‪Wisata Candi di Perbukitan Prambanan Mulai Dikenal‬

IMG_20160914_142053 (1)Sleman – Sejumlah wisata candi yang terdapat di kawasan perbukitan Prambanan, Kabupaten Sleman saat ini mulai dikenal dan dikunjungi masyarakat atau wisatawan.‬

‪”Event-event yang digelar di wilayah perbukitan Prambanan sedikit banyak turut membantu mempromosikan candi-candi di pelosok perbukitan Prambanan, sehingga saat ini mulai banyak dikenal,” kata Ketua Desa Wisata Sambirejo, Prambanan Sleman, Kholiq Widiyanto, Rabu (14/9).‬

Menurut Kholiq, beberapa candi di wilayah perbukitan Prambanan yang mulai terlihat meningkat kunjungannya, yaitu di Candi Ijo. Candi Barong, serta Candi Miri.‬

‪”Kunjungan ke candi-candi itu sekarang mulai banyak peminatnya,” kata Kholiq.‬

Di Candi Ijo, tingkat kunjungannya hampir seimbang dengan Taman Tebing Breksi. Wisatawan yang ke lokasi ini hanya mengeluarkan uang untuk karcis parkir saja.‬

‪”Kunjungannya tinggi, tapi fasilitas lahan parkir masih kurang luas,” katanya.‬

‪Kholiq mengatakan lokasi candi ini hanya berjarak sekitar 500 meter ke arah timur dari Taman Breksi. Kemudian di Candi Barong, jumlah wisatawan memang tak seperti di Ijo.‬

‪”Kalau di Candi Barong memang mulai ada peminatnya tapi masih tergolong sedikit,” tutur Kholiq.‬

‪Sementara di Candi Miri hanya orang-orang tertentu saja yang berkunjung. Karena kondisi medan jalannya yang masih rusak.‬ Kalau di Miri, wisata minat khusus, pengunjungnya belum terlalu banyak.‬ ‪Bergeliatnya wisata candi di pelosok perbukitan ini juga terlihat dengan semakin banyaknya event yang digelar.‬

‪”Banyak kegiatan dilakukan di komplek wisata perbukitan yang bertujuan juga sebagai  promosi candi. Ada Temple Run, Bike Night Heritage, Gatering Opel Blazzer, dan masih banyak lagi,” katanya.‬

‪Adanya peningkatan peminat ini diharapkan bisa semakin berpengaruh terhadap perekonomian warga setempat.‬

“Paling tidak, mulai banyak warung-warung makan ataupun tempat istirahat,” ungkap Kholiq.




Minat Baca Warga Sleman Meningkat

Bupati Sleman Kunjungi StandSleman – Minat baca masyarakat di Kabupaten Sleman terus mengalami peningkatan. Peningkatan minat baca tersebut merujuk pada jumlah kunjungan perpustakaan yang terus meningkat tiap tahunnya, yakni sebesar pengunjung pada tahun 2013, meningkat menjadi di tahun 2014 dan mengalami peningkatan lagi menjadi pengunjung pada tahun 2015.

Demikian diungkapkan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI Disela-sela Acara Gemilang Perpustakaan Dalam Rangka Memperingati Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung perpustakaan yang diadakan oleh Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sleman di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, pada Rabu (14/9).

Menurut Sri Purnomo, perpustakaan yang represenatif dan didukung dengan koleksi buku yang lengkap, diharapkan akan memotivasi para pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum untuk memanfaatkan perpustakaan yang ada di Sleman.

Saat ini terdapat 873 perpustakaan di Sleman, sedangkan koleksi buku yang dimiliki oleh Perpustakaan Daerah Kabupaten Sleman hingga saat ini mencapai judul buku dengan jumlah sebanyak eksemplar.

”Pemanfaatan dan keberadaan perpustakaan perlu terus distimulasi karena menjadi salah satu sarana prasarana penunjang dalam peningkatan kualitas pendidikan,” tutur Sri Purnomo.

Sri Purnomo menambahkan bahwa untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat di pelosok-pelosok daerah, Pemkab Sleman telah memiliki 5 armada keliling yang menjangkau 60 lokasi layanan.

Selain itu, terdapat juga kantong-kantong perpus­takaan yang dikelola oleh desa dan masyarakat setempat. Hingga saat ini Kabupaten Sleman memiliki kantong perpustakaan di 18 lokasi. Pemerintah Kabupaten Sleman juga membentuk rintisan desa gemar membaca di 8 lokasi.

”Keberadaan perpustakan desa inilah yang hendaknya dapat terus kita kembangkan baik melalui penataan manajemen pengelolaan perpustakaan desa, maupun melalui pencanangan berbagai inovasi yang tujuannya adalah tentu saja untuk menumbuhkembangkan minat baca serta mengoptimalkan keberadaan perpustakaan desa bagi kemajuan masyarakat setempat,” papar Sri Purnomo.

Sementara Kepala Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sleman, Dra Sri Hartati menyampaikan bahwa pencanangan bulan September sebagai Bulan Gemar Membaca dan tanggal 14 September diperingati sebagai Hari Kunjung Perpustakaan diharapakan dapat meningkatkan budaya gemar membaca bagi masyarakat.

Sri Hartati juga menjelaskan bahwa dalam upaya peningkatan gemar membaca dalam acara tersebut juga diadakan workshop dengan materi Kebijakan Pengembangan Budaya Gemar Membaca di DIY dan motivasi pengelolaan perpustakaan dan Budaya Gemar Membaca.

”Tujuan Acara Gemilang Perpustakaan ini adalah mensosialisasikan makna Hari Kunjung Perpustakaan dan memasyarakatkan perpustakaan agar budaya gemar membaca masyarakat semakin meningkat,” ungkap Sri Hartati.

Bupati Sleman juga menyerahkan langsung trophy, piagam, dan uang pembinaan pada 34 prestator dibidang lomba perpustakaan, minat baca, menulis, dan permainan tradisional.




Jangan Remehkan Kegemaran Coret-Coret

Ahmad Barokah Tunjukkan Hasil KaryanyaSleman –  meremehkan kegemaran mencoret-coret. Dengan ketekunan, ketelatenan, dan pengasahan cita rasa, kegemaran ini bisa menghasilkan karya seni yang indah. Berbagai jenis kerajinan kayu lukis yang bernilai ekonomis cukup tinggi, misalnya, lahir dari kegiatan melukis yang pada dasarnya bisa dilakukan semua orang.

Di Gangsar  Barokah’s Art & Craft, aneka bentuk kerajinan kayu lukis seperti boneka, kotak perhiasan, asbak, tempat tusuk gigi, gantungan kunci, mangkuk, topeng, sampai patung diproduksi setiap hari. Perintis Gangsar Barokah’s Art & Craft yang ada di Dusun Ngipiksari Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem Sleman adalah Ahmad Barokah (46).

Ahmad mengungkapkan, bermacam kerajinan tersebut menggunakan kayu mahoni dan kayu jati sebagai bahan baku. Untuk proses pembuatan kerajinan dari kayu ini sendiri relatif panjang karena membutuhkan lima kali proses.

“Saat ini saya dibantu 16 karyawan yang bekerja di lima tahap produksi mulai dari bahan mentah, pembentukan, pendempulan, painting dan finishing,” kata Ahmad, baru-baru ini.

Diungkapkan Ahmad, bahan kayu awalnya  dipotong terlebih dahulu, lalu dikupas kulitnya. Setelah potongan kayu dibentuk memakai mesin bubut, dilakukan proses pendempulan untuk menutup pori-pori kayu.

‪Setelah melalui proses pendempulan, dengan kuas-kuas, para perajin mulai melukis di kayu-kayu tersebut. Cat yang digunakan umumnya cat tembok dan akrilik.

“Untuk menghasilkan lukisan yang sempurna memang dibutuhkan ketelatenan dan keterampilan khusus,” ungkap Ahmad.

Kerajinan kayu yang sudah dilukis itu kemudian memasuki tahap finishing sebelum siap dipasarkan. Harga jual produk pun beragam, mulai dari Rp sampai ratusan ribu rupiah. Untuk motif, Ahmad banyak menggunakan motif tradisional dan alam pada produk-produknya.

“Untuk motif tradisional, kami banyak melukis wayang. Sedangkan untuk motif bernuansa alam, kami lukis bunga dan dedaunan dengan warna-warna cerah. Di luar kedua jenis motif tersebut kami juga melayani motif sesuai permintaan konsumen,” tutur Ahmad.

‪Produk-produk Gangsar Barokah’s Art & Craft diakui Ahmad  sangat diminati konsumen dari luar negeri. Tapi sudah lima tahun belakangan ini konsumennya berbalik dan hampir 90 persen dia hanya melayani pasar lokal.‬

‪”Saat ini pengiriman ke luar negeri hanya melalui trading. Biasanya dikirim ke Singapura, Jepang, Cina, Amerika dan Perancis. Kalau untuk pasar dalam negeri sudah melayani hampir di semua kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bali, Semarang, Bandung, Kalimantan dan daerah lainnya,” kata  Ahmad.

‪Ahmad mengaku ada beberapa faktor yang menyebabkan jumlah pesanan sangat fluktuatif. Mulai dari kondisi politik, bahan baku yang makin mahal dan daya beli masyarakat sendiri yang menurun.‬

‪Meski persaingan tidak bisa dihindari, Ahmad selalu mempertahankan kualitas dengan berinovasi di desain produk maupun kualitas pengecatannya. Para pembeli produk kerajinan lukisnya kebanyakan pedagang kerajinan yang dijual kembali ke tempat-tempat wisata maupun galery. Namun demikian ada juga konsumen perseorangan.

Meskipun demikian, berbagai kerajinan kayu lukis tersebut tetap banyak diminati dan masih mampu bertahan di pasar kerajinan. Motif yang unik dan tampak hidup serta tersedianya banyak pilihan membuat kayu lukis mempunyai keistimewaan tersendiri.‬

Apresiasi terhadap proses pengerjaan manual yang tidak mudah juga semakin menambah nilai kayu lukis. Tantangannya, kerajinan ini harus bisa tetap eksis di tengah membanjirnya produk Cina sejenis yang dijual dengan harga jauh lebih murah.