Daging Tetap Bisa Dikonsumsi Meski Hatinya Terkena Cacing Hati

IMG_7750Sleman – Petugas pemantau penyembelihan hewan kurban yang dibantu mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan cacing hati pada hari hewan kurban yang disembelih Senin (12/9). Salah satu temuan cacing hati tersebut di Perumahan Pertamina Purwomartani Kalasan Sleman.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DPP)K Sleman, Ir Suwandi Aziz mengatakan meskipun ditemukan cacing hati, namun daging hewan kurban tetap dapat dikonsumsi.

Suwandi Aziz juga  menjamin keamanan daging untuk dimakan oleh masyarakat setempat sehingga warga Sleman tidak perlu resah. Dikatakan Suwandi Aziz cacing hati di hewan tidak berbahaya bagi manusia. Jadi cukup buang saja hati hewan kurbannya.

“Sementara daging bagian yang lain tetap bisa dikonsumsi,” kata Suwandi Aziz, kemarin.

Kalau dalam penyembelihan hewan kurban di Sleman pada hari Senin (12/9) ditemukan hewan kurban terkena cacing hati dikatakan Suwandi Aziz, hewan yang terkena cacing hati tersebut berasal dari luar Sleman. Sebab kalau di Sleman sudah dilakukan pemeriksaan dan sejak 6 bulan lalu sudah dilakukan pengobatan.

Sementara Kepala DPPK Sleman, Ir Widi Sutikno MSi membenarkan telah menerima laporan ditemukan hewan kurban positif terkena cacing hati.

Hasil pemantauan dan pengawasan pemotonghan hewan kurban sampai  hari Selasa (13/9), ada ekor hewan kurban yang disembelih dan tersebar di lokasi penyembelihan. Terdiri dari ekor sapi,   ekor domba, ekor kambing dan 1 ekor kerbau. Dari jumlah tersebut 450 ekor sapi terdeteksi ada cacing hatinya. Sedangkan domba ada 28 ekor dan 8 ekor pada kambing.

“Jumlahnya ada kemungkinan bertambah karena data yang masuk  baru sebagian. Sedangkan penyembelihan masih akan berlangsung hingga Rabu (14/9),” kata Widi Sutikno, Selasa (13/9).

Dijelaskan Widi, untuk hati yang sehat, biasanya berwarna merah kelam. Menurut Widi jika dibandingkan pada 2015, terdapat lokasi penyembelihan selama dua hari Idul Adha. Jumlah sapi yang dipotong sebanyak ekor, domba ekor, dan kambing ekor.

Adapun temuan cacing hati tahun lalu pada sapi sebanyak 504 kasus, domba 20 kasus dan tujuh kasus pada kambing. Namun demikian Widi tetap meminta  masyarakat agar tetap tenang.

Diungkapkan Widi dalam pemantauan selain ditemukan kasus cacing hati, juga ditemukan bertambahknya jumlah lokasi pemotongan hewan kurban yang membuang ramen (isi perut sapi) didalam lubang atau tidak membuang di sungai atau selokan. Selain itu juga ditemukan berkurangnya jumlah lokasi pemotongan hewan kurban yang mencuci jerohan di sungai atau selokan.




Idul Adha Ajarkan Hormati Kepercayaan Keluarga‬

Sleman – Pelaksanaan sholat Idul Adha tahun 1437 H di Lapangan Denggung, dan Masjid Agung Soedirohusoedo, Senin (12/9) dipadati jemaah.‬ Para jamaah tidak hanya dari lingkungan Sleman tapi juga luar daerah, termasuk pemudik yang memanfaatkan momen Idul Adha untuk berkumpul bersama saudara.

Bertindak sebagai  Imam/Khotib di lapangan Denggung Prof DR H Muhammad MAg, yang juga ketua Dewan Masjid Indonesia wilayah DIY. Sedang di Masjid Agung yang menjadi Imam /Khotib adalah Drs H Muh Lutfi Hamid MAg.

Dalam khotbahnya dihadapan jamaah sholat Idul Adha, Prof Muhammad menyampaikan sampai tiga hari ke depan, umat Islam disunahkan menyembelih hewan kurban.‬

‪“Tiada amalan yang lebih utama pada hari Idul Adha ini daripada menumpahkan darah binatang kurban,” ujarnya.‬

‪Dari perayaan Idul Adha ini, umat muslim dapat mengambil pelajaran bahwa ada dua hal penting yang dapat dijadikan acuan dalam kehidupan keluarga yakni menghormati kepercayaan, dan kehadiran cinta ayah.‬

‪Menghormati kepercayaan keluarga mengandung arti orang tua harus menjaga nilai kelayakan dengan selalu mengarahkan tujuan rumah tangga untuk beribadah kepada Allah. Ayah sebagai pemimpin keluarga memiliki peran yang besar.‬

‪Sedangkan makna keluarga butuh cinta ayah adalah saat ini banyak keluarga muslim dikorbankan karena salah pemahaman sang ayah. Pemahaman itu membuat lelaki berkeluarga meninggalkan anak istrinya demi aktif di komunitas luar.‬

‪“Kaum lelaki kadang berpikir berlebihan dengan menganggap keluarga akan menghalangi kecintaan terhadap Allah, sehingga mereka berjarak dengan istri dan anak-anak. Yang terjadi, lelaki tipe itu kerap terlibat dalam pelayanan komunitas, sementara di rumah hanya berbincang sekedarnya atau melakukan aktivitas seperlunya karena energi telah terkuras,” katanya.

‪Kendati, ada tipe yang lebih parah yakni yang berjarak dari keluarga karena mengejar material. Persamaan kedua tipe ayah itu, sama-sama tidak memandang keluarga sebagai sarana beribadah, dan justru memberi dampak buruk bagi anggota keluarga lain.‬

‪Sementara itu, Lutfi Hamid dalam khotbahnya di Masjid Agung mengemukakan momentum Idul Adha memberikan nilai pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat, terutama keakraban dan kerukunan dalam rumah tangga.‬

‪Disamping itu menjadi pelajaran bersama tentang pentingnya pengorbanan. Ditemui usai mengikuti solat Idul Adha di Lapangan Denggung, Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI menilai perlunya kekompakan antara ayah, ibu, dan anak untuk menuju keluarga yang harmonis, dan sejahtera.

“Saat semuanya kompak dan penuh komunikasi, maka anak-anak tidak akan terjerumus pada pergaulan bebas,” katanya.‬