dikantornya, Jumat (2/9).

Menurut Endah, masyarakat di Sleman banyak memiliki tradisi yang sangat menarik untuk terus dilestarikan. Beberapa tradisi itu antara lain selain pentas seni juga ada tradisi Merti Dusun atau Merti Desa. Beberapa Dusun di Sleman sudah memiliki agenda Merti Dusun sehingga agenda tersebut bisa menarik wisatawan.

Seperti yang sedang berlangsung sekarang ini di Dusun  Tlacap – Grojogan Pandowoharjo Sleman yaitu  Merti Dusun selama sepekan lebih mulai 1 – 10 September 2016 di dusun setempat.

Dalam acara merti dusun ini segenap potensi yang ada ditampilkan, mulai dari kesenian rakyat, kesenian tradisional, aneka lomba, karawitan, pentas dolanan anak, upacara adat “Tedun”, upacara adat “Wiwit”, bahkan ada juga pemilihan Dimas Diajeng Desa Pandowoharjo serta pagelaran wayang kulit oleh dalang Bayu Sugati.

Demikian seperti diungkapkan oleh Ketua Panitia Merti Dusun Tlacap – Grojogan, Aditya Nur Salandri dikantor Disbudpar Sleman. Aditya menambahkan bahwa rangkaian kegiatan acara tersebut sudah dimulai sejak Kamis, 1 September 2016  berupa doa bersama dan tabur bunga sebagai kegiatan pembuka.

Sedangkan mulai Sabtu 3 September 2016 pukul WIB berupa Kirab Merti Dusun dan pembukaan acara serta pertunjukan kesenian rakyat Topeng Ireng Cahaya Rimba, Minggu 4 September 2016 pukul WIB Lomba Mewarnai Tingkat Anak di SDN Tlacap.

Kemudian pukul  WIB di Persawahan Timur Dusun berupa Upacara Adat “Tedun” dilanjutkan pada pukul WIB dengan pertunjukan jathilan Sureng Logo Toino.

Hari Selasa 6 September 2016 pukul WIB pertunjukan jathilan – reog Turonggo Seto Manding, Rabu 7 September 2016 pukul WIB penanaman pohon penghijauan, Kamis 8 September 2016 pukul WIB penyuluhan pertanian, Jumat 9 September 2016 pukul WIB di panggung utama berupa Konser Karawitan Sanggar Sasi Kirana dan Pemilihan Dimas Diajeng Desa Pandowoharjo

Sedangkan Sabtu 10 September 2016 pukul WIB merupakan malam puncak kesenian dengan berbagai atraksi yaitu pentas dolanan anak, pertunjukan tari Sanggar Putri Budaya Asri, pertunjukan kesenian Bregada Mego Ngampak, pementasan Ogoh-ogoh Sureng Logo, pentas kolaborasi antara wayang kulit, tarian api, kethoprak, bregada, ogoh-ogoh, dolanan anak yang dikemas oleh Dalang Ki Bayu Sugati dengan tajuk “Tlacap Sumunar”.